Gambar

Sebagai seorang sarjana Etnomusikologi yang baru lulus dan dengan bangga menyandang gelar—seperti yang banyak disandang sarjana lainnya—pekerja freelance. Saya sering bekerja membantu teman di beberapa LSM atau kedai kopi. Singkat cerita suatu hari saya bekerja sebagai notulis di rapat sebuah LSM. Di tengah rapat yang nampak serius dan begitu seru sampai bikin jidat para hadirin berkerut, tiba-tiba beberapa kaum Adam di samping saya tertawa terbahak. Ternyata mereka tengah memelototi goyang dribble a la Duo Serigala di layar laptop.

Ini tentu membuat saya heran: sedahsyat apa sih goyang dribble sampai mampu membuat gerrr para kaum Adam di rapat yang begitu serius? Akhirnya saya ikutan nonton dan ikut tertawa geli dengan sedikit bumbu chauvinist.

Goyang dribble memang sensasional. Mata setiap yang memandang tentu langsung tertuju pada sesuatu yang menggantung dari duo Safitri dan Ovi. Karena memang itulah tawaran utama dari sang biduan. Sementara telinga tak akan sanggup mentolerir lama-lama suara vokal si Duo yang memang cekak dan sama sekali tak ada cengkok dangdut nan aduhai. Duo Serigala adalah produk dari ramalan kuno Andy Warhol yang bersabda kelak semua orang bisa menjadi selebritis, selama 15 menit. Setidaknya ada 3 juta lebih orang yang menganggap mereka selebritis. Para penonton yang tentu mengamati dekat-dekat objek yang di-dribble, namun takut-takut membayangkan menyentuhnya karena seolah di sana ditempel stiker toko “dilihat boleh, dipegang jangan.”

Tapi sepak terjang Duo Serigala bersensasi tanpa kreasi tak dapat disalahkan begitu saja. Mereka tentu saja berguru pada para pendahulunya di kancah perdangdutan era sekarang. Misalnya kepada DePe atau mantan suaminya Saiful Jamil sang calon ketua MUI yang sebentar-sebentar nongol di layar kaca karena berbagai sensasi rumah tangga dan prahara cinta, bukan karena rilisan album baru. Duo Serigala dan para mentornya di kancah dangdut masa kini secara tidak langsung adalah sebab kenapa kemudian dangdut dianggap sebagai musik tidak berkelas dan murahan.

Sebagai seorang etnomusikolog yang jarang membaca buku disiplin ilmunya dan lebih sering membaca artikel para Jomblo yang menganalisis situasi politik. Saya merasa perlu memberikan saran kepada Duo Serigala, ada baiknya mereka berguru pada mentor dangdut yang tepat: kepada bang haji Rhoma Irama serta ratu ngebor Inul Daratista.

Kenapa Rhoma Irama? Karena di luar segala kontroversi yang ditimbulkannya di kancah perpolitikan dan percintaan, bang Haji adalah sosok yang jenius di bidang musik—terutama dangdut yang dibawakannya bersama Soneta sejak era 70-an. Dalam segi musik bang haji sangat visioner karena beliau mampu menggabungkan musik melayu, India, dan lick rock a la Deep Purple menjadi bentuk dangdut yang akhirnya dianggap sebagai salah satu musik paling populer dan merakyat di Indonesia. Dari segi lirik pun bang haji banyak membicarakan isu sosial dan politik, tidak melulu melontarkan pernyataan nakal Abang Goda atau Sakitnya Tuh Di Sini.

Kenapa Duo Serigala perlu berguru pada Inul Daratista? Karena di luar berbagai kontroversi mengenai perseteruannya dengan sang raja dangdut di masa lampau, atau goyangan sensualnya yang rawan dikecam para feminist, atau yang paling dekat kontroversi usaha karaokenya yang ditutup paksa, istri Adam Suseno ini masih mengedepankan kualitas vokal yang mumpuni. Cengkok dangdutnya masih aduhai, dan Inul terus mendalami olah suara agar bisa menyanyi dengan indah. Hal yang menjadikan Inul layak menjadi juri sebuah ajang pencarian bakat dangdut di salah satu televisi swasta, semeja dengan bang Ipul yang sesungguhnya memiliki suara datar dan kurang kompeten menjadi juri.

Ini mendesak untuk dilakukan wahai nona Safitri, nona Ovi, serta tuan Andhika. Agar para penikmat dangdut di Sriwedari Solo atau XT Square Jogja bisa bergoyang diiringi karya baru musik dangdut yang lebih segar. Agar segera ada rilisan dangdut yang ajib di rak-rak CD toko musik atau di daftar laris unduhan Stafaband. Agar rekan rapat saya di sebuah LSM itu kelak tidak lagi mencuri-curi waktu rapat dengan menonton pertunjukan sensual sesuatu yang begitu besar, tapi justru mengagumi lengkingan suara vokal dan cengkok dangdut yang asoy.

Segeralah belajar musik pada sang raja dangdut dan ratu ngebor! Tinggalkanlah rumus jualan kontroversi dan sensasi. Agar ketenaran kalian sebagai selebritis bisa bertahan lebih lama, tidak hilang begitu cepat tergantikan sensasi baru yang kian deras mengalir. Sederas pergantian informasi (cocoklogi) yang sering dibagikan Jonsi—eh—Jonru di medsosnya.

Yogyakarta, 27 Februari 2015.

NB: Naskah yang saya coba kirim ke situs yang lagi naik daun karena artikelnya nakal tapi pintar. Mungkin karena saya kurang nakal dan kurang pintar jadinya nggak dimuat. Saya malas perbaiki, daripada membusuk di drive ya sudah dipublish saja di sini 😀

Advertisements