Tags

, , , , , , ,

(Dimuat di koran Tribun Jogja 12 April 2015. Versi di postingan ini adalah versi panjang sebelum dipotong oleh editor)

Musik adalah hiburan. Pernyataan ini diamini oleh mayoritas masyarakat Indonesia, setidaknya bagi mereka yang memutakhirkan perbendaharaan musik yang dikonsumsi melalui media besar seperti televisi dan radio. Karena media besar memang menjadikan musik sebagai industri showbiz, jual hiburan. Walau sebenarnya di luar yang mayoritas itu masih ada minoritas, segelintir orang yang menganggap musik lebih dari sekadar hiburan.

Apakah sah menganggap musik hanya sebagai hiburan? Sah saja, tapi ada baiknya kita tahu bahwa fungsi musik lebih dari hiburan. Sesuai penjabaran Antropolog Musik Alan P Merriam, musik memiliki 10 fungsi pokok dalam masyarakat. (Merriam, 1964). Hiburan adalah salah satunya. Selain itu musik berfungsi sebagai pengungkapan emosional, penghayatan estetis, komunikasi, perlambangan, reaksi jasmani, berkaitan dengan norma sosial, pengesahan lembaga sosial, kesinambungan budaya, dan pengintegrasian Masyarakat.

Dengan seabreg fungsi musik yang ternyata cukup penting bagi kehidupan masyarakat, lalu kenapa musik hanya dimaknai sebagai hiburan belaka? Pemahaman ini berbahaya karena ia menjadikan masyarakat kita adem ayem saja menerima suguhan musik seadanya di industri musik Indonesia. Yang penting menghibur. Cukup. Bodo amat lagunya monoton dan nyaris seragam baik dari segi musik maupun lirik.

Kritik Musik

            Ada dua faktor yang menjadikan musik (industri) Indonesia maju terus dengan kondisi yang sekarang–sebagai ornamen hiburan pengisi waktu luang. Pertama adalah kurangnya kritik musik yang mengiringi perjalanan industri musik Indonesia.

Meninggalnya kritikus dan pengamat musik Denny Sakrie adalah kehilangan besar bagi musik Indonesia. Karena beliau adalah satu dari sedikit kritikus yang cukup produktif menulis kritik serta mengarsipkan musik Indonesia. Tanpa Alm. Denny Sakrie kita ibarat kehilangan kanon yang menembakkan kritikan ke musik Indonesia.

Kenapa kritik musik penting? Ibarat DPR sebagai legislatif yang mengiringi sepak terjang pemerintah sebagai eksekutif agar tidak bekerja sesuka hati, kritik musik adalah pengingat agar musik tidak dibuat sesuka hati. Kritik musik bertugas menjaga kualitas musik yang ada. Meminjam istilah Suka Hardjana, dalam musik, ada korelasi antara kritik dan apresiasi. Kritik musik akan memicu adanya apresiasi yang lebih baik dari para penikmatnya.

Kurangnya kritik musik berkorelasi dengan faktor kedua yang menjadikan industri musik Indonesia sekadar jualan showbiz. Industri musik (pop) Indonesia merasa aman karena tidak ada legislatif yang mengkritisinya, ia jadi jalan sesuka hati. Tidak peduli dengan 9 fungsi pokok lain dari musik dan sekadar jualan hiburan.

Hal ini dapat dilihat dengan awetnya perilaku lip-sync dan minus one di acara musik televisi yang sudah hampir sewindu berlangsung. Atau simak bagaimana aksi Duo Serigala yang menghebohkan kancah musik nusantara karena goyang dribble yang sensual, bukan olah vokal cengkok dangdut yang aduhai.

Akhirnya masyarakat luas hanya menjadi masyarakat penonton, tidak terlalu peduli dengan apresiasi lebih. Yang bisa mereka lakukan hanya marah-marah di media sosial tatkala mengetahui lagu Pusing Pala Barbie dari grup Putri Bahar ternyata sangat mirip dengan tembang populer Meghan Trainor All About That Bass. Ini dikarenakan kurangnya kritik musik yang komprehensif menggugat industri musik dan artist yang berkarya di jalurnya.

Refleksi

            Musik adalah instrumen penting bagi kehidupan berbangsa. Kenapa? Karena musik mengajarkan kita agar mengolah nalar dan rasa, dua hal yang penting dalam menumbuhkan keharmonisan dalam hidup.

Musik mengasah kemampuan manusia bernalar karena pada dasarnya musik adalah matematika. Musik adalah hitung-hitungan logaritma yang presisi antara melodi, ritme, tempo, dan unsur musikal lainnya. Tanpa nalar matematika, musik yang dihasilkan pasti kurang bagus misalnya fals atau bertempo tidak konstan. Musik membiasakan pendengarnya untuk bernalar, kemudian menggunakan nalarnya untuk memahami lingkungan sekitar. Nalar penting agar manusia tidak terjebak asumsi dan praduga dalam membuat karya atau menyelesaikan masalah.

Musik juga penting karena ia mengajarkan manusia agar peka terhadap rasa. Terlebih bagi kita manusia timur yang konon mengedepankan spiritual rasa dalam kehidupan. Musik membiasakan kita peka dalam menyikapi mana yang indah, melodi musik mana yang menimbulkan rasa kagum dan nyaman dalam hati, mana perpaduan instrumen yang harmonis. Rasa penting agar manusia peka terhadap lingkungan sekitarnya.

Sudah sepatutnya kita melakukan refleksi. Sudahkah musik yang dibuat, diedarkan, dan didengarkan di Indonesia menjadikan kita manusia Indonesia yang lebih baik? Sudahkah musik yang kita dengarkan melatih kita agar lebih peka mengolah nalar dan rasa?

Sudah saatnya ada lebih banyak kritik dilontarkan pada musik Indonesia, agar para pendengar musik Indonesia tidak sekadar menjadi apa yang disebut Adorno sebagai entertainment listener atau pendengar hiburan. (Adorno, 1941). Agar pendengar musik Indonesia memiliki apresiasi yang lebih terhadap musik berkualitas dan punya bargaining position lebih baik, tidak hanya diam dan mengeluh pusing pala Barbie mendengarkan musik Indonesia.

Perkara mendengarkan musik ini menjadi penting jika konteksnya kita luaskan ke ranah sosial politik. Jika dalam hal mendengarkan musik saja manusia Indonesia diam dan tidak protes saat disuguhkan epigon dan musik banal di industri musik, malah membiasakan diri menikmatinya. Tidak menutup kemungkinan manusia Indonesia akan abai dalam menyikapi isu yang lebih luas seperti sosial dan politik.

Mari bersama-sama mengkritik musik yang kita dengar, mengapresiasi musik dengan lebih baik. Belajar bernalar dan mengolah rasa di sana, agar kita menjadi manusia Indonesia yang lebih baik dan membawa bangsa ke arah yang lebih baik.

Yogyakarta, 26 Maret 2015.

11080678_10204791242395226_6927155267265613688_o

Advertisements