Untuk ketiga kalinya Saya hadir dalam konser trio minimalis pengusung pop manis namun kritis tersebut. Kali ini dalam rangka pensi SMP Negeri 1 Yogyakarta yang diselenggarakan di Auditorium RRI Yogyakarta. Tak banyak kesan yang didapat dan patut diceritakan. Saya jelas ikut bernyanyi, ikut berkoor bersama ratusan audiens yang hadir malam itu. Tidak banyak yang bisa diceritakan dari segi penampilan panggung ERK karena akhirnya hanya akan membuat review ini tipikal dengan banyak review lain yang menceritakan “konser sangat seru, para penonton asik dan ikut bernyanyi.” Dan lain, lain. Maka Saya putuskan dalam review singkat ini Saya hendak sampaikan apa yang sepanjang konser berlangsung terus Saya pikirkan. Pikiran Saya (baca “Indie yang Banal” di https://www.facebook.com/note.php?note_id=10150169659895785 ) masih dalam rangka “mempertanyakan musik (indie terutama) yang katanya mampu menimbulkan perubahan (atau paling tidak memicu perubahan.) akhirnya memang Saya percaya sebuah pemikiran naif memang kalau Kita berharap terjadi sebuah perubahan sosial hanya dari lagu atau musik. Senaif Kita berharap menjadi pribadi yang beda dan keren hanya dengan lebih memilih mendengar musik-musik Indie ketimbang musik mainstream yang dicap terlalu pasaran dan dangkal.

 

 

Karena sebanyak apapun Kita dengar musik indie (dalam hal ini Efek Rumah Kaca) yang katanya idealis tersebut, Kita tak akan pernah menjadi idealis tanpa ada tindakan nyata. Jatuh Cinta Itu Biasa saja akhirnya berubah jadi luar biasa sebab toh para remaja di konser tersebut berpasangan dengan pacarnya dan saling berpelukan serta mementahkan lirik “Kita berdua hanya berpegangan tangan, tak perlu berpelukan.” Para penikmat musik yang hadir di konser tersebut tak lantas jadi aware bahwa salah satu anggota dewan yg juga mantan bendahara partai berkuasa tengah jadi buronan KPK, atau badan anggaran DPR tergoyang isu calo anggaran. Meski mereka bernyanyi bersama dengan lantang meneriakkan “Mosi Tidak Percaya.” Lagu baru “Hilang” juga tak lantas membuat para remaja berusaha tahu siapa itu Wiji Thukul atau mana “Sajak Suara” yang diteriakkannya. Tapi semua penonton ikut bernyanyi.

 

 

Baiklah, sepertinya apa yang Saya ucapkan diatas akan terkesan mendiskreditkan Efek Rumah Kaca, trio itu hanya jadi representasi yang mewakili realita yang ada. Bahwa indie yang katanya beda atau mainstream yang katanya dangkal itu semuanya sudah sama saja, homogen. Seragam, dari segi konsepsi dan kemasan memang lain. Indie terkesan radikal mainstream terkesan pasaran. Tapi dari segi esensi (maaf kalau naif lagi) dapat disimpulkan keduanya sama. Musik indie (ERK) pada akhirnya hanya serupa musik yang dijual mainstream, sebatas hiburan yang hanya untuk didengar bukan untuk dipelajari lalu diterapkan di hidup. Maka dapat dipastikan konsep “musik memicu perubahan” itu naif dan tidak akan terjadi perubahan apapun sampai penikmat musik tersebut merasa tergugah dan melakukan tindakan nyata. Bila tidak ada tindakan nyata, musik yang katanya beda itu sama dengan musik mainstream yang dikonsumsi untuk hiburan. Meminjam pendapat Pry S Pry yang memberi tanggapan pada tulisan Saya “Indie yang Banal” ( “Menyelamatkan Indie” http://www.jakartabeat.net/humaniora/kanal-humaniora/esai/614-menyelamatkan-indie.html ) bahwa “indie culture bukanlah subversi dari sistem kapitalisme, melainkan bagian tak terelakkan darinya.”

 

Maka pada dasarnya para remaja yang gemar menikmati musik indie, juga Mereka yang hadir di konser malam itu adalah bagian dari konsumen musik yang terseret pola pikir satu dimensi kapital. Lalu mengkonsumsi musik indie bukan sebagai cara mempelajari pesan-pesan tajam dan kritis yang ditawarkannya, tapi ini adalah upaya mengaktualisasikan diri sebagai yang beda dari yang mainstream. Kita hanya sedang mengkonsumsi radikalisme indie itu untuk mencitrakan diri Kita radikal sebagaimana biasa jurus kapital yang mengedepankan pencitraan sebagai modal utama. Lalu apa ini salah? Tidak salah, toh mau indie atau mainstream sudah seragam dan homogen kan esensinya, keduanya sama-sama anak kandung sistem kapital. Juga disebutkan diatas bahwa “konsep musik menimbulkan perubahan” itu naif dan mustahil.

 

Jadi lebih baik mari Kita semua para remaja, atau jejaka, perawan, tua atau muda sama-sama bernyanyi dan menghibur diri lalu teriakkan “Mosi Tidak Percaya Pada Perubahan yang Dipicu Musik.” Mau menimbulkan perubahan berarti dalam hidup Kita atau sosial itu akan muncul belakangan kalau sudah ada kesadaran untuk membuat tindakan nyata. Ingat juga untuk menolak lupa nasib Munir dan bicarakan terus pejuang HAM itu agar timbul kesadaran secara meluas bahwa kasusnya sampai sekarang masih mengambang, agar lirik lagu “Di Udara” jadi relevan, tak Cuma berakhir jadi nyanyian koor membahana “Tapi Aku tak pernah mati, tak akan berhenti.” Persis riuhnya koor massal di Konser ERK pada tanggal 25 Juni 2011 di auditorium RRI Yogyakarta tersebut.

 

 

ARIS SETYAWAN

Yogyakarta, 26 Juni 2011

 

( created and sent from my friend’s Notebook. For more word and shit log on to http://www.kompasiana.com/arissetyawan )

Advertisements