Tags

, , , , , , , , ,

( Dimuat di Jakartabeat, 16 november 2013 http://jakartabeat.net/resensi/band/konten/merenungi-absurditas-sisir-tanah )

Apabila disuruh menyebutkan alasan mengapa saya tak bisa berhenti mendengarkan Sisir Tanah, tak lain adalah ada sesuatu yang menggelitik dari musik kolektif folk asal Yogyakarta ini. Sesuatu yang sederhana, namun subtil dan absurd. Sederhana dengan musik minimalis gitar bolong dan vokal berkarakter kuat Bagus Dwi Danto ditingkahi beberapa gesekan cello pada beberapa bagian. Subtil dan absurd dengan lirik yang begitu dalam, penuh perenungan, terkadang begitu lugas menyatakan pesan, namun terkadang begitu absurd dan sulit dimengerti hanya dengan dibaca sekali. Sisir Tanah adalah pengejawantahan dari apa yang Albert Camus sebut sebagai absurditas. Bahwa hidup ini aneh, membingungkan, namun dengan tegas kita manusia menyatakan bahwa hidup memang harus dihadapi.

Pertama kita harus membicarakan kesederhanaan dalam musik Sisir Tanah. Kita akan menemukan penyatuan dari Iwan Fals saat bapaknya Galang itu masih berambut gondrong, kemudian Bob Dylan saat masih keras menyuarakan kritik sosial, serta yang lebih muda namun kian membahana Dialog Dini Hari. Inilah folk yang akan membiusmu dan membuatmu merem melek menikmati genjrengan gitar bolong akustik pada seluruh lagu. Gendang telinga pendengar pasti juga tergelitik dengan hadirnya cello pada beberapa komposisi. Pas dan tidak berlebihan, gesekan cello adalah semacam umami dalam masakan, rasa enak yang natural yang oleh para ilmuwan Jepang sebut sebagai rasa kelima yang ditemukan manusia. Umami yang menjadikan “Bebal” begitu membius, menampar keras setiap manusia bebal yang tak cinta alam semesta. Potongan Samplingsampling juga diselipkan sebagai penyampai pesan, misalnya pidato presiden dalam “Pidato Retak” menegaskan untuk siapakah pesan kritis dalam lagu ini sesungguhnya disampaikan. Kadang riff-riff gitar elektrik juga hadir meningkatkan tensi, mengubah dinamika musik menjadi lebih meriah.

Dan yang terutama dalam kesederhanaan musik Sisir Tanah adalah suara Bagus Dwi Danto yang berkarakter. Dalam kesederhanaan instrument pendukung, suara sang inisiator kolektif yang bermarkas di Sewon Bantul ini adalah yang paling menonjol. Terkadang ia terdengar begitu sendu dan nelangsa seperti meratap seperti dalam “Bebal”, “Lagu Wajib”, dan “Perahu Kertas.” Terkadang ia terdengar amat marah dan kesal seperti dalam “Konservasi Konflik” dan “Pidato Retak.” Suara Bagus Dwi Danto dikombinasikan dengan instrument akustik tersebut menjadikan musik mereka sederhana, namun mampu memicu eargasm pada setiap telinga yang mendengarnya. Siapa bilang sederhana itu selalu membosankan? Musik Sisir Tanah mampu memanfaatkan kesederhanaan dan menyajikannya dengan apik, menjadi nada-nada penuh perenungan.

Kemudian kita harus membicarakan sesuatu yang subtil dan absurd dalam lirik-lirik Sisir Tanah. Apa yang ditulis Bagus Dwi Danto adalah realisme-sosialis. Ngerasani lingkungan sekitar, membicarakan dunia dengan kacamata kerakyatan, bukan borjuasi. Tidak heran mengingat latar belakang Bagus Dwi Danto yang juga seorang aktivis kemanusiaan yang berafiliasi dengan Taring Padi, kolektif seni realisme-sosialis yang memang concern dengan isu-isu kerakyatan. Disinilah kita dapat melihat kejeniusan sang lirikus dalam menyampaikan pesan kerakyatan ala realisme-sosialis itu dengan bahasa yang subtil dan absurd. Sebuah cara menulis lirik yang tidak semua orang bisa melakukannya, Bagus Dwi Danto tentu begitu intens menulis liriknya, membutuhkan perenungan lama dan cara berpikir yang—kalau boleh dibilang—rumit.

Bagus Dwi Danto menampar setiap manusia perusak alam dengan “Bebal” yang berkata “Jika bumi adalah ibu, kita manusia memperkosa ibunya / Setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik.” Meletakkan manusia pada posisi seorang Oedipus yang ingin menguasai ibunya, memperkosanya. Hasrat serakah manusia dihadirkan dalam kompleksitas Oedipus yang serakah dan ingin memperkosa ibu yang menghidupkannya. Manusia yang begitu bebal dan tak mau mengerti bahwa alam sebagai ibunya begitu nelangsa apabila ia dipaksa melayani hasrat serakah manusia itu.

“Pidato Retak” adalah kritik tajam pada RI-1, orang nomor satu di republik ini, yang retorikanya begitu manis dalam setiap pidato, namun sesungguhnya pidato itu retak, tidak dapat dipercaya kebenarannya karena apa yang disampaikan sesungguhnya tak membicarakan kenyataan yang ada. Rentetan panjang lirik pada bagian coda mengatakan “Telepon genggam diaktifkan, doa diaktifkan, harapan diaktifkan / doa palsu diaktifkan, hey ada ranjang masih goyang / alat kelamin dinonaktifkan, puisi dicetak rapi, mahasiswa mogok makan”—-dan seterusnya. Pidato presiden adalah candu bagi masyarakat, mendisiplinkan rakyat dalam tenang dan patuh. Sisir Tanah menanyakan bagaimana bisa kita menerima kondisi ini dengan berteriak lantang “tuan dan nyonya belajar logika sudah sampai mana?” absurditas dengan kalimat yang dibacakan dengan begitu rapat itu juga hadir dalam menit ke tiga “Konservasi Konflik.”

Terkadang Sisir Tanah begitu sendu dan nelangsa, puitis dan kontemplatif. Seperti dalam “Perahu Kertas” yang mengajak kita merenung “Habis ruang untuk luka, dihisap metafora.” Atau “Lagu Wajib” yang menguak luka lama setiap orang yang pernah terluka oleh kenangan atau kenyataan: “Yang wajib dari hati adalah kata / yang wajib dari kata adalah Tanya / yang wajib dari Tanya adalah kita / yang wajib dari kita adalah cinta / yang wajib dari cinta adalah mesra / yang wajib dari mesra adalah rasa / yang wajib dari rasa, adalah luka.” Luka adalah bagian dari hidup, namun kita mengamini luka itu hadir, karena kita sadar itu wajib hadir dalam hidup yang memang tak selalu manis. Inilah absurditas. Bila kita terlalu letih dengan luka itu, beristirahatlah sebentar, persis “Kita Mungkin” yang berkata “Kita mungkin hanya jejak luka yang letakkan letih sebentar.”

Inilah Sisir Tanah, sederhana, subtil, absurd, penuh gizi. Cocok sebagai penghantar merenung saat hujan turun. Kombinasi bau petrichor tanah tersiram hujan, dengan secangkir teh manis, dan alunan musik Sisir Tanah harusnya mampu membuat kita merenung lebih intens, tentang keanehan hidup, persetujuan kita untuk ikhlas menerimanya, dan bagaimana kita belajar mengamati fenomena hidup di sekeliling kita. Setidaknya Sisir Tanah berhasil membuat saya mengalami saat itu. Bagaimana dengan anda? Siap merenungi absurditas hidup bersama Sisir Tanah?

Yogyakarta, 16 november 2013.

Dengarkan Sisir Tanah di https://soundcloud.com/ssrtnh. Kebetulan lagu mereka juga bebas unduh.

Sila mengobrol dengan mereka di twitter @sisirtanah

Aris Setyawan:Mahasiswa jurusan Etnomusikologi ISI Yogyakarta yang bosan dengan setiap hari perkuliahan, Ketua KKM Keilmuan Etnomusikologi, penulis lepas di beberapa media, bermain drum di band folk Aurette and The Polska Seeking Carnival, inisiator gerakan peduli anak jalanan Save Street Child Jogja. Penggila baca, pemuja kucing, berharap semoga suatu hari Radiohead konser di Indonesia. Dapat dihubungi melalui twitter @arissetyawan atau email arisgrungies@gmail.com

Advertisements