Tags

,

Ada sebuah warung tenda kecil di daerah Krapyak, Yogyakarta. Warung makan ini berada di samping Cemeti Art House, sebuah galeri seni legendaris yang kemarin baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke 25. Dan warung makan kecil ini konon juga sudah berusia sama tuanya dengan Cemeti, barangkali lebih tua. Jika sempat lewat daerah ini dan mendadak lapar, saya selalu sempatkan mampir ke warung ini. Cukup dengan Rp. 6000 saya sudah bisa makan nasi sop sayur dengan tempe, tahu, atau perkedel, plus segelas teh nikmat. Menu yang disajikan memang sederhana, sesuai dengan tempatnya yang juga sederhana. Yang terpenting di warung kecil ini adalah kita bisa duduk, lalu makan, menghayatinya sebagai kebutuhan dasar manusia, tak mementingkan citra bagaimana megahnya tempat itu, atau bagaimana kerennya nama makanan yang disajikan.

 

            Yang membuat saya kecanduan makan ke warung kecil ini bukan hanya karena harga makanannya yang murah. Namun keguyuban yang kental adanya. Sejak buka pagi hari hingga sore, warung ini menjadi semacam persinggahan bagi para tukang. Entah itu tukang becak, tukang sol sepatu, tukang ngamen, tukang dagang asongan, dan banyak tukang-tukang lain, para pekerja informal yang oleh masyarakat sering digolongkan sebagai ‘wong cilik.’ Saya selalu mencuri dengar perbincangan mereka. Ada bapak tukang becak yang mengeluh pada rekannya bahwa becaknya sedang rusak, perlu diganti beberapa komponennya. Lalu rekan lainnya bercerita bahwa salah satu teman mereka yang sudah lama tak kelihatan ternyata sedang bermasalah dengan hukum karena menggelapkan dana koperasi. Dan banyak cerita lainnya. Kadang cerita-cerita itu diselingi bayolan khas rakyat yang bikin orang terpingkal, kontan saya ikut terpingkal.

 

            Saya belum sempat memeriksa ke KBBI, namun secara umum dipahami bahwa kata ‘tukang’ biasa digunakan mengacu pada mereka-mereka para pekerja informal, yang memiliki keterampilan spesifik dalam suatu bidang. Misalnya orang yang bekerja sebagai kuli di proyek pembangunan akan disebut tukang bangunan. Lalu bapak yang mencari nafkah dengan mengayuh becak mendapat panggilan tukang becak. Ibu rumah tangga yang pancinya bocor namun ogah membuangnya akan memanfaatkan keterampilan tukang tambal panci (atau tukang patri) untuk menyulap sim salabim agar pancinya kembali bisa digunakan merebus air. Dan lain sebagainya.

 

Mungkin istilah tukang ada dipakai juga di pekerjaan formal, namun jarang. Entah bagaimana, strata sosial menetapkan kata ‘tukang’ khusus di pekerjaan informal dan kelas bawah. Sementara di kelas menengah, jarang kita menggunakan tukang untuk menyebut pimpinan sebuah perusahaan atau orang berdasi yang jobdesc-nya menghitung laba perusahaan. Di tahun 90-an ‘tukang’ jadi satire mengenai strata sosial ini saat ‘Babeh’ Benyamin kegirangan si Doel lulus kuliah, lalu berteriak “Anak gue jadi tukang insinyuuurr.” Babeh bangga karena anaknya bakal naik kelas, insinyur dan sarjana tentu jadi semacam jaminan naik kelas di negeri ini. Akhirnya dengan titel tersebut si Doel akan memiliki kesempatan bekerja di kantor, atau paling tidak di kilang minyak dengan gaji besar. Tidak lagi jadi tukang seperti bapaknya, supir oplet yang berpanas-panas di kota mengejar rupiah yang tidak banyak. Namun tetap saja babeh menyelipkan ‘tukang,’ kata yang paling dikenalnya sebagai penduduk Jakarta yang bisa dibilang kelas menengah kebawah.

 

            Setelah mendengar perbincangan bapak-bapak tukang di warung kecil itu, dan mengenang si Doel jadi insinyur yang semasa SD dulu selalu saya tonton di televisi rumah, saya jadi berpikir: Untuk apa sih sebenarnya kita kuliah? Untuk jadi insinyur atau sarjana? Setelah jadi sarjana kita berhasil naik kelas, merasa naik kelas kita pada akhirnya jumawa dan ogah bersinggungan dengan para tukang, atau apapun yang kita anggap dibawah kelas kita.

 

            Beberapa waktu yang lalu saya ngobrol dengan seorang professor antropologi yang sedang mengajar summer class di sebuah kampus negeri di Yogyakarta. Beliau bercerita, kadang gusar dengan keponakannya. Dia kuliah S1 di jurusan antropologi, kebetulan sang professor memiliki rumah di Bali. Sang keponakan yang tinggal di rumah tersebut kadang membiarkan genteng melorot tanpa ada inisiatif memperbaikinya, bahkan sekalipun sedang musim hujan. Sang professor akhirnya mengingatkannya “jangan belajar antropologi dulu kalau memperbaiki genteng saja tidak bisa!”

 

            Barangkali inilah kenapa bangsa ini jalan di tempat ya, karena para calon pemimpinnya, kaum intelektualnya terlalu sibuk belajar, agar menjadi orang pintar yang naik kelas, kemudian melupakan kelas di bawahnya. Simpulkan saja begini, saat kuliah para calon intelektual ini jarang menengok ke bawah, mengetahui kondisi ada apa sih di level akar rumput. Bisa jadi ini menjadi semacam kebiasaan, menancap di alam bawah sadar, lalu kelak saat menjabat posisi strategis atau menjadi pemimpin bangsa, mereka ogah menginjakkan kaki ke rumah atau warung rakyat, karena sudah terdidik menjadi ekslusif sejak di bangku kuliah. Contohnya ya para pemimpin negeri sekarang, mereka terlampau sibuk mencari masalah di luar negeri dengan studi banding dan tetek bengek intelek lainnya, sampai tak mampu melihat kemiskinan dan derita di sebelah rumah sendiri. Setali tiga uang dengan calon intelektual di bangku kuliah yang sibuk menggunjingkan berbagai isme-isme di ilmu politik, atau perhitungan untung-rugi di jurusan ekonomi, sampai genteng melorot di rumah sendiri pun jarang diperhatikan.

 

            Kritik keras Pierre Bourdieu pada kaum intelektual dan kalangan terpelajar sepertinya tepat sasaran. Bourdieu menuding kaum intelektual pada akhirnya tidak akan menjadi corong bangsa, mereka tak akan menjadi penggerak perubahan agar kehidupan kemanusiaan menjadi lebih baik. Kaum intelektual, setelah lulus kuliah akhirnya akan menjadi alat bagi korporat, untuk menggerakkan roda perputaran uang. Maka setelah lulus, kaum intelektual tak akan mau jadi tukang seperti bapak-bapak yang makan di warung tenda kecil. Mereka sudah naik kelas, harus berkutat dengan urusan kelasnya. Sekalipun sebenarnya kaum intelek cuma jadi tukang juga, pelanggeng strata brahmana para borjuis pemilik modal.

 

            Apakah cita-cita luhur intelektualisme organik ala Gramscian akhirnya hanya jadi utopia? Hanya di awang-awang, tak akan terwujud? Kaum intelektual tak akan pernah bersatu dengan isu-isu yang mereka bahas atau gunjingkan di bangku kuliah. Maka sampai beberapa tahun ke depan, kita akan tetap melihat kaum intelektual menggunjingkan kemiskinan dan masalah hidup rakyat sembari menyesap kopi mahal di café, atau menggigit burger Amerika di resto gemilang. Kalau begini jadinya, saya terpaksa menolak jadi kaum intelektual, saya pengen menjadi manusia biasa saja, biar tetap bisa ngerasani hidup dengan para tukang becak di warung tenda kecil samping Cemeti. Karena dari kasak-kusuk mereka saya tahu: percuma dadi wong pinter yen mung digunakne mintere wong liyane. (percuma jadi orang pintar jika hanya menggunakan kepintaran itu untuk membodohi orang lain). Percuma jadi tukang sarjana, tukang insinyur, atau tukang-tukang berdasi di kantor pemerintah dan swasta, jika hanya untuk menipu dan membodohi tukang becak, tukang tambal ban, tukang gali kubur, dan tukang-tukang lain di sektor informal dan kelas menengah ke bawah.

 

 

Yogyakarta, 29 juli 2013.

 

Aris Setyawan: Mahasiswa jurusan Etnomusikologi ISI Yogyakarta yang bosan dengan tiap hari perkuliahan, Ketua KKM Keilmuan Etnomusikologi, penulis lepas di beberapa media, bermain drum di band folk Aurette and The Polska Seeking Carnival, inisiator gerakan peduli anak jalanan Save Street Child Jogja. Penggila baca, pemuja kucing, berharap semoga suatu hari Radiohead konser di Indonesia.

Advertisements