Warning: Sebelum membacanya terlalu jauh, ini bukan mengenai sebuah grup rap politik asal Bandung bernama Homicide. Ini merupakan curahan hati bimbang seorang lelaki biasa yang bermimpi menjadi peternak kucing yang hobi menanam wortel. Jadi sebelum terlambat, jangan teruskan membaca.

 

 

To whom it may concern.

 Awalnya biasa saja, kamu datang dengan sebuah senyuman yang menenangkan, sikap yang membuat nyaman. Begitu menggoda, hingga aku tergoda, lantas berpikir: kenapa Tuhan menciptakan perempuan begitu menggoda? Jika ada istilah playboy atau lelaki hidung belang, para lelaki itu tidak salah, tentu Tuhan yang harus disalahkan, sebagai pencipta, mengapa ia menciptakan perempuan begitu menggoda? Hingga melahirkan terma lelaki hidung belang yang suka lirik perempuan yang menggoda?

 

Kamu datang dengan hati yang luka, itu yang kubaca sejak pertama kamu mendekat. Ada sebuah jejak tertinggal di sudut kecil itu, jejak yang sepertinya membuatmu nelangsa. Tapi apa iya kamu nelangsa? Karena kamu justru bangga dengan adanya jejak itu, seolah berusaha mengejar apapun yang meninggalkan jejak dihatimu itu tanpa lelah.

 

Tapi kamu memunculkan isyarat, sebuah tanda. Konon setiap aspek kehidupan ini memunculkan tanda, sesuatu yang melahirkan semiotika, sebuah ilmu untuk membedah tanda-tanda. Karena semunya iklan rokok di televisi dan senyum licik politikus sekaligus pemilik media dapat dibaca dengan semiotika. Celaka, aku terlampau percaya pada kemampuanku membaca tanda. Roland Barthez dan Ferdinand De Saussure harus menangis didalam kubur mendengar umpatanku: semiotika tak mampu membaca tanda cinta. Isyarat mengenai afeksi ini tak mampu didedahkan dengan ilmu tanda. Ia kadang menipumu dengan hebatnya sampai sesuatu yang kau anggap sebuah tanda cinta yang amat jelas sekalipun ternyata tak mampu kau baca. Hal ini membuatku mendapat pencerahan: tak semua hal bisa dijelaskan dengan logika. Dalam hal ini perasaan dan cinta adalah sesuatu itu, ia ada namun transenden, di luar logika.

 

Karena kamu datang, menggodaku dengan sebuah isyarat, bahwa kamu ingin mencoba menghapus jejak itu, dan berharap aku menjadi pria yang menghapus jejak tersebut. Ah, aku salah membaca isyaratmu, itulah yang kumaksud diatas, aku salah membacanya.

 

Tapi jangan salahkan aku dong. Salahkan senyummu yang manis itu, atau bagaimana kamu berusaha menyamakan apa yang menjadi seleramu agar sama dengan seleraku, mendadak kamu bilang Radiohead itu keren karena aku menyukainya, padahal kamu menggilai musik Jepang yang dinamis, kesuraman musik dan lirik Thom Yorke dan koleganya dari Oxford tentu tak bakal menempel di sanubarimu. Tapi mendadak kamu membahas band itu, dan mengiyakan saat aku bilang ada kaitan antara Radiohead dengan Haruki Murakami: keduanya sama-sama absurd dan suram.

 

Salahkan kejutan-kejutan yang kamu hadirkan padaku. Bayangkan ini, hati pria mana yang tak tergoda menyimpulkan kamu suka padaku saat kamu sering mengejutkanku dengan sikap-sikap itu. Sikap yang kadang menegaskan itu adalah isyarat cinta. Karena kamu cerdas, berpengetahuan luas, tentu kamu telah membaca tentang fenomenologi kan? Aku baru saja membaca buku yang mengulas fenomenologi Emmanuel Levinas. Konon segala yang ada di dunia ini adalah fenomena, dan setiap fenomena tersebut akan berbeda sesuai pengamatan dari sang pengamat. Segalanya adalah interpretasi pengamat, hasilnya akan berbeda, fenomena yang disimpulkan seseorang akan berbeda dengan orang lain.

 

Mungkin itulah kenapa ini terjadi, aku membaca sikapmu sebagai isyarat cinta, kamu membacanya sebagai sikap biasa, sesuatu yang selalu kamu lakukan kepada setiap temanmu. Baiklah, maaf kalau diatas tadi aku menyalahkanmu karena menggodaku, kamu tidak salah karena itu subyektifitasmu yang kamu lakukan seperti biasa kepada seluruh temanmu. Barangkali yang salah indraku, karena ia memberikan informasi palsu hingga kesimpulan yang dihasilkan pemikiranku salah.

 

Karena kamu menyanjungku dengan asa, harapan bahwa aku akan menjadi lelaki paling beruntung di dunia jika aku dapat mengobati lukamu. Aku terbujuk godaan itu, aku mengikuti alurmu, aku mengorbitkan diriku padamu, aku mengikuti kemana putaran oval orbitmu. Ibaratkan kamu planet, aku siap menjadi satelit yang menyertaimu berputar. Namun kamu tentu pernah mendengar kasus saat sebuah satelit tak mampu mengiringi planetnya, ia akan hancur lebur, menjadi serpihan kecil asteroid yang malih rupa menjadi cincin saturnus.

 

Kemarin aku sempat merasa menjadi lelaki paling pintar sedunia. Pintar karena aku dapat membaca isyaratmu, dan menjadi obat bagi lukamu. Tapi sekarang aku merasa menjadi lelaki paling bodoh sedunia. Ya, bodoh. Karena hanya orang bodoh yang mau membahas perkara perasaan dan cinta dengan filsafat dan logika, mencoba mengaitkan perihal suka sama suka dengan ilmu tanda dan semiotika. Lalu ngomong panjang lebar tentang pertentangan rasionalisme dan empirisme dalam fenomenologi hanya untuk ngomong cinta bertepuk sebelah tangan. Bodoh sekali kan aku ini? Seorang lelaki bodoh yang tak tahu apa-apa tentang asmara dan bicara panjang lebar biar kelihatan pintar.

 

Akhirnya lelaki biasa ini hanya mampu membaca gejala dari jelaga. Saat semuanya terbakar hangus tak bersisa, menyisakan jelaga hitam yang menempel di hati. Lelaki ini harus belajar membaca jelaga itu, gejala apa yang terjadi? Nah, aku barusan selesai membaca “Kafka On The Shore”nya Haruki Murakami yang kamu pinjamkan. Ada satu kalimat dari buku itu yang harus kukutip sekarang: “In this whole wide world the only person you can depend is you.” Jadi aku harus bergantung pada diriku sendiri sekarang untuk membaca gejala dari jelaga itu. Sementara kamu harus bergantung pada dirimu sendiri untuk mengejar siapapun itu yang pernah meninggalkan jejak dihatimu. Jangan mengajakku lagi, karena sumpah, ternyata aku tak mampu berlari mengikutimu. Aku baru sadar sekarang: aku terlalu sok kuat, padahal aku rapuh. Sedangkan kamu adalah perempuan yang kuat.

 

Yogyakarta, 14 maret 2013.

 

NB: Siapapun yang membaca tulisan ini boleh menganggapnya fiksi atau nonfiksi. Karena toh batas antara yang fiksi dan nonfiksi kini sudah sangat tipis kan?

 

Aris Setyawan: Penulis adalah mahasiswa jurusan Etnomusikologi Institut Seni Indonesia Yogyakarta yang bosan dengan setiap hari perkuliahan. Bermain drum untuk Aurette and the Polska Seeking Carnival, penggila kucing, penggiat peduli anak jalanan di Save Street Child Jogja, kutu buku poll-poll-an, berharap semoga satu hari Radiohead konser di Indonesia.

Advertisements