Tags

, , , , , ,

(Dimuat di Mave Magazine edisi 15 agustus – 15 september 2012.)

 

 

 

Apakah kita sudah merdeka? Sebuah pertanyaan yang sering dilontarkan mereka yang skeptis terkait kehidupan kita di Indonesia. Beberapa dari kita yang pragmatis dan selalu optimis tentu akan menjawab iya. Secara harfiah Indonesia memang sudah merdeka semenjak deklarasi kemerdekaan dihaturkan para proklamator 67 tahun yang lalu. Namun tak sedikit juga kita yang skeptis dan pesimis lantas menjawab tidak. Indonesia belum merdeka karena masih banyak masalah membelit Negara khatulistiwa ini.

 

Dalam opini saya, Indonesia memang belum merdeka dalam banyak hal. Ekonomi yang kembang-kempis berusaha bersaing dengan pasar global, politik yang makin semrawut, dan lain sebagainya yang saya rasa tak perlu dibahas panjang lebar disini. Namun diluar segala hal yang membuat kita tak merdeka, sebenarnya kita punya satu unsur penting yang harus kita jaga dan kembangkan agar kita benar-benar merdeka: pemikiran. Karena pemikiran adalah ranah personal yang benar-benar kita miliki sendiri. Apalagi yang bisa kita lakukan selain menjaganya tetap merdeka? Membentengi pemikiran tersebut agar tak terjajah pemikiran lain. Sebab sesungguhnya tidak merdekanya kita dalam sektor riil adalah imbas dari tidak merdekanya kita dalam berpikir. Immanuel Kant pernah berkata “Freedom to speak or write can be taken from us by a superior power, but never the freedom to think.” Jadi, marilah hilangkan keminderan dan meyakini kemerdekaan dalam banyak hal akan muncul asal kita memerdekakan pikiran kita.

 

Kaitannya dengan kehidupan kita? Sebagai generasi muda kita harus menjaga kebebasan berpikir sesuai dengan apa yang kita benar-benar yakini. Bukan jenis kemerdekaan atau kebebasan ambigu seperti yang dikoarkan salah satu iklan provider yang menyatakan “bebas itu nyata” namun akhirnya menggiring kita bebas membeli produk mereka.

Inilah yang dimaksud menjaga kemerdekaan pikiran. Kalau kita mau menjadi generasi muda yang bebas, buatlah kebebasan itu dengan pemikiran rasional kita. Jangan karena terjajah opini iklan provider. Jika kita menegaskan diri sebagai generasi muda yang berbahaya dan revolusioner. Yakinkan diri bahwa itu adalah produk pemikiran diri sendiri, bukan karena dipicu jajahan pemikiran orang lain yang belum tentu benar.

 

Dengarkan musik yang menurut kita bagus dan sesuai dengan selera pribadi. Entah itu musik dari band indie lokal yang namanya aneh, sulit dieja dan diingat. Atau musik dari boyband/girlband paling hype di Indonesia. Kenakan model pakaian dan ber-fashionlah sesuai kenyamananmu, entah itu model retro yang dianggap kuno di jaman sekarang, atau model terbaru yang dianggap trendi. Kemudian jalankanlifestyle sesuai dengan apa yang pemikiran kita yakini sebagai jalan hidup yang paling benar. Entah itu menjadi seorang oportunis, atau menjadi manusia bijak sekalipun.

 

Menjadi anak muda Indonesia memang tak mudah. Karena kondisi Negara yang carut marut membuat asa dan harapan kita yang kadang setinggi langit jadi tak tergapai. Namun jangan sampai kita tejajah kondisi, bebaskan diri dari jajahan kondisi tersebut dengan cara membebaskan pemikiran. Perjuangkan kemerdekaan pemikiran anak muda Indonesia.

 

 

Yogyakarta, 29 Juli 2012.

 

 

Aris Setyawan: Penulis adalah mahasiswa jurusan Etnomusikologi Institut Seni Indonesia Yogyakarta yang bosan dengan setiap hari perkuliahan. Bermain drum untuk Aurette and the Polska Seeking Carnival, penggila kucing, penggiat peduli anak jalanan di Save Street Child Jogja, kutu buku poll-poll-an, berharap semoga satu hari Radiohead konser di Indonesia.

Advertisements