Tags

, , , ,

(Dimuat di Paper Zine # 12, januari 2014)

 

“Everything in the world is about sex. Except sex. Sex is about power.” (Oscar Wilde)

 Ketika Ichan dari Paper Zine bertemu saya di Bandung bulan oktober kemarin, penggenjot BMX garis keras itu secara pribadi meminta saya menyumbang sebuah tulisan untuk edisi ke-12 Paper Zine. Dan jujur saya agak bingung saat Ichan menyodorkan tema edisi ke-12 ini: seks. Kenapa saya bingung? Karena di negeri ini, membicarakan seks tak akan lepas dari dikotomi hitam-putih, moralis-liberalis, dan segala tetek bengek alim vs profan lainnya. Dan saya agak malas jika harus berpolemik dalam hal ini. Karena sumpah, malas menghabiskan energi berdebat mengenai sesuatu yang sebenarnya sangat mendasar dan alamiah sebagai kebutuhan pokok manusia. Namun dengan kacamata (sok) post-strukturalis yang biasa saya gunakan, pada akhirnya saya mengiyakan permintaan Ichan untuk menulis mengenai seks, walau mungkin tak akan mendalam dan sekadar numpang lewat. Karena kacamata post-strukturalis mengiyakan quote Oscar Wilde yang saya kutip diatas, bahwa ada kuasa dalam seks, dan membahas relasi kuasa tentu sesuatu yang menarik bagi kacamata post-strukturalis.

Ilmuwan psikoanalisa termahsyur sejagad, Sigmund Freud pernah menyatakan bahwa motivasi terbesar bagi manusia adalah seks. Manusia bergerak, membuat berbagai kemajuan hidup, sesungguhnya dipicu oleh dorongan seksual untuk mendapatkan pasangan, kemudian melepaskan hasrat seksual tersebut. Freud memang banyak membicarakan seks dalam tulisannya, salah satunya mengenai Oedipus Complex dimana Freud menyatakan seorang anak ingin menguasai ibunya secara seksual karena dipicu kecemburuan pada sang ayah yang memiliki ibunya sepanjang waktu.

Sekalipun banyak ilmuwan setelahnya yang menolak premis Freud, namun sedikit banyak ada beberapa pemikirannya yang menurut saya cukup relevan dalam membedah berbagai problema seks dan fenomena sosial. Saya ingat baru selesai membaca Julia’s Jihad. Sebuah kumpulan esai yang ditulis oleh Julia Suryakusuma, kolumnis The Jakarta Post dan Tempo edisi English. Beberapa esai dalam buku itu membahas mengenai seks, dengan dasar pemikiran Freud mengenai seks sebagai dorongan kuat bagi manusia tersebut. Ada sebuah kisah mengenai bisnis pernikahan di kawasan Puncak, pernikahan transaksional antara wanita lokal dengan pengusaha kaya dari Arab. Pernikahan itu diikat bukan dengan komitmen dan cinta layaknya pernikahan biasa, alih-alih ia diikat dengan kontrak dan sejumlah nominal. Setelah kontrak habis sang pria Arab kaya bisa menceraikan sang wanita, hasrat seksnya terpuaskan, lalu ia melenggang bebas dan bisa mencari istri kontrak yang lain.

Inilah model pemikiran Freud, seorang pria dari Negara jauh sengaja terbang ke Indonesia, mengeluarkan uang yang tak sedikit, agar dapat melakukan hubungan seks dengan wanita Indonesia. Barangkali sang sheik Arab itu berusaha patuh pada aturan institusi agama yang melarangnya berhubungan seks di luar nikah, maka ia harus melegitimasi hubungan seks-nya dengan cara menikah agar mendapat label halal, namun tentu sang sheik ogah berurusan dengan tetek-bengek pernikahan dan berbagai aturannya. Jadilah ia mengeluarkan sejumlah uang untuk mengontrak seorang perempuan Indonesia menjadi istrinya. Yak, yes, halal sudah. Kedua belah pihak sama-sama diuntungkan, sang sheik puas karena hasrat seks terpenuhi, sang perempuan mendapat sejumah besar nominal untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya di desa, dan yang ketiga pemerintah daerah atau pemerintah pusat ikut untung dengan adanya pemasukan dari sesuatu yang mereka sebut sebagai “wisata seksualitas” itu. Tapi saya kemudian berpikir, apa bedanya pernikahan kontrak ini dengan prostitusi? Dengan adanya nominal uang dan transaksi, pernikahan ini hanyalah justifikasi bagi hasrat seks seorang sheik Arab, uang dan transaksi untuk memperoleh label halal bagi hubungan seksnya.

Terkait fenomena nikah kontrak ini, Julia menyatakan berang kepada Jusuf Kalla (yang saat esai tersebut ditulis masih menjabat sebagai wakil presiden RI) yang melontarkan statement di media massa bahwa nikah kontrak di kawasan puncak harus didukung karena menambah pemasukan daerah (atau malah devisa Negara) melalui uang para cukong gurun pasir itu. Jika Julia marah tentu beralasan, sebagai seorang wanita muslim moderat, Julia tentu tak bisa menerima justifikasi nikah kontrak. Coba dipikirkan, wanita mana yang mau menjual dirinya untuk jadi boneka kepuasan seorang cukong Arab? Julia tentu beranggapan pernyataan Jusuf Kalla melukai perasaan wanita, dan Jusuf Kalla adalah perwakilan dari Negara. Bisa saja kita menuding Negara tidak memperdulikan perasaan rakyatnya, dan lebih mementingkan jumlah pendapatan yang masuk kas. Negara mendukung prostitusi berkedok pernikahan. Tak heran mengingat Negara juga mendukung prostitusi dalam bentuk yang lebih nyata. Buktinya, kawasan prostitusi selalu ada di setiap kota, dan mereka mendapat keuntungan dari retribusi toh.

Pemikiran Freud lainnya mengenai seks adalah adanya anxiety saat seks di-represi. Mengenai represi ini, ilmuwan botak post-strukturalis Michel Foucault membedahnya dalam The History of Sexuality. Foucault mengatakan adanya represi dalam seks, ada pihak berkuasa yang merepresi, dan ada pihak lebih lemah yang tersubordinasi. Foucault mengkritik keras tradisi seks Victorian yang merepresi seksualitas manusia, mendisiplinkannya sesuai apa yang mereka sebut norma terbaik bagi manusia beradab. Mereka yang keluar dari norma ini dianggap profan, tidak beradab, kotor. Maka sejak kecil setiap manusia yang dididik dengan paradigma Victorian ini dilarang mengenal seks, karena seks dianggap berbahaya, mereka hanya boleh tahu jika sudah cukup umur dan sudah diikat pernikahan. Padahal represi ini menimbulkan anxiety, dan anxiety yang menggerakkan manusia untuk cari tahu, atau merasakan. Ingat wacana Freud tadi, sex is the biggest drive at all.

Tak adanya pendidikan dini seks bagi anak dan remaja di Negara ini adalah simbol bercokolnya pola pikir Victorian di nusantara. Seks dianggap tabu, ditutup-tutupi, dilarang dibicarakan keras-keras. Anak dan remaja yang bertanya diberi wejangan seks pantang dibicarakan karena mereka belum cukup umur. Padahal ini menimbulkan kegelisahan dalam diri anak dan remaja. Kegelisahan yang akhirnya mendorong mereka yang tak menemukan jawaban dari manusia dewasa untuk mencari tahu sendiri. Jangan salahkan mereka jika akhirnya banyak generasi muda asyik-asyik berhubungan intim dengan pacarnya. Yang lebih mengerikan, ada berita mengenai siswa SMP yang memperkosa temannya di sekolah. Yang paling mengerikan, banyak pasangan di bawah umur yang melakukan hubungan seks lalu merekamnya. Saya jadi ingat wejangan paman Ben pada Peter Parker: “with great power comes great responsibility.” Seks adalah sebuah kekuatan yang besar, ia membutuhkan tanggungjawab yang besar. Anak dan remaja yang rasa ingin tahunya besar ini sebenarnya belum siap secara fisik maupun mental untuk berhubungan seks. Mereka belum memiliki rasa tanggung-jawab, namun tak pernah ada yang mengajarkan seks harus dilandasi tanggung-jawab kepada mereka. Karena nihilnya sex education di sekolah atau di rumah. Maka ramailah fenomena seks dibawah umur, film-film 3gp rekaman adegan seks bisa diunduh gratis di dunia maya, seorang siswi SMA yang harus berhenti sekolah karena hamil di luar nikah. Semua adalah buah dari nihilnya sex education. Pendidikan yang harusnya mengajarkan responsibility pada generasi muda.

Alih-alih mengadakan pendidikan seks, para penganut paham Victorian tetap saja bebal, dan menyikapi perilaku seks di bawah umur anak-anaknya justru dengan sikap moralis. Mereka dengan eskapis biasanya berkata “ini pengaruh buruk budaya barat, ini efek modernisasi, ini bla bla bla…” modernisasi hanya alatnya, kamera hp canggih untuk merekam atau internet untuk menyebarkan video porno hanya media. Yang paling penting sesungguhnya adalah bebalnya para moralis ini. Bahwa pengekangan rasa ingin tahu generasi muda seperti menyimpan bom waktu, suatu saat akan meledak. Daripada marah-marah setelah bom itu meledak, akan lebih baik jika para moralis mendidik generasi muda agar memiliki rasa tanggung-jawab, sehingga mereka bisa menekan picu bom itu di saat yang tepat. Tidak dengan kepolosan kekanakan yang menimbulkan kerusakan.

Seperti dikatakan Oscar Wilde, semua di dunia ini adalah mengenai seks, the biggest drive at all. Seks juga sering hadir dalam karya manusia, musik,film, sastra, apapun. Namun ada pengecualian, seks sendiri tidak membicarakan mengenai seks. Justru ia membicarakan kuasa. Tentang bagaimana seorang yang lebih superior menguasai seorang yang lebih inferior. Tentang pendisiplinan oleh yang berkuasa kepada yang lebih lemah. Seks adalah mengenai represi. Masih tidak percaya kalau seks itu mengenai kuasa? Coba buka google, ketik “download 3gp skandal anak SMA ng*ntot” lalu buka salah satu link yang muncul. Link yang di-klik tak akan bisa dibuka, yang muncul malah sebuah peringatan besar “Maaf situs yang anda buka tidak dapat diakses karena mengandung konten pornografi. Pemblokiran ini sesuai aturan Kemenkominfo nomor bla bla bla….” Inilah kuasa, alih-alih memberikan pendidikan dini seks, Negara (baca: kuasa) tetap ngotot bertahan dengan tradisi Victorian, dan melarang dengan memblokir apapun yang berhubungan dengan seks. Ah, alangkah bodohnya. Jika generasi muda bisa dengan lihai menghindari pengawasan orang tua lalu melakukan hubungan seks dibawah umur. Artinya untuk mengakali blokir Kemenkominfo itu pun mereka bisa melakukannya dengan mudah, selalu ada cara mengunduh film porno di internet. Kuasa, ia membenarkan yang berkuasa.

Sementara generasi muda terombang-ambing dalam gejolak seks yang direpresi, mereka yang berkuasa diatas bebas bercinta di ruang mewah perwakilan Negara. Lalu sembarangan membuang kondom di berbagai sudut gedung representatif, meninggalkan para petugas kebersihan yang kesal harus membersihkan sisa sperma wakil rakyat yang berceceran. Ah dasar seks, kau penuh kuasa. Kuasain aku dong beib!!!

Yogyakarta, 18 november 2013

Aris Setyawan: Mahasiswa jurusan Etnomusikologi ISI Yogyakarta yang bosan dengan setiap hari perkuliahan, Ketua KKM Keilmuan Etnomusikologi, penulis lepas di beberapa media, bermain drum di band folk Aurette and The Polska Seeking Carnival, inisiator gerakan peduli anak jalanan Save Street Child Jogja. Penggila baca, pemuja kucing, berharap semoga suatu hari Radiohead konser di Indonesia. Tulisan lainnya dapat dibaca di https://arissetyawanrock.wordpress.com. Dapat dihubungi melalui twitter @arissetyawan atau email arisgrungies@gmail.com

Advertisements