Seni kita sampai kini masih dangkal picik benar. Tak lebih dari angin lalu saja. Menyejukkan kening dan dahi pun tidak.” (Chairil Anwar). Apa yang disampaikan oleh penyair besar Indonesia tersebut beberapa dekade lalu rupanya masih relevan sekarang, lebih spesifik lagi dalam kancah seni musik. Yang dimaksudkan adalah perihal masih banyaknya musisi baik solois maupun grup band yang melakukan Lip-syncdalam penampilannya di acara musik yang menjamur di stasiun TV

 

Lip-Sync adalah kependekkan dari Lip-Syncronization yang kurang lebih berarti menggerakkan bibir sehingga seolah bernyanyi yang disinkronkan dengan suara musik yang diputar (Playback). Lip-Sync dilakukan atas pertimbangan teknis dimana bila melakukan pertunjukkan yang sebenarnya akan membutuhkan banyak persiapan seperti set alat, atau dilakukan bila sang artis sedang dalam kondisi yang kurang baik bila harus tampil langsung. Yang patut disayangkan kemudian ialah ketika Lip-sync ini dijadikan sebuah keniscayaan oleh musisi-musisi Kita kala tampil disebuah acara musik di berbagai stasiun TV. Kebanyakan Mereka tidak sedang menampilkan pertunjukkan musik yang sesungguhnya dan malah melakukan lip-sync dengan alasan hal tersebut adalah tuntutan Stasiun TV atas dasar masalah teknis. Kalaupun ada musisi yang tampil langsung tanpa lip-sync itu dapat dihitung hanya segelintir saja. Inilah kenapa kritik seni oleh Sang Binatang Jalang diatas masih relevan, sebab apa yang ditampilkan para musisi ini bukanlah penampilan musik yang berestetika, melainkan hanya sebuah penampilan akting yang terkesan banal.

 

Dan celakanya lagi para audiens dan penikmat musik terkesan menikmati saja suguhan penampilan musik palsu dan akting ala lip-sync ini. Mereka cenderung menerima saja apa yang ditampilkan tanpa mau bertanya musik yang ditampilkan benar-benar penampilan langsung atau Cuma lip-sync. Atau jangan-jangan para audiens ini sebenarnya tahu namun memilih diam dan pura-pura tidak tahu?

 

Agaknya perilaku penampilan lip-sync ibarat virus yang menyebar, lalu menular ke segenap lapisan masyarakat, dan ini sebenarnya berbahaya bagi industri musik negeri. Karena perilaku lip-sync ini pada akhirnya dilakukan juga oleh Mereka yang sebenarnya tidak kompeten dan tidak punya kapabilitas dalam proses kreatif penciptaan musik tersebut. Kita sudah kenyang pemberitaan media akan beberapa pihak yang tenar mendadak setelah melakukan perlaku lip-sync yang disebarkan melalui situs media sosial. Setelah sempat digemparkan dengan terkenalnya Duo Shinta-Jojo, disusul dengan adanya Udin Sedunia. Lalu yang terakhir sedang ramai dibicarakan adalah seorang anggota kepolisian bernama Briptu Norman yang mengupload video lip-sync-nya menyanyikan lagu India ke Youtube. Mereka adalah contoh bahwa perilaku lip-sync para musisi nasional ini memang diikuti masyarakat, dan akan lebih banyak diikuti lagi oleh Mereka yang ingin terkenal namun sesungguhnya tak punya kapabilitas dalam bidang musik ini (tak memiliki teknik olah suara yang memadai misalnya). Efek dari perilaku lip-sync ini memang mampu membuat Udin Sedunia atau Briptu Norman terkenal dengan cepat, lalu diundang untuk menjadi bintang tamu atau pembawa acara diberbagai tempat. Namun efek ini hanya dinikmati sementara, Mereka hanya sedang menjadi korban komodifikasi industri yang terus dieksploitasi sampai habis manisnya lalu sepah dibuang. Dan akan segera tergantikan talent baru yang cepat terkenal dengan mudah pula dengan cara menyebarkan video perilaku lip-sync.

 

 

Di Indonesia perilaku lip-sync para musisi ini masih dianggap wajar dan dibiarkan. Padahal di beberapa negara diluar sana, karena dianggap menampilkan akting dan bukan penampilan langsung lip-sync sudah dianggap sebagai bentuk pembohongan publik dan dilarang. Sebagai contoh adanya dua penyanyi di Cina Starlets Yin Youcan dan Fang Ziyuan yang kedapatan melakukan Lip-sync (24/1/2010) lalu diseret ke meja hijau dan dinyatakan bersalah lalu didenda sebanyak 80 ribu Yuan atau Rp 110 juta. kedua penyanyi itu dianggap bersalah sesuai dengan kebijakan Kementerian Kebudayaan Cina yang menyatakan lip-Sync sebagai tindakan pembohongan publik.

 

Hal ini harusnya dapat ditiru pemerintah Kita, sebuah regulasi tegas dalam hal pertunjukkan kesenian harusnya dapat dibuat guna menghentikan perilaku lip-sync ini. Sebab bila benar lip-sync memang adalah salah satu bentuk pembohongan publik, alangkah naifnya bila pemerintah diam saja membiarkan rakyatnya dibohongi. Dengan adanya campur tangan pemerintah diharapkan kemudian para musisi/artis musik akan menampilkan penampilan langsung yang sesungguhnya. Hingga para audiens dapat mereka-reka dan menilai mana musik yang bagus dan bukan, Mereka akan benar terhibur kesenian berestetika. Bukan hanya penampilan lip-sync yang palsu dan banal. Agar kita dapat melontarkan antitesis pada pernyataan Chairil Anwar yang menuduh Seni Kita picik dan dangkal dengan jawaban “Seni Kita sudah lebih baik.” Atau Kita akan diam saja membiarkan Lip-Sync memasyarakat dan mendangkalkan esensi kesenian (musik) Kita?

 

 

ARIS SETYAWAN

Yogyakarta, 25 April 2011

 

(created and sent from my friend,s computer. for more word and shit log on to http://www.kompasiana.com/arissetyawan )

Advertisements