Tags

, , ,

altruism-1272x442

Gambar dari evolution-institute.org

“Enten nopo mas? Telas bensin’e? Pun nggo kulo surung mawon?!!”

Hampir jam 10 malam di jalan Wates. Bermaksud hendak pulang cepat ke rumah untuk segera berbaring di kasur, melepas penat dan lelah. Malang tak bisa ditolak. Motor saya mogok. Bensin di tangki masih ada, distarter berkali-kali mesin enggan menyala. Mampus pikir saya waktu itu, karena jarak menuju rumah masih jauh nian. Bengkel tak mungkin ada yang buka. Mendorong motor adalah pilihan paling masuk akal, walau jauhnya masih bukan kepalang.

Baru beberapa meter mendorong motor, saya disamperi seseorang—eh dua orang tepatnya karena dia memboncengkan seseorang lagi—dengan motor bebek. Mas-mas berusia lebih kurang 30 tahunan, memboncengkan seorang bapak tua, sepertinya orang tuanya. Tanpa babibu basa basi perkenalan, si mas tahu kendala saya, langsung menawarkan diri mendorong motor saya. Si mas ngotot membantu meski saya jelaskan bahwa rumah saya masih jauh, dan arah perjalanan kita sebenarnya berlainan. Saya menuju arah Godean, si mas menuju Wates.

Malam itu saya tertolong, urung mendorong motor berkilo-kilo sampai rumah. Si mas—entah siapa namanya, kami tak sempat berkenalan—dan bapaknya, mendorong motor mogok yang saya kendarai. Sembari mengendarai motor kaki si mas mendorong knalpot motor saya. Sampai dekat rumah, saya hanya sempat mengucapkan terima kasih. Tanpa babibu si mas langsung pamit pergi, tak ada gelagat mau minta imbalan.

Si mas pendorong motor membuat saya sadar bahwa di tengah dunia kapitalistik yang mengukur segalanya dengan takaran untung-rugi ini, saat egoisme dan kepentingan diri sering menjadi yang utama, ternyata masih banyak orang baik penganut altruisme, Paham atau sifat lebih memperhatikan dan mengutamakan kepentingan orang lain.

Si mas hanya salah satu kasus mogoknya motor saya. Sebelumnya di wilayah berbeda di Jogja, saya sempat mengalami mogok beberapa kali. Seringnya karena lupa mengisi bensin. Jarum indikator bensin saya rusak, jadi kadang saya tak tahu cadangan bensin di tangki. Tahunya ya begitu sudah di jalan sepi, tidak ada penjual premium eceran, eh ternyata habis. Saat mendorong motor, sering ada orang berhenti, menawarkan bantuan mendorong motor sampai mendapatkan bensin.

Ini Jogja. Kota yang mulai dikeluhkan banyak orang karena laju pembangunan tak terkendali, kota yang katanya sedang dikuasai investor dan pengembang, kota yang jumlah kawasan komersilnya kian banyak melebihi infrastruktur pendidikan. Di tengah sengkarut pembangunanisme ini, orang-orang Jogja di akar rumput masih hidup bersahaja. Bersenjatakan altruisme, mereka saling membantu antar sesama. Tanpa hitungan hari ini dapat untung berapa dari aksi tersebut.

Grup Facebook Info Cegatan Jogja adalah ruang altruisme paling mutakhir bagi warga. Awalnya digunakan untuk berbagi info lokasi razia kendaraan yang dilakukan polisi di seputar wilayah Jogja. Namun belakangan saya perhatikan grup ini sering juga membagikan info jika ada seseorang dengan kendaraan mogok butuh bantuan. Akan ada seseorang yang memposting informasi bahwa ada seseorang di lokasi tertentu butuh bantuan, siapa berada dekat dengan lokasi harap membantu. Tak lama berselang biasanya akan ada yang berkomentar, mengatakan dekat dengan lokasi dan siap membantu. Menjemput si malang yang motornya kehabisan bensin atau mogok tengah malam.

*

Sudah setahun saya menyingkirkan sistem operasi buatan perusahaan raksasa Bill Gates, dan memutuskan untuk menggunakan sistem operasi Linux Ubuntu di laptop saya. Awalnya, saya memutuskan hijrah ke Ubuntu hanya karena sadar bahwa kebutuhan komputasi saya tidak muluk-muluk. Saya hanya butuh laptop untuk menulis, mendengar musik, menonton film, berselancar di dunia maya. Saya tak butuh piranti lunak untuk desain, menyunting video atau foto. Setelah baca sana-sini, Ubuntu sudah memenuhi kebutuhan tersebut. Ubuntu juga gratis, bisa digunakan tanpa perlu membayar seperti sistem operasi tetangga sebelah.

Semakin lama mencoba Ubuntu, saya mulai belajar banyak hal. Sistem operasi ini bukan bikinan sebuah perusahaan besar yang membayar karyawannya untuk menulis kode-kode binary. Jadinya, Ubuntu tentu masih banyak kendala di sana-sini. Terkadang sistem operasi ini tidak mendukung piranti keras laptop, buntutnya ya speaker tidak keluar suaranya, atau touchpad laptop tak bisa digerakkan.

Sistem operasi keroyokan. Dikerjakan oleh banyak orang dan komunitas dari berbagai belahan dunia dengan satu minat yang sama: menciptakan sistem komputasi yang lebih baik bagi dunia. Berbeda dengan tujuan sistem operasi perusahaan raksasa itu kan? Saat semua diukur dengan angka. Tidak percaya? Coba tebus lisensi sistem operasi Jendela-Jendela! Tercengang dengan jumlah nominalnya?

Untuk memperbaiki kendala di Ubuntu, saya mulai rajin menelusuri forum-forum Linux atau Ubuntu yang tersebar di internet. Di situ selalu ada jawaban. Selalu ada orang yang menjawab pertanyaanmu. Para guru yang sukarela menelusuri permasalahan yang dipaparkan seorang pengguna baru, lalu memaparkan langkah demi langkah solusi untuk masalah tersebut.

Linux Ubuntu adalah contoh lain dari altruisme ini. Masih ada ya jaringan organik komunitas lintas negara, mau merelakan waktunya untuk coding, menyempurnakan sistem operasi ini. Mengikhlaskan diri menjawab setiap pertanyaan di forum-forum dunia maya. Membantu seorang pengguna baru di negara dunia ketiga yang bahkan tidak dikenalnya, seseorang yang memiliki nama yang susah dieja oleh lidah pembicara bahasa Inggris, seseorang yang mungkin tak akan pernah dijumpai secara nyata. Altruisme ini dilakukan dengan keyakinan bahwa hidup yang baik adalah saat orang lain merasakan kebaikan yang sama dengan apa yang kita rasakan.

Entahlah. Apa ya kesimpulannya? Mungkin ya. Mungkin agar kita jangan takut. Di luar pembacaan statistik bahwa dunia tidak baik-baik saja, bahwa 1 % menguasai kekayaan dunia sementara 99 % penduduk dunia adalah budaknya, masih banyak orang baik. Barangkali, masih ada harapan untuk hidup yang lebih baik. Maka sudahilah sedihmu yang belum sudah!!!

Yogyakarta, 13 Agustus 2016.

Advertisements