( Dimuat di Jakartabeat, 4 Juli 2012. http://jakartabeat.net/humaniora/kanal-humaniora/esai/item/1490-robohnya-warung-kami.html )

Toko itu bernama Lestari, berdiri di depan taman Pancasila tepat di samping rumah dinas bupati. Toko yang dikenal tiap penduduk kabupaten Karanganyar, Surakarta. Sebab toko Lestari telah melayani penduduk kota kabupaten itu selama beberapa generasi. Dari zaman ketika ayah saya masih di SMA di tahun 1970-an, dia rajin membeli kebutuhan sekolah disana. Ibu saya juga membeli seragam SD di toko Lestari, sampai saya waktu SMA tahun 2003 juga membeli es krim.

Toko itu adalah tempat buat penduduk Karanganyar berbelanja berbagai keperluan dari kebutuhan primer sampai sekunder. Tempat di mana banyak pecah kisah cinta. Ketika saya pulang kampung, toko Lestari telah hilang, bangkrut. Di atas kuburan Lestari kini berdiri megah dan kokoh sebuah minimarket merah.

Tentu saya tidak sedang menuduh minimarket merah menyebabkan tutupnya toko Lestari. Mungkin pemilik modal lama bangkrut. Dan kebangkrutan itu  secara tidak langsung, disebabkan bisnis ritel dan minimarket waralaba semacam si merah atau si biru yang pelan-pelan mengirim kematian kepada usaha mikro dan pedagang kecil tetangga kita.

Wal-Martisme

Wal-Mart adalah jaringan ritel penjualan terbesar di Amerika Serikat yang menjual segala rupa barang di tokonya, mulai dari CD musisi pop terbaru, sampai tissue kamar mandi. Wal-Mart ibarat raja yang menguasai penjualan barang kebutuhan hidup orang Amerika. Namun perlu diingat bahwa untuk mencapai kebesaran yang sekarang Wal-Mart harus menggunakan cara-cara kotor dalam praktek bisnis mereka. Dalam No Logo Naomi Klein mengatakan bahwa cara Wal-Mart dalam menjadikan dirinya jaringan ritel terbesar Amerika adalah dengan membinasakan setiap pesaing lokal yang ada. Wal-Mart melobi parasupplier agar menjual barang lebih murah kepada mereka dan jika perlu tidak usah memberikan supply kepada pedagang di luar dirinya. Hanya dengan cara itu, setiap cabang Wal-Mart selalu bisa jual barang lebih murah ketimbang para pesaing lokal. Dan harga murah inilah yang tidak bisa disaingi oleh toko-toko kecil dan pedagang lokal, sehingga konsumen kemudian memilih berbelanja ke Wal-Mart dan pelan-pelan meninggalkan toko-toko lokal yang kemudian menjadi senyap dan terjungkal bangkrut.

Agaknya Wal-Mart-isme ini mulai menjangkiti ritel-ritel Indonesia. Sudah tidak galib lagi bila kita lihat terdapat minimarket di setiap sudut kota. Rasanya setiap ada lahan terbuka strategis maka akan segera muncul minimarket biru, lalu beberapa meter didekatnya ada minimarket merah berusaha bersaing. Eskpansi keberadaan minimarket itu sudah sangat cepat dan dikhawatirkan dengan Wal-Mart-Isme maka toko-toko kecil akan makin terkapar. Toko Lestari hanya contoh betapa keberadaan minimarket seragam itu secara tidak langsung atau tidak langsung mematikan pedagang lokal. Dengan janji konsumerisme gaya hidup modern dan display mentereng yang dimilikinya, minimarket berhasil merayu kita untuk selalu berbelanja dengan cara baru dan meninggalkan pola lama yang ditawarkan oleh toko dan pedagang lokal.

Tentu telah terjadi sebuah persaingan bisnis tak seimbang antara para pedagang lokal yang bermodal terbatas melawan minimarket atau ritel yang bermodal besar. Minimarket memang mini, kecil, namun ada uang besar di belakangnya yang menjadi cukong. Untuk melerai itu, perlu ada campur tangan pemerintah dalam membatasi laju pertumbuhan minimarket sebagai bentuk affirmative action terhadap pedagang kecil. Barangkali perlu ada pelaksanaan regulasi yang lebih keras terhadap pembatasan izin pendirian usaha ritel dalam satu zona sehingga tidak terjadi monopoli penjualan barang kebutuhan. Beberapa Perda yang dibuat pemerintah daerah sebenarnya sudah membatasi pendirian minimarket. Seperti Perda di Jakarta yang melarang minimarket berdiri di dekat pasar tradisional. Namun nyatanya masih ada saja minimarket nakal melanggar Perda tersebut dan harus ditutup paksa.

Keluh Kesah Karyawan Minimarket

Saya tidak ingat dengan pasti, Mungkin empat atau lima tahun yang lalu ketika saya sampai di Bekasi, setelah lama menganggur. Tiba-tiba datang panggilan untuk tes wawancara untuk bekerja di minimarket merah. Saya berangkat ke kantor pusatnya di dekat terminal Bekasi. Rupanya para pelamar yang dipanggil tes wawancara cukup banyak. Mereka semua nampak sama dan serupa; muda, baru lulus SMA dan belum berpengalaman. Singkat cerita setelah diwawancara HRD, saya diterima dan hanya tinggal menunggu waktu penempatan. Ijazah asli saya harus ditahan sebagai jaminan. Yang saya pikirkan saat itu adalah ijazah SMA itu saya dapatkan dengan susah payah selama tiga tahun, berangkat pagi pulang sore, harus ditahan oleh mereka? Saya memutuskan batal bekerja di minimarket merah dan memilih untuk menganggur.

Dalam hal perekrutan dan pengelolaan karyawannya, minimarket Indonesia juga mulai menerapkan metode yang dipakai oleh Wal-Mart atau McDonalds, yaitu dengan merekrut pekerja yang masih muda, belum berpengalaman, dan tak memiliki posisi tawar-menawar alias tidak memiliki pilihan lain untuk bekerja. Karyawan bekerja dengan sistem kontrak sehingga perusahaan tidak punya kewajiban apapun selain gaji pokok serta mereka bisa memecat karyawan kapanpun.

Cerita yang sering saya dengar dari karyawan minimarket biru atau merah adalah jika ada barang toko hilang para karyawanlah yang harus mengganti barang yang hilang tersebut dan saat ada stock opname serta kekurangan, para karyawan harus patungan untuk gantikan kekurangan tersebut. Kalau kebetulan toko terletak di kawasan rawan preman, perusahaan sama sekali tidak menyediakan uang jatah preman dan tiap barang yang diambil preman harus digantikan oleh para karyawan. Dengan berbagai tekanan kerja, karyawan kadang tidak betah dan memutuskan hanya bekerja menghabiskan kontrak lalu keluar dan enggan untuk melanjutkan kerja meski kontrak telah diperpanjang. Namun dari beberapa pengakuan beberapa orang lagi, mereka sering kesulitan dalam mengambil kembali ijazah yang sudah diagunkan.

Minimarket atau ritel paling laris di Indonesia, kini mulai menganut paham kapitalisme a la Wal-Mart atau McDonalds. Mencari keuntungan dengan berbagai upaya, termasuk mempersetankan nasib karyawan yang bekerja bertahan hidup di bawah atap mereka. Karyawan ibarat alat yang harus puas dengan hanya digaji kecil tanpa menuntut apapun. Layaknya Sepatu Nike yang dijual $150 per pasang di Amerika, sedang karyawan yang membuatnya di pabrikan Nike di Indonesia hanya dibayar $2 dollar atau 20 ribu per hari meski mereka mendapat target membuat berpasang-pasang sepatu. Lalu kemana sisa uang yang demikian banyak? Menjadi keuntungan sang pemodal. Inikah yang dipraktekkan oleh industri minimarket? Mencari keuntungan besar bagi pemodalnya dengan cara terus melakukan ekspansi ke penjuru negeri, membangkrutkan pedagang lokal yang dianggap pesaing. Juga mengacuhkan kesejahteraan karyawannya. Selamat menikmati janji manis kapitalisme!

Masih dalam No Logo Naomi Klein menjelaskan bahwa pada akhirnya banyak warga Amerika Serikat yang sadar bahwa praktek bisnis yang diterapkan oleh Wal-Mart sangatlah kotor dan mereka mulai berteriak untuk menolak Wal-Mart. Lantas apakah kita harus juga membuat tuntutan sejenis di sini? Rasanya tak perlu sejauh itu, sebab kita bukan di Amerika. Berteriak anti korporasi atau entitas bisnis di negeri ini bisa berujung pidana. Mari kita berpikir saja lalu mulai dari diri sendiri, dan timbulkan kesadaran kepada teman-teman terdekat kita. Kebiasaan kita belanja di minimarket akan membuat jaringan mereka menjadi amat besar, dan kita kemudian menjadi amat tergantung pada mereka. Proses redistribusi uang juga hanya akan mengalir masuk ke jaringan minimarket tersebut, di mana keuntungan hanya dinikmati oleh para pemodal besarnya. Tidak ke pedagang dan toko tetangga kita.

Maka atas nama kehidupan bermasyarakat yang lebih baik dan penyebaran kenyamanan hidup (baca: uang) yang lebih adil, marilah kita mulai mengurangi ketergantungan kita kepada minimarket, dan mulai berbelanjalah di warung kecil, pedagang, atau toko yang dikelola tetangga kita sendiri agar kesejahteraan lingkungan serta kearifan lokal terjaga. Jangan sampai memupuk cinta kepada minimarket, karena cinta yang dipupuk konsumerisme biasanya tak tulus dan tak bertahan lama. Dan cinta yang ditawarkan senyuman para penjaga minimarket itu pun belum tentu tulus, melainkan syarat senyum dari manajemen demi profesionalisme dan menarik konsumen. Akan lebih baik jika cinta itu dipupuk di warung atau toko tetangga kita, dimana senyum dan sapaan mereka adalah setulus-tulusnya cinta. Simbol persahabatan yang menyenangkan antara sesama manusia.***

Aris Setyawan: Penulis adalah mahasiswa jurusan Etnomusikologi Institut Seni Indonesia Yogyakarta yang bosan dengan setiap hari perkuliahan. Bermain drum untuk Aureetthe and the Polska Seeking Carnival, penggila kucing, penggiat peduli anak jalanan di Save Street Child Jogja, kutu buku poll-poll-an, berharap semoga satu hari Radiohead konser di Indonesia.

Advertisements