Tags

, , , , , , , , , , , , , , , ,

Control Z. Foto oleh Meita Estiningsih.

 

( Dimuat di Jakartabeat pada hari Rabu 15 Februari 2012. http://jakartabeat.net/musik/kanal-musik/konser/item/1403-dekonstruksi-musik-di-jogja-noise-bombing.html )

 

Apa yang ada di pikiran anda ketika mendengar kata noise? Biasanya pikiran anda lantas akan menjabarkan noise sebagai sesuatu yang berisik dan terasa mengganggu. Noise adalah frekuensi-frekuensi bunyi yang dianggap terlalu tinggi sehingga tidak nyaman untuk didengarkan telinga manusia biasa. Itulah kenapa seringnya noise dianggap duri dalam daging oleh mereka yang berkecimpung di dunia musik. Noise sedapatnya dihindari, direduksi, bahkan kalau memungkinkan dihilangkan dari musik yang mereka komposisikan karena noise yang berlebihan akan menimbulkan rasa tidak nyaman bagi pendengar musik.

 

Dalam rangka menghilangkan noise inilah kemudian muncul standar metode rekaman musik seperti yang ada sekarang, dengan menggunakan teknologi noise reduction seperti studio rekaman yang terisolir dari sumber bunyi lain dari luar. Atau penggunaan piranti lunak penghilang noise ketika terjadi proses mixing sebuah musik. Tidak dapat dipungkiri lagi kita sepertinya sepakat bahwa musik yang bagus adalah musik yang bebas noise, dan oleh karenanya noise harus dihilangkan dari musik.

 

Namun agaknya ada sedikit orang yang tidak setuju dengan pernyataan bahwa musik yang bagus adalah musik yang bebas noise. Mereka meyakini bahwa noise yang sebelumnya dianggap sebagai frekuensi mengganggu dan liar sebenarnya dapat juga dikatakan sebagai musik. Segelintir orang itu diantaranya adalah delapan orang musisi yang pada 10 Februari 2012 lalu menghadirkan keriuhan noise di lahan parkir sebuah distro di kawasan Demangan, Yogyakarta.

 

Dalam acara bertajuk Jogja Noise Bombing yang diadakan oleh areaxyz.com dan RKLB, delapan orang musisi ini berupaya menawarkan perspektif baru dalam memahami musik, sesuatu yang mereka percaya dan menjadi kredo mereka dalam aktivisme di ranah musik noise. Adalah Sodadosa, DJ MO)))DARA, Bangkai Angsa, Arpappel, To Die, Jurumeya, Mbak Mona, dan Control-Z yang pada malam itu menyajikan kebisingan komposisi noise, yang kemudian dimaknai sebagai bentuk musik oleh beberapa penikmat. Penonton malam itu memang tidak banyak, jumlah yang hadir dapat dihitung jari. Sementara itu di luar puluhan orang yang berkerumun mengelilingi panggung kecil, mereka yang berada di seberang jalan, atau berkendara di jalan depan distro dan memutuskan berhenti sejenak karena awalnya tertarik dengan keriuhan yang ada, praktis langsung menutup telinga dan segera beranjak pergi karena merasa terganggu oleh kebisingan desibel yang menyerang. Ekspresi mereka yang sekadar lewat atau berada di kawasan Demangan tapi tidak bermaksud menghadiri konser malam itu hampir sama, mengernyit jengah. Barangkali berpikir bagaimana mungkin kebisingan bunyi seperti itu dapat dikatakan sebagai sebuah musik? Hal yang memunculkan pertanyaan juga bagi kita semua, apakah noise dengan kebisingan bunyinya yang kadang tidak bernada itu dapat dikatakan sebagai musik?

 

Dekonstruksi Bunyi

 

Dekonstruksi adalah sebuah teori yang dikembangkan oleh filsuf asal Perancis Jacques Derrida. Pada awalnya, Derrida yang juga merupakan ahli lingustik menggunakan dekonstruksi untuk membedah makna dalam bahasa. Derrida beranggapan bahasa harusnya dapat dibedah, direkonstruksi ulang sesuai dengan keinginan orang yang menggunakan bahasa tersebut. Maka Derrida merumuskan sebuah teori yang difungsikannya untuk membedah bahasa tersebut. Lahirlah dekonstruksi, teori perombak yang akhirnya menjadikan Derrida sebagai perumusnya dihormati banyak pemikir setelahnya.

 

Pada perkembangannya, Derrida sama dengan beberapa ilmuwan sosial seperti Jean Claude Levi Strauss yang dicap sebagai post-strukturalis menyadari bahwa sesungguhnya bahasa adalah bagian dari fenomena sosial secara luas, maka teori-teori yang mereka temukan dalam upaya memahami bahasa ternyata dapat juga digunakan untuk membedah fenomena sosial budaya. Jika Levi Strauss lantas menggunakan Strukturalisme rekaannya untuk membedah berbagai fenomena sosial seperti permasalahan kekeluargaan, incest, hingga berbagai mitologi yang berkembang di masyarakat dunia. Maka Derrida juga mengimplementasikan teori Dekonstruksinya untuk membedah berbagai fenomena sosial.

 

Secara sederhana, dekonstruksi dapatlah dipahami sebagai sebuah cara baca yang sangat intoleran terhadap pembekuan dan pembakuan teks. Oleh karena itu, pembacaan dekonstruktif selalu mengejutkan, bahkan sering kali menjadi subversif. Mengapa? Ia membongkar-menembus kedalam teks, untuk menampilkan watak arbitrer dan ambigu-nya yang (senantiasa) terkubur oleh “kepentingan” penulis-pengucap teks itu.

 

Noise oleh karenanya adalah dekonstruktor yang mencoba meruntuhkan kemandegan dalam musik konvensional. Para pelakon musik noise meyakini bahwa eksperimentasi mereka adalah semacam pembangkangan terhadap kemapanan musik yang sejak sekian lama kita yakini dan dengarkan. Dengan konsep dekonstruksi inilah barangkali kita dapat mentahbiskan noise sebagai bentuk musik, karena dekonstruksi menolak terikat pada makna dan pakem yang ada sebelumnya, Dekonstruksi membedah lantas menawarkan makna baru. Sebelumnya musik boleh saja dikatakan sebagai nada-nada merdu, namun noise tiba-tiba muncul sebagai dekonstruktor yang menolak konsep itu, lalu menawarkan makna baru bahwa noise atau suara-suara bising adalah musik, sama seperti musik pada umumnya.

 

Dekonstruksi bunyi ini bukannya tanpa resiko. Makna baru yang ditawarkan dekonstruksi memang rawan mendapat kecaman karena sering dianggap tidak lazim. Seperti banyak orang di kawasan Demangan malam itu yang mengernyitkan dahi mendengarkan kebisingan yang bagi mereka hanya bunyi mengganggu, bukan musik. Para pemusik noise pasti sudah siap menanggung resiko tersebut, bagi mereka musik bukan hanya perkara mencari nada yang merdu dan pas, atau menimbulkan harmoni. Bagi pemusik noise yang lebih penting adalah eksplorasi atau pencarian kebisingan yang paling bising, mencoba mencari bunyi yang paling membuat telinga berdenging. Itulah makna musik bagi mereka.

 

Mendobrak Tradisi

 

Secara umum, ada standar tertentu yang menyatakan sebuah bunyi boleh dikatakan sebagai musik. Bunyi tersebut harus memiliki unsur nada/melodi, ritme, harmoni, dinamika, tempo, warna nada/timbre, dan bentuk. Karena itulah bunyi kentut atau alarm jam weker tidak dapat dikatakan sebagai musik karena bunyi tersebut tidak memiliki salah satu atau keseluruhan tujuh unsur diatas. Itulah mengapa musik-musik konvensional yang selama ini kita dengarkan terstruktur dan bernada indah, sebab musik itu harus patuh pada pakem tujuh unsur musik.

 

Sementara itu teruntuk musik noise, seperti yang dihadirkan malam itu di Jogja Noise Bombing, musik yang ditawarkan memang nyaris tidak bernada dan berstruktur. Beberapa malah mirip suara berisik distorsi saat radio statis tidak mendapatkan sinyal, kemresek, berisik. Kalaupun ada nada hadir bukanlah sebagai pokok utama musik, ia justru sebagai pelengkap untuk memunculkan atmosfer tertentu sesuai konsep sang musisi. Noise adalah bentuk pendobrakan tradisi, mendobrak tradisi musik konvensional. Mereka mengacuhkan sama sekali standarisasi a la tujuh unsur pembentuk musik. Noise menghilangkan dikotomi merdu-fals yang selama ini menimbulkan keyakinan musik yang bagus adalah merdu sedangkan fals adalah buruk. Karena noise memang tidak terikat dengan unsur melodis itu, noise lebih menekankan kepada eksplorasi berbagai bunyi bising, lalu menggabungkannya dalam sebuah kesatuan. Kadang noise yang timbul dari berbagai instrumen digiring menuju ritme tertentu yang membius. Kadang sang musisi menyelipkan sedikit nada sebagai pemuncul atmosfer.

 

Seperti Control Z yang malam itu membombardir pendengaran penonton dengan bunyi-bunyi bising, hasil pekerjaan Pandu Hidayat sang komposer yang mengotak-atik piranti-piranti musiknya dan sebuah Macbook. Namun dalam keriuhan noisenya Pandu menyelipkan nada melalui tiupan Saxophone dari seorang gadis manis bernama Annamira Sophia. Jangan diharap nada yang muncul dari saxophone tersebut akan merdu seperti dalam jazz atau musik klasik. Sebab output bunyi dari saxophone itu pun harus melalui proses pemberian efek terlebih dahulu sehingga bunyi yang muncul dari speaker bukanlah saxophone yang merdu, melainkan nada-nada menyeramkan seperti suara jeritan anak kecil. Kombinasi dari noise yang dibuat Pandu serta tiupan saxophone Sophia, ditambah visualisasi berbagai video dan gambar sadomasokis membuat penampilan Control Z malam itu sebagai presentasi estetis dari noise, musik yang mendekonstruksi bunyi dan mendobrak tradisi musik konvensional.

 

Pada akhirnya untuk mereka yang cukup “mengerti” Jogja Noise Bombing di Jum’at malam itu berhasil menimbulkan ekstase kebisingan. Dan terlalu naif memang jika kita berharap kelak akan hadir penonton yang lebih banyak dalam konser-konser musik noise, atau noise yang sebelumnya adalah musik tersegmentasi tiba-tiba mampu menjadi trend musik yang melaju menjajah ranah mainstream persis Grunge atau Punk yang awalnya juga adalah musik underdog. Karena kebisingan bunyi yang ditawarkan noise memang tak dapat ditolerir telinga kebanyakan awam hingga noise akan tersegmentasi pada pendengar tertentu. Tapi paling tidak Jogja Noise Bombing dan musik noise patut diapresiasi sebagai upaya dekonstruksi bunyi dan mendobrak tradisi musik. Agar kita paham bahwa selain musik konvensional yang kita dengar selama ini, di luar sana terdapat musik lain yang tidak kalah menarik dan menawarkan perspektif serta pemahaman baru.

 

ARIS SETYAWAN

Yogyakarta, 11 Februari 2012.

 

Foto penampilan Control Z dipinjam dari Meita Estiningsih.

 

( Created and sent from my computer, log on to http://www.kompasiana.com/arissetyawan for more word and shit.)

Advertisements