( Dimuat di Jakartabeat, 23 agustus 2012. http://jakartabeat.net/idea/kanal-idea/interview/item/1543-kami-bukan-aktivis-retweet-navicula.html#.UD2OGsHiY5s )

 

 

 

Tembok di pinggir Jl. Pakisaji di Denpasar Bali penuh dengan mural dan coretan berisi kepedulian terhadap kondisi lingkungan yang memburuk. Saat berada di Bali kebetulan saya melewati jalan tersebut, kemudian masuk menuju gang No 3 untuk mampir ke rumah Gede Robi Supriyanto, vokalis, gitaris, penulis lirik Navicula, band grunge paling gahar di Indonesia. Di kebun belakang rumah yang dirawat sendiri, dengan tanaman labu menjalar dan rumpun jahe yang mulai tumbuh, serta kehangatan matahari Bali, kami mengobrol banyak hal diantaranya tentang Navicula yang akan rekaman ke Hollywood, musik, ekologi, lingkungan, dan kepedulian Robi tentang mengembalikan rasa gengsi menjadi petani dan bercocok tanam. Berikut adalah cuplikan obrolan kami berdua yang telah dirangkum.

 

 

Saya dengar Navicula akan rekaman ke Hollywood, Los Angeles. Bisa diceritakan bagaimana prosesnya hingga Navicula bisa rekaman di sana? Bagaimana rasanya bisa rekaman di Hollywood?

 

Awalnya kita iseng ikut video competition bernama “Rode Rocks International Video Competition.” Kompetisi tersebut diikuti oleh 500 band dari 43 negara. Tiba-tiba ketika pulang dari Bandung kita mendapatkan e-mail dari panitia bahwa video Navicula masuktop ten. Cukup mengejutkan sekaligus membahagiakan karena berawal dari keisengan, video kami bisa masuk sepuluh besar. Yang membahagiakan lagi saat melihat deretan dewan juri yang terdiri dari para musisi senior (Matt Sorum (Guns n’ Roses, Velvet Revolver), David Catching (Queens of the Stone Age), Howlin’ Pelle Almqvist (The Hives), James Lavelle (UNKLE), Gareth Liddiard (The Drones), Band of Horses, Har Mar Superstar, Deuce, dan Warpaint. memberikan komentar video kita bagus, killer, dan seterusnya.  Setelah sampai sepuluh besar kami sadar agar video kami lolos jadi pemenang harus ada cukup banyak orang mem-vote video kami tersebut. Akhirnya kami membuat kampanye agar para pendengar musik Navicula dan lebih banyak orang lagi memilih kami dalam voting yang diadakan panitia. Kampanye tersebut cukup memanfaatkan media sosial Twitter dan Facebook. Dengan voting tersebut justru kami sangat yakin bisa menang karena Indonesia adalah pengguna Facebook dan Twitter yang cukup besar. Maka kampanye voting kami cepat menyebar, sampai akhirnya menanglah video kita.

 

Wow, jadi hanya berawal dari keisengan nothing to lose ya hingga Navicula bisa berangkat rekaman ke Hollywood?

 

Ya nothing to lose, dan videonya pun bukan video ber-budget besar yang sengaja dibuat untuk kompetisi tersebut. Sementara banyak band-band lain yang sengaja membuat video khusus untuk kompetisi Rode Rocks. Kita memanfaatkan footage-footage yang sudah ada, misalnya dari video “Metropolutan” kita potong, di-combine dengan footage lain. Konsepnya adalah “apa adanya.” Lalu kelucuan yang terjadi di “behind the scene” kita masukkan. Dan syukurlah dengan konsep apa adanya ini video kita malah lolos.

 

Jadi menurut anda social media itu cukup membantu hingga akhirnya Navicula bisa lolos ke Hollywood?

 

Cukup membantu, karena social media itu murah, bahkan gratis, dan bagus asal dimanfaatkan dengan bijak.

 

Bagi beberapa musisi bisa tampil atau rekaman di luar negeri itu membanggakan dan sukses. Menurut anda apakah bisa keluar negeri itu adalah tolok ukur kesuksesan?

 

Kalau dari idealisme sebagai seniman, bisa membuat sebuah karya dan menikmati prosesnya, kemudian puas dengan hasilnya itupun menurut saya merupakan sebuah kesuksesan. Navicula bisa bermusik hingga 15 tahun itu kesuksesan luar biasa buat kami. Namun ketika kemudian musik yang kami mainkan diterima masyarakat, hingga membentuk fan base, dan bisa menghasilkan uang, itu adalah efek samping dari konsistensi pekerjaan kami. Tidak benar bila dikatakan bisa tampil atau rekaman keluar negeri itu adalah tolok ukur kesuksesan. Banyak band Indonesia bisa ke luar negeri, tapi selama mereka belum puas dengan hasilnya itu belum bisa dibilang sukses. Seperti saya bilang diatas bahwa sukses berdasarkan idealisme sebagai seniman adalah bisa membuat sebuah karya dan menikmati prosesnya, kemudian puas dengan hasilnya. Misalnya begini, saya sering melihat kakek-kakek bermain seruling di ensambel gamelan Bali dalam upacara Odalan di pura. Saya sering duduk melihatnya sambil heran bagaimana hebatnya penjiwaan kakek ini memainkan seruling sebagai bentuk baktinya. Padahal ia tidak dibayar, tidak akan diliput MTV dan menjadi populer. Tapi sang kakek menikmati proses berkaryanya dan menikmati hasilnya, itulah kesuksesan menurut sang kakek. Dan begitu pula Navicula menikmati proses berkarya selama 15 tahun, lalu menikmati hasilnya, termasuk efek samping bisa rekaman ke luar negeri, dan akan bekerja sama dengan Alain Johannes, seorang produser favorit kita yang sempat mengerjakan salah satu album favorit kita, yakni proyek solo Chris Cornell. Puas dengan karya dan efek sampingnya, itulah sukses menurut kami.

 

 Lagu-lagu Navicula terkenal gencar mengkritik isu-isu sosial, lingkungan hidup, dan ekologi. Apakah anda masih yakin musik bisa memicu perubahan sosial?

 

 

Saya yakin. Kita semua setuju bahwa apa yang ditulis media bisa mempengaruhi opini masyarakat. Sementara konsep Navicula adalah jurnalisme yang menggunakan musik sebagai medianya. Kebetulan saya penulis lirik di Navicula, jadi saya pikir penggunaan musik sebagai media menyampaikan pesan-pesan kritis itu tepat dan bisa kena sasaran. Yang akhirnya memicu perubahan sosial. Namun efektif atau tidaknya musik memicu perubahan sosial ini juga tergantung konteks. Misalnya karena musik yang Navicula mainkan adalah rock, maka pesan-pesan kritis kami banyak menyasar anak-anak muda, atau para aktivis yang merasa isu yang mereka perjuangkan terwakili oleh lagu Navicula. Kalau kita lihat dari fan base Navicula sekarang, kebanyakan adalah anak-anak muda atau aktivis, kemudian mereka bersinergi membuat perubahan melalui aksi nyata.

 

Jadi di luar musik yang mengkritisi isu-isu sosial tersebut, tetap harus ada aksi nyata, barulah terjadi perubahan sosial?

 

Sebagai musisi kami tak mau sekadar jadi macan diatas kertas, kami harus berkembang. Setelah melontarkan wacana, harus ada aksi nyata apa yang harus dilakukan selanjutnya. Dalam opini saya, deskripsi jujur adalah tak ada kontradiksi antara apa yang kita pikirkan dan apa yang kita katakan, lalu yang kita katakan itulah yang kita lakukan. Nah kami ingin jadi musisi yang jujur. Kami pikir satu gagasan, kami katakan lewat lagu, lalu kami lakukan aksi nyata sesuai yang kami katakan dalam lagu kami. Karena kapasitas Navicula adalah sebagai musisi, maka dalam rangka mewujudkan aksi nyata tersebut kami menggandeng aktivis-aktivis yang kompeten di bidangnya. Misalnya untuk launching lagu kami “Orang Utan,” digandenglah Walhi Bali yang punya tema “deforestasi” sebagai refleksi akhir tahun 2011, dimana Orang Utan adalah korban dari deforestasi dan illegal logging. Kemudian untuk pendanaan, kami menggandeng Sawit Watch yang kebetulan punya dana untuk mengamplifikasi isu Orang Utan. Kombinasi dari lagu Navicula dan kinerja aktivis-aktivis tersebut akhirnya membuat isu Orang Utan bergulir, hingga terjadi public awareness. Dan terjadilah perubahan sosial.

 

Lalu bagaimana dengan adanya beberapa pihak yang menyatakan bahwa Navicula itu band reaktif. Karena hanya mengangkat isu yang sedang ramai dibicarakan. Misalnya merilis lagu “Orang Utan” saat isu pembantaiannya gencar diberitakan media. Atau merilis “Mafia Medis” saat Prita Mulyasari, korban mafia medis menjadi headline berita.

 

Tidak menjadi masalah jika ada pihak menuduh kami seperti itu. Sebenarnya kedua lagu tersebut sudah ditulis jauh sebelum isu mengenainya meledak di media massa. Justru ketika isu mengenai Orang Utan dan Prita Mulyasari makin ramai, kami memutuskan merilis lagu dengan serius, dengan video klipnya. Kami bertujuan mengamplifikasinya, agar semua oang makin sadar krusialnya kedua isu tersebut. Menurut kami yang lebih reaksioner dan berbahaya sekarang adalah para “aktivis klik” yang beranggapan dengan mer-retweet isu yang jadi trending topic merasa sudah berbuat sesuatu. Padahal dengan kecepatan arus informasi yang ada, bisa jadi isu-isu tersebut akan hilang dengan cepat tergantikan isu yang baru, bahkan sebelum isu yang lama terselesaikan masalahnya. kami tak mau terjadi seperti itu, maka kami selalu terlibat dengan isu-isu yang gencar dibicarakan. Kalau dibilang Navicula reaksioner bisa diiyakan juga. Karena kami adalah jurnalis yang menggunakan musik sebagai media jurnalisme kami. Dan jurnalis harus reaktif agar bisa mengangkat isu terkini.

 

Dengan kondisi Indonesia yang makin carut-marut, apakah Navicula masih optimis dan akan terus menulis lirik lagu kritis, atau akhirnya jadi skeptis dan memutuskan berhenti?

 

Skeptis itu pasti selalu ada, karena kita yang bergerak di level akar rumput ini harus melawan skenario-skenario yang luar biasa besar. Namun harapan harus selalu ada, agar kita tak kehilangan passion untuk meneruskan hidup. Maka ditengah gempuran skeptical sekalipun, kita harus tetap optimis dan mengedukasi masyarakat perihal power to the people.

 

Dari beberapa publikasi, misalnya yang dimuat akarumput.com sepertinya anda gencar menyuarakan gerakan back to farming dan back to agriculture. Kenapa?

 

Pertama karena saya berasal dari keluarga petani. Kedua karena saya ingin mengembalikan budaya asli Indonesia (atau lebih sempitnya budaya asli Bali) sebagai petani. Karena di Bali semua orang gencar berbicara pelestarian budaya, Ajeg Bali, dan lain sebagainya. Menurut saya semua pembicaraan itu bisa direalisasikan asal kita benar-benar kembali ke akar budaya kita sebagai petani. Sedangkan sekarang akar budaya sebagai petani sendiri sudah hilang. Agrikultur alamiah ala akar budaya kita sudah lenyap, diracuni industrialisasi agrikultur. Akhirnya petani kita jadi junkie yang bergantung produk kimia untuk bertani. Pemerintah juga tak memberi support pada pertanian, dimana beras impor menjadi pilihan karena lebih murah ketimbang beras lokal yang tak terbeli. Akhirnya petani putus asa, dan alih-alih menanam padi di sawahnya untuk menghasilkan beras yang kalah saing dengan produk impor. Mereka memilih menjual atau menyewakan tanahnya untuk villa atau hotel. Saya ingin mengembalikan gengsi para petani sebagai penghasil pangan. Karena pangan adalah hal paling krusial, seperti Gandhi bilang “percuma bicara politik pada orang lapar.” Untuk memperbaiki Negara carut-marut ini kita harus punya ketahanan pangan, dengan cara mengembalikan gengsi agrikultur, agar orang Indonesia tak malu jadi petani.

 

Kembali ke musik. Navicula dianggap sebagai “god of grunge” di skena grunge Indonesia. Bagaimana ketika kemudian banyak orang dalam skena grunge mengkultuskan Navicula?

 

Itu sudah di luar kuasa kita. Yang penting kami membuat musik yang kita suka. Apabila ternyata ada yang suka dengan musik kami, terinspirasi, atau bahkan mengkultuskan. Kami tak punya kuasa untuk melarang atau apapun.

 

Jadi sejujurnya apakah Navicula menganggap diri sebagai band beraliran Grunge?

 

Musik yang banyak mempengaruhi Navicula adalah musik yang kami dengar waktu SMA, karena saat itu grunge yang sedang booming, maka grunge adalah musik yang memberi andil cukup besar untuk musik Navicula sekarang. Walau sebenarnya personel Navicula memiliki latar belakang musik berbeda, Gembul adalah pemain gamelan Bali, Dadang suka blues dan folk, saya suka banyak musik dari punk rock sampai folk, Made pernah bermain di metal. Kalau boleh dibilang Navicula adalah band yang memainkan beragam musik tercampur, yang banyak dipengaruhi oleh era grunge, dan akhirnya membentuk karakter Navicula sendiri. Namun untuk mempermudah orang mendefinisikan musik, ketika ditanya apa musik Navicula, kami menjawab grunge. Bukankah musik band-band besar grunge sekalipun berbeda satu dan yang lain, Alice in Chains metal, Nirvana punk rock dan new wave, Soundgarden yang psychedelic, lalu Pearl Jam yang country punk. Terkadang kita perlu definisi untuk memudahkan, jadilah legitimasi grunge untuk band-band tersebut. Termasuk kepada Navicula yang banyak bergerak di skena musik grunge Indonesia.

 

Any last words?

 

Saya merasa perlu mengutip perkataan Mother Theresa, bahwa “di dunia ini kita tidak melakukan hal-hal besar. Yang kita lakukan adalah hal-hal kecil namun dengan semangat dan cinta yang besar.” Inilah yang harus dilakukan banyak orang, berbuat hal-hal kecil sesuai kemampuannya, namun dengan semangat dan cinta yang besar. Niscaya kedepannya hal kecil tersebut akan menjadi hal besar dan membuat perubahan. Saya dan Navicula bergerak dengan premis yang sama: kami bermusik dengan semangat dan cinta. Jika kemudian menimbulkan gerakan yang lebih besar, itulah efek samping semangat dan cinta tadi.

 

 

Saya dan Robi Navicula, rockstar paling gahar dan ramah lingkungan dari Bali.

 

 

 

Aris Setyawan: Penulis adalah mahasiswa jurusan Etnomusikologi Institut Seni Indonesia Yogyakarta yang bosan dengan setiap hari perkuliahan. Bermain drum untuk Aurette and the Polska Seeking Carnival, penggila kucing, penggiat peduli anak jalanan di Save Street Child Jogja, kutu buku poll-poll-an, berharap semoga satu hari Radiohead konser di Indonesia.

Advertisements