Tags

, , , , , ,

Inni

 

Jujur sebelumnya saya kurang mengikuti diskografi band asal Islandia ini. Untuk menikmati kegalauan Post-rock saya terlanjur terbiasa memilih Godspeed You! Black Emperor, Snowman, atau Explosions in the Sky. Namun ramainya pergunjingan mengenai album baru bertitel Inni di kancah musik dunia, juga ulasan-ulasan positif tentang Inni di berbagai media musik seperti Pitchfork, akhirnya membuat saya penasaran dan memaksa saya mendengarkan band asal Islandia bernama Sigur Ros. Sebuah band yang sudah melanglang buana sekian lama, selalu mendapat sorotan positif dari kritikus musik, dan menghasilkan fanbase luar biasa hingga penggemar band ini bertebaran di seluruh penjuru dunia. Praktis ulasan saya ini akan menghasilkan tomat busuk yang dilemparkan fans berat Sigur-Ros pada saya.

 

Lemparan tomat busuk akan saya dapat, karena pendapat saya mengenai Sigur Ros, barangkali akan terkesan sangat subyektif. Menurut saya Sigur Ros adalah “versi lebih ramah dari Post-Rock.” Jika kebanyakan band-band post-rock mempermainkan perasaan Anda dengan lagu-lagu berdurasi panjang serta dengan ramuan pakem Quiet-hard-silent-noise-hard-quiet. Maka Sigur-Ros lebih ramah dengan durasi lagu yang masih bisa ditolerir antara 5-10 menit, paling panjang 15 menit. Tidak seperti Godspeed You! Black Emperor yang betah mempermainkan perasaan dengan lagu berdursi 20-30 menitnya. Dalam hal komposisi musikal pun Sigur Ros memiliki ciri khas tersendiri dari band lain. Explosions in the Sky bermain di komposisi yang mengawang, didominasi permainan petikan gitar ber-delay. Lalu Godspeed mengembangkan atmosfer post-rock yang mencekam dengan berbagai instrument konvensional ditambah orkestrasi Cello, Biola, Glockenspiel, dan berbagai loop. Kemudian Snowman membuat musiknya berkesan horror dan mencekam dengan pemilihan nada-nada dan ritmis primodial dan purba. Sementara itu Sigur Ros lebih berkutat dalam ambience untuk komposisi musikalnya, hingga didapat kesan megah dalam musik yang mereka bawakan. Baiklah seperti saya bilang di atas, pendapat saya ini terkesan subyektif. Namun keramahan Sigur Ros ini terbukti dengan diterimanya mereka oleh kalangan mainstream, serta begitu banyaknya penggemar mereka.

 

Inni yang dirilis pada akhir tahun 2011 lalu adalah sebuah double album berisi 2 CD, album ini adalah album live pertama yang dibuat Sigur Ros dan dirilis setelah band itu vakum untuk beberapa lama. Dari segi sound Inni memang memukau, ketika mendengar tiap lagu yang ada seolah kita tengah hadir dalam konser saat lagu dalam rekaman ini dibawakan. Pertanda mixing yang berhasil. Tepuk tangan riuh saat intro atau outro lagu membuat saya menebak-nebak berapa jumlah orang yang hadir dalam konser tersebut. Pendengar akan dibawa mengawang dalam ambience dengan trek-trek seperti Svefn-g-EnglarHoppipola, Inní mér syngur vitleysingur, atau All Alright. Judul lagu terdengar aneh? Memang Sigur Ros menggunakan bahasa Islandia untuk lagu-lagunya, bahasa yang tidak terlalu populer didunia.

 

Untuk mengamini perihal post-rock, para penggiatnya biasa menggunakan teori Marshall McLuhan tentang “The Medium is the message.” Bahwa pesan tidak melulu harus berupa bahasa atau kata. Itulah yang menyebabkan post-rock menjadi musik tanpa lirik lagu, sebab musik atau medium itu sendiri sudah berupa sebuah pesan yang hendak disampaikan sang composer musik, tidak perlu ditambah interpretasi lirik. Ini pula yang menyebabkan saya berpendapat Sigur Ros adalah versi lebih ramah dari post-rock, sebab mereka memasukkan lirik lagu dalam musik mereka, untuk mempermudah interpretasi barangkali. Walau kenyataannya lirik lagu mereka juga sulit dipahami karena menggunakan bahasa Islandia, tetap saja penggunaan lirik adalah upaya menyampaikan pesan dalam musiknya. Akhirnya memunculkan kesimpulan bagi saya bahwa Sigur Ros, terlepas dari sorotan luas pada band itu yang akhirnya membawanya ke dalam kancah komodifikasi post-rock mainstream, bagaimanapun memang cukup menarik dan layak didengarkan. Demikian juga dengan album live terbaru mereka Inni yang mengajak para pendengarnya merasakan tamasya imajinasi mengawang, persis seperti di konser-konser yang mereka adakan yang kemudian coba dihadirkan kembali dalam rekaman live ini.

 

ARIS SETYAWAN

 

Yogyakarta, 19 Januari 2012.

 

( Created and sent from my notebook. For more word and shit go to http://www.kompasiana.com/arissetyawan )

Advertisements