Seket Pitu

 

Kelompok anak jalanan ini menamakan dirinya “Seket Pitu: alase Suket bantale watu” ( lima puluh tujuh: beralas rumput, berbantal batu.) sebuah nama yang dengan gamblang merepresentasikan dan bentuk manifestasi dari apa yang Mereka rasakan setiap hari. Ya, kelompok ini adalah kelompok anak jalanan yang setiap harinya bergelut dengan kerasnya jalanan perkotaan. Maka nama kelompok tadi adalah harfiah dimana keseharian anak jalanan ini tidur beralaskan rumput dan berbantal batu. Keras namun tak ada pilihan, hidup adalah sesuatu yang harus Kita terima mau tak mau.

 

Saya sempat ngobrol sebentar dengan Kelompok Seket Pitu 24 September 2011 kemarin di sebuah pagelaran Ketoprak yang diselenggarakan oleh Rifka Annisa sebuah LSM anti kekerasan perempuan, kebetulan Seket Pitu didaulat menjadi salah satu pengisi acara. Apa yang diceritakan kawan-kawan yang mencari nafkah dengan mengamen ini adalah refleksi kegetiran. Tentang pendapatan perhari, satpol PP yang kadang merazia dan menangkapi, panas atau dinginnya tidur dan tinggal di seputaran benteng Vrederburg, Yogyakarta. Dan lain sebagainya. Sebenarnya Seket Pitu terbilang agak lebih beruntung sebab bagaimanapun sudah ada beberapa pihak yang mau membina Mereka, jadi Seket Pitu sudah agak sedikit mengalami kemajuan dengan dapat pentas di acara-acara yang punya panggung seperti kemarin, tak melulu di jalanan. Namun anak jalanan adalah ibarat gunung es yang hanya Nampak sedikit dipermukaan, lebih banyak tersembunyi di dalam. Faktanya adalah diluaran sana, dijalanan kota-kota besar masih banyak anak-anak bergelimpangan kala malam dan berkejaran dengan waktu kala siang agar tetap hidup. Dan Mereka semua berjuang sendiri, tak ada yang mengurusi atau peduli. Ya, dunia yang Kita tinggali memang tidak selalu baik-baik saja. Ada hal-hal yang kejam dan menyedihkan dalam hidup ini yang bila Kita cermati itu ada disekeliling Kita. Termasuk menyedihkannya nasib anak-anak jalanan ini.

 

Negara menjamin nasib anak-anak terlantar, itu sudah diatur undang-undang. Namun faktanya anak jalanan yang terlantar ibarat tak tersentuh undang-undang tersebut. Pemerintah seperti tak pernah membuat rencana jangka panjang untuk menanggulangi permasalahan anak jalanan ini, akibatnya jumlah anak-anak yang turun ke jalanan semakin meningkat tiap tahun. Yang ada pemerintah hanya mampu melakukan rencana jangka pendek seperti merazia, menangkap, hanya untuk diberi penyuluhan sebentar lantas dilepaskan lagi. Pemerintah seperti sibuk sendiri dalam pertarungan politis yang besar, melupakan anak jalanan yang dianggap sebagai isu kecil.

 

Celakanya sikap membiarkan pemerintah ini kadang ditiru oleh warga Negara (baca: Kita) dengan ikut acuh tak acuh pada permasalahan anak jalanan. Ramalan Francis Fukuyama tentang kemenangan kapitalisme memang berhasil, Kita sudah dibesarkan dengan paradigma Kapital ini demikian lama hingga inilah yang jadi pola pikir Kita sampai sekarang. Ketika Kita ditanya apa standar terkini kemanusiaan? Kita akan menjawab dengan paradigma kapital bahwa yang dianggap manusia adalah mereka yang memiliki standar hidup modern seperti sekarang. Sedangkan mereka yang tak bisa memiliki standar hidup modern bukanlah manusia. Itukah yang tengah Kita lakukan sekarang? Tidak memanusiakan anak-anak jalanan atau orang-orang malang lainnya?

 

Kelompok Seket Pitu kemarin malam membacakan beberapa puisi, Saya agak lupa isinya. Intinya adalah Mereka anak-anak jalanan berharap dan ingin dianggap sebagai manusia Kembali. Mereka tidak memilih hidup dijalanan, namun mau tak mau harus menerima dan menikmati anugerah hidup itu. Mereka hanya berharap dilihat, diperhatikan walau sejenak, dianggap manusia. Maka, anak jalanan atau Kita adalah sama-sama anak yang dilahirkan dalam gejolak modernisasi, ada baiknya Kita ikut memikirkan anak jalanan itu. Lakukan apa yang Kita bisa sebagai warga Negara untuk ikut peduli pada anak-anak jalanan. Mari Kita ikuti jejak Max Weber atau Michel Foucault yang meludahi dan menggugat modernitas yang dianggap menimbulkan ketimpangan. Salah satu cara menantang ketimpangan modernitas itu ialah menghapuskan standarisasi dan parameter antara manusia dan bukan manusia, dengan cara memanusiakan kembali anak-anak Jalanan, selamatkan anak jalanan dengan cara yang Kita bisa.

 

 

Salah satu cara peduli anak jalanan, Kunjungi http://www.facebook.com/SSChildJogja atau http://www.twitter.com/SSChildJogja

 

ARIS SETYAWAN

Yogyakarta, 25 September 2011

( created and sent from my computer, go to http://www.arissetyawanrock.wordpress.com for more word and shit )

Advertisements