Tags

, , , , , , , , , , , ,

 

 

Siang itu seperti biasa warung rakyat Mas Poer ramai oleh para mahasiswa ISI Yogyakarta yang lapar dan memutuskan makan di sana karena harganya yang aduhai, murah. Saya adalah salah satu mahasiswa lapar itu. Ketika saya tengah menyantap nasi berlauk sayur bayam dan tempe, tiba-tiba telinga saya tergelitik suatu bunyi, kemudian mata memutuskan menatap ke luar, rupanya ada pengamen sedang menggenjreng gitarnya. Mengharap recehan dengan jasa sepenggal nada. Yang membuat saya tergelitik adalah, gitar sang musisi jalanan ini benar-benar fals, dan suaranya saat bernyanyi juga tak tepat nada.

 

Lalu ingatan saya kembali ke saat saya menonton pertunjukan musik noise. Musik berisik yang menghadirkan keriuhan eksplorasi bunyi, kadangkemresek bak radio rusak, kadang muncul feedback yang biasanya dihindari para pemusik. Noise ini kurang lebih sama dengan musik yang dihadirkan mas-mas pengamen di atas, malah noise lebih maksimal menyajikan chaos bunyi.

 

Dan anehnya, meski kedua musik di atas sama-sama menghadirkan musik yang bisa dianggap out of tune, saya lebih menghargai yang kedua. Noisesaya anggap keren dan aneh, unik, luar biasa. Sementara mas-mas pengamen hanya mendapat grundelan saya yang menyatakan “fals kok berani ngamen.” Pastinya bukan hanya saya yang mengernyit jengah pada mas pengamen, semua yang hadir di warung Mas Poer siang itu pasti merasakan hal yang sama, begitu juga semua orang. Tentu yang hendak dibicarakan disini bukan perkara falsnya mas pengamen. Tapi mengenai apa itu seni dan idealnya seni itu harus seperti apa.

 

Dalam bukunya “Vodka dan Birahi Seorang Nabi.” ST Sunardi, seorang pengajar di berbagai kampus di Yogyakarta dan seorang penelaah Nietzsche yang cukup mumpuni mengutip Deleuze dan Guattari yang mengatakan bahwa seni “wants to create the finite that restores the infinite.” Maksudnya seni ingin membuat sesuatu yang terhingga, namun dapat menghadirkan sesuatu yang tak terhingga, sesuatu yang tiba-tiba memaksa kita menggali memori kita akan sesuatu di luar karya seni itu. Dalam kasus mas pengamen dan musik noise di atas, kita cenderung lebih menghargai yang kedua karena keyakinan kita akan premis Deleuze dan Guattari tadi. Karena kita mengganggap motif diciptakannya musik noise adalah dalam rangka menerapkan premis seni membuat the finiteyang menghadirkan the infinite. Premis inilah yang akhirnya juga membuat kita menghargai dan menyanjung pelukis abstrak atau surreal, seabsurd dan sejanggal apapun karya lukisnya. Karena kita mengamini bahwa goresan penanya adalah refleksi dari the infinite, tak terhingganya hidup.

 

Lalu mengapa mas pengamen tak mampu mendapat perlakuan yang sama dari kita? Mengapa ia kita abaikan, bahkan kita anggap tak tahu diri berani mengamen tanpa nada. Karena kita menganggap mas pengamen tak memiliki motif yang sama dengan musik noise. Motif mas pengamen jelas pragmatis dan realistis: ekonomi. Dia berharap recehan-recehan dari genjrengan gitarnya, untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tak ada motif mencoba mengeksplorasi yang tak terhingga dalam genjrengan gitarnya. Demikian pula dengan coretan-coretan gambar di tembok-tembok sekitar kita yang kadang di buat anak-anak kecil. Bukankah kadang gambarnya juga menarik? Namun kita anggap itu sebatas aksi vandalisme belaka, tak mampu mendapat penghargaan yang sama seperti coretan kuas pelukis. Karena kita anggap motifnya adalah vandalisme, bukan bermaksud membuat the finite yang hadirkan the infinite.

 

Memang seni adalah mimesis kehidupan. Ia ibarat mesin fotocopy, yang menyalin hidup, mencetaknya dalam seni, isi dalam seni itulah the infinite, mimesis dari hidup tadi. Namun perkara di atas memunculkan paradoks berikutnya. Jika seni yang ideal harus yang menghadirkan the infinite persis musik noise dan lukisan abstrak. Sedangkan mas pengamen dengan motif ekonomi, dan anak-anak kecil yang menggambar tembok kita anggap vandal. Bukankah itu namanya tidak adil? Apakah pada akhirnya seni tanpa batas ini terbatas hanya boleh dinikmati oleh mereka yang mengerti seni dan berusaha mengeksplorasi kesenian itu? Lalu bagaimana dengan manusia awam di luar tembok kesenian itu? Mereka yang tidak mengerti ilmu seni namun dalam kehidupannya berkesenian. Anak-anak kecil menggambar tokoh kartun idolanya di tembok sekolah memang vandal, barangkali anak itu tak mengerti kaidah estetika dan perihal mimesis. Namun tak dapat dipungkiri ia telah berkesenian dengan mencoretkan gambarnya di tembok. Mas pengamen memang bermusik dengan fals dan bernyanyi sumbang, serta bermotif ekonomi dalam keseniannya. Namun bukankah seni musik yang ia tawarkan demi recehan itu juga adalah kesenian? Artinya mas pengamen sudah berkesenian.

 

Lagipula jika kita selalu menjustifikasi seni yang berlandaskan motif ekonomi sebagai buruk, tidak nyeni, tidak estetis. Lalu mengapa kita tidak menjustifikasi hal yang sama pada seni-seni yang dihadirkan di televisi, di ajang pencarian bakat (yang rajin kita ikuti), di FTV, di acara-acara pariwisata, pameran lukisan di galeri-galeri, dan lain sebagainya yang jelas-jelas hasil komodifikasi budaya massa yang bermotif ekonomi ketimbang menyajikan the finitedan the infinite. Barangkali karena seni-seni yang dihadirkan dalam gelimang budaya massa itu telah dipoles sedemikian rupa, maka kita memberi pengecualian pada seni budaya massa, mereka tak mendapat justifikasi buruk sama seperti saat kita menjustifikasi mas pengamen dan anak-anak pencoret tembok.

Atau jangan-jangan kita tak menjustifikasi seni budaya massa karena kita terbiasa dengan budaya massa? Kita adalah calon seniman yang dididik untuk memburu kesuksesan dalam gelimang keglamoran budaya massa. Maka kita bahagia dan bangga saat seni kita hadir di layar kaca, atau karya seni kita laris secara kuantitas. Kita belajar seni agar kelak mampu taklukkan budaya massa dan menjadi juara. Kita berusaha mengejar rekor bermain musik 24 jam dengan anggapan inilah upaya mengabadikan budaya. Naïf memang, sebab budaya butuh waktu panjang dan proses dialektika agar menjadi sebuah budaya yang lantas dijalani di kehidupan. Tak bisa secara instan dilahirkan dalam 24 jam lalu semua orang wajib mengamininya. Mengutip Jakob Sumardjo yang menyatakan seni adalah tentang bentuk dan nilai, kita sibuk memperbanyak kuantitas bentuk, sampai lupa mengasah kualitas nilai. Jangan-jangan kampus seni juga sibuk berupaya mengejar kesempurnaan centre of excellence sampai lupa pada common sense masyarakat? Sampai kita lupa perkara membuat the finite yang menyajikan the infinite dalam karya seni kita.

 

Untuk mengurai paradoks pembicaraan mengenai seni tanpa batas ini, saya merasa perlu mengutip sajak “Sebatang Lisong” karya WS Rendra. “Apakah artinya kesenian bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir bila terpisah dari masalah kehidupan.” Apakah artinya seni kita menjadi sukses dan glamor di budaya massa jika kita terpisah dari derita lingkungan dan seni kita tak mampu menjadi mimesis derita itu? Apakah artinya berpikir agar seni kita menjadi elitis dan representasi dari the finite yang menyajikan the infinite jika hal itu membuat seni kita menjadi elitis dan terpisah dari masalah kehidupan? Selamat pusing memikirkannya. Atau saya sendiri yang pusing memikirkannya karena toh semua orang baik-baik saja?

 

 

Yogyakarta, 14 Desember 2012.

 

 

Aris Setyawan:  Penulis adalah mahasiswa jurusan Etnomusikologi Institut Seni Indonesia Yogyakarta yang bosan dengan setiap hari perkuliahan. Bermain drum untuk Aurette and the Polska Seeking Carnival, penggila kucing, penggiat peduli anak jalanan di Save Street Child Jogja, kutu buku poll-poll-an, berharap semoga satu hari Radiohead konser di Indonesia.

Advertisements