Tags

, , , , , , , , ,

Bukan, ini bukan tulisan mengenai film Demi Ucok yang bagus itu. Ini mengenai Herry Sutresna alias Morgue Vanguard, alias Ucok. Nama yang telah dikenal luas sebagai dedengkot hip-hop Indonesia dengan kolektif rap politik asal Bandung bernama Homicide. Kolektif berbahaya yang sayangnya telah almarhum tahun 2007 silam. Tulisan singkat ini hanya sebentuk testimoni. Cerita betapa saya menghormati musisi sekaligus aktivis tersebut, dan bagaimana ia mempengaruhi pemikiran, dan lebih lanjut tentunya, mempengaruhi hidup saya.

Apabila ada dua kota di Indonesia yang ingin saya jadikan kediaman saya, itu adalah Jogja dan Bandung. Tahun 2010 memberikan kesempatan pada saya tinggal di kota yang pertama. Setelah perjalanan panjang ke beberapa kota lain di Indonesia dalam rangka pencarian jati-diri (atau lebih tepatnya pencarian rupiah), awal tahun 2010 saya memutuskan minggat ke Jogja, dengan tujuan utama: belajar. Saya mau belajar banyak hal, saya ingin tahu banyak wacana, saya ingin mempelajari berbagai pola pikir orang. Dan Jogja terkenal sebagai pusat intelektual Indonesia, tempat dimana diskusi segala disiplin ilmu bisa terjadi di kenyamanan ruang seminar, atau sempitnya space di angkringan dan warung burjo. Jogja adalah rumah saya sekarang, walau jika dirunut sebenarnya kota kedua alias Bandung yang memicu saya untuk minggat ke Jogja. Karena apa? Karena Bandung adalah kota tempat tumbuh-kembangnya Homicide, dan tentu saja, Ucok the legend himself.

Ya, sebelumnya saya harus membuat pengakuan, bahwa saya terlambat mengetahui Homicide. masa kecil saya praktis diisi musik yang ada di desa saya di lereng Gunung Lawu. Musik pop niaga dan berbagai turunannya yang sering berputar di radio FM tua milik bapak, atau di TV hitam putih merk National yang kadang memutarkan P Project atau (favorit saya dulu) Base Jam.

Saya baru mendengarkan lagu Homicide sekitar tahun 2006, saat itu saya adalah buruh cuci motor di suatu sudut kota Bekasi, saya harus berkutat dengan sikat, kuas dan kanebo dari jam 7 pagi sampai 9 malam. Saat itu laman friendster masih digdaya, namun dicap terlalu 4lay dan mereka yang menganggap diri hipster (saat itu frasa hipster belum terlalu banyak diucapkan) akan membuat akun myspace. Mereka yang berinteraksi di myspace kebanyakan adalah penikmat musik, atau pemusik itu sendiri. Karena laman yang sebelumnya dimiliki Rupert Murdoch itu memang penuh dengan musik-musik menarik. Salah satu yang menarik saya adalah akun homicidebdg yang memiliki 4 lagu di music player. Setelah mendengarkan Senjakala Berhala saya butuh waktu lama berpikir “musik macam apa ini?” namun lama kelamaan saya menikmati musik Homicide. Dan yang paling utama, saya menghayati liriknya. Akhirnya saya memutuskan menghubungi Subciety Records, label yang merilis album Homicide. Beberapa saat kemudian hadirlah cakram padat Tha Nekrophone Dayz, yang kemudian terus berputar di playlist musik saya, sampai sekarang.

Semua manusia butuh sesuatu untuk memaksanya bergerak. Beberapa orang butuh dimotivasi manusia lain, hal yang membikin bisnis motivasi ala Mario Teguh laris manis. Beberapa hanya butuh dirinya sendiri. Ada yang butuh sedikit waktu sebelum tersadar ada yang tidak beres dalam hidupnya. Sementara saya butuh hampir 4 tahun sebelum akhirnya semua wacana yang dilontarkan Ucok dalam lirik-lirik Homicide menggetok kepala saya dengan keras: hidup kita ini tidak baik-baik saja. Hidup saya tidak baik-baik saja. Sebelum kuliah, begitu banyak buku yang sudah saya baca, begitu banyak ide-ide dan pengetahuan saya pelajari, namun saya tetap saja buruh. Sejak lulus sekolah menengah atas tahun 2004, saya langsung menjadi buruh bangunan, buruh pabrik, buruh cuci motor, buruh jaga warnet, buruh listrik, saya sempat menjalani segala macam pekerjaan tukang lainnya. Bukan berarti menganggap jenis pekerjaan ini rendahan tentunya, tapi justru setelah menjadi bagian dari semua pekerjaan kasar itu sekian lama, dan mendadak mendengarkan Tha Nekrophone Dayz, saya tercerahkan: jika ingin mengubah hidup saya menjadi lebih baik dan mengubah nasib mereka-mereka kamerad saya di pekerjaan kasar menjadi lebih baik, saya harus kuliah, karena dengan kuliah saya akan punya akses untuk melakukan sesuatu. Mungkin terdengar naïf, namun apa yang lebih menyenangkan dari niat baik bersekolah demi membuat perubahan pada diri sendiri dan lingkungan sekitarnya? Maka, setelah 4 tahun berbusa-busa mendengarkan orasi Ucok di Boombox Monger dan Belati Kalam Profan. Saya mengambil langkah besar berikutnya dalam hidup saya: minggat ke Jogja.

Saya ingat betul saat minggat ke Jogja, saya tak punya apapun. Saya hanya berangkat dengan tekad, tanpa uang saku cukup dan kepastian apa yang akan saya lakukan di sana. Kuliah saat itu terdengar terlalu tinggi bagi saya, walau niat awal saya ke Jogja adalah berusaha kuliah. Namun semesta memang aneh, ia bersekongkol mendukungmu untuk setiap niat baik yang kau yakini. Maka semesta mendukung saya dengan mempertemukan saya pada teman-teman baru, sosok baik hati yang banyak membantu saya sejak pertama tiba di Jogja. Mencarikan pekerjaan, memaksa saya mendaftar kuliah di ISI Yogyakarta saat tiba masa PMB. Dan jadilah, 3 tahun sudah saya tinggal di Jogja, salah satu dari dua kota yang ingin saya diami di Indonesia. Jadilah saya seperti sekarang: tetap seorang buruh. Toh manusia merdeka itu hanya mitos, tak pernah ada kehendak bebas. Kita adalah buruh bagi manusia lain. Bedanya adalah, sekarang saya buruh yang juga menyandang status mahasiswa, dengan status mahasiswa ini saya berharap paling tidak lebih mengerti berbagai isu-isu yang sebelumnya tak terjangkau oleh buruh tanpa embel-embel mahasiswa.

Sejak lama saya berpikir: suatu hari nanti, saya harus ke Bandung. Kalaupun belum bisa menetap di sana, cukuplah satu dua hari sekadar bertemu Ucok, ngobrol langsung dengannya. Beberapa hari yang lalu, kesempatan itu datang. Mumpung masih liburan semester, sebelum terlampau disibukkan dengan perkara mengejar nilai KHS tinggi melalui senyum banal pada staf pengajar, atau bagaimana cara mencari rupiah untuk membayar biaya hidup dan kuliah, sebelum terlampau sibuk beredar di panggung bersama aatpsc, atau belajar bersama anak-anak jalanan di Save Street Child Jogja. Sebelum semua kesibukan itu, saya pergi ke Bandung. Demi Ucok, demi ketemu Ucok. Wow, luar biasa ya, anggap saja saya semacam mulai mengkultuskannya. Layaknya pengkultusan para remaja tanggung yang baru saja menemukan cintanya pada gerombolan gadis manis berdandan necis di JKT48.

Apa yang saya lakukan setelah bertemu Ucok? Tak ada, saya bingung harus ngapain. Tak mungkin saya bilang padanya bahwa saya jauh-jauh naik kereta ekonomi 11 jam dari Jogja Cuma untuk bilang “saya ngefans situ loh bung.” Atau mencoba mencuri perhatiannya dengan mengungkapkan testimoni “gara-gara lagu bung, saya memutuskan kuliah.” Alangkah bodohnya kalau sampai kalimat itu saya lontarkan pada Ucok. Karena akhirnya saya akan berubah jadi fanatis membabi-buta yang menganggap artist pujaannya sebagai manusia tanpa dosa. Maka saya dan Ucok ngobrol ngalorngidul biasa saja, saya berusaha bertingkah biasa, kita membicarakan musik, kita menggunjingkan aktivisme di berbagai kota, dan yang terakhir, kita membicarakan naik cetaknya cover vinyl aatpsc. Ya, ternyata Elevation Records label yang merilis ulang EP aatpsc dalam bentuk vinyl mencetak covernya di kantor Ucok.

Setelah penantian beberapa tahun, dan perjalanan kereta 11 jam. Cukup 1 jam saya ngobrol dengannya. 60 menit yang lebih dari cukup untuk (lagi-lagi) menggetok kepala saya dengan keras: Ucok lebih cocok dianggap sebagai teman, bukan nabi yang mendakwahkan ayat intelektualisme organik Gramsci dan kritik keras pada modernitas ala Foucault. Memang Ucok yang menyampaikan wahyu critical thinking itu, saya adalah umat yang setelah mempelajarinya lantas berusaha mengamalkan dalam kehidupan. Namun jika saya mengkultuskan Ucok layaknya nabi, saya tak jauh beda dengan mereka-mereka para poser fanatis tanpa ideologi yang sering saya tuding dangkal. Maka, anggap saja Ucok adalah palu, yang menggetok kepala saya agar mau berpikir dan belajar. Setelahnya, anggap saja dia sebagai teman, karena sikapnya saat bertemu saya kemarin adalah teman yang ngobrol dengan teman. Bukan legenda hidup rap politik yang menasbihkan diri sebagai selebritis atau nabi yang elitis dan menjaga jarak dengan penggemarnya.

Testimoni kepada Herry Sutresna alias Morgue Vanguard alias Ucok Homicide ini harus diakhiri agar tak berkepanjangan. Sejak lama saya suka menulis, saya suka bermain musik, saya berusaha beraktivisme, namun akhirnya saya tetaplah buruh, kalau meminjam istilah Ugoran Prasad: noktah di tengah kerumunan. Saya adalah noktah di tengah kerumunan manusia-manusia yang luar biasa. Saya tak pernah menganggap diri saya mampu memotivasi orang lain lewat tulisan saya, saya menulis hanya karena suka menulis, itu saja. Saya hanya berharap saya juga mampu menjadi palu, melalui tulisan saya (esai non-fiksi dan fiksi atau dalam bentuk lagu) mampu membuat orang lain berpikir, bahwa mereka adalah noktah di tengah kerumunan. Bahwa kita manusia hanya titik kecil yang kadang terabaikan, namun kita tetap berarti. Sebab, apalah artinya kerumunan, melainkan kumpulan dari banyak noktah yang membentuk kerumunan tersebut. Barangkali niat saya ini demi Ucok, agar saya mampu berpikir seperti dia, karena Ucok adalah motivator itu, yang memaksa saya sadar bahwa diri saya adalah noktah.

Yogyakarta, 7 september 2013

 Aris Setyawan: Mahasiswa jurusan Etnomusikologi ISI Yogyakarta yang bosan dengan setiap hari perkuliahan, Ketua KKM Keilmuan Etnomusikologi, penulis lepas di beberapa media, bermain drum di band folk Aurette and The Polska Seeking Carnival, inisiator gerakan peduli anak jalanan Save Street Child Jogja. Penggila baca, pemuja kucing, berharap semoga suatu hari Radiohead konser di Indonesia.

 

Advertisements