Tags

,

Akhir-akhir ini saya banyak membaca. Lebih banyak buku saya lahap dari biasanya. Entah dalam rangka kejar tayang atau apa. Saya sedang begitu semangat membaca, otak saya memaksa asupan nutrisi yang lebih, organ kesayangan saya itu ingin tahu lebih banyak hal. Jadilah saya selesai membaca 6 judul buku dalam waktu yang tidak terlalu lama. Setelah membaca, seperti biasa saya ingin menulis. Maka jadilah, setelah membaca, saya menulis. Sebuah ulasan pendek 6 buku yang saya baca.

 

1. Inferno, Dan Brown (2013, Transworld Publishers)

            Kisah lanjutan professor simbology Harvard yang mengenakan jam Mickey Mouse yang sudah dinantikan banyak penggemar Dan Brown. Robert Langdon kembali sodara-sodara. Dengan kisah yang seperti karya Brown sebelumnya: menegangkan. Walau saya, dan beberapa teman saya yang sudah membaca buku ini menyatakan bahwa plotnya mulai mudah ditebak. Lama kelamaan membosankan karena pembaca sudah bisa mengira setelah ini jadinya bagaimana, “ah Langdon pasti bakal selamat” dan lain sebagainya.

            Toh imajinasi liar Brown tetap patut diacungi jempol. Bagaimana dia mengisahkan berbagai permasalahan dunia dengan puisi klasik Dante Alighieri berjudul “Inferno.” Inferno adalah imajinasi liar Dante tentang neraka. Brown dengan apik mengaitkan neraka ala Dante tersebut dan rusaknya tatanan dunia dengan hadirnya tokoh Zobrist yang mengutip puisi Dante “sudut tergelap di neraka akan didiami oleh manusia yang diam saja saat di dunia terjadi kerusakan moral.”lagi-lagi Brown menyelipkan hasil-hasil riset ilmiah menarik dalam bukunya. Melalui Zobrist kita disuguhi data mencengangkan bahwa umat manusia akan mengalami kepunahan karena over populasi. Tahun demi tahun manusia bertambah menjadi milyaran, sementara sumber daya alam bumi tak mampu mencukupi kebutuhan. Akhirnya yang bakal terjadi adalah kepunahan. Zobrist berusaha menerapkan ide gila untuk menghindari kepunahan: membunuh separuh penduduk bumi agar separuh yang lain bisa selamat. Ide ini tentu memunculkan pertanyaan: secara nurani, dapat dibenarkan atau tidak membunuh manusia lain demi menyelamatkan diri kita sendiri? Disinilah terjadi lika-liku dan ketegangan saat Robert Langdon dan rekannya Sienna Brooks harus berlarian di Venice yang indah untuk memecahkan teka-teki puisi kuno Dante, demi menyelamatkan dunia.

            Saya sepakat dengan perkataan teman saya, setelah Inferno seharusnya Robert Langdon dibikin mati, atau paling tidak seri symbologist itu harus dihentikan. Karena pembaca akhirnya mulai jengah karena Langdon entah bagaimana selalu bisa selamat dari semua petaka di setiap bukunya. Barangkali dia manusia setengah dewa? Maka dari itu om Dan Brown, setelah Inferno, nulis tokoh baru saja ya! Yang keren kayak di Deception Point juga boleh.

 

2. Plato and Platypus Walk Into a Bar…Understanding Philosophy Through Jokes, Thomas Cathcart dan Daniel Klein (2007, Abrams Image)

Bagi beberapa orang, filsafat itu membosankan. Untuk apa mempertanyakan pertanyaan-pertanyaan konyol seperti apa tujuan manusia hidup di dunia? Kenapa kita tidak menjalani hidup saja seperti biasa. Namun faktanya, filsafat sudah berabad-abad lamanya tetap ada di dunia. Filsafat berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai manusia, dunia, dan hidup. Kadang memang tak memberikan jawaban, malah adanya tambahan pertanyaan. Namun, manusia tetap berfilsafat.

Plato and Platypus adalah cara berfilsafat melalui humor. Dua penulisnya berusaha mengajak kita berfilsafat namun dengan cara menyenangkan yang digemari setiap orang: humor. Pembaca akan diajak mendalami sejarah filsafat sejak zaman Yunani kuno hingga masa modern. Menggunjingkan metafisika, ethic, logic, phenomenology, existensialism, hingga relativism. Namun sebisa mungkin menghindari bahasa-bahasa filsafat yang sering dianggap rumit. Misalnya untuk menjelaskan mengenai empirisme dalam epistemology. Sebuah aliran yang meyakini kebenaran dapat diperoleh dari data indera manusia. Mereka menggunakan jokes berikut ini:

A man is worried that his wife is losing her hearing, so he consults a doctor. The doctor suggests that he try a simple at-home test on her: Stand behind her and ask her a question, first from twenty feet away, next from ten feet, and finally right behind her.

So the man goes home and sees his wife in the kitchen facing the stove. He says from the door, “What’s for dinner tonight?”

No answer.

Ten feet behind her, he repeats, “What’s for dinner tonight?”

Still no answer.

Finally, right behind her he says, “What’s for dinner tonight?”

And his wife turns around and says, “For the third time— chicken!”

Anda tertawa setelah membacanya? Tidak, saya juga tidak tertawa karena guyonannya memang garing, mungkin karena kita tinggal di Indonesia, sense of humor kita beda. Tapi paling tidak jadi lebih mudahlah untuk memahami konsep-konsep filsafat dengan cerita-cerita humornya.

 

3. Amba, Laksmi Pamuntjak (2012, Gramedia Pustaka Utama)

Sempat mendapat ulasan positif dari berbagai media, berbarengan dengan “Pulang” Laila Chudori yang kebetulan mengulas perihal sama: 1965. Setelah membaca Amba, saya menyimpulkan: sastranya bagus, puja-puji untuk bahasanya. Namun untuk pemilihan tema 1965 nya, anggap saja sebagai romantisme, mengajak kita mengenang, mengintip sedikit-sedikit tentang apa yang terjadi di 1965. Namun tidak lantas berusaha mendobrak kungkungan wacana penipuan yang menjadikan 1965 sebagai momok yang harus dilupakan, sedangkan komunisme adalah dosa menjijikkan yang harus dihindari.

4. Pasung Jiwa, Okky Madasari (2013, Gramedia Pustaka Utama)

Apakah kehendak bebas itu ada? Pertanyaan filsofis yang sudah dilontarkan berabad-abad itu dihadirkan lagi oleh Okky Madasari dalam novelnya. Pemenang Khatulistiwa Literary Award 2012 itu menggugat kemanusiaan yang ternyata mengekang kehendak bebas, memaksakan konstruksi pada setiap sendi kehidupan demi terciptanya sebuah keteraturan, yang sialnya seringkali hanya menguntungkan segelintir orang. Gugatan tersebut dihadirkan dalam 321 halaman kisah mengenai Sasana, penyanyi dangdut transgender yang harus mendapat berbagai tindakan diskriminasi. Serta Joko Wani, mantan pengamen dan buruh pabrik yang akhirnya jadi centeng berkedok pembela agama di sebuah ormas (anda tahu yang mana lah) agama. Jadi, adakah kehendak bebas itu? Saat semua hal tentang bagaimana kita harus berperilaku sudah ditentukan sejak kita baru lahir.

5. Julia’s Jihad: Tales of Politically, Sexually, amd Religiously Incorrect. Living In The Chaos of The Biggest Muslim Democracy, Julia Suryakusuma (2013, Komunitas Bambu)

Kumpulan esai yang ditulis oleh Julia Suryakusuma, kolumnis The Jakarta Post ini membuat saya berpikir: anda semua wanita Muslim Indonesia moderat dan terpelajar seperti bu Julia, barangkali kita tak akan pernah membaca berita-berita pelecehan kaum wanita. Atau betapa tidak adilnya berbagai peraturan terhadap perempuan (misalnya tes keperawanan untuk masuk sekolah? Stupid mysoginistic idea) di Indonesia. Julia’s Jihad berisi kumpulan esai bu Julia di The Jakarta Post dan Tempo edisi English. Beliau menulis mengenai agama, politik, dan sosial. Dengan gaya penulisan renyah dan enak dibaca, misalnya dengan menceritakan pengalaman pribadinya dulu, lalu mengaitkannya dengan berbagai kebodohan politik para pembuat kebijakan, dan bagaimana akhirnya rakyat yang jadi korban. Beberapa orang akan bilang esainya terlalu pendek, tidak memberikan solusi mendalam. Memang tidak, karena ini untuk kolom, bukan essay ilmiah. Paling tidak bu Julia adalah sosok idaman saya tentang bagaimana seharusnya ibu-ibu (Muslim) di Indonesia: tidak menyerah pada keadaan, tidak pasrah pada dogma yang diskriminatif. Wanita Muslim harus kritis. Ayo menulislah para wanita Muslim!

6. Life of Pi, Yann Martel (2013, Gramedia Pustaka Utama)

Biasanya saya selalu kecewa membaca buku yang diadaptasi dari film, atau sebaliknya film yang diadaptasi dari buku. Kenapa? Karena imajinasi yang divisualkan berbeda dengan apa yang kita imajinasikan sebelumnya. Saya ingat betapa kesal saat menonton film Angels and Demons karena visualisasinya begitu jauh dari ekspektasi saat saya membaca novel asli tulisan Dan Brown. Namun lain cerita untuk Life of Pi. Saya menikmati keduanya, film maupun bukunya. Sebenarnya buku yang lebih dulu terbit, baru film. Namun saya justru lebih dulu menonton filmnya, baru membaca bukunya. Dan saya tidak kecewa, saya menikmati keduanya. Setelah membaca buku ini, saya justru lebih bisa memahami penjabaran spiritualitasnya dengan lebih baik ketimbang hanya menonton film. Karena jelas buku memiliki kata-kata yang lebih panjang, mampu menjabarkan semua dengan gamblang. Jadilah perjalanan Pi mencari kebenaran spiritualitas dalam berbagai agama semakin menarik. Memang benar kalau Life of Pi diberi tagline “buku yang akan membuatmu percaya pada Tuhan.” Namun harus ditambahin “atau membuatmu tidak percaya pada Tuhan, tergantung pada persepsimu sih.”

 

Yogyakarta, 21 agustus 2013.

Aris Setyawan: Mahasiswa jurusan Etnomusikologi ISI Yogyakarta yang bosan dengan tiap hari perkuliahan, Ketua KKM Keilmuan Etnomusikologi, penulis lepas di beberapa media, bermain drum di band folk Aurette and The Polska Seeking Carnival, inisiator gerakan peduli anak jalanan Save Street Child Jogja. Penggila baca, pemuja kucing, berharap semoga suatu hari Radiohead konser di Indonesia.

Advertisements