Tags

, , , ,

Ilustrasi: Dwi Sugiyanto

Ilustrasi: Dwi Sugiyanto

Saya memikirkan hal ini sejak lama: apa faedah musik bagi manusia dan kemanusiaan? Apakah musik hanya sekadar hiburan, perkara sekunder yang menyempil sebagai intermezzo di tengah lini kehidupan lain seperti bekerja, makan, tidur, bercinta? Atau, musik adalah perkara primer, bagian yang tak kalah pentingnya bagi kehidupan?

Pertama, untuk memahami faedah musik bagi manusia, kita harus mendefinisikan terlebih dulu apa itu musik. Musik adalah sistem tanda yang menggunakan unsur-unsur seperti melodi, irama, birama, harmoni, tangga nada, tempo, dinamika, dan timbre untuk merepresentasikan bunyi. Bunyi adalah getaran frekuensi, bunyi tersebut kemudian menggetarkan gendang telinga, terkonversi menjadi datum yang diterjemahkan menjadi sebuah kesan oleh otak.

Pakar bunyi dan penulis buku Sound Business, Julian Treasure menjabarkan bahwa bunyi memengaruhi manusia setidaknya melalui 4 cara, yaitu: 1. Fisik (produksi hormon, detak jantung, cara menghela napas), 2. Psikologi (memicu stres atau membuat santai), 3. Kognitif (produktivitas kerja), dan 4. Kebiasaan (memicu manusia melakukan kebiasaan tertentu).

Sebagai sebuah sistem tanda yang merepresentasikan kelindan berbagai bunyi, jelas musik memengaruhi kondisi manusia. Sistem tanda yang berbeda (kecepatan tempo, perbedaan timbre, tangga nada yang digunakan, dan lain-lain) akan menciptakan rasa yang berbeda, menimbulkan kesan yang berbeda. Inilah kenapa muncul selera dan interpretasi berbeda pada setiap orang.

Musik mengajarkan manusia untuk menggunakan nalar dan rasa agar bisa memahami sistem tanda dan kesan yang ditimbulkannya. Musik menjadikan kita dapat menyentuh dan memahami beberapa perasaan kita yang paling rumit, apa yang kita inginkan, bagaimana menjadi diri kita sendiri, serta memahami bagaimana orang lain memiliki kesan berbeda saat mendengarkan musik yang sama-sama kita dengarkan. Musik adalah ejawantah dari hasrat manusia, dan di saat bersamaan mengajarkan manusia bagaimana untuk berhasrat. Meminjam pernyataan filsuf klasik Tiongkok, Confusius, “Music produces a kind of pleasure which human nature cannot do without”.

Celakanya, musik juga bersifat arbitrer. Ia memaksa masuk ke alam bawah sadar, lalu turut serta membentuknya. Contoh sederhananya, sebenci apapun kita dengan musik pop, sistem tanda berupa melodi easy listening yang tanpa sengaja kita dengarkan selewat di tempat umum akan menancapkan dengan kokoh kesan di alam bawah sadar kita, lalu memancing kita untuk mendendangkannya di lain waktu. Mau membenci dangdut seperti apapun, sistem tanda berupa irama hentakan ketipung akan memaksa pinggul kita secara otomatis bergoyang.

Maka, yang namanya pembentukan selera bukanlah isapan jempol belaka. Ada saat di mana musikus, kritikus, kapitalis, memahami benar sifat arbitrer musik ini lalu menggunakannya untuk membentuk selera orang lain.

Kedua, setelah kita memahami faedah musik bagi manusia, kita akan bisa memahami faedah musik bagi kemanusiaan, apa guna musik bagi hubungan antarmanusia. Menurut jargon yang sangat sering kita dengar, “Musik adalah bahasa universal.” Konon, musik mampu menghubungkan manusia di saat bahasa tak mampu melakukannya. Dalam pandangan antropolog musik Alan P. Merriam, musik memiliki 10 faedah dalam kemanusiaan, yaitu: pengungkapan emosional, penghayatan estetis, komunikasi, perlambangan, reaksi jasmani, berkaitan dengan norma sosial, pengesahan lembaga sosial, kesinambungan budaya, pengintegrasian masyarakat, serta hiburan.

Dewasa ini, musik telah menjadi industri milyaran dollar. Maka, di luar sepuluh faedah musik bagi kemanusiaan, musik diproduksi dan direproduksi sebanyak mungkin, diedarkan seluas mungkin, hanya berdasarkan pada satu kegunaan yang paling menjanjikan untuk dijual: hiburan. Ke manapun kita pergi, apapun film yang kita tonton, selalu ada musik mengiringi. Seorang pendengar musik yang anti pop sekalipun akan sangat sulit menghindarinya. Ia akan tetap terdengar walau secara tidak sengaja di kedai kopi atau toilet pusat perbelanjaan.

Ketika musik telah menjadi komoditas dalam industri yang sangat besar, kemudian hukum supply and demand berlaku: untuk memenuhi permintaan besar musik sebagai komoditas hiburan, harus ada banyak musikus yang menciptakannya.

***

Sebagai seseorang yang berlatar pendidikan formal musik, pertanyaan mengenai faedah musik ini memunculkan persoalan lanjutan: sudahkah pendidikan musik di Indonesia mengajarkan kita cara memahami faedah musik bagi manusia dan kemanusiaan? Sudahkah mereka yang duduk di bangku pendidikan musik (formal maupun non formal) diberi bekal untuk mendedah sifat arbitrer musik yang lantas mewujud dalam pembentukan selera? Atau, pendidikan musik di Indonesia justru menghasilkan para musikus yang hanya belajar menjadi sosok yang piawai mengolah sistem tanda? Para musikus yang kemudian menjadi tandem bagi industri musik milyaran dollar tersebut.

Menyitir gagasan akademisi Citra Aryandari, para musikus jebolan sekolah musik ini “piawai memencet tuts piano atau menggesek violin, tetapi jiwa dan emosi musiknya tak terasah. Setelah menyelesaikan studi musiknya harus ikut meneror masyarakat penikmat musik dengan sajian musik berbasis kapital yang tak mementingkan estetika dan rasa”.

Lembaga kajian musik yang bermarkas di Yogyakarta, Art Music Today, mencatat dalam buku terbitannya Membaca Musik Dari Masa Ke Masa bahwa sejak tahun 1960-an hingga 2015 hanya ada lebih kurang 200-an judul buku pengetahuan musik berbahasa Indonesia. Pengetahuan dalam artian, ia tak hanya mengkaji musik sebagai praktik mengolah sistem tanda, namun lebih lanjut mengkaji musik dan relasinya dengan manusia dan kemanusiaan. Jika dibandingkan dengan jumlah peristiwa musik yang terjadi (perilisan album, pertunjukan, dan sebagainya) di kurun waktu yang sama, ini jelas sangat tidak berimbang.

Praktik musik yang terus berjalan tanpa diimbangi produksi pengetahuan tentangnya akan menimbulkan masalah bagi generasi di masa depan: tidak ada cetak biru untuk mencipta dan mengembangkan musik yang lebih baik. Musik lantas hanya dipahami sekadar sebagai komoditas, hiburan, intermezzo. Maka, musik diciptakan dengan garis melodi yang mudah ditebak, progresi akor yang ‘gitu-gitu aja’, serta rasa musikal yang —meminjam istilah penyair Chairil Anwar— masih dangkal-picik benar. Tak lebih dari angin lalu saja. Menyejukkan kening dan dahipun tidak.

Padahal, mengkaji musik sebagai bentuk pengetahuan akan menjadi modal pengembangan kebudayaan yang apik di hari esok. Ambil contoh Andrew Weintraub yang mendedahkan dengan runut sejarah musik dangdut di Indonesia dalam bukunya Dangdut: Musik, Identitas, dan Budaya Indonesia. Dangdut adalah musik yang dicaci-maki sebagai musik kampungan di awal kelahirannya, sempat dilarang rezim karena dianggap sebagai bentuk perlawanan, hingga kemudian dirangkul sebagai alat kampanye politik karena posisinya sebagai ‘musik rakyat’. Sekarang, tidak dapat dimungkiri dangdut adalah salah satu musik yang paling digemari di Indonesia. Atau, simak bagaimana Jeremy Wallach mencatat dengan lengkap musik populer di Indonesia periode 1997 hingga 2001 dalam buku etnografi bertajuk Modern Noise, Fluid Genres, yang kemudian diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Komunitas Bambu.

Contoh lain adalah Michael Denning yang dalam bukunya Noise Uprising menjabarkan bagaimana persebaran teknologi gramofon memengaruhi pula popularitas musik vernakular (musik rakyat). Denning menyebut bahwa pada tahun 1926 perusahaan rekaman Jerman, Beka, merekam penyanyi dan penari Batavia’s Stambul Theater, Miss Riboet mendendangkan tembang keroncong Krontjong Moeritskoe. Pada tahun 1930-an, jaringan radio di Hindia Belanda memutar secara rutin musik keroncong yang telah tercetak pada plat tersebut. Ini memperluas popularitas keroncong. Hingga pada 1940, komponis asal Solo, Gesang, menggubah salah satu tembang keroncong paling terkenal sepanjang masa: Bengawan Solo.

Di bab lain, Denning menyatakan bahwa musik yang mapan sekarang, sesungguhnya adalah musik vernacular (pinggiran) di masa lampau. Sebagai contoh Denning menyebut bagaimana jazz, yang di masa sekarang dianggap sebagai bentuk musik high art yang diputar di kafe mewah, dulu lahir dari kedai dan pub para kelas pekerja di pelabuhan kolonial.

Di Indonesia sendiri, walau tidak banyak, sebenarnya sudah ada yang menginisiasi gerakan mempelajari dan memaknai musik sebagai bentuk pengetahuan. Almarhum komponis kontemporer Slamet Abdul Sjukur, misalnya. Semasa hidupnya, komponis asal Surabaya yang lebih suka dipanggil Mas Slamet ini gencar menggenjot wacana musik sebagai pengetahuan, baik saat mengisi berbagai kuliah umum, seminar, diskusi, maupun melalui berbagai tulisan. Mas Slamet juga menggedor kesadaran masyarakat tentang pentingnya memaknai bunyi serta bahaya kebisingan/polusi suara dengan mendirikan Masyarakat Bebas Bising.

Di angkatan yang lebih muda, musikolog Erie Setiawan dan Art Music Today telah bertahun-tahun berupaya mendorong kesadaran publik tentang pentingnya memaknai musik sebagai ilmu pengetahuan. Ini dilakukan dengan lini penerbitan buku, pengelolaan situs yang secara berkala mengunggah esai-esai musik, hingga lini label rekaman di mana AMT merilis album-album musik yang proses produksinya benar-benar dipikirkan secara matang dari segi materi musikal hingga proses perekamannya.

Saya akan menutup tulisan ini dengan kutipan dari Twilight of The Idols Friedrich Nietzsche: “Without music, life would be a mistake.” Dalam kutipan yang termahsyur ini Nietzsche seolah berkata: musik adalah sesuatu yang luar biasa. Maka, tanpa musik, hidup adalah sebuah kesalahan. Saya akan memodifikasi gagasan Nietzsche menjadi “Without good music, life would be a mistake.” Meski kita hidup dengan musik, jika musiknya tidak bagus, dibuat serampangan, dan tidak beragam karena dibuat berdasarkan mekanisme pasar industri, maka hidup tersebut tetaplah sebuah kesalahan.

Maka, ini menjadi tugas berat untuk saya, anda, kita, dan semua orang yang menggeluti musik baik sebagai praktisi yang belajar secara otodidak, maupun praktisi dan akademisi jebolan institusi pendidikan seni (formal atau non formal), termasuk juga para pecinta (baca: pendengar) musik. Kita harus memikirkan ulang faedah musik bagi manusia dan kemanusiaan. Memaknai musik sebagai pengetahuan, menciptakan dan mencatat musik dengan baik. Agar ini menjadi bekal bagi generasi mendatang untuk menciptakan musik yang bagus. Sehingga kita tak terjebak di hidup sebagai sebuah kesalahan.

Yogyakarta, 22 Mei 2017.

Tulisan ini telah dimuat di Ruang Gramedia.

REFERENSI

Buku

Denning, Michael. 2015. Noise Uprising: The Audiopolitics of a World Musical Revolution. London: Verso.

Felicianata, Olga dan Erie Setiawan. 2016. Membaca Musik dari Masa ke Masa: Katalog Literatur Musik Berbahasa Indonesia dalam Lima Dekade. Yogyakarta: Art Music Today.

Merriam, Alan P. 1964. The Anthropology of Music. Northwestern: Northwestern University Press.

Nietzsche, Friedrich. 1997. Twilight of the Idols. Indianapolis: Hackett Publishing Company, Inc.

Wallach, Jeremy. 2008. Modern Noise, Fluid Genres: Popular Music in Indonesia. 1997-2001. Wisconsin: The University of Wisconsin Publisher.

Weintraub, Andrew. 2012.  Dangdut: Musik, Identitas, dan Budaya Indonesia. Jakarta: KPG.

Artikel

Afrisando, Jay. 2017. Masih Pentingkah Musik dan Bunyi Dipelajari?. Diakses dari https://satyanagari.org/2017/05/02/opini-masih-pentingkah-musik-dan-bunyi-dipelajari/

Aryandari, Citra. 2016. Teror Pendidikan Musik. Harian Kompas edisi 6 Februari 2016.

Situs

Treasure, Julian. 2009. The 4 Ways Sound Affects Us. Diakses dari https://www.ted.com/talks/julian_treasure_the_4_ways_sound_affects_us

Advertisements