( Dimuat di Majalah Seni dan Budaya Cangkir edisi april 2012. )

Memetika dan Budaya

Gambar dari internationalobservation.blogspot.com

Dekadensi nilai budaya lokal akibat serbuan homogenisasi budaya yang digaungkan globalisasi. Demikianlah tema yang sering dilontarkan para penulis budaya yang melandaskan pemikirannya pada premis bahwa budaya lokal itu adiluhung dan sekarang tengah mengalami kemerosotan nilai akibat serbuan globalisasi yang tak terbendung.

Mempertahankan budaya lokal memang wajib dilakukan, namun menyalahkan globalisasi begitu saja juga merupakan kenaifan karena globalisasi memang sulit terbendung untuk saat ini. Hal yang dijelaskan Naomi Klein bahwa Globalisasi bersifat “force the world to speak your language and absorb your culture.” (Klein, 2000). Globalisasi yang tak terbendung juga ditegaskan Francis Fukuyama sebagai akhir sejarah manusia dan kemenangan Kapitalisme/globalisasi (Fukuyama, 1992).

Maka menyalahkan globalisasi atas kalah pamornya Ketoprak atau ludruk oleh ramainya fenomenaKorean pop dan banyaknya Girlband-boyband merajai porsi penayangan di televisi nasional tidak akan memberikan solusi apapun. Hal ini justru akan membuat kita berkutat dalam upaya naif membendung globalisasi. Ada baiknya kita menggunakan pendekatan berbeda untuk memahami permasalahan dekadensi budaya lokal, serta derasnya hegemoni budaya asing memasuki Negara kita yang menjurus ke arah homogenisasi budaya. Langkah awal memahami permasalahan ini yakni dengan mempelajari asal muasal budaya dari kacamata sebuah disiplin ilmu baru bernama memetika.

Memetika

 

      Dunia sudah mengenal Gene atau gen sebagai sebuah abstraksi yang bertanggung jawab pada kondisi biologis manusia. Gene adalah cetak biru kehidupan, Dia yang bertanggung jawab membuat organ dan apa yang Nampak dari tubuh kita. Ilmu biologi sudah mengakui eksisnya Gene ini sejak dahulu.

Kemudian muncul pemahaman baru dari para ilmuwan biologi seperti Richard Dawkins, Richard Brodie, Dennet, serta Susan Blackmore, yang meyakini bahwa disamping Gene yang mengatur kondisi biologis manusia, ada sebuah abstraksi lain yang bahkan amat penting menyetir kondisi manusia. Tak lain adalah meme (baca: mim) atau memMeme adalah apa yang ada didalam otak manusia, sesuatu yang mengatur lahirnya ide. Meme adalah pelengkap, gene mengatur biologis, meme mengatur pemikiran.Meme melahirkan ide dan pemikiran. Memetika adalah disiplin ilmu baru yang mempelajari mengenaimeme atau pembentukan ide manusia.

Susan Blackmore menjabarkan “Memes are ultimately responsible for us having our homes and possessions, our position in society, and our stocks, shares and money.” (Blackmore, 1999). Hal ini menjelaskan betapa penting meme bagi manusia, sebab sifat dasar meme adalah replikator, meme selalu berusaha menularkan ide dari pemikiran seseorang kepada orang lain. Karena sifat dasar meme inilah Susan Blackmore menyimpulkan lahirnya kebudayaan, serta bahasa adalah perintah meme yang menginginkan proses replikasi atau penggandaan ide. Inilah alasan kenapa kita berbicara, menciptakan bahasa, membuat alat tulis, alat komunikasi, menemukan telepon, internet, berkesenian. Semuanya adalah upaya mempermudah proses penyebaran ide meme tersebut.

Melalui pendekatan memetika inilah kita dapat memahami bahwa globalisasi sesungguhnya adalah bagian dari upaya penyebaran meme atau ide. Ini sesuai dengan sifat dasar meme untuk menyebarkan dirinya. Maka Korean Pop yang tengah digandrungi segenap kalangan masyarakat Indonesia (bahkan dunia) sebelumnya hanya berawal dari meme atau ide seorang penggagas. Lama-kelamaan meme tersebut mereplikasi diri dan menyebar ke seluruh dunia. Mencoba menggandakan diri, terus menerus. Hingga akhirnya meme tersebut menjadi tidak efektif dan tergantikan meme baru yang lebih segar dan bagus.

Hal yang dapat menjadi perenungan: bagaimana kalau ternyata kemerosotan nilai budaya lokal serta lebih dikenalnya budaya asing oleh masyarakat kita ini sesungguhnya dipicu oleh diri kita sendiri? Para pemikir budaya kita terlalu sibuk membanggakan keadiluhungan budaya sendiri serta menuduh globalisasi sebagai biang keladi, enggan melahirkan meme/ide yang baru dan segar yang dapat menjadi faedah bagi masyarakat. Padahal ini dapat menjadi boomerang yang berbalik menyerang kita tatkala stagnasi meme/ide budaya kita yang enggan menginovasikan sesuatu yang baru akhirnya kalah bersaing dengan budaya asing yang memiliki meme/ide lebih segar dan lebih mudah diterima masyarakat (Musik, fashion, sinema, Dan Lain-Lain.)

Dialektika

 

Berkutat dalam stagnasi keadiluhungan budaya sendiri serta enggan membuat perubahan lagi-lagi dapat dikatakan naïf. Sebab budaya memang dinamis dan terus berkembang, seperti sudah dijelaskan Susan Blackmore melalui memetika bahwa proses penyebaran meme/ide akan terus terjadi dalam rangka persaingan antar meme. Hal yang juga telah dijelaskan Hegel dalam teori dialektikanya yang termahsyur.

Sara Salih mengutip teori Hegel tersebut dan menjelaskan  bahwa “Dialectic is the mode of philosophical enquiry most commonly associated with Hegel (although he was not the first to formulate it), in which a thesis is proposed which is subsequently negated by its antithesis and resolved in a synthesis.” (Hegel, dalam Sara Salih, 2002). Melalui kacamata filsafat, dialektika Hegel menguatkan teori Blackmore dari kacamata memetika diatas. Bahwa sebuah budaya yang dominan di masa kini adalah sebuah tesis, yang akhirnya harus mengalami dekadensi dan memudar saat muncul antitesis yang menegasikan tesis atau budaya dominan tersebut. Pada akhirnya tesis dan antitesis akan mencapai konsensus yang melahirkan budaya baru atau sintesis. Sintesis ini akan menjadi benih baru untuk menghasilkan tesis berikutnya. Demikian seterusnya dan seterusnya. Seperti meme lama yang tergantikan meme baru.

Kesimpulannya adalah, berkutat dalam kebanggaan akan keadiluhungan budaya lokal (tesis), serta terus menerus menuduh globalisasi budaya asing (antitesis) sebagai penyebab kemerosotan justru akan membuat kita terjebak dalam stagnasi dan kemandegan. Maka marilah kita buang wajah cemberut kita yang nelangsa meratapi budaya lokal tergerus globalisasi. Terima kehadiran globalisasi itu dengan lapang dada, mari fokuskan tenaga untuk melahirkan meme/ide baru yang lebih segar. Timbulkan tesis baru agar menjadi antitesis yang menegasikan tesis yang dominan sekarang. Namun jangan berkecil hati bila tesis/meme/ide/budaya kita yang sekarang dominan ternyata kelak harus terganti atau memudar oleh proses berjalannya zaman. Berbesar hati dan ikhlas menerima memang sesuatu yang sulit dilakukan, namun tidak mustahil terlaksana. Terlebih dalam budaya kita orang timur yang konon adiluhung dan mengedepankan keikhlasan yang dalam istilah jawa disebut Nerima ing pangdum.

Yogyakarta, 17 Maret 2012

 

*Aris Setyawan. Penulis adalah mahasiswa jurusan Etnomusikologi Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Advertisements