Tags

, , , , , , ,

( Dimuat di Jakartabeat, 27 April 2013. http://jakartabeat.net/musik/kanal-musik/album/item/1740-attitude-dan-signature-istas-promenade-formula-album-baru-answer-sheet.html#.UY8mOEraHIU )

Pada umumnya kebanyakan orang menganggap nada dalam musik diatonis hanya ada 7, dari do hingga si. Itu nada mayor yang ceria, kemudian nada tersebut menjadi bertambah banyak saat divariasikan menjadi minor yang lebih menggambarkan suasana sedih. Nada dalam musik lantas semakin banyak jika ditingkahi dengan berbagai teknik misalnya menurunkan atau menaikkan setengah nada, mengganti nada dasar, dan lain sebagainya.

 

Sejak awal musik diatonis dimainkan manusia, semua kombinasi nada tersebut sudah diekplorasi jutaan manusia yang bermain musik. Seluas apapun eksplorasi nada pada musik, pada akhirnya akan ada satu dari sejuta musik itu yang identik dengan musik lain. Karena sempitnya ranah nada (diatonis) yang dieksplorasi.

Kemudian timbul pemikiran barangkali ini yang membuat beberapa musisi berhasil sukses meniti karir musik dan musik mereka dapat diterima masyarakat dunia, sementara beberapa lainnya tenggelam sebelum berkembang. Mereka yang tenggelam barangkali hanya sekadar membuat musik yang identik dengan musik lain yang sebelumnya telah ada. Mereka yang tenggelam tak mampu meramu formula khusus agar musik mereka dilirik.

Sementara bagi beberapa musisi berhasil, mereka menemukan formula tepat agar musiknya dilirik: attitude dan signature. Mereka menghadirkan keduanya dalam konsep bermusik mereka (baik dari citra band/musisi hingga musiknya) agar meninggalkan kesan bagi para pendengar bahwa “musik mereka beda dari yang lain.” Ibarat berdagang, musisi berhasil ini harus mengecapkan trademark atau merk dalam musiknya agar pendengar nggeh dan tergoda menikmati karya musiknya.

 

Formula attitude dan signature ini diterapkan oleh band menarik dari Yogyakarta. Adalah Wafiq Giotama, Mas Gilang Karebet, dan Abdullah Haq yang tergabung dalam Answer Sheet mencuri perhatian pendengar musik Indonesia dengan forumula tersebut. Meskipun sah saja saat orang bilang musik yang mereka mainkan tak jauh beda dengan “pop kebanyakan” (teman saya akan menyebutnya pop niaga) yang banyak beredar di pasaran. Namun trio ini menerapkan formula dengan mengeksplorasi ukulele, instrumen bersenar 4 yang setiap mendengarkannya orang akan menghubungkannya dengan Hawaii dan pantai.

 

Nah mereka sudah mendapat poin pertama, saat orang terlalu terbiasa dengan format konvensional band yang menghadirkan gitar, bass, drum, kadang keyboard. Answer Sheet mencuri perhatian dengan hadirnya ukulele dan beberapa instrumen akustik, ditingkahi dengan bebunyian sintetis keyboard. Jadilah orang berkata “wah musiknya beda.”

 

Poin kedua adalah pemilihan bahasa inggris untuk lirik lagu musik mereka. Para pendengar tak akan berani menuduh “pop kebanyakan” pada Asnwer Sheet karena lirik inggrisnya memang bukan tipikal lirik pop kebanyakan, lirik mereka adalah signature yang membuat pendengar musik akan memasukkan Answer Sheet dalam golongan indie (terminologi indie akan berbeda-beda di masing-masing orang, agar tak jadi perdebatan saya menyebut indie mengacu pada musik yang dianggap beda dan tidak seperti musik mainstream. Bukankah begitu pemahaman yang bertahan selama ini?) Sudah 2 poin, Answer Sheet siap meluncur, dan masih ada beberapa poin lain yang membuat mereka mendapat tempat di ranah musik negeri.

 

Setelah merilis EP berisi 3 lagu melalui netlabel asal Thailand SEAINDIE pada tahun 2010 silam. Answer Sheet akhirnya merilis album penuh mereka pada awal bulan maret lalu. Album berisi 10 lagu manis tersebut dirilis dan didistribusikan oleh Paperplane Recording, sebuah label independen Yogyakarta yang sebelumnya telah menelurkan album band twee-pop paling hype di Jogja Brilliant at Breakfast, serta album mengawang shoegaze Lazy Room. Bekerja sama dengan Senjahari Records, sebuah label dari Jakarta. Chapter 1: Istas Promenade adalah tajuk albumnya, dan inilah poin ketiga yang membuat Answer Sheet layak didengarkan penikmat musik: tema dan konsep dalam album.

 

Istas Promenade menceritakan sesuatu, dan pendengar pasti tergoda untuk mengetahui cerita didalamnya. Eksplanasi dalam sleeve CD album ini menceritakan Istas adalah tokoh imajiner (atau nyata?) yang tinggal di Promedealm, ujung paling utara bumi. 10 lagu dalam Istas Promenade mengajak pendengar mengikuti kisah hidup imajiner ini. Dapat dikatakan Istas Promenade adalah semacam perenungan proses perjalanan hidup manusia. Atau bisa saja album ini belum tentu bermaksud menceritakan hal itu, seperti diutarakan Wafiq Giotama bahwa tema dalam album ini justru muncul belakangan setelah semua lagu hampir selesai direkam.

 

Jadi bisa saja mereka bermaksud menceritakan hal lain saat menciptakan karyanya, namun memberikan konsep dan tema tentang Istas untuk memberi nyawa dalam albumnya, dan menyumbangkan poin ketiga yang membuat para pendengar tergoda mengikuti cerita Istas. Ah interpretasi memang akan berbeda di masing-masing orang. Baiklah, mari kita mulai berpetualang bersama Istas dan naganya, mengarungi kehidupan.

 

Album berdurasi 42 menit ini dibuka dengan intro instrumental Chapter 1: Istas Promenade yang entah bagi orang lain, tapi bagi kuping saya track pertama ini terdengar menggunakan (atau mirip) laras atau nada pentatonik ala madenda Sunda. Pendengar digiring memasuki Promedealm, lalu lagu kedua Hills of Rabbit Face menceritakan masa muda Istas dan naganya yang gemar berpetualang. Kisah petualangan ini diriuhkan dengan gubahan “wo o o o o o….wo….o o o o o….” yang pasti memancing penonton gigs mereka ikut bersorak riang.

 

Lalu The Pleasant Drink Of United Ink adalah sebuah pertanyaan retoris tentang “apakah memperjuangkan tanah kelahiran itu setimpal” dan sebagai pertanyaan retoris pertanyaan tersebut tak perlu dijawab karena kita semua sudah tahu jawabannya. Lagu ke 4 dengan ketukan ¾ nya adalah perenungan mengenai penyesalan karena datangnya cobaan hidup; A Regretful Season adalah saat dimana manusia terkadang akan sendiri dan kesepian, lalu menangis keras. Namun pada akhirnya penyesalan akan hilang saat semua masa buruk itu usai. Kocokan ritmis ukulele yang dinamis dan rapi mengawali Stay, Leave dan menjabarkan saat dimana Istas harus membuat berbagai pilihan untuk menyikapi berbagai kemungkinan yang ada. Hundred hours, with no directions / it will end, as elation / you may stay, you may leave / they probably go, and they probably win. / and I choose, to stay in here.

 

A Girl from Kyoto, instrumental tanpa lirik ini adalah saat dimana Answer Sheet bereksperimen dan mengubah haluan musiknya menjadi (jika boleh saya menyebutnya) shoegaze. Tema lagunya adalah tema yang sudah dibahas jutaan manusia dalam musiknya: cinta. Kali ini kecewa karena cinta yang dihadirkan saat Istas terdiam mengenang kekasihnya yang hilang, tiada karena perang.

 

Riverside yang didaulat sebagai single pertama dan sebelumnya diunggah di soundcloud Answer Sheet barangkali memang bakal menjadi favorit para pendengar. Lagunya sangat cocok untuk sing-along, dengan ritme ukulele catchy dan bangunan atmosfer dari synthesizer yang melingkupinya. Pendengar pasti merem-melek demi mendengar melodi membius synthesizer pada menit ke 3:30.

 

Yang ada dalam benak pendengar barangkali adalah kira-kira sungai tempat bermain Istas ini adalah sungai yang seperti di bumi bagian utara, atau sungai sejenis Kali Code di Yogyakarta, kota dimana para personil Asnwer Sheet tinggal. Kemudian One Last Smile yang simpel dengan vokal dan sebuah ukulele adalah semacam lagu penghiburan bagi kekasih yang murung. Sebuah hadiah “Don’t forget about my gift that rhyme to you.” Agar sang kekasih tak lagi nelangsa.

 

Sementara itu atmosfer pantai yang dibangun dalam Track ke 9 barangkali akan mengecoh pendengar menduga lagu ini tentang Hawaii. Karena progresi nada didalamnya mengarah pada suasana pantai, dan Hawaii biasanya muncul pertama dalam jajaran pantai terindah, terlebih ukulele kadung identik dengan Negara bagian Amerika Serikat itu.

 

Namun demi menengok judul A Love Beach, Sadranan pasti para personil Answer Sheet tengah terkekeh karena berhasil mengecoh pendengarnya. Pasalnya Sadranan adalah salah satu pantai di selatan Yogyakarta, lagu ini adalah mengenai cinta sepasang kekasih di pantai indah tersebut yang ditegaskan dengan bait ‘We were there holdin’ arms / You looked up on me, you smiled at me / You laughed and said, I love you.”

Kalau bisa dibilang keputusan berani diambil Answer Sheet, sebuah band dengan musik Hawaii yang liriknya berbahasa Inggris, namun mengeksplorasi wilayah lokal Yogyakarta dengan spesifik menyebut pantai Sadranan, mereka tak mau membiarkan pendengar berspekulasi apakah ini pantai di Hawaii atau di mana?

 

Berbeda dengan Riverside yang meninggalkan pertanyaan apakah ini sejenis sungai di utara bumi atau di Kalicode? Akhirnya Chapter 1: Istas Promenade ditutup dengan Replaced¸ lagu yang juga menggunakan ketukan ¾ ini barangkali adalah paradoks album ini. Karena dalam press release-nya Answer Sheet menyatakan Replaced menegaskan bahwa “Istas (dianggap) tiada. Lagu yang menggambarkan kilas balik.” Jika pada lagu penutup dengan sedikit unsur musik Perancis (akordeon dan pola valse) ini menegaskan bahwa “Istas (dianggap) tiada.” Lalu untuk apa tokoh Imajiner itu diceritakan panjang lebar di 9 lagu sebelumnya?

 

Namun bisa saja Answer Sheet sengaja melakukan hal itu, mereka tengah menegaskan bahwa kisah mengenai Istas bisa saja imajiner, bisa saja nyata ada. Ending dari album penuh ini seolah menegaskan bahwa ada garis tipis antara yang imajiner dan yang nyata. Dan Answer Sheet menyuruh pada pendengarnya santai saja menyikapi paradoks ini, dan enjoy dengan musik mereka. Santai seperti judul album ini Promenade, yang dapat diartikan juga sebagai Esplanade, sebuah tempat berjalan santai di pinggir pantai.

 

Ya, Answer Sheet berhasil dengan formulanya. Chapter 1: Istas Promenade adalah langkah awal mereka menjadi band yang akan diingat karena memiliki attitude dan signature, mereka akan meluncur meniti sukses layaknya Istas berpetualang, tidak akan tenggelam seperti batu dilemparkan ke sungai atau laut saat sepasang kekasih berjalan di tepiannya.

 

 

Aris Setyawan: Penulis adalah mahasiswa jurusan Etnomusikologi Institut Seni Indonesia Yogyakarta yang bosan dengan setiap hari perkuliahan. Bermain drum untuk Aurette and the Polska Seeking Carnival, penggila kucing, penggiat peduli anak jalanan di Save Street Child Jogja, kutu buku poll-poll-an, berharap semoga satu hari Radiohead konser di Indonesia.

Advertisements