Tags

, , , , , , ,

Gambar

Semalam saya hadir ke sebuah festival musik di sebuah pusat seni dan budaya di selatan kampus saya yang berlokasi di Jl. Parang Tritis. Festival tahunan itu mengedepankan konsep eksplorasi musik nusantara. Setiap penampil didaulat mengeskplorasi satu atau lebih unsur musik nusantara dalam aransemen yang mereka bawakan. Baik itu dengan memainkan langsung instrument nusantara, maupun sekedar menuangkan idiom atau lirik nusantara dalam alat musik konvensional. Dengan tagline yang menurut saya rawan diperdebatkan: melestarikan musik (budaya) nusantara.

            Rawan karena kebanyakan pemusik yang hadir di festival itu (dan banyak pemusik lain di luar festival itu) seringnya terjebak dalam bentuk musik yang membingungkan. Eskplorasi yang dimaksud kadang sekadar mentok di mengadaptasikan idiom nusantara dalam alat musik konvensional (kita bisa sebut drum, gitar, bass, keyboard, dll). Misalnya menerapkan idiom laras pelog gamelan Jawa dalam keyboard atau gitar. Ada lagi beberapa yang menerapkan formula mencampur instrument nusantara dengan instrument konvensional: sebuah band rock memasukkan saron dan kendang dalam musiknya. Bahkan ada pemusik yang sekadar menjejerkan begitu banyak instrument nusantara, lalu (agak kasar) memerkosa instrument tersebut dengan hanya mengambil timbre atau tone colour dari instrument tersebut. Tidak berusaha mengeksplorasi spirit dibalik musiknya. Kendang Bali yang seharusnya begitu menarik saat di-ubit (interlocking), kulintang, rebana, semuanya diperkosa dan dipaksa terus memainkan beat dubstep yang monoton.

            Inilah kebanyakan eksplorasi musik nusantara yang digaungkan sebagai “melestarikan musik (budaya) bangsa”. Apakah ini salah? Tidak juga, yang menurut saya salah adalah kata “melestarikan budaya bangsa” karena nyatanya kebanyakan eksplorasi itu bukannya melestarikan malah membuat rancu musik yang dihadirkan. Kebanyakan terjebak dalam orientalisme yang beranggapan bahwa musik nusantara itu eksotis, akhirnya musik nusantara-nya sendiri sekadar menjadi tempelan, pemanis. Akan lebih aman jika tagline “melestarikan” atau “budaya sendiri jangan dilupakan” diubah saja menjadi ‘eksplorasi world music dengan media instrument nusantara.”

            Kemudian saya teringat dengan teman-teman kuliah saya yang sering berkoar “melestarikan musik nusantara” namun terjebak dalam kesaklekan tradisi yang kadang enggan out of the box. Mereka bisa memainkan musik tradisi dengan luar biasa keren, tapi kesalahannya adalah enggan menerima bahwa jaman sudah berubah. Alih-alih berusaha keluar dan mencari cara mengenalkan musik tradisi (yang sebenarnya, dengan semangat local wisdom) justru mereka menghabiskan energi dengan mengutuk keras modernisasi dan perubahan jaman. Menyalahkan perubahan jaman ini sebagai sebab musik tradisi mati. Akhirnya kebanyakan teman saya ini berakhir hanya dengan memainkan musik mereka di kamus, ditonton teman sendiri, atau kalaupun keluar ya bermain di lapisan masyarakat yang memang bagian dari musik tradisi itu. Bukan lapisan masyarakat yang lebih luas, generasi muda cutting edge dan indie misalnya, sebagai corong baru bangsa yang populasinya mulai naik.

            Curhat panjang mengenai musik tradisional nusantara di atas semacam pengantar saya untuk mengatakan betapa saya kagum dengan sebuah band dari Palembang bernama semakbelukar. Sudah beberapa waktu ini saya tak bisa berhenti mendengarkan musik mereka. Apa yang membuat saya tak mampu berhenti mendengarkan semakbelukar: musik mereka tradisional Melayu, dimainkan anak-anak muda, dirilis oleh sebuah label (Elevation Records) asal Jakarta yang mulai diperhitungkan di ranah sidestream karena rilisan-rilisan uniknya. Dan mungkin formula terakhir yang pasti membuat banyak orang penasaran adalah fakta bahwa sekalipun baru muncul, band ini juga resmi dibubarkan.

            Menurut saya semakbelukar berhasil mengeksplorasi musik nusantara ini, namun tak terjebak dalam dua permasalahan seperti saya sebutkan di atas. Coba dengarkan Antologi semakbelukar. Musik mereka jelas tradisional. Bukan sekadar mengadaptasi idiom Melayu dan memaksakannya matching di instrument konvensional. (musik tradisional ini khusus untuk Belukaria Orkestar dan semakbelukar, terkecuali pada bagian solo David Hersya tentunya). Terutama pada bagian semakbelukar musik Melayu yang dimainkan kental sekali, tidak terdengar seperti musik melayu pop niaga yang sempat eksis beberapa tahun yang lalu, yang sekadar mencomot cengkok bernyanyi melayu namun dengan lirik pastiche murahan.

            Semakbelukar juga tak terjebak dalam permasalahan kedua, mereka tidak mengungkung diri dalam tempurung bernama kesaklekan tradisi. Mereka justru keluar dari tempurung, memainkan musik tradisional Melayu namun dengan gagah berani menyusup masuk ke ranah sidestream yang jarang berisi jenis musik tradisi seperti ini. Dengan sebuah ideologi yang mereka anut: menjadi tradisional itu juga bisa keren. Saya anggap mereka berhasil, mereka memang keren, dan misi mereka berhasil mencuri perhatian kalangan cutting edge ini untuk mendengarkan mereka.

            Kemudian, mari membicarakan musik dan lirik semakbelukar. Antologi semakbelukar adalah kumpulan lagu mereka sejak 2009 yang dirilis oleh Elevation Records beberapa bulan setelah semakbelukar memutuskan bubar. Antologi ini dibagi menjadi 3 bagian: belukaria orkestar, David Hersya (solo act sang vokalis), dan semakbelukar sendiri. Musiknya melayu, dengan lirik dalam, puitis, dan penuh perenungan ala gurindam Melayu. Ada beberapa lagu yang langsung nyantol ke telinga saya:

            Belukaria Orkestar langsung mencuri perhatian dengan Salam sebagai lagu pembuka Mekar Mewangi adalah puisi cinta yang romantis. Baik dan Buruk dan Hikmah memiliki lirik tipikal Melayu dengan petuah-petuah bijak mengenai kehidupan. Strumming mandolin pada Patah yang catchy menghantarkan penuh petuah “pernahkah kau rasa berat memikul semua masalah. Mematahkan semangatmu hingga kau berputus asa / janganlah kita begitu, merajuk tak henti-henti”. Melodi akordeon membius dalam Be(Re)ncana membalut lirik “karena sempurna itu hanya sebuah rencana / karena sempurna itu hanya sebuah bencana”.

            Pada bagian solo David Hersya, instrument konvensional lebih dominan namun tetap dengan idiom Melayu. Liriknya menegaskan bahwa David Hersya adalah penulis lirik handal. Penuh perenungan eksistensial. Dibuka dengan tiupan trumpet di #1, lalu ada Kemarin, Hari Ini dan Esok dengan aransemen jazz yang menandakan perbendaharaan musik David Hersya cukup luas. Nausea dengan ketukan ¾ berasa seperti musik ala Eropa. Menegaskan bahwa memang ada hubungan antara Melayu dan Eropa. No Exit adalah lagu dengan lirik eksistensialisme “I was born to be free, I was born to be lose / I walk alone in my existence”. Sementara itu Out of My Face cukup mengejutkan karena David Hersya mendadak jadi begitu cadas dalam hentakan metal.

            Bagian ketiga merupakan 7 track yang diambil dari EP semakbelukar. Benar-benar berasa musik tradisional Melayu. Seloka Beruk dengan tepukan asyik gendang yang memainkan pola joged ¾, akordeon dan vokal bersahutan mendendangkan lirik yang berima rapih “masanya budak dikenalkan lampin, sembari ditimang didendangkan / semenjak beruk menjadi pemimpin, haram dan halal pun dimakan.” Kalimat Satu adalah single pertama dengan akordeon yang benar-benar mencekam, gong sebagai instrument kolotomis juga mempertegas suasana mencekam itu. Berlayar Di Daratan berisi nasehat pada setiap manusia bahwa “umur bertambah, usia berkurang, sedang angan berpanjang”.

Apa budaya bisa lestari? Apa ada budaya yang asli? Jika menilik sifat budaya yang butuh waktu lama untuk menjadi sebuah konsesus di masyarakat, untuk lahir, maka agak naif jika kita berusaha bilang “melestarikan budaya” karena toh dalam waktu yang lama itu budaya memang harus berubah. Pun tak pernah ada budaya yang asli karena semua adalah campuran dari budaya yang sudah ada lebih dahulu. Semakbelukar barangkali tak muluk-muluk berusaha melestarikan budaya, mereka juga tak berusaha mempertahankan budaya asli. Tapi mereka berusaha mejalani budaya itu, membawanya ke ranah yang di luar kebudayaan melayu itu. Justru dengan demikian mereka dalam jalan membuat budaya, bukan sekadar merutuk dalam tempurung bahwa budaya asli bangsa harus dijaga. Ya, sekalipun sudah bubar namun misi semakbelukar terlah berhasil, misi untuk membuktikan bahwa tradisional itu juga keren.

Yogyakarta, 25 mei 2014

Aris Setyawan: Mahasiswa tingkat akhir jurusan Etnomusikologi ISI Yogyakarta yang bosan dengan setiap hari perkuliahan, Ketua KKM Keilmuan Etnomusikologi, penulis lepas di beberapa media, pernah bermain drum di band folk Aurette and The Polska Seeking Carnival, inisiator gerakan peduli anak jalanan Save Street Child Jogja. Penggila baca, pemuja kucing, berharap semoga suatu hari Radiohead konser di Indonesia. Tulisan lainnya dapat dibaca di https://arissetyawanrock.wordpress.com. Dapat dihubungi melalui twitter @arissetyawan atau email arisgrungies@gmail.com

Advertisements