Tags

,

Saya baru saja menonton film menarik berjudul Life In a Day. Film ini melibatkan banyak orang dari berbagai belahan dunia yang diminta merekam momen menarik dalam hidup mereka pada tanggal yang sama 24 juli 2010, lalu mengirimkannya untuk disatukan menjadi sebuah linimasa kehidupan manusia dalam waktu 24 jam. Film ini dibuat dari 4,500 jam footage dalam 80,000 video yang dikirimkan dari 192 negara. Setiap orang di setiap negara memiliki kebiasaan, kebudayaan, dan kehidupan yang berbeda. Nah yang membuat film ini menarik adalah kepiawaian sang film maker membuat semacam benang merah yang menyatukan setiap frame gambar yang berbeda dari banyak orang dengan budaya dan kebiasaan yang berbeda, menjadi sebuah kesatuan utuh perjalanan hidup seorang manusia dalam sehari sejak matahari terbit hingga terbenam. Everything’s connected. Ada keterhubungan antara kehidupan manusia di belahan dunia satu dengan yang lain. Apa yang terjadi di belahan dunia sini sebenarnya juga memengaruhi belahan dunia lain. Setidaknya dalam ilmu hubungan internasional ini dapat dibuktikan dengan fakta bahwa kebijakan politik sebuah negara adidaya akan memengaruhi hajat hidup jutaan manusia di negara dunia ketiga. Atau peperangan yang terjadi di Timur Tengah bisa jadi menyebabkan harga minyak meroket dan menjadikan pemerintah negara terpaksa menaikkan harga BBM demi keselamatan APBN.

Sepanjang karir (ceileh karir loh bro) kepenulisan saya yang tidak terlalu cemerlang. Saya selalu meyakini bahwa tugas seorang penulis adalah mencari hubungan antara berbagai kisah di seluruh dunia. Adalah kewajiban penulis menggali kisah A dari daerah A, mendalami cerita B dari daerah B, kemudian mencari benang merah antara A dan B, lalu merangkainya menjadi sebuah kesatuan utuh. Sebuah tulisan yang runut dan dapat dibaca oleh banyak orang sehingga mereka yang sebelumnya tidak ngeh tiba-tiba mengerti bahwa ternyata ada korelasi antara kisah A dengan cerita B.

Dalam salah satu episodenya, si kuning bercelana kotak Spongebob pernah mematahkan spatulanya. Alat yang biasanya digunakan untuk membalik patty yang tengah dipanggang. Saat kehilangan alat kerjanya tersebut Spongebob langsung merasa nelangsa. Ia kehilangan pusaka, alat bantu utamanya untuk bekerja. Spongebob mengalami yang namanya Chef’s Block, istilah rekaan saya untuk menyebut kondisi saat seorang chef atau koki tak bisa memasak lagi. Apa yang membuat si kotak kuning tak mampu memasak lagi bukan hanya karena kehilangan bentuk fisik dari spatula, tapi ada sesuatu di baliknya. Yakni spirit atau semangat. Ini yang lebih fatal, saat ia kehilangan semangat yang biasanya memicu dirinya untuk memasak dengan riang.

Dalam dunia kepenulisan juga dikenal yang namanya writer’s block. Suatu kondisi saat seorang penulis sampai pada titik nadir pengkaryaan. Saat pikirannya mentok dan tidak mampu memikirkan suatu ide lagi untuk dituangkan dalam rangkaian aksara penuh makna. Belakangan ini saya ibarat Spongebob yang kehilangan spatulanya. saya kehilangan spirit dan mood untuk menulis sesuatu. Saya mentok, menabrak dinding batas ide. Tak mampu melompatinya.

Tulisan penuh random thought ini adalah upaya saya mencoba menggali lagi spirit dan mood menulis saya. Dan juga sekadar pengisi agar blog ini tidak vakum terlalu lama, jika ada yang mau membaca blog ini, tentu bisa melihat bahwa sudah sekian lama sejak saya posting tulisan terakhir. Sejak saat itulah saya mengalami writer’s block. Semoga setelah postingan terakhir ini saya segera menentukan arah: mau ngapain sih saya ini? Mungkin saya harus menjadi Spongebob yang rehat sejenak, piknik ke ladang ubur-ubur dan mencari senang di sana. Setelahnya siapa tahu saya bisa mendapat spatula baru, termasuk spirit dan mood bekerja yang baru. Ayo menulislah sesuatu Ris!!! Jika meminjam istilah presiden yang baru terpilih, ayo kerja, kerja, kerja!!!

Yogyakarta, 31 oktober 2014.

Advertisements