( Dimuat di Jakartabeat, 14 November 2012 http://jakartabeat.net/humaniora/kanal-humaniora/esai/item/1614-cetar-membahana-dan-seni-tanpa-arah.html#.UKjhD-QQboI )

 

Tiba-tiba frasa pada judul diatas semakin terkenal belakangan ini. Bukan karena frasa tersebut merupakan mantra ajaib, melainkan karena dilontarkan seorang penyanyi berjambul yang kadang dandanannya melebihi kualitas olah vokal dan performa panggungnya. “Cetar Membahana” (entah apapun artinya itu) diujarkan sang penyanyi perempuan yang kebetulan menjadi juri di sebuah acara ajang pencarian bakat salah satu stasiun televisi swasta.

 

Cetar membahana adalah sebuah strata tertinggi penilaian berkualitas atau tidaknya bakat yang ditampilkan di acara tersebut. Sang penyanyi akan mengatakan frasa itu saat bakat yang ditampilkan dianggapnya luar biasa dan spektakuler. Kemudian Cetar membahana menjadi meme yang bagus, menyebar, dibicarakan, ditiru di Twitter, sekalipun maknanya kurang jelas. Salah satu bukti virus pemikiran cetar membahana ini menyebar adalah, saya juga tertulari dan menulisnya dalam keluh kesah ini.

 

Karena mendadak cetar membahana menjadi standar kesuksesan seni. Setiap penampilan yang dihadirkan di ajang pencarian bakat itu mengiba terlontarnya cetar membahana dari sang penyanyi karena itu artinya mendongkrak perolehan SMS mereka, artinya semakin lama mereka mampu bertarung di ajang tersebut, makin populer.

 

Yang membuat saya mengernyitkan dahi adalah, karya-karya seni yang ditampilkan di ajang pencarian bakat itu cukup bagus dan seharusnya mendapat tempat lebih dari sekadar ajang pencarian bakat yang jelas-jelas didesain menjadi glamor dan kreatif dalam rangka memperoleh rating bagus, rating berlanjut ke porsi iklan yang bertambah, menjadikannya ladang uang yang subur.

 

Karena ini budaya massa, Bung. Ladang di mana estetika dan makna di nomor sekiankan, dan polesan demi polesan agar karya seni dapat dijual adalah yang utama. Jangan-jangan sebenarnya kita tahu, bahwa kita menonton ajang pencarian bakat itu bukan dalam rangka menikmati seni? Namun mencari drama? Kita tahu para juri yang bertengkar dan adu argumen itu terskenario dengan rapi, namun menikmati drama itu dengan nyaman. Layaknya menonton berita, kita bukan mau mengetahui kebenaran, tapi berita yang dipoles agar jadi drama.

 

Lebih jauh lagi kita harus menelaah bagaimana bisa seni harus menyerah pada kuasa budaya massa dan vonis cetar membahana? Sebagai contoh, saya tahu beberapa kontestan yang mengikuti ajang pencarian bakat itu (dan ajang lain di stasiun televisi swasta lain) dilahirkan dari beberapa perguruan tinggi seni di Indonesia. Fakta tersebut harusnya memunculkan pertanyaan: jangan-jangan ada yang salah dengan perguruan tinggi seni tersebut? Jangan-jangan calon seniman yang belajar di sana memang diajarkan untuk menghamba budaya massa? Seni tiba-tiba bukanlah alat merefleksikan hidup (entah itu manis atau getirnya) melainkan hanya alat mengejar popularitas (yang akhirnya berbuntut rupiah, atau dollar).

 

Bagaimana jika ternyata regime of truth di kampus seni itu mengkonstrusikan pada seluruh civitas akademisnya bahwa kesuksesan seniman adalah saat karyamu menjadi pujaan budaya massa dan mampu mendulang harta? Dan semua mahasiswa nyaman dengan dogma itu, mengamininya, menerapkannya dalam kehidupan berkesenian. Lalu berkesenian adalah perkara mencari eksis dan populis. Hal yang membuat beberapa kontestan ajang pencarian bakat itu menyerah pasrah pada penghakiman budaya massa, atau tak sadar bahwa mereka hanya menjadi produk komodifikasi ala industri televisi yang kelak habis manis sepah dibuang. Kenapa mereka tak sadar? Karena sejak kuliah, mereka dididik untuk tak sadar oleh rezim kuasa di kampus seni itu.

 

Memang seperti apa seni yang ideal itu? Rasanya saya harus mengutip sajak Rendra “Sebatang Lisong” untuk mencoba memahaminya. “Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan? Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan?

Menglamorkan seni dalam keriuhan budaya massa di tengah banyaknya derita bertebaran di sekitar kita menurut saya menurunkan derajat intelektualitas dan rasa kesenimanan kita menuju titik terendah. Ibarat lukisan di atas saat para pelajar (calon intelek) diam dan terus berjalan tatkala tahu di sekitarnya banyak manusia dibantai.

 

Seharusnya kesenian memiliki sesuatu yang tak dimiliki bidang lain: kemampuan merasakan, lalu mengolah rasa itu, menghadirkannya kembali ke khalayak luas agar mereka juga merasakan apa yang kita rasakan itu. Namun kesenian kita tak melakukannya. Yang terjadi adalah, para perupa sibuk mengejar para kolektor dan galeri agar membeli karya mereka, pelakon seni pertunjukan memoles karyanya sedemikian rupa agar dilirik budaya massa, dan kritik seni dipasrahkan pada seorang biduan wanita yang banyak muncul di infotainment bukan karena musiknya, melainkan karena perpisahannya dengan mantan kekasih atau karena kucingnya kudisan.

 

Lalu kita harus menggugat siapa? Sang seniman yang pasrah pada budaya massa? Perguruan tinggi yang mencetak seniman kitsch tanpa rasa? Atau sang biduan penggagas frasa cetar membahana? Jangan-jangan tak ada yang salah dalam standarisasi baru kesuksesan seni ini karena toh semua orang nyaman dan baik-baik saja kok. Jangan-jangan saya sendiri yang salah karena enggan berkompromi pada sesuatu yang menurut saya tidak sesuai dengan idealisasi saya? Salahkah saya?

 

Aris Setyawan: Penulis adalah mahasiswa jurusan Etnomusikologi Institut Seni Indonesia Yogyakarta yang bosan dengan setiap hari perkuliahan. Bermain drum untuk Aurette and the Polska Seeking Carnival, penggila kucing, penggiat peduli anak jalanan di Save Street Child Jogja, kutu buku poll-poll-an, berharap semoga satu hari Radiohead konser di Indonesia.

Advertisements