Tags

, , , , , ,

“Nilai Macam Apa Yang Akan Kita Wariskan?” karya mural Digie Sigit. Mengkritik borjuasi dan nilai yang akan kita wariskan pada anak cucu. Bisa diplesetkan menjadi “Nilai Macam Apa Yang Akan Kita Wariskan Pada mahasiswa Etnomusikologi berikutnya?”

Pertama perlu dipahami bahwa tulisan ini bukanlah makalah dengan basis teori rigid yang berangkat dari berbagai teori muluk-muluk. Tulisan ini murni didasarkan pada subyektifitas saya, seorang mahasiswa Etnomusikologi yang baru saja patah hati, dua kali lagi, yang pertama karena putus hubungan dengan seorang perempuan, yang kedua karena makin sadar telah menjadi korban PHP (pemberi harapan palsu). Pelaku PHP itu adalah Etnomusikologi, disiplin ilmu yang kebetulan saya tekuni 3 tahun ini. Jadi jangan debat saya dengan teori muluk-muluk tentang apa itu Etnomusikologi yang ideal. Karena saya tidak bermaksud mendebat siapapun, kecuali menceritakan curahan hati saya. Akan lucu jadinya kalau orang curhat didebat dengan teori fungsi dan bentuk Etnomusikologi, sama lucunya dengan mendebat bapak presiden perihal kondisi ekonomi Negara via akun twitternya yang berisi kicauan mengenai sabtu-minggu berpiknik bersama cucu ke kebun binatang.Tuh kan belum apa-apa saya sudah melantur panjang, abaikan saja. Silakan berhenti membaca sampai disini sebelum terlambat.

            Mengapa saya merasa perlu curhat mengenai Etnomusikologi? Karena sejak lama terjadi perdebatan internal dalam disiplin ilmu ini (dan belakangan ramai diperbincangkan kembali di ISI Yogyakarta, entah di kampus lain) yang mempertanyakan: apa sih Etnomusikologi itu? Dan harus ngapain ilmu ini? Mau tak mau saya harus curhat karena saya kuliah di jurusan tersebut. Lantas kenapa saya memilih curhat dalam sebuah tulisan kurang berbobot ini? Karena seperti dibilang diatas, bila disuruh ngomong teori muluk-muluk Etnomusikologi saya tak akan mampu. Kenapa? Karena sejujurnya semenjak kuliah Etnomusikologi saya belum pernah membaca satupun buku teori Etnomusikologi, oh lupa, pernah baca satu yakni Anthropologyof Music karya Alan P Merriam. Itupun di semester 1 saat mata kuliah Pengantar Etnomusikologi menegaskan bahwa ini adalah kitab suci bagi Etnomusikolog, wajib dibaca. Namun semakin kesini saya justru makin meragu, alasan yang menyebabkan saya kurang mendalami literatur Etnomusikologi.

 

            Mari kita mulai curahan hati mahasiswa galau ini dengan poin pertama: Mengapa saya malas membaca buku teori Etnomusikologi? Karena ia membosankan. Semenjak kuliah saya dan para mahasiswa dinasehati bahwa kalian harus mencintai Etnomusikologi, lalu menggunakan disiplin ilmu ini untuk mempertahankan musik dan budaya Indonesia yang adiluhung. Lalu saya berpikir: bagaimana bisa kita dipaksa mempertahankan budaya menggunakan disiplin ilmu yang latar belakangnya adalah “berburu eksotisme budaya”? Lagi-lagi saya tekankan jangan debat saya dengan teori, ini murni hipotesis subyektif saya yang beranggapan Antropologi yang lahir dulu adalah ilmu dimana manusia kulit putih di ruangan wangi dan rapi menggunjingkan kulit hitam atau berwarna diluar keseharian mereka. Antropologi adalah ilmu yang awalnya ada untuk berburu eksotisme, kebudayaan atau manusia di luar mereka. Kenapa berburu? Karena semangat yang mendasarinya adalah kolonialisme dan ekspansi kekuasaan. Lalu anggap saja kita langsung melompati sejarah mengenai musikologi, dan mendadak lahirlah Etnomusikologi, disiplin ilmu yang meminjam musikologi sebagai ilmu menganalisis musik, serta antropologi sebagai ilmu untuk membedah budaya.Jadilah Etnomusikologi sebagai disiplin ilmu dimana manusia kulit putih menggunjingkan musik manusia kulit berwarna, musik diluar keseharian mereka warga Eropa.

 

            Sudah tidak sabar ingin mendebat saya? Tenang dulu, saya bakal makin ngawur ini. Lalu dengan disiplin ilmu yang didasarkan pada semangat kolonial berburu eksotisme ini, bagaimana cara kita menyelamatkan budaya bangsa? Barangkali inilah kenapa Etnomusikologi menghabiskan waktunya berburu eksotisme musik-musik di pelosok daerah. Jika dikatakan ini upaya agar mahasiswa merasakan bagaimana menjadi manusia Jawa, Bali, Sulawesi, Kalimantan,Papua. Apakah dengan sekadar merasakan sesaat lantas budaya musik tersebut akan terselamatkan? Apakah dengan bermain Gamelan Jawa satu semester lalu musik tersebut akan terselamatkan dari kepunahan? Pada akhirnya mahasiswa hanya menganggapnya sebagai pengalaman, seperti yang dicita-citakan agar mahasiswa mengalami. Namun pengalaman itu akan hilang ditumpuk memori lain yang menyusul begitu deras dalam otak. Karena di semester berikutnya mereka harus memikirkan musik tradisi lain, belum lagi memikirkan hubungan dengan pacar yang mulai renggang, atau memikir strategi terbaik mengalahkan lawan di pertandingan sepakbola digital saat menyewa Playstation II di rental tetangga.

 

            Maksud saya adalah, apa faedah Etnomusikologi kelak jika ia hanya berhenti di pengalaman memainkan musik eksotis (yang tidak pernah dimainkan sebelumnya) dan membahas fungsi dan bentuk musik tradisi tersebut? Tentu saja mengkaji bentuk musik itu perlu, agar kita dapat membedah musik tersebut secara keseluruhan. Agar kita mengetahui bagaimana musik tersebut bisa dibuat.Tapi apakah lantas kita harus berhenti di bentuk dan fungsi saja? Analogikan dengan kejadian ini, saat kita bertemu seorang perempuan di jalan, yang pertama ingin kita ketahui adalah bentuk. Bagaimana manisnya wajah perempuan itu, bibirnya berlipstik merah, cerlang matanya, rambutnya sebahu terurai ditiup angin, hotpant dan tanktop yang dikenakannya terlihat begitu seksi. Nah, setelah tahu bentuknya, apakah cukup sampai disitu? Tidak,kita ingin tahu kontekstualnya, bagaimana teks-teks pendukung yang melingkupi perempuan itu: kuliah dimana ya dia, eh kira-kira suka makan batagor kayak aku juga enggak, atau yang paling krusial, kira-kira sudah punya pacar belum. Bila kita hanya mengkaji bentuk, ya cukup sampai disitu hasil akhir yang kita dapat, cukup sebagai pengamat yang mengagumi keindahannya. Beda dengan saat kita melanjutkannya dengan mendalami kontekstual perempuan itu, hasil akhir yang kita dapatkan adalah celah dimana kita bisa PDKT lalu jadian, njuk pacaran tiap malam minggu nongkrong di warkop Semesta, minum kopi hitam seharga 5 ribu.

 

            Kalau mahasiswa Etnomusikologi hanya dipaksa mendalami bentuk musik, serta mengalami rasanya menjadi manusia suku tertentu, ya mentoknya mereka cuma sampai segitu, menjadi pengamat, pengagum keindahan musik. Saat lulus apakah mereka masih ingat dengan semua pengalaman tersebut? Entah, faktanya gempuran memori lain lebih banyak. Maka mengkaji bentuk musik dalam Etnomusikologi itu perlu, namun harus dilanjutkan dengan kontekstual. Kita harus membuat Etnomusikologi menarik dengan cara mengedepankan kajian mengenai apa yang terjadi dengan musik tertentu dan kondisi masyarakat atau lingkungan sekitarnya. Nah untuk membaca kontekstual tersebut Etnomusikologi harus dengan besar hati mengakui bahwa mereka meminjam berbagai disiplin ilmu lain. Kita harus tahu diri bahwa interdisipliner itu wajib dilakukan. Masalahnya saya sering menemukan kasus beberapa orang Indonesia berkata “untuk apa menggunakan ilmu dan teori-teori barat untuk mengkaji budaya Indonesia yang tidak mereka jalani?” inilah penyakitnya orang Indonesia, mereka mudah tersinggung dan malu saat perihal kebangsaan dan identitas diri dibicarakan. Mereka tidak terima bila budayanya dikaji dengan teori barat, tapi tetap tenang dan diam saja saat dalam ranah ekonomi dengan jelas semua orang mengendarai sepeda motor produksi Jepang, atau meminum Jack Daniel yang jelas-jelas bikinan orang barat. Semua orang mencapai konsesus dalam ranah politik saat hegemoni politik Amerika memaksa bapak presiden memperpanjang kontrak Freeport mengeruk gunung emas di Papua. Semua tenang kan? Marilah hilangkan kepongahan manusia timur kita yang sering tersinggung identitas kulturalnya, lalu mengakui bahwa kita memang belum mampu berteori sendiri, dan meminjam teori barat untuk mendedahkan macam-macam problema kultural di bangsa ini, seperti saat kita mengamini privatisasi perusahaan-perusahaan telekomunikasi terbesar Negara oleh pemodal asing. Jadi saat anda menelpon rekan Etnomusikolog anda di daerah lain, menggunjingkan pengaruh asing pada mental mahasiswa dan identitas kultural. Selamat, anda tengah menyumbangkan sekian rupiah pada keuntungan pemegang saham di Negara jauh sana.

 

            Sebentar kawan, jangan bosan dulu, curhatan saya masih panjang, sembari ngopi sajalah. Kita lanjut dengan poin berikutnya. Saya mendadak ingat WS Rendra, sastrawan serba bisa ini pernah menuliskan puisi “Sebatang Lisong” yang baitnya saya ingat sekali. “Apakah artinya kesenian bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir bila terpisah dari masalah kehidupan.” Agaknya puisi Rendra dapat dijadikan bahan kontemplasi terkait kontekstual yang harusnya dikedepankan Etnomusikologi. Entah, barangkali ini subyektifitas dan idealismesaya sendiri ya, tapi saya berpikir Rendra ada benarnya. Untuk apa Etnomusikologi membicarakan bentuk seni paling sempurna jika faktanya kondisi masyarakat sekarang menderita? Saya akan meminjam (lagi-lagi teori barat) piramida kebutuhan hidup Abraham Maslow yang mengatakan musik sebagai bentuk aktualisasi diri berada di puncak tertinggi piramida, sementara di paling dasar adalah kebutuhan pokok seperti sandang dan pangan. Masyarakat bangsa kita sebagian besar masih berkutat di dasar piramida ini, arifkah akademisi seni berkeputusan mengkaji bentuk musik paling sempurna di puncak teratas tatkala masyarakat penikmat musiknya sendiri tertinggal di dasar piramida? Seperti apa yang dikatakan ST Sunardi: kampus seni terlalu sibuk mengejar kesempurnaan seni, hingga lupa pada common sense masyarakat, apa yang terjadi di masyarakat.

 

            Loh memangnya kenapa? Kita kan jurusan Etnomusikologi, ya kita memang harus mengkaji musik dong, yang bertugas ngurusin derita masyarakat kan pemerintah, atau disiplin ilmu sosiologi, atau ilmu politik. Nah loh, ini dia masalahnya, lalu apa faedah Etnomusikologi bagi masyarakat dunia? Apa sumbangsihnya pada kemanusiaan semenjak ditelurkan para penggagasnya dulu? Inilah saatnya kita mengubah haluan, Etnomusikologi boleh mengkaji bentuk kesenian atau musik tradisi, tapi jangan berhenti disitu, kita harus terus pada ranah kontekstual agar mendapatkan peta kondisi sosial bangsa ini, kemudian menggunakan peta itu untuk membikin cetak biru perbaikan kondisi. Karena menurut saya musik adalah peta sosial yang dapat dibaca. Saya pribadi malas menulis mengenai betapa adiluhungnya gamelan Jawa. Saya lebih tertarik menulis mengenai Jogja Hip-Hop Foundation, sebuah kolektif musik hip-hop yang berdiri di Jogja, namun mencampur musik pemberontakan kulit hitam itu dengan gamelan dan lirik bahasa Jawa. Grup yang terkenal karena meluncurkan single “Jogja Istimewa” di momen yang tepat: tatkala Yogyakarta menuntut keistimewaan. Etnomusikologi dapat membedah konteks menarik di lagu rap bercampur gamelan Jawa itu, bahwa keistimewaan Jogja sesungguhnya tidak melulu dianggap sebagai kebenaran tunggal oleh seluruh warga Yogyakarta. Sebanyak apapun lagu itu diputar di kota, barangkali tak akan terdengar di Kulonprogo sana, karena warga Kulonprogo menuduh keistimewaan Jogja sebagai biang tragedi tanah pertanian mereka akan digusur dalam rangka pembangunan tambang pasir besi oleh sebuah perusahaan. Perusahaan yang salah satu komisarisnya adalah anak penguasa keraton.

 

            Saya segan menulis mengenai musik di pedalaman Kalimantan. Alih-alih saya memilih menulis mengenai dangdut di Purawisata, musik rakyat yang selalu dituding sebagai musik kampungan, alat kampanye partai politik jelang pemilu, dan bagaimana Purawisata sebentar lagi digusur karena tempat berdirinya akan dibangun hotel, Etnomusikologi harusnya membaca gejolak sosial yang nyata di lingkungan sekitar ini. Etnomusikologi harusnya berbenah diri, meninggalkan mental berburu eksotisme, lalu mengkaji kondisi terkini bangsa ini, agar mampu memberikan sumbangan pada kemanusiaan. Masih relevankah kita mengikuti mazhab Bruno Nettl atau Mantle Hood yang merumuskan disiplin ilmu ini di kondisi dunia saat itu? Seperti Hegel bilang, seluruh proses kehidupan ini adalah dialektika. Ia berkembang terus menerus dengan 3 langkah tesis, antitesis, dan sintesis. Etnomusikologi adalah sintesis dari disiplin ilmu lain yang ada sebelumnya. Maka jangan berkecil hati saat sekarang Etnomusikologi harus dinegasikan oleh pemikiran baru yang lebih sesuai dengan kondisi dunia. Selayaknya ketoprak dan gamelan sebagai tesis, yang harus memudar dinegasikan antitesis berupa komedi situasi dan musik modern. Lalu bersintesis menjadi Opera Van Java.

 

            “Lalu langkah kongkritnya apa nih? Jangan Cuma bisa ngemeng doang dong!” Teriak seorang penonton di barisan belakang. Looohh, kan saya tadi sudah bilang, ini sekadar curahan hati seorang mahasiswa patah hati, jadi jangan berekspektasi berlebih dong. Saya tidak akan bisa berbuat apapun selain curhat. Yang bisa ya mereka-mereka, para begawan Etnomusikologi yang menentukan nasib dan arah hidup kita dengan ketok palu sebuah dogma bernama kurikulum. Saya ini siapa sih? Mahasiswa semester 6 di kampus Sewon yang bahkan belum pernah menuliskan satupun artikel Etnomusikologi di jurnal ilmiah. Kalau mau perubahan, mari rekan sesama mahasiswa galau berpikir, sadari posisi kita, dan jangan lupa belajar politik. Jangan mentang-mentang seniman njuk jadi apolitis. Sebab semua aspek hidup kita ini politis, termasuk nasib disiplin ilmu yang kita (terpaksa) cintai ini hanya bisa diubah dengan politik. Salah satu cara mendekonstruksi (saya tetap memakai kata dekonstruksi walau bakal dianggap aneh dan lebai dalam ranah kesenian) dogma kurikulum itu adalah dengan politik, ayolah, sudah menjadi rahasia umum bahwa pendidikan juga harus menurut pada politik. Sejak masih menjadi pembahasan para penyusun kurikulum di kementerian pendidikan, hingga penerapannya di bangku-bangku sekolah. Jadi, yuuuukk kuliah yang rajin, agar cepat lulus, kemudian melamar kerja jadi PNS. Kalau sudah jadi PNS kan nanti kita mampu masuk ke sistem, kalau sudah masuk sistem kita jadi punya kekuatan politik kan. Itulah saatnya kita mengubah haluan Etnomusikologi menjadi lebih relevan dengan kondisi terkini. Sungguh mulia kan cita-cita lulusan Etnomusikologi? Menjadi pelayan Negara bertitel PNS. Bukankah itu cita-cita utama lulusan kita? Sebab di luar itu kita mau ngapain lagi? Dengan ilmu nanggung kita ini mau menelurkan teori baru juga mustahil, menggugat budaya massa yang sering dituding sebagai penyebab kematian musik tradisi juga tak mampu, malah kita mengamini budaya massa sebagai kesuksesan, rupanya bertahun-tahun digembleng di perguruan tinggi seni adalah strategi kita agar dapat menaklukkan kejamnya persaingan budaya massa itu? Baik dalam bentuk acara-acara pencarian bakat di TV. Atau pertunjukan budaya yang sesekali dibikin pemerintah dalam rangka pariwisata atau sloganeering “mempertahankan budaya bangsa yang adiluhung,” atau sudahlah, jadi PNS saja cukup nyaman.

 

            Okesip, cukup sampai disini curahan hati galau seorang mahasiswa yang patah hati. Jangan ditanya patah hati karena putus dengan pacarya, itu bakal bikin saya nangis lagi. Cukup dibahas yang patah hati karena Etnomusikologi saja. Ya, entah bagi mahasiswa lain, tapi saya patah hati. Karena Etnomusikologi yang saat masuk kuliah dulu saya anggap keren dan bakal berfaedah bagi kemanusiaan ternyata adalah pemberi harapan palsu. Harapan menyelamatkan budaya adiluhung bangsa ternyata baru berupa laboratorium uji-coba dengan kurikulum coba-coba yang masih terus dicari bagaimana idealnya. Ah, atau saya saja yang tidak sabaran ya. Wong Etnomusikologi masih seumur jagung kok. Filsafat saja butuh ribuan tahun untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan besar manusia (dan sampai sekarang belum ketemu jawabannya, eh malah nambah pertanyaan lagi.), fisika harus ratusan kali berganti haluan karena teori yang baru selalu menegasikan teori lama, eh tiba-tiba kini ada fisika kuantum. Mungkin kita harus bersabar lebih lama ya agar Etnomusikologi sampai pada titik paling ideal. Kita harus bersabar. Sudahlah, jangan seperti Narsisus yang bermimpi mengubah haluan Etnomusikologi. Pada akhirnya kita hanyalah noktah di tengah kerumunan. Kemana kerumunan berjalan, mau tak mau kita harus ikut, kalau enggak ikut enggak lulus. Modyar, kalau sampai enggak lulus bisa celaka ini. Sebagai noktah, kita hanya bisa berharap mereka para penentu arah kerumunan ini mampu membimbing kita ke arah yang benar. Arah yang benar itu dimana? Tanya paman gugel saja, sama seperti saat kita bertanya padanya untuk bikin paper tugas kuliah, yang selalu dengan sukses mencetak nilai “A” di KHS kita akhir semester. Loh kok bisa lulus dengan bantuan gugel? Bisa dong, sistem penilaiannya mengijinkan penggunaan gugel kok, bahkan untuk tulisan yang copy paste dan tanpa dimoderasi sekalipun.

 

 

Yogyakarta, 28 April 2013

 

Aris Setyawan:  Penulis adalah mahasiswa jurusan Etnomusikologi Institut Seni Indonesia Yogyakarta yang bosan dengan setiap hari perkuliahan. Bermain drum untuk Aurette and the Polska Seeking Carnival, penggila kucing, penggiat peduli anak jalanan di Save Street Child Jogja, kutu buku poll-poll-an, berharap semoga satu hari Radiohead konser di Indonesia.

Advertisements