Tags

, , , , , , , ,

(Dimuat di koran Kedaulatan Rakyat. 20 Februari 2015)

Banyak orang yang menetap di Yogyakarta mulai mengeluhkan kemacetan yang sering terjadi di ruas jalan utama, terutama saat jam sibuk pagi atau sore. Kemacetan makin terasa di musim liburan saat banyak kendaraan pelancong luar kota singgah ke Yogya. Jalan utama seperti Malioboro begitu riuh kendaraan dan lalu lalang orang.

Ada kecemasan jika kemacetan tidak segera dicarikan solusi beberapa tahun ke depan jalanan Yogja akan macet total. Pengamat transportasi Prof Dr Ing Ahmad Munawar MSc mengatakan, kemacetan seluruh ruas jalan Yogya saat ini hanya 7 persen, namun 10 tahun ke depan kemacetan di Yogya akan mencapai 45 persen. Artinya akan ada kemacetan di setengah ruas jalan utama Yogya (KR, 7 Maret 2013)

Secara ekonomi efek kemacetan mengurangi mobilitas warga serta menghabiskan banyak bahan bakar kendaraan yang sulit melaju. Namun ada hal penting lain patut diwaspadai terkait kemacetan di ruas jalan Yogya: waspada kebisingan yang ditimbulkannya.

Soundscape

Dalam ilmu Etnomusikologi dikenal istilah soundscape. Pertama kali dikenalkan tahun 1969 oleh komposer R Murray Schafer, soundscape dipahami sebagai suara lingkungan sekitar. Setiap tempat memiliki karakteristik soundscape berbeda. Maka soundscape wilayah pegunungan dengan perkotaan berbeda. Sepanjang 2005-2006 Etnomusikolog Jepang Shin Nakagawa melakukan penelitian mengenai soundscape di jalanan Yogyakarta dan ia menemukan kota ini sangat bising. (Nakagawa, 2006).

Di jalanan Yogyakarta terdapat frekuensi suara berlebihan dari masifnya jumlah kendaraan yang lewat, suara mesin, klakson, pengumuman di speaker lampu lalin dan palang pintu kereta api, suara kereta lewat dan lain sebagainya. Suara tidak bisa diabaikan karena ia memengaruhi manusia melalui 4 cara, yakni 1. Fisik (produksi hormon, detak jantung, cara menghela napas), 2. Psikologi (memicu stres atau membuat santai), 3. Kognitif (produktivitas kerja), dan 4 Kebiasaan (memicu manusia melakukan kebiasaan tertentu). (Julian Treasure, 2009). Soundscape wilayah pegunungan yang tenang tentu memberikan efek nyaman pada orang yang mendengarkan.

Berbeda dengan suara bising berlebihan di jalanan kota akan memberikan efek negatif bagi orang yang hidup di keriuhan suara bising tersebut. WHO menyebutkan 120 juta orang di seluruh dunia mengalami gangguan pendengaran yang diduga disebabkan oleh suara bising. (Chepesiuk, 2005). Suara bising berlebihan di jalanan Yogyakarta tidak bisa diabaikan karena akan memengaruhi kualitas hidup manusia yang lalu lalang di jalanan dan menetap di kota gudeg.

Memilah Suara

Dalam Karawitan Jawa terdapat instrumen gender. Instrumen berbentuk bilah ini memiliki karakter suara lirih nyaris tak terdengar, tapi ada. Perlu konsentrasi dan fokus agar bisa mendengarkan pola permainan gender dengan jelas. Ini agak sulit dilakukan bagi telinga yang tidak dibiasakan fokus, karena suara lirih gender tertutup oleh instrumen lain yang berkarakter nyaring seperti saron atau bonang. Namun saat seseorang mampu fokus mendengarkan hanya suara gender, ia akan mendengarkan indahnya karakter suara gender.

Cara memilah suara dan fokus mendengarkan suara gender tersebut dapat kita gunakan untuk memilah suara soundscape sekitar. Kita sering tidak sadar atau abai dalam mendengarkan berbagai suara sekitar. Setiap suara kita dengarkan tanpa sadar itu memengaruhi kualitas hidup kita. (Julian Treasure, 2009). Kita harus belajar mendengarkan suara dalam kondisi sadar, lalu memilah suara yang harus disingkirkan atau didengarkan.

Misalnya saat terjebak kemacetan di jalanan atau mengantre panjang di lampu lalin, alih-alih mendengarkan suara deru mesin atau klakson yang dibunyikan non-stop, lebih baik kita fokus dengarkan suara calung atau angklung yang mangkal di lampu merah. Suara musik memberikan efek relaksasi lebih baik ketimbang suara mesin.

Melatih diri memilah suara hanya salah satu cara membentengi diri dari efek negatif kebisingan suara yang disebabkan kemacetan. Strategi besar mengatasi kemacetan di Yogya tentu tetap harus dirumuskan oleh pakar dan pemangku kebijakan. Karena kemacetan merugikan bagi ekonomi warga, dan suara bising yang ditimbulkannya menurunkan kualitas hidup masyarakat luas.

Advertisements