Tags

, , , , , , , , , , , , ,

Entah bagaimana dengan orang lain, tapi bagi saya membaca adalah semacam candu. Yang memaksa saya terus mengkonsumsinya agar tidak sakau dan tersiksa. Selepas menyelesaikan satu buku, saya seolah sakau, kemudian harus segera membaca buku lain sebagai candu untuk menghilangkan sakau tersebut. Belakangan saya sudah menyelesaikan membaca 5 buku, semuanya lintas tema, ada yang fiksi dan non-fiksi. Tidak semuanya terbitan baru, malah ada yang sudah diterbitkan puluhan tahun yang lalu, namun menurut saya informasi yang ditawarkan dalam buku itu menarik, jadi meskipun buku terbitan lama tetap saya baca juga.

 

Seperti biasa ilmu adalah sesuatu yang tak boleh disimpan sendiri, ilmu yang hanya disimpan sendiri akan membusuk dalam otak tanpa faedah. Ilmu harus dibagi kepada orang lain agar bermanfaat. Maka dari itu saya berikan sedikit ulasan dari 5 buku yang baru saya baca, dan saya rekomendasikan agar Anda berminat membaca kelima buku itu. Karena 5 buku ini memberikan tambahan informasi yang cukup bermanfaat bagi saya, semoga juga bermanfaat bagi anda.

 

 

1.      Executive Orders, oleh Tom Clancy

 

 

 

Apa jadinya jika presiden Amerika serikat, beserta seluruh anggota kongres meninggal dunia karena Gedung Putih habis terbakar ditabrak sebuah pesawat terbang komersial Jepang? Maka tampuk kekuasaan kepresidenan Negara paling berkuasa di dunia harus diteruskan oleh John Patrick Ryan, mantan analis CIA yang baru 5 menit sebelumnya menjabat wakil presiden. Karena presiden meninggal dunia, Ryan yang baru 5 menit  disumpah menjadi wakil presiden mau tidak mau harus menggantikan kedudukan sang presiden, menjadi orang paling berkuasa didunia.

 

Tom Clancy, penulis novel politik dan konspirasi dunia yang termahsyur, menggambarkan imajinasi liarnya mengenai sebuah skenario runtuhnya kuasa Amerika dalam novel politik Executive Orders, novel yang membutuhkan kesabaran dalam membaca karena ketegangan dan rumitnya konflik politik dan sosial Amerika dijabarkan Clancy dalam 1200 lebih halaman. Buku yang cukup tebal. Awal membaca buku ini memang terasa membosankan, alur dibuat lambat. Tidak seperti novel Dan Brown yang menyuguhkan konflik sejak awal, Clancy membawa pembacanya terbosan-bosan dengan narasi dan alur lambat sepanjang 700 halaman. Namun setelahnya barulah konflik dan ketegangan disajikan. Pembaca akan dibawa terkaget-kaget dengan imajinasi liar Tom Clancy mengenai kematian presiden Amerika dan seluruh anggota kongres, lalu Negara-negara pembenci Amerika yang lantas menyusun strategi untuk meruntuhkan Amerika yang terombang-ambing melalui berbagai cara, termasuk memproduksi senjata biologis berupa virus Ebola yang berbahaya lalu menyebarkannya ke negeri Paman Sam. Hingga berbagai persenjataan perang yang disiagakan untuk menyerbu Amerika

 

Nilai lebih dari novel ini adalah data yang akurat dan spesifik, Tom Clancy memang memiliki koneksi yang hebat di berbagai institusi pemerintahan Amerika, hingga penulis itu mampu sajikan data-data mencengangkan dalam novelnya. Seperti data mengenai berbagai instrumen perang rahasia Amerika, atau berbagai operasi rahasia CIA serta berbagai rahasia lain. Untuk penggemar novel politik dan konspirasi, atau untuk mereka yang ingin tahu lebih dalam mengenai politik dan fakta mengenai negeri adidaya Amerika, Executive Orders amat disarankan.

 

2.      Bobos in Paradise, oleh David Brooks.

 

 

 

Dulu untuk membedakan kaum Borjuis dan Bohemian tidaklah begitu sulit, karena keduanya memang berada di tataran yang berbeda. Borjuis hidup mewah dan nyaman dalam kemapanan, sedangkan bohemian memilih anti kemapanan dengan sikap, pandangan hidup, bahkan dandanan sesuka mereka yang merupakan bentuk protes pada hidup mapan dan terstruktur kaum borjuis.

 

Namun seiring perkembangan jaman, telah lahir satu generasi baru yang tidak berdiri dalam dua tataran itu. David Brooks menyebut generasi baru ini sebagai ‘Bobo’ atau ‘Borjuis-Bohemian.’ Dalam buku kajian sosial budaya namun dikemas dalam bentuk ringan dan menghibur ini, David Brooks menggambarkan masa kini adalah masa keemasan kaum bobo, kaum yang hidup dalam kenyamanan bangsawan ala borjuis, namun memiliki pandangan hidup dan sikap anti kemapanan ala Bohemian. Bobos in Paradise secara eksplisit menelanjangi fenomena sosial baru ini dimana generasi muda masa kini banyak yang hidup dalam gelimang harta dan kenyamanan, namun dengan beraninya juga membaptiskan dirinya sebagai bohemian yang anti kemapanan.

 

Buku ini semacam tamparan keras bagi kaum baru ini, bahkan sang penulis sendiri mengakui dirinya adalah kaum bobo yang juga tertampar buku yang ditulisnya sendiri. Implementasi dari teori yang dijabarkan Brooks ini tentu dapat digunakan dengan mudah untuk membedah fenomena budaya yang ada di Indonesia. Secara jelas dapat disimak bagaimana generasi Bobo ini tumbuh subur di Indonesia. Ambil contoh dalam pergerakan musik indie, musik yang dikatakan anti-mainstream dan anti kemapanan. Tak dapat dipungkiri justru produk musik indie yang biasanya berharga diatas rata-rata hanya mampu dikonsumsi mereka, generasi muda bobo yang hidup dalam kenyamanan konsumerisme serta hedonisme ala borjuisme. Karena memang merekalah generasi yang mampu mengakses dan membeli produk tersebut.

 

Atau ambil contoh lain dalam industri clothing dan distro yang menjamur di seantero nusantara. Betapa industri pakaian yang berkiblat pada konsep anti-mainstream akhirnya memang hanya mampu dibeli generasi bobo, generasi yang mampu membeli karena memiliki kenyamanan hidup borjuis, serta memiliki pandangan hidup bohemian sehingga ogah membeli pakaian yang dikatakan mainstream dan lebih memilih pakaian ala distro yang dicap sebagai ekslusif dan anti kemapanan. Agaknya masih banyak fenomena Bobo lain di Indonesia yang bila dijabarkan amat panjang. Namun seandainya Bobos in Paradise tidak berhasil menampar kita, generasi Bobo. Paling tidak buku best seller versi New York Times ini harusnya mampu membuat kita merenungkan tentang gaya hidup kita dan pandangan hidup yang selama ini kita percaya. Jangan-jangan selama ini kita mengaku anti kemapanan namun sebenarnya hidup dalam kemapanan itu sendiri tanpa sadar?

 

3.      Modern Noise. Fluid Genres: Popular Music in Indonesia. 1997-2001, oleh Jeremy Wallach

 

 

 

Buku yang sempat membuat kritikus dan pakar musik Indonesia tertunduk malu, karena proyek kajian mendalam musik Indonesia ini mendahului apa yang tidak pernah dituliskan pakar musik Indonesia sebelumnya. Modern Noise, Fluid Genres awalnya adalah disertasi Jeremy Wallach yang akhirnya dijadikan buku. Berisi data lengkap mengenai musik Indonesia sejak tahun 1997 sampai dengan tahun 2001. Data dan fakta yang ada didalamnya amat lengkap, menandakan observasi dan pengumpulan data yang dilakukan Wallach patut diacungi jempol. Wallach memang sengaja tinggal beberapa lama di Indonesia untuk proses pengumpulan data.

 

Secara gamblang Wallach menelanjangi segala mengenai musik populer di Indonesia, mulai dari borok kurapnya, sampai perihal positifnya. Dalam buku setebal 346 halaman ini dijabarkan mengenai berbagai genre yang populer di masyarakat Indonesia, seperti pop, dangdut, bahkan musik underground. Yang menarik adalah Jeremy Wallach tak hanya mengkaji musik Indonesia dari segi teknis atau musikalnya, tapi Wallach juga menyisipkan pengkajian etnografis dan sosiologis dari musik Indonesia. Dijelaskan tentang bagaimana musik pop menjadi pengesahan gaya hidup konsumerisme dan standar trend masa kini, atau dangdut yang sering dianggap musik kalangan bawah serta sering digunakan sebagai alat propaganda politik pada masa orde baru. Atau Underground sebagai musik dan ideologi yang digunakan kaum muda Indonesia untuk menantang tirani dan kemapanan.

 

Buku ini layak dibaca bagi mereka yang ingin tahu lebih mengenai musik di negeri sendiri. Pakar musik di Indonesia bagaimanapun memang harus tertunduk malu, ketika fenomena musik dan budaya sendiri tak tersentuh secara akademis. Proyek pengkajian ini malah dilakukan orang luar Indonesia. Barangkali ini seperti apa yang disimpulkan Wallach di bab akhir Modern Noise, bahwa ada kaitan antara musik, generasi muda, dan globalisasi. Generasi kita memang kesulitan membuat produk kajian budaya yang bagus, karena seperti halnya dalam hal mengkonsumsi musik, dalam hal pendidikan sekalipun generasi kita hanya menganggap semua sebatas konsumsi, dalam rangka mengejar kesamaan standar hidup dalam globalisasi. Tak ada pembelajaran sesungguhnya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna. Dapatkah kita benarkan pernyataan Wallach ini?

 

4.      The Bourne Ultimatum, oleh Robert Ludlum.

 

 

 

Anda mungkin sudah menonton ketiga filmnya, seperti saya yang sudah merampungkan menyimak Identity, Supremacy, serta Ultimatum di layar kaca. Namun untuk novelnya saya memang baru berkesempatan membaca bagian ketiga dari trilogy Bourne karya Robert Ludlum ini. Seperti biasa kekecewaan selalu muncul dalam diri saya apabila novel sukses di filmkan, atau film sukses dibukukan. Karena interpretasi kita tentu akan berbeda dengan adaptasi tersebut. Demikian pula dengan The Bourne Ultimatum versi buku ini yang ternyata amat berbeda dengan versi film yang saya tonton lebih dulu. Meski sama-sama menceritakan mengenai Jason Bourne, agen CIA yang mengalami hilang ingatan karena proses cuci otak. Namun alur dan jalan ceritanya berbeda.

 

Walau saya kecewa karena novel dan filmnya berbeda, bagaimanapun novel setebal 800 halaman lebih ini tetap layak direkomendasikan, paling tidak ketegangan-ketegangan ala spionase CIA tetap dapat dinikmati. Pembaca juga tetap diajak jalan-jalan mengimajinasikan berbagai kota di seluruh penjuru dunia, mulai dari Amerika hingga Rusia. Dalam novel ini pula saya jadi tahu bahwa Rusia, untuk mendidik calon spionase mereka menjadi agen yang tak terdeteksi. Membuat sebuah fasilitas kota miniatur tiruan Amerika, tempat dimana spionase mereka dididik hidup ala orang Amerika. Sehingga saat mereka dikirim ke Amerika tak terdeteksi dan terlihat sebagai orang Amerika sebenarnya.

 

5.      The Meme Machine, oleh Susan Blackmore.

 

 

 

 

Ini buku lama, saya sudah mengetahui buku ini sejak lama pula saat Dewi Lestari alias Dee mengulas mengenai Memetika dalam novel Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh. Namun saya baru kesampaian membaca buku ini beberapa waktu yang lalu. Dan saya mendapat pemahaman baru yang menarik darinya. Susan Blackmore adalah ahli Memetika terkemuka, dalam The Meme Machine Susan menjabarkan mengenai sebuah disiplin ilmu baru yang berfungsi mengkaji Meme (baca; mim) atau Mem, disiplin ilmu baru ini lantas disebut Memetika. Susan Blackmore murid dari Richard Dawkins, mentornya yang juga menggeluti kajian memetika ini.

 

Untuk memahami apa itu memetika dan meme, buku Susan Blackmore ini paling mudah dipahami. Sebab Susan agaknya menyadari bahwa memetika adalah disiplin ilmu baru, maka Susan menggunakan bahasa yang paling mudah untuk menjelaskan mengenai memetika dan meme agar para pembaca yang awam sekalipun lebih mudah memahaminya.

 

Dunia sudah mengenal Gene atau gen sebagai sebuah abstraksi yang bertanggung jawab pada kondisi biologis manusia. Gene adalah cetak biru kehidupan, Dia yang bertanggung jawab membuat organ dan apa yang Nampak dari tubuh kita. Ilmu biologi sudah mengakui eksisnya Gene ini sejak dahulu. Kemudian muncul pemahaman baru dari para ilmuan seperti Richard Dawkins, Richard Brodie, Dennet, serta Susan Blackmore sendiri, yang meyakini bahwa disamping Gene yang mengatur kondisi biologis manusia, ada sebuah abstraksi lain yang bahkan amat penting menyetir kondisi manusia. Tak lain adalah meme atau mem. Meme adalah apa yang ada didalam otak manusia, sesuatu yang mengatur lahirnya ide. Meme adalah pelengkap, gene mengatur biologis, meme mengatur pemikiran. Meme melahirkan ide dan pemikiran.

 

Bahkan dalam The Meme Machine ini Susan Blackmore menjabarkan betapa penting meme bagi manusia, sebab sifat dasar meme adalah replikator, meme selalu berusaha menularkan ide dari pemikiran seseorang kepada orang lain. Karena sifat dasar meme inilah Susan Blackmore menyimpulkan lahirnya kebudayaan, serta bahasa adalah perintah meme yang menginginkan proses replikasi atau penggandaan ide. Inilah alasan kenapa kita berbicara, menciptakan bahasa, membuat alat tulis, alat komunikasi, menemukan telepon, internet. Semuanya adalah upaya mempermudah proses penyebaran ide meme tersebut. Lebih lanjut memetika juga menyimpulkan bahwa meme akhirnya juga mengendalikan gene dan proses biologis, dimana proses percintaan dan mencari pasangan manusia sesungguhnya adalah proses memilih calon penyebaran meme. Itulah kenapa manusia menerapkan standar dan kriteria dalam memilih pasangan, karena manusia inginkan calon pasangan terbaik untuk menjadi inang bagi meme mereka. Agar melahirkan manusia baru yang sempurna untuk menyebarkan ide meme di masa datang.

 

Meme ibarat virus dan kanker yang sukar dihentikan, ide adalah virus paling berbahaya dimana sekali menyebar sulit dihentikan, itulah kenapa gadis manis bernama Afika yang jadi bintang iklan biskuit itu menjadi meme yang luar biasa cepat menyebar karena meme atau ide manusia mengenai keluguan dan keimutan biasanya cepat menyebar. Ide ibarat kanker ganas yang sekali menempel sukar dicabut, itulah kenapa sekali kita melihat iklan televisi selama beberapa detik, pikiran kita akan terus menginggatnya sepanjang hari. Sama seperti saat ketika saya mengatakan kepada Anda “jangan memikirkan tentang gajah!” lalu apa yang anda pikirkan? Justru anda sedang memikirkan mengenai gajah itu sendiri, dan pemikiran mengenai gajah ini ibarat kanker yang terus ada di pemikiran anda, sulit dihilangkan. Fenomena Boyband-Girlband sekarang ini sekalipun adalah meme itu sendiri, dimana Korean Pop yang diusungnya adalah virus yang mengalami proses penggandaan keseluruh dunia, lalu menjadi kanker yang menempel ganas pada manusia, namun terkadang kanker sekalipun dapat dijinakkan. Maka penjinakkan kanker seperti Korean Pop ini adalah saat kejenuhan terjadi, maka meme atau ide mengenai Korean Pop sekalipun, sama seperti meme mengenai Afika, Bank Century, Kebusukan anggota DPR, Band Melayu, dan fenomena lainnya suatu saat akan mati, tergantikan virus meme atau ide baru yang lebih segar. Selalu terjadi replikasi dan penggantian seperti itu. Bahkan tulisan saya ini adalah sebuah meme, upaya menularkan ide yang dilahirkan pemikiran saya menuju pemikiran Anda.

 

The Meme Machine membedah semua informasi menarik ini dalam 376 halamannya. Memetika memang menarik, namun disiplin ilmu memang menganut paham yang sama, bahwa suatu teori yang kita yakini sekarang bisa saja menghilang dan tidak relevan saat teori baru yang menyanggahnya muncul di masa depan. Bisa jadi kelak teori mengenai meme ini akan runtuh oleh teori baru, namun untuk saat ini barangkali kita harus mengamini teori Susan Blackmore dan para mentornya ilmuan memetika, bahwa budaya, bahkan agama yang ada di dunia ini adalah produk dari meme atau ide yang berupaya menggandakan diri.

 

 

ARIS SETYAWAN

 

Yogyakarta, 29 Januari 2012

 

( Created and sent from my notebook, go to http://www.kompasiana.com/arissetyawan for more word and shit. )

Advertisements