Tags

, , , , , ,

Beberapa pihak agaknya sudah skeptis dengan para mahasiswa masa kini. Sampai ada terlontar kalimat pedas seperti “menjadi mahasiswa dan kuliah adalah bayar mahal hanya untuk memperpanjang nama dengan gelar.” Atau ada lagi yang melontarkan pertanyaan “Mahasiswa, Dimana Maha-mu?” (baca disini http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150110083210785 ) berbagai celetukan skeptis itu mungkin bentuk kekecewaan bahwa Mahasiswa masa kini memang kurang menggigit, tak tajam seperti mahasiswa masa lampau yang dengan dengan predikat “Agent of Change” nya mampu memancing timbulnya berbagai revolusi dan perubahan, lokal maupun nasional, di tataran kampus belajar maupun di sistem pemerintahan. Mempertanyakan lunturnya kritisisme mahasiwa dewasa ini tentu terlanjur basi dan cuma jadi bahan tertawaan (karena sudah sedemikian parahnya kah pola pikir mahasiswa yg justru jadi anti kritis?) namun demi menilik status Facebook Pak Triyono Bramantyo, mantan dekan Fakultas Seni Pertunjukan yang berkata “MasyaAllah, masih ada mahasiswa takut kena D.O. gara-gara berpikir kritis?! Aku ikut merasa berdosa kalau mahasiswaku jadi seperti itu..” Saya (yang 1 tahun ini menyandang status mahasiswa walau nekad) merasa tertampar, lantas merasa perlu mengeluarkan sedikit curcol (curhat colongan) kegalauan mahasiswa.

 

 

Mahasiswa dan Prestise

 

Masalah ini sebenarnya sempat Saya singgung di twitter (dan sempat membuat beberapa mahasiswa yang merasa tersentil berang) dan rasanya perlu ditambahkan disini, bahwa mahasiswa masa kini kebanyakan kuliah demi prestise. Kuliah sudah menjadi sebuah bahan pencitraan yang mampu menentukan prestise seseorang, juga prestise keluarga. Jadi dari beberapa mahasiswa kadang kuliah di jurusan atau universitas tertentu yang sebenarnya tidak sesuai dengan minat dan kompetensinya namun harus kuliah disitu karena berbagai faktor, tuntutan orang tua barangkali yang beranggapan anaknya kuliah disebuah jurusan di universitas bergengsi akan menaikkan prestise keluarga.

 

Dampak dari kuliah yang terpaksa dan tidak demi menuntut ilmu itu tentu mahasiswa tersebut tidak benar-benar kompeten dengan bidang yang digeluti, ketika lulus pun bisa jadi bingung mau ngapain sebab selama kuliah ilmu-ilmu nya tidak dipelajari dengan sungguh (kuliah terpaksa). Walau tidak semua, tentu masih banyak mahasiswa yang belajar dengan benar. Jangankan menuntut pola pikir kritis, belajar ilmu kompetensinya saja enggan. Meminjam istilah Ferdinand De Saussure tentangSignifier (penanda) atau sebuah teks, dan signified (petanda) atau sesuatu yang membuat teks itu jadi bermakna. Maka Mahasiswa masa kini hanyalah sebuah signifier tanpa signified, sebuah teks tanpa makna. Karena Mahasiswa hanyalah sebuah teks “mahasiswa” namun tidak bermakna “maha” dalam berbagai aspek. Mengenai prestise tadi, dapatkah disimpulkan Mahasiswa  lebih mengkonsumsi “Maha” untuk menaikkan prestise menjadi siswa yang maha, ketimbang mengkonsumsi ilmu agar maha sepantasnya dilekatkan padanya?

 

 

 Mahasiswa dan Kafe

 

Ada sebuah cerita bahwa yang mampu membuat Inggris maju seperti sekarang ini sebenarnya adalah karena di abad pertengahan di Negara asal David Beckham itu menjamur kafe-kafe dan kedai kopi. Tempat dimana warga Negara Inggris berkumpul menikmati kopi, dan tidak sekadar nongkrong, namun juga ngobrol membicarakan pemerintah. Mereka bergunjing tentang berbagai kebijakan pemerintah yang dianggap kurang tepat atau kurang memihak kepentingan rakyat. Lama kelamaan pembicaraan di ruang publik ini menimbulkan awareness bahwa Mereka sebagai warga Negara memiliki hak untuk menikmati hidup yang lebih baik. Lama kelamaan menimbulkan tindakan, kontan pemerintah akhirnya gerah dengan berbagai gunjingan dan perubahan pun bisa terjadi.

 

Hanya dari mengobrol di kedai kopi, warga Inggris sadar bahwa pemerintah bertugas mengelola negara hanyalah perpanjangan tangan Mereka: rakyat, warga Negara yang juga memiliki Negara tersebut. Dengan pola pikir kritis demikian tentu saja Inggris menjadi Negara maju sebab kalau pemerintahnya mau mbalelo sedikit saja rakyat yang melek pengetahuan akan segera protes. Berbeda dengan di Indonesia dimana rakyat pasrah saja terpuruk dalam kemiskinan dan membiarkan pemerintah salah urus Negara, tanpa ada daya dan malah bangga dengan titel wong cilik.

 

Hubungannya dengan mahasiswa? Kala rakyat yang terkena sindrom bangga jadi wong cilik tak tahu cara protes pada pemerintahnya, ini tugas mahasiswa (siswa yang maha karena berpengetahuan, jadi tahu cara protes) untuk melakukan protes tersebut. Namun mahasiswa masa kini bukan nongkrong di kafe untuk membicarakan pemerintah seperti warga Inggris abad pertengahan tersebut. Mahasiswa masa kini pergi ke kafe untuk wi-fi an, update status situs jejaring sosial, dan membicarakan berbagai hal trendi lainnya. Sampai lupa perannya sebagai siswa yang maha untuk protes, protes dan protes. Tiba-tiba beberapa mahasiswa memunculkan pernyataan “ah selama Saya enggak kena enggak masalah kan, hidup Saya sekarang masih nyaman, ngapain ngurusin begituan?” hal yang menggelikan mengingat dampak acuh tak acuh tersebut tentu struktural, berawal dari diri sendiri yg acuh, lantas berakumulasi, dan seluruh mahasiswa jadi acuhkan permasalahan pola pikir kritis dan protes tersebut.

 

Jadilah tak ada orang pintar yang mengawasi pemerintah, Negara yg salah urus jadi berantakan, kualitas pendidikan menurun. Jadilah Kita wong cilik (bertitel sarjana) karena problem utama wong cilikadalah pendidikan. Pendidikan Kita yang tidak kritis akhirnya meluluskan Kita dengan titel tanpa ilmu, akhirnya pasca kuliah bingung mau ngapain. Jadilah banyak sarjana menganggur. Jadi, masih beranggapan berpikir kritis itu tidak penting bagi diri dan masa depan Kita?

 

 

Mahasiswa dan Talkshow Televisi

 

            Bukti dari makin lunturnya kritisisme Mahasiswa ini adalah pasifnya kalangan mahasiwa menjadi penonton di talkshow atau acara yang diselenggarakan stasiun televisi. Mahasiwa dengan bangga mengenakan jaket almamater, duduk manis, tertawa ketika diarahkan, tepuk tangan kala tulisan “applause” muncul, tapi semuanya tanpa argumen. Lalu pulang ketika acara selesai. Kuliah demi prestise, terbiasa menghibur diri di kafe, ditambah pergi jadi penonton pasif ke stasiun televisi tanpa argumen. Lengkap sudah berbagai kendala yang perlu dicurhatkan tentang Mahasiswa.

 

Tiba-tiba ada beberapa pihak yang berteriak “Kamu sendiri ngapain? Enggak usah sok kritis deh kalau Cuma modal bacot.” Perkataan sarkasme tersebut tentu dapat dijawab “memang mau ngapain? Berdemo di jalan? Demo memang efektif, namun tak selamanya kekritisan Kita dalam upaya menimbulkan perubahan harus dilakukan dengan demonstrasi, semakin banyak demonstrasi dilakukan justru akan menghilangkan kesaktian dari demonstrasi tersebut karena pihak yang didemo akan dengan enteng menganggap ah demo seperti itu sudah biasa. Intinya adalah lakukan apa yang Kita bisa, sesuai bidang dan minat Kita dalam memunculkan insting kritis Kita tersebut. Lebih baik membacot lewat tulisan begini dan menimbulkan (sedikit) kesadaran bagi Mereka yang membacanya, daripada tak mampu menulis apapun, hanya mampu membacot komentar banal pada mahasiswa yang memutuskan bersikap kritis. Karena bacot yang mau bicara kritis lebih baik ketimbang bacot yang hanya bisa komentar pada bacot kritis tersebut.”

 

ARIS SETYAWAN

Karanganyar, 7 Juli 2011

 

( created and sent from my neighbor’s computer. For more word and shit log on to http://www.arissetyawanrock.wordpress.com )

Advertisements