Tags

, , , , , , ,

 

 

Harapan adalah anugerah paling besar yang membuat manusia bergerak mengubah dunia. Tentu banyak orang setuju dengan pernyataan tersebut. Sekeras apapun jalan hidupmu, selama ada harapan, niscaya akan selalu ada jalan mengubahnya menjadi lebih baik dan menyenangkan. Karena dunia ini indah selama ada harapan yang…..

 

            Ok, cukup sudah utopia di paragraf pertama. Seperti biasa tulisan saya (yang entah ada yang mau baca atau tidak) harus menghadirkan dystopia, agar status saya sebagai penganut Orwellian tetap kukuh. Sah-sah saja jika kemudian kita menggunakan mekanisme terbalik dan justru menyatakan “harapan adalah siksaan terbesar bagi manusia.” Kenapa? Karena kita sudah nonton The Dark Knight Rises, dan setelah berbagai adegan rekaan Nolan (yang sebenarnya adalah representasi anarkisme ala Bakunin), tibalah di adegan dimana Bruce Wayne alias Batman tertangkap oleh Bane, lalu dijebloskan ke sebuah penjara berbentuk sumur. Dimana tiap tahanan didalamnya bisa melihat langit diatasnya, dengan sejuta asa “suatu hari nanti saya akan memanjat dinding sumur ini dan bebas dari penjara.” Namun kebebasan itu tak pernah terjadi, semua tahanan tetap tertahan didalam. Beberapa sampai mati terpenjara. Inilah saat Bane berkata “harapan adalah siksaan paling kejam bagi manusia. Ia memberimu mimpi tinggi tentang kebebasan, hanya untuk menjatuhkanmu dengan sakit.”

 

            Karena kita adalah Sisifus persis yang dijabarkan Albert Camus, manusia yang tahu pasti hidup ini absurd dan menyiksamu dengan harapan, tapi kita tak punya pilihan lain, kita harus tetap menjalani hidup ini. Layaknya Sisifus yang dihukum dewa Yunani untuk mendorong batu besar ke atas gunung, hanya untuk melihatnya menggelinding jatuh kebawah, dan Sisifus harus mendorongnya lagi. Hidup ini adalah PHP, Pemberi harapan palsu. Dan PHP ini mengejawantah dalam berbagai bentuk, dalam berbagai aspek hidup.

 

            Karena sama seperti makan, seks, dan cinta. Harapan adalah kebutuhan dasari manusia. Maka ekonomi harus mengkomodifikasi harapan, agar dapat diperdagangkan seperti saat ekonomi menjual makanan, seks, dan cinta. Jadilah industri harapan yang dengan salam supernya membumbungkan tinggi asa anda akan kehidupan yang lebih baik dan kekayaan melimpah ruah. Industri motivasi harapan ini lantas digugat oleh Belkastrelka dalam pertunjukannya yang bertajuk “Jalan Emas.” Rabu malam itu di teater Garasi, dalam presentasi tertutup, saya melihat bagaimana Belkastrelka melontarkan satire-satire menggelitik namun bikin marah mengenai bisnis milyaran penjual harapan ala motivator dan bisnis MLM. Suara mendesah Asa, bunyi elektronik dari laptop Yennu, dikawinkan dengan trumpet Erson, vocal membahana Diwa, dan Betotan bass Gisa dengan vokal latar centilnya membuat saya makin yakin “tuh kan bener, harapan itu siksaan paling besar untuk umat manusia.”

 

            Karena senyum culas para motivator pengumbar harapan itu bukan sekadar perkara mencari keuntungan untuk mereka sendiri. Pengumbar harapan itu ada sebagai sesuatu yang Marx sebut sebagai “candu masyarakat.” Saat kekayaan global di dunia hanya dikuasai segelintir orang kaya, dan kaum menengah serta yang miskin jumlahnya lebih banyak. Mereka harus dibuat diam, agar tidak berontak. Salah satu caranya adalah dengan memberikan mereka harapan-harapan bahwa semua orang di dunia ini punya probabilitas yang sama untuk menjadi kaya-raya. Maka gencarlah khotbah-khotbah para motivator yang terus menerus berkata “selama kamu bekerja keras, maka kamu akan memiliki rumah mewah, mobil bagus, kapal pesiar, dan harta lainnya.” Jadilah semua orang mengamini khotbah motivasi itu, bekerja giat setiap hari, berharap kelak menjadi kaya raya. Tanpa sadar mereka menjadi korban PHP: mereka, dan kita adalah sekrup, bagian dari mekanisme besar yang harus berjalan agar supaya mesin produksi para orang kaya itu terus berjalan. Sementara kita terus bekerja tanpa lelah, para motivator tersenyum riang pundi uangnya menebal hasil menjual ceramah di stasiun TV, undangan seminar, atau buku best-seller di rak-rakselfhelp toko buku kinclong di mall kota. Dan seperti yang diteriakkan Asa Darling “kita tak akan pernah jadi kaya, hahahahaha.” Marilah menertawakan nasib kita sebagai sekrup dan mur baut mesin kekayaan segelintir orang.

 

            Karena harapan menjadi kaya ini sudah ditanamkan kepada kita semenjak duduk di bangku sekolah, terutama di bangku kuliah dimana disiplin ilmu kita sudah difokuskan pada satu bidang tertentu agar menjadi sarjana nan bijaksana. Kita memiliki harapan besar dengan bersekolah kita akan membangun bangsa menjadi lebih baik. Namun  rupanya pendidikan negeri sekalipun adalah PHP. Karena harapanmu akan pupus selepas wisuda. Masuklah dirimu ke mekanisme besar tadi, jadilah dirimu sekrup, sudahlah lupakan idealisme ala semangat “agent of change” mahasiswa yang dulu kau dengungkan. Karena badanmu kini adalah milik mekanisme besar itu. Kuliahmu dulu adalah penyeragaman dengan berbagai kurikulum dan hafalan. Agar saat lulus kau jadi sarjana penghafal, yang akhirnya tak mampu membikin sesuatu yang baru. Kau harus seragam seperti orang lain: bekerja, mengabdi pada kantormu, entah kantor negeri maupun swasta karena toh sekarang negeri atau swasta tak ada bedanya, semua mengabdi pada pemodal. Selamat datang di dunia nyata nak, tempat dimana nasibmu disetir oleh orang kaya dengan modal tak terbatas di luar sana. Mau melawan? Lawanlah jutaan manusia Indonesia, dan milyaran manusia dunia. Karena mereka semua sudah diseragamkan agar melayani apa saja mau orang kaya itu.

 

            Cinta adalah harapan yang juga menyiksa. Ia meninggikanmu dengan perasaan berbunga-bunga. Menyiksamu dengan rindu, menguras air matamu, membuatmu tersenyum girang hanya karena sang kekasih mengirim pesan singkat. Cinta memberikan harapan bahwa kalian akan terus berdua. Hanya untuk menjatuhkanmu dengan keras saat akhirnya kalian harus berpisah. Lalu memaksamu tersenyum saat cinta lama bersemi kembali (CLBK). Dan menamparmu dengan kenyataan getir: berpisah lagi, karena sadar selama ini sang kekasih tak pernah benar-benar mencintai, ia hanya mencari sensasi. Aneh, jika manusia sudah tahu perihal siksaan cinta ini, mengapa mereka tak mau belajar dari sejarah? Sejarah yang mencatat berbagai kisah memilukan manusia yang menjalani percintaan. Kenapa manusia masih mau jatuh cinta? Adakah cinta yang sebenarnya? Karena cinta yang katanya tulus pada akhirnya tak lebih dari sebuahtemplate yang sudah disetting jalannya dengan ketemuan-pdkt-pacaran-cinta-mesra-ngambek-marahan-putus-balikkan-mesra lagi-putus beneran-mulai cari target pdkt baru-mengulang proses yang sama. Ah lagi-lagi kita harus mengamini absurditas hidup ala camusian: hidup (cinta) itu aneh, kita sudah tahu proses perjalanannya, sudah tahu siksaannya, tapi kita tetap saja dengan ikhlas menjalaninya.

 

            Seperti itulah sikap kita terhadap harapan. Kita tahu ia adalah siksaan paling kejam untuk manusia, namun kita harus tetap menjalaninya, karena ini adalah hidup, sesuatu yang harus kita jalani. Lalu jika kita tak bisa percaya pada motivasi harapan hidup ala bang Mario, lalu kepada siapakah kita harus percaya? Saya perlu meminjam perkataan Haruki Murakami bahwa “di dunia ini, kita harus bergantung pada diri kita sendiri.” Karena kita sendirilah yang tahu seberapa besar kemampuan diri kita, seberapa kuat kita mampu menahan siksaan harapan tersebut. Orang lain tak pernah tahu kapasitas kita, mereka cukup menjadi pendengar. Kita cukup menjadi pembicara yang curhat keluh kesah kita pada teman terdekat, atau pada siapapun, selebihnya kita sendirilah yang tahu apa solusi terbaik menyelesaikan berbagai masalah.

 

Maka teruslah berharap sekalipun tahu ada siksaan pedih dibaliknya, dan anda menjadi korban PHP alias pemberi harapan palsu. Karena terkadang diantara seribu harapan kandas, akan ada satu yang terwujud, sebagai semacam hadiah hiburan barangkali. Persis seperti penjara sumurnya Bane yang memenjarakan banyak orang begitu lama tanpa ada yang bisa berhasil kabur. Namun suatu hari entah karena memang pintar atau faktor keberuntungan saja, Bruce Wayne berhasil menjadi satu diantara seribu itu, lalu memanjat keatas, menuju kebebasan. Atau boleh juga dibilang keberhasilan Bruce memanjat keluar sumur sudah diskenariokan agar sang pahlawan kembali beraksi di jalanan Gotham, soalnya kalau Bruce terus terperangkap di sumur, cerita filmnya bakal membosankan. Sama seperti hidup kita. Kita sudah tahu ada skenario bernama takdir yang mengatur hidup kita, tapi kalau kita diam di dasar sumur tanpa harapan, bakal membosankan dong. Makanya tetaplah memanjat sumur itu dengan harapan penuh siksa tersebut. Saat tak kuat pedihnya siksaan, berceritalah pada teman terdekatmu sekadar menjadi pelepas lelah atau obat merah. Setelah itu lanjutkan lagi perjalanan memanjatmu dengan harapan. Bercerita itu perlu, sebab tanpa bercerita kadang siksaan karena harapan itu akan terlampau pedih, dan kamu akan memutuskan mengakhiri perjalanan dengan jalan instan: melompat jatuh ke dasar sumur, lalu mati meninggalkan dunia.

 

 

Yogyakarta, 12 Juni 2013

 

 

Aris Setyawan: Mahasiswa jurusan Etnomusikologi ISI Yogyakarta yang bosan dengan tiap hari perkuliahan, Ketua KKM Keilmuan Etnomusikologi, penulis lepas di beberapa media, bermain drum di band folk Aurette and The Polska Seeking Carnival, inisiator gerakan peduli anak jalanan Save Street Child Jogja. Penggila baca, pemuja kucing, berharap semoga suatu hari Radiohead konser di Indonesia.

Advertisements