Tags

To whom it may concern.

5 jam setelah terakhir kali kita bertatap muka dan berbicara. Di sebuah kedai mungil dengan mas-mas waiter yang berlalu-lalang dan selalu kamu pandangi karena menurutmu aneh, “kenapa rambut mereka diwarnai merah semua?” setelah 5 jam ini aku baru sadar: ternyata aku memang tak pandai berkata-kata untuk mengungkapkan sesuatu dengan cara yang lucu dan menyenangkan. Mungkin karena seperti yang selalu kamu bilang: aku terlalu serius. Maka setelah 5 jam aku memutuskan menulis saja. Sesuatu yang menurutku lebih aku kuasai daripada berbicara langsung.

Dalam tulisan ini mungkin aku tak akan bisa menjawab pertanyaanmu tadi, mengenai sebab-akibat: alasan mengapa ada sesuatu yang berbeda dalam caraku memandangmu. Apakah semua harus ada alasannya? Aku sendiri tak tahu kenapa bisa begitu. Aku hanya suka segalanya tentangmu. Tanpa tahu yang mana yang memicu afeksi atau rasa suka. Aku suka caramu berbicara yang menegaskan identitasmu sebagai perempuan Jawa yang lahir di tanah Sunda dan menghayati bahasa prokem ala ibukota. Sehingga kamu kadang berbicara dengan kowe, kamu, maneh, dan lu-gue. Aku suka ekspresimu saat merajuk, tapi cuma sebentar karena setelahnya kamu akan tersenyum lagi dengan manis sembari bilang: “Aku nggak bisa marah kok.” Aku suka pada beberapa hal yang menurutmu pasti remeh-temeh dan tak penting, seperti bagaimana caramu mengikat rambut sebahumu yang terurai. Atau tentang musik kegemaran kita yang ternyata beberapa adalah sama.

Nah, aku tak bisa jelaskan yang mana yang memicu rasa suka, ia hadir begitu saja tanpa bisa dibendung. Sesuatu yang membuatku memutuskan bahwa hatiku cuma ada satu, dan aku ingin membaginya denganmu, aku ingin memberikan satu ruang kecil di hati itu untukmu. Sembari berharap, kamu mau juga merelakan ruang kecil dihatimu untuk kutempati.

Tapi aku teringat perkataanmu selanjutnya. Bahwa pacaran itu nonsense karena ia mengikat. Tiba-tiba aku ingat bahwa selama ini aku pun meyakini itu. Bahwa pacaran adalah status normatif yang buntutnya mengekang setiap manusia dengan berbagai aturan-aturan. Hubungan yang melibatkan rasa seharusnya membebaskan, tidak mengekang dengan aturan dan status. Ia harus memahami perasaan sang terkasih. Dan tentu kamu takut dengan kekangan itu. Aku memahaminya, akan berusaha memahami alasanmu berkata “kita jalani aja dulu.”

Hey nona, iya aku mengaku, aku terlalu serius. Otakku kuperah sedemikan rupa hingga kadang tak ada lagi ruang untuk memikirkan sesuatu yang personal dan afektif seperti “aku dan kamu.” Pemikiranku sedang kugembleng untuk memikirkan banyak hal, ini tuntutan sebagai seorang yang sedang belajar menjadi pemikir kritis. Tapi seperti kubilang diatas, diluar pemikiran itu, ada hati yang isinya mengenai perasaan. Hati itu cuma satu, aku rela memberikannya padamu untuk kamu jelajahi tiap sudut ruang kecilnya. Aku berharap kamu juga mau merelakan ruang kecil di hatimu itu untuk kujelajahi. Nah, kabari aku secepatnya kalau kamu sudah memutuskan iya. Agar kita segera bisa bersama-sama mengejar senja yang kadang menggila dan bikin kita bahagia.

Yogyakarta, 4 januari 2014.

Advertisements