Tags

, , , , , , , , , , , , , ,

Foto Oleh Hanom Satrio Listyo Adi

 

Tugas Mata kuliah Filsafat 2/Estetika Musik. Juga dimuat di JakartaBeat 6 Desember 2011. http://jakartabeat.net/musik/kanal-musik/ulasan/696-bahkan-keroncong-pun-pernah-muda-dan-romantis-.html )

Rumah itu terletak disebuah gang kecil di wilayah Bausastran, Jl. Gayam, Baciro, Yogyakarta. Minggu siang itu gerimis turun mengguyur kota Jogja, dan di antara rintik hujan yang kian deras, dari rumah itu tetap mengalun musik mendayu dan merdu, karena musik itu memang selalu mengalun tiap Minggu dan terus diupayakan agar tetap mengalun setiap minggu. Minggu adalah jadwal latihan kelompok musik keroncong Gema Lansia, sebuah kelompok musik keroncong yang sudah berdiri sejak tahun 1992. Mereka rutin setiap hari Minggu berlatih dirumah Ibu Hj. Sardjono, pimpinan kelompok Gema Lansia. Berawal dari Masyarakat Bausastran yang suka musik keroncong, mereka sepakat membentuk orkes keroncong sebagai wadah apresiasi genre musik tersebut.

Sesuai dengan nama kelompok ini Gema Lansia, dapat ditebak dengan mudah bahwa anggota dari kelompok ini adalah para lansia. Beranggotakan Slamet, 56 Tahun (gitar); Maryono, 65 Tahun (cuk); Harto, 53 Tahun (cello); Budi Mulyono, 77 Tahun (contra bass); Muhajir, 66 Tahun (biola); Herawati (vokal); Hj. Sardjono (vokal); dan ditambah dengan satu-satunya anggota termuda di kelompok ini adalah Fajar, 21 Tahun (cak). Siang itu Gema Lansia berlatih memainkan lagu-lagu semacam “Sepasang Mata Bola” ; “Setulus Hati” dan “Keroncong Tanah Air,” yang mengalir pelan di antara rintik hujan.

Keroncong Di Tengah Keriuhan Jagad Kapital


Tak dapat dipungkiri lagi Kita sekarang hidup di era puncak kapitalisme di mana segalanya diukur berdasarkan industri dan keuntungan, termasuk dalam industri musik maupun  seni pertunjukan. Pop atau musik populer ibarat anak emas di jagad kapital ini dimana mereka terus diagungkan dan diekspos besar-besaran, karena inilah yang paling laku dan segera dapat menghasilkan keuntungan paling banyak. Sedangkan keroncong, meski sesungguhnya tidak sedikit pihak yang menggemarinya, tetap masih kalah dengan gegap gempita musik populer. Keroncong kurang diberitakan dan mendapat kesan terpinggirkan. Melawan kapital tentu naïf dan sia-sia mengingat kuasa kapital cukup besar. Namun ditengah keriuhan jagad kapital yang mengagungkan popularitas demi keuntungan ini, Gema Lansia ibarat sebuah oase penyegar yang enggan tunduk pada kuasa kapital. Mereka bertahan dengan musik keroncong demi kepuasan estetis serta demi pelestarian budaya yang menurut mereka adalah asli milik negeri ini.

Gema Lansia memutuskan terus memainkan musik keroncong untuk melestarikan budaya, karena menurut mereka keroncong adalah budaya asli Indonesia. Memang ada beberapa teori mengatakan tak ada musik yang asli, sebab setiap musik adalah penyempurnaan atau selalu mengambil satu bagian tertentu dari musik yang ada sebelumnya. Maka seperti ditulis misalnya oleh A.Th.Manusama, Abdurachman R. Paramita, S. Brata dan Wi Enaktoe yang mendedahkan bahwa keroncong yang dibawa oleh bangsa Portugis ke Indonesia bukanlah musik asli Indonesia. namun Kusbini seorang ahli Keroncong terkemuka menolak pandangan tersebut. menurut Kusbini Keroncong adalah asli ciptaan bangsa Indonesia dan oleh karenanya adalah asli milik bangsa Indonesia. Lebih lanjut dikatakan bahwa lagu-lagu keroncong Indonesia memang banyak dipengaruhi dan diilhami oleh lagu-lagu Portugis abad ke 17, tetapi nada dan iramanya sangat berbeda. Meski begitu perlu diketahui bahwa keberadaan keroncong di Indonesia memang dimulai pada abad ke 17, pada saat kedatangan bangsa Portugis ke Batavia. (Munjid, 2001: 10-12).

Mungkin Gema Lansia sepakat dengan Kusbini, bahwa Keroncong adalah musik asli Indonesia yang harus dipertahankan. Keroncong boleh berasal dari Portugis, namun yang berkembang di Indonesia telah menalami proses akulturasi dengan budaya Indonesia dan akhirnya melahirkan sebuah budaya baru yang bolehlah dinaggap sebagai budaya Indonesia, jika memang predikat itu diperlukan. Meski kebanyakan anggota kelompok Gema Lansia berusia lanjut, mereka tetap bersemangat memainkan keroncong atas dasar kecintaan kepada budaya bangsa dan bukan untuk mendapat keuntungan. Ini sesuai dengan teori Alan P. Merriam mengenai 10 fungsi pokok musik dimana diantaranya musik digunakan sebagai kepuasan estetis dan hiburan. Gema Lansia telah melakukan perjuangan mulia dengan bertahan kepada prinsip mereka di tengah riuh rendah musik pop.

Perjalanan Musikal Keroncong

Menurut Herawati, vokalis Gema Lansia yang pernah berguru pada sang maestro Kusbini, terdapat dua aliran dalam keroncong yakni Pakem dan Kreatif. Secara mudah dapat dikatakan bahwa Pakem adalah keroncong asli dengan berbagai aturan yang harus dipatuhi saat memainkan musik, sedangkan Kreatif ialah keroncong yang sudah mendapat sentuhan-sentuhan musikal tambahan demi kepuasan pemusik. Pakem untuk golongan tua, Kreatif untuk golongan muda. Pakem biasanya hanya memainkan 7 instrumen yakni Gitar, Cak, Cuk, Cello, Contra Bass, Biola, dan Flute. Sedangkan aliran kreatif biasanya menambahkan berbagai instrumen lain sesuai kebutuhan musisi. Dapat disimpulkan bahwa keroncong adalah sama seperti genre musik lain yang mengalami perkembangan musikal seiring jalannya waktu.

Secara umum, perkembangan keroncong pada abad ke 20 dipengaruhi oleh musik-musik Barat seperti irama off-beat dance dan Hawaiian. Pengaruh tersebut tampak dalam penggunaan alat-alat musik dan irama. Pada kurun waktu 1915-1937, berdatanganlah ke Indonesia musisi-musisi dari Rusia, Perancis, Belanda, Polandia, Cekoslawakia dan Filipina, baik perseorangan maupun dalam kelompok-kelompok seperti kelompok ensamble atau kelompok orkestra (Pasaribu, 1985). Dari mereka itulah pada akhirnya masuk instrumen cello, contra bass, flute dan gitar melodi. Juga mulai bersentuhan dengan irama musik jazz off-beat dance dan Hawaiian. Jadilah keroncong seperti yang berkembang di Indonesia, dan itu juga yang dimainkan oleh kelompok Gema Lansia, dengan tipikal ciri khas musikal keroncong yang begitu terasa dengan biola yang selalu dimainkan diawal dan akhir lagu menjadi semacam introduksi dan coda. Cello tidak digesek menggunakan bow, tapi dibetot/dipetik dan dirubah menjadi sarana perkusif nan menghipnotis yang dianalogikan sebagai kendang dalam gamelan Jawa. Contra bass adalah penegas, fill-in dari gitar mempermanis suasana, sementara itu instrumen cak dan cuk bersahut-sahutan merupakan ciri asli keroncong. Vokalis bernyanyi dengan cengkok atau greget atau embat khas yang tidak ditemukan di jenis musik lain.

Kesan berpengalaman terlihat jelas dari para musisi Gema Lansia. Skill bermusik mereka tidak bisa diragukan lagi. Hasil dari tempaan waktu dan jam terbang yang tinggi dalam bermusik keroncong tentunya. Misalnya ketika vokalis meminta memainkan lagu “Layang Kangen,”sebuah tembang campursari yang dipopulerkan oleh penyanyi Didi Kempot. Sang pemain biola tidak tahu lagu ini, namun dari awal lagu sampai akhir tetap mampu memainkan porsinya tanpa adanya nada yang fals atau salah. Ini bukti kemampuan bermusik yang mumpuni dari para personil Gema Lansia, Hal ini juga dipermudah dengan adanya pakem pola tertentu dalam keroncong, sang musisi tinggal menuruti pakem tersebut sesuai register nada yang diijinkan hingga tidak perlu khawatir kehilangan arah atau kebingungan ketika memainkan lagu yang tidak diketahui. Selama sang musisi tetap patuh pakem itu, maka rasa keroncong akan tetap ada dan harmonisasi tetap terjaga.

Lestari Keroncong

Sekarang keroncong lebih dikenal masyarakat sebagai aliran musik orang tua, kesenian khas Indonesia yang melodius, dinamis, dinyanyikan dengan cengkok khusus, dibawakan oleh musisi yang sopan, tidak banyak gerak dan terkesan kaku. Sekarang keroncong mungkin milik orang tua, namun sesungguhnya di masa lalu keroncong adalah musik anak muda. Dahulu, Keroncong dimainkan anak muda untuk merayu noni-noni dan gadis muda. Dari awal Keroncong sempat bertransformasi dari yang awalnya kaku menjadi lebih romantis. Lagu-lagu keroncong yang dinyanyikan berdendang tentang asmara untuk merayu lawan jenis. Mereka menyanyikan Keroncong di jalan-jalan, di gang-gang kampung melewati rumah-rumah para noni pada malam hari. (Suadi, 2000:81). Lalu kenapa belakangan bisa muncul stigma musik keroncong adalah musik orang tua? Barangkali benar seperti dikatakan para anggota Gema Lansia, keroncong kurang terekspos sehingga masyarakat kurang mengenalnya, keroncong jadi terkesan elitis, ekslusif, dan hanya cocok dinikmati orang tua.

Ada sebuah pepatah jawa mengatakan “witing tresno jalaran soko kulino” yang artinya kurang lebih “Suka karena terbiasa.” Hal itu yang terjadi pada Fajar, satu-satunya anggota Gema Lansia yang berusia muda. Fajar mengaku suka keroncong awalnya hanya dari kebiasaan mendengarkan ketika kelompok Gema Lansia berlatih, lama-kelamaan tumbuh rasa suka dan akhirnya menetapkan hati untuk memainkan musik tua tersebut.

Mungkin kini dengan exposure dan publikasi yang lebih gegap gempita Keroncong tentu akan lebih dikenal oleh masyarakat, dan konsisten dengan prinsip “witing tresno jalaran soko kulino” maka tidak menutup kemungkinan masyarakat pada akhirnya bisa mencintai keroncong. Kita berharap akan muncul banyak Fajar yang lain, anak-anak muda penyuka The Shins namun tetap menyukai keroncong. Gema Lansia sudah melakukannya sejak lama, tidak perlu menunggu aksi pemerintah yang tak kunjung sadar untuk membesarkan budaya bangsa sendiri. Gema Lansia sudah melakukan itu sampai pada usia senja tanpa pretensi dan keinginan untuk mencari keuntungan di jagad kapital industri musik. Yang mereka inginkan hanyalah kepuasan estetis dan upaya melestarikan keroncong yang menurut mereka adalah budaya indigenous negeri ini.

*) Oleh Aris Setyawan, Mahasiswa Jurusan Etnomusikologi Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.

Advertisements