Tags

, , , , , , , , , ,

(Dimuat di majalah Art Effect edisi juni 2013)

Seni untuk apa? Sebuah pertanyaan yang barangkali aneh karena dilontarkan oleh akademisi yang kuliah di sebuah perguruan tinggi seni, institusi paling tua di negeri ini pula. Tapi saya rasa pertanyaan ini sah-sah saja kita lontarkan, agar kita tahu “ngapain sih kita kuliah di kampus seni?” agar kita tak jadi robot terprogram tanpa akal budi yang terus menerus mempelajari seni hanya untuk kebingungan mau jadi apa setelah lulus nanti.

            Sebelum membahas seni untuk apa, saya rasa perlu kita sedikit mengulas sosok istimewa ini. Namanya Keman, pria paruh baya yang kesehariannya nongkrong di seputar Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta, biasanya di pendopo jurusan Tari. Hampir semua orang mengenal Keman, karena sudah sejak lama Keman menghabiskan waktu hidupnya disitu. Keman adalah tipikal orang dengan pikiran istimewa yang masyarakat awam sering sebut sebagai gila, atau bahasa yang diperhalus menjadikan Keman sebagai manusia dengan kelainan jiwa. Sesuatu yang Michel Foucault bedah sebagai “upaya masyarakat memisahkan orang yang berpikiran diluar sistem agar tidak menulari yang lain.” Pikiran istimewa yang tak mampu dipahami manusia awam, tidak dapat nyambung dengan pikiran (yang katanya) normal. Di tengah para mahasiswa yang lewat sembari mengajak bercanda Keman, atau para cowok yang memberinya sebatang rokok sembari mentertawakan absurditas Keman, saya sering berpikir: kira-kira apa ya yang ada dalam pikiran Keman ini?

            Lalu saya teringat Pintu Terlarang, film slasher karya Joko Anwar, sineas Indonesia yang terkenal dengan film-film ‘sakit’ nya. Sepanjang film tersebut kita disuguhi berbagai adegan-adegan aneh mengenai tokoh yang terbelit berbagai kejadian aneh, di luar nalar, hingga pada bagian terakhir sang tokoh membantai 5 orang di meja makan dengan menggorok leher mereka, berdarah-darah. Setelah semua kesadisan tersebut, pada ending film digambarkan bahwa sang tokoh ternyata berada di rumah sakit jiwa, semua kejadian aneh hingga kejadian pembunuhan di meja makan itu hanyalah imajinasi sang tokoh yang ternyata pasien rumah sakit jiwa. Joko Anwar ingin menggambarkan, inilah barangkali salah satu yang ada dalam pikiran orang gila, Joko Anwar mengajak kita menjadi orang gila.

            Inilah saatnya kita membicarakan “seni untuk seni.” Seni dimana kita dipaksa membuat sebuah karya seni yang menggambarkan sesuatu yang di luar nalar manusia awam. Seni yang dibuat dengan tujuan menghadirkan sesuatu yang kita sebut estetika. Dan sesuai definisi diatas bahwa yang kita sebut di luar nalar manusia awam adalah manusia dengan kelainan jiwa atau gila, maka seni untuk seni adalah seninya orang gila. Bagi para (calon) seniman yang menganut paham ini, menjadi absurd adalah keniscayaan, ia harus bekerja keras mencari celah-celah ide yang manusia biasa tak pikirkan. Bahkan kalau perlu, sang seniman harus menjadikan dirinya gila (secara harfiah) agar mendapatkan ide itu, karena orang gila sering memikirkan hal yang lebih baik kan ketimbang manusia awam? Ada garis tipis antara genius dan gila, sesuatu yang diyakini banyak orang.

            Agar porsi pembahasan mengenai seni untuk apa ini berimbang, saya harus meninggalkan sejenak ingatan tentang Keman di pendopo jurusan Tari dan perkara “seni untuk seni.” Lalu berjalan ke depan perpustakaan/UPT Galeri kampus ISI. Dimana seorang nenek penjual pisang biasa mangkal. Nenek ini berusia kurang lebih 60 tahun. Setiap hari duduk di depan sebuah bilik ATM samping perpustakaan, menawarkan pisangnya kepada mahasiswa yang lewat “monggo den pisang’e kaleh ewu mawon.” Yang ada di benak saya saat melihatnya: “Astaga, nenek setua itu, masih berjalan tertatih menjajakan pisang. Dimanakah gerangan anak atau cucunya?” 

            Inilah saat kita membicarakan “seni untuk rakyat.” Seni yang dibuat untuk melayani rakyat. Seni yang karyanya merupakan manifestasi dari common sense masyarakat umum. Apapun perasaan rakyat harus dilaporkan dalam karya seninya. Alih-alih sibuk mengeksplorasi the infinite atau tak terhingganya hidup, seni untuk rakyat lebih memilih membahas apapun yang terjadi di rakyat, duka ataupun suka, meskipun kita semua tahu apabila membahas rakyat, memang lebih banyak dukanya. Seni untuk rakyat enggan mencari hal di luar nalar apa yang ada dalam pikiran Keman, ia lebih suka membahas sang nenek penjual pisang dalam karyanya. Bagaimana derita yang dirasakan rakyat seperti sang nenek tua ini, yang di usia senja masih harus berjuang bertahan hidup di negeri yang gemah ripah loh jinawi ini. 

            Kisah mengenai Keman, Nenek penjual pisang, dan perbedaan antara “seni untuk seni” dan “seni untuk rakyat” tadi hanyalah sebuah pengantar bagi kita untuk mempertanyakan perjuangan kita bertahun-tahun kuliah di kampus Sewon: “Untuk apa sih kita kuliah di ISI Yogyakarta?” setelah lulus nanti akankah kita menjadi seniman gila yang berusaha mengeksplorasi absurditas pikiran orang gila, atau seniman yang kritis menyerukan berbagai derita rakyat dan menggugat pemerintah otoritarian yang makin abai pada nasib bangsa karena sibuk menancapkan dominasi oligarkis dinastinya. Lebih lanjut, karena kampus adalah pemegang regime of truth yang menyetir harus kemana wacana kita dengan sebuah ketok palu dogma bernama kurikulum. Patut kita bertanya pada kampus kita: apa sih yang kalian ajarkan pada kami para mahasiswa? 

            Ada sebuah paradoks terjadi disini. Jika kampus mengajarkan “seni untuk seni” kepada kita, faktanya sistem pendidikannya tak terlalu sering mendidik kita berpikir mengenai bagaimana cara menyajikan the infinite (pikiran orang gila) dalam the finite (karya seni). Untuk memahami “seni untuk seni” akhirnya mahasiswa harus mencari sendiri di luar, otodidak, atau istilah populernya di kampus “berproses di luar.” Sedangkan kurikulum kuliahnya sibuk menerangkan bentuk dan fungsi dari seni. Jika kampus bermaksud mengajarkan “seni untuk rakyat” kepada mahasiswa, faktanya kepedulian pada sesama tak pernah masuk kurikulum kuliahnya. Pergerakan mahasiswa kampus ISI meneriakkan derita rakyat juga jarang terendus di kancah perpolitikan mahasiswa lokal (apalagi nasional) karena sistem pendidikan kampus terlampau sibuk memaksa para mahasiswa belajar bentuk dan fungsi seni paling ideal agar mencetak huruf “A” pada akhir semesternya. Upaya berpolitik atau aktivisme juga diredam dengan peraturan wajib lulus cepat atau di DO. Akhirnya mahasiswa sudah kadung malas, ngapain pusing memikirkan derita rakyat bila tugas kuliah saja menumpuk terbengkalai, bahkan apesnya lagi bagi beberapa mahasiswa sudah ogah pula memikirkan apalah itu seni tanpa batas dan estetika, karena toh yang terpenting saat lulus adalah mampu menaklukan budaya massa. 

            Inikah fungsi kuliah seni? Agar hafal di luar kepala pakem standar produk seni yang lolos sensor budaya massa, lalu laris manis bak kacang goreng. Semuanya adalah mengenai distinction atau distingsi, istilah yang digunakan Pierre Bourdieu untuk menyebut seni sebagai sebuah entitas pembeda paling kentara antara kelas menengah keatas dan kelas menengah kebawah. Seni rupa dibuat untuk mengisi galeri-galeri mahal yang tak terjamah kelas menengah kebawah. Seni pertunjukan dipelajari untuk mengejar prestasi di ajang pencarian bakat televisi serta menampilkan wajah rupawan di FTV, atau memeriahkan pagelaran seni dalam rangka program pariwisata Negara yang sesekali dibuat dalam rangka program anggaran tahunan. Seni media rekam adalah cara bagaimana melanggengkan dominasi politik dan kultural pemegang modal sebuah kotak ajaib bernama televisi. Bentuk dan fungsi yang harus kita hafalkan karena perintah kurikulum adalah untuk semua ini? Mencapai bentuk seni paling sempurna, agar mampu menjajah budaya massa. 

            Jadi, apa yang harus kita lakukan? Entahlah, saat anda membaca tulisan ini, saya pun masih bingung harus berbuat apa. Karena nampaknya semua orang merasa baik-baik saja. Tidak ada keresahan. Toh Keman masih tertawa riang di pojokan pendopo jurusan Tari, nenek penjual pisang masih berjalan menggendong bakul di depan perpustakaan. Dan para mahasiswa tengah sibuk mengerjakan tugas kuliah segambreng dengan pola SKS (Sistem Kebut Semalam), sembari mendendangkan “Jogja Istimewa” JHF, tanpa mau tahu di Kulonprogo lagu hip-hop Jawa itu tak pernah diputar karena rakyatnya marah pada Sultan yang berupaya menggusur tanah pertanian mereka untuk tambang pasir besi. Akhirnya tulisan ini tidak memberikan terlalu banyak jawaban, malah memunculkan banyak pertanyaan. Dan pertanyaan terakhirnya adalah: “what are we doing here? Are we learning “art for art?” “Art for common sense?” or “art for nothing?” Jika jawabannya adalah yang terakhir, lalu untuk apa kita capek-capek kuliah di kampus Sewon? Bangun pagi dengan susah payah untuk hadir di ruang kelas, mengisi absen, lalu pulang dan mampir makan di warung mas Poer atau mbak Pingkan. Karena setelah lolos, akhirnya kita hanya menjadi sekrup, bagian dari mekanisme besar budaya massa yang menjadikan seni sebagai komoditas berharga dan menjanjikan profit besar.

Yogyakarta, 12 Mei 2013. 

Aris Setyawan: Mahasiswa jurusan Etnomusikologi ISI Yogyakarta, Ketua KKM Keilmuan Etnomusikologi, penulis lepas di beberapa media, bermain drum di band folk Aurette and The Polska Seeking Carnival, inisiator gerakan peduli anak jalanan Save Street Child Jogja.

Advertisements