Alkisah hiduplah seorang gadis biasa bernama Nadya yg tinggal disebuah negeri yang bernama Negeri Bohong. Seperti namanya sudah bisa ditebak bahwa hal terpenting dalam negeri ini adalah bohong. Seluruh penduduknya gemar berbohong, segenap lapisan masyarakat bermotto bohong. Bahkan seluruh pejabat pemerintahan dan presiden kerap membohongi rakyatnya. Namun semuanya dianggap wajar saja toh seluruh negeri memang gemar berbohong, negeri Bohong. Nadya adalah mahasiswi semester 5 di UNB, Universitas Negeri Bohong. Gadis yg hobi makan siomay ini kuliah di FIB, Fakultas Ilmu Bohong jurusan Filsafat Bohong dengan minat utama kajian filsafat Kebohongan. hari ini adalah hari pertama kuliah selepas libur panjang semester. Nadya dan kawan-kawan memutuskan berkumpul di kantin saat kuliah jam pertama karena rupanya dosen tidak hadir, mungkin masih menikmati perpanjangan libur yang sebenarnya sudah panjang sampai sang dosen lupa mengajar.

 

Lalu secara bergantian Nadya dan kawan-kawan bercerita apa saja kegiatan Mereka selama libur panjang semester kemarin, ada seorang mahasiswa gemuk bercerita selama liburan diam saja di kamar kost 3 x 4 meternya tanpa keluar sama sekali sampai untuk keperluan makan Dia telepon warung Burjo depan agar dikirim nasi sementara untuk buang hajat di kamar mandi dalam. Ada pula rekan Nadya yang selama libur panjang semester magang di sebuah stasiun televisi dengan job description berakting menjadi suami yg lupa istri lalu lari dan dikejar istrinya yang menangis sampai Termehek-mehek dan minta tolong tim bentukan Production House. Beberapa cerita terdengar aneh dan janggal terkesan bohong. Namun semua orang sudah biasa berbohong jadi semuanya dianggap biasa Saja.

 

Semua mahasiswa yang berkumpul di meja kantin pagi itu sudah bercerita, sampai tiba giliran Nadya. Lalu Dia bercerita pada kawan-kawannya bahwa selama libur semester kemarin Dia pergi berlibur ke negeri tetangga bernama Negeri Jujur. sontak semua temannya terhenyak dan kaget bagaimana bisa Nadya berlibur ke negeri tetangga yang landasan ideologinya berseberangan dengan negeri bohong itu. Semuanya terkesan amat tertarik dengan liburan Nadya tersebut, maka tanpa menunggu waktu lagi Nadya bercerita tentang pengalamannya berlibur ke negeri jujur liburan semester lalu:

 

“Aku amat kaget dan terpukau sepanjang perjalanan melintasi negeri jujur ini, Kalian bayangkan, di negeri tetangga Kita ini kejujuran adalah segalanya Kawan-kawan, dalam segala hal. Bayangkan saja, saking jujurnya negeri ini. Iklan televisi pun jujur. iklan operator seluler malah berkata “belilah jasa komunikasi Kami, gratis sms dan telepon ke operator lain 24 jam nonstop. Tapi Kami hanya iklan, jadi Anda tak boleh percaya dengan perkataan tersebut sebab ini hanya iklan, faktanya adalah jika Anda memakai layanan Kami, maka sms dan telepon Anda akan tetap berbayar. Tapi dengan jujur dan tulus Kami sarankan Anda tetap memakai layanan komunikasi Kami.”

 

Di negeri jujur ini benar-benar gemah ripah loh Jinawi kawan-kawan, kebanyakan penduduk bangsanya berprofesi sebagai petani yang makmur dan mampu garap sawah sendiri. Dan semuanya sejahtera, yang tidak bertani bisa bekerja di sektor lain karena banyaknya lapangan pekerjaan. Hingga tak perlulah kiranya para penduduk pergi keluar negeri untuk jadi pembantu rumah tangga atau pekerja kasar. Rupanya penduduk negeri jujur pintar-pintar, hal ini disebabkan tingkat pendidikan Mereka tinggi dan berkualitas. Sekolah-sekolah berbasis ilmu dan bukan kurikulum hapalan, tidak ada menyontek massal kala ujian karena kejujuran yang utama.

 

Kejujuran di negeri tetangga ini memang menyenangkan walau kadang bikin keki juga. Pernah suatu malam selepas jalan-jalan di pusat Kota, Aku memutuskan makan di sebuah kedai. Ketika menyajikan makanan sang pelayan berkata “silakan Mbak, selamat menikmati makan malamnya. Oh iya maaf tadi burger yang Saya hidangkan ini sebenarnya sudah jatuh menggelinding di lantai. Namun karena kokinya takut kena marah manajer jadi dibersihkan sedikit dan dihidangkan. Tapi masih enak dimakan kok Mbak.”

 

Kawan-kawan Nadya melongo mendengar cerita itu sampai ada yang memotong pembicaaan dan berkata “bagaimana mungkin seperti itu bisa terjadi, kalau di negeri Kita seharusnya pelayan itu berbohong kan sedikit saja agar sang tamu tetap makan dengan enak.” Tapi Nadya mengacuhkan pertanyaan itu dan meneruskan ceritanya.

 

“Lama-kelamaan Aku penasaran juga bagaimana bisa negeri yang punya nama lain Endonesa ini bernama negeri jujur dan kenapa seluruh penduduknya bisa jujur sedemikian rupa. Selidik punya selidik ternyata jujur memang dijadikan ideologi Negara yang wajib ditaati seluruh warganya. Jujur tersebut disimbolkan dengan lambang Negara berbentuk burung Hantu. Dengan 5 sila yg jadi pedoman Negara, Sila terakhirnya yang menjadikan Negara ini jujur berbunyi “Keadilan Bagi Seluruh Rakyat negeri jujur.”

 

Jadilah pemimpin negeri ini amat jujur dan adil dalam memerintah negeri, eksekutifnya tidak pernah pandang bulu, memperhatikan kesejahteraan rakyat, tidak hanya gemar pencitraan dan retorika, sang eksekutif juga memberantas korupsi (yang nyaris tak ada karena semua pejabat jujur) sampai ke akar-akarnya tanpa pandang bulu, sesuai dengan janjinya yg jujur kala pemilu. Sedangkan para legislatifnya amat dekat dengan rakyat, alih-alih bergedung mewah bertingkat dengan kolam renang persis gedung dewan negeri Bohong Kita ini. Mereka para legislatif negeri jujur malah bersidang di lapangan, malah agar makin dekat dengan rakyat yang diwakilinya Mereka kadang bersidang membuat undang-undang dipinggir sawah. Sekaligus berwisata alam barangkali.

 

Yang mengherankan lagi ketika ada bencana lumpur melanda bagian timur pulau yang diakibatkan kelalaian perusahaan minyak, lalu pemilik perusahaan itu secara ksatria mengakui itu bukan bencana alam dan adalah human error. Lalu dengan gamblang merinci total kekayaannya dan berapa yang harus dialokasikan untuk ganti rugi para penduduk yang rumahnya terendam lumpur……..”

 

Demi mendengar cerita tentang pemerintahan yang jujur itu kawan-kawan Nadya tak terima dan protes lalu memotong cerita dengan berbagai interupsi. Nadya pun kesal karena ceritanya tentang liburan ke negeri jujur sebenarnya masih panjang dan belum selesai, karena kesal Nadya memutuskan meninggalkan kawan-kawannya di kantin dan pergi ke perpustakaan untuk meminjam buku “Kiat Jitu Agar Jadi Pembohong Yang Budiman.” Nadya berjalan sambil tersenyum bangga betapa kebohongannya tentang berlibur kenegeri jujur tadi amat sukses membuat kawan-kawannya tertipu. Tentu tak ada negeri jujur semacam itu didunia, Nadya tak merasa bersalah berbohong tentang liburan semesternya karena toh Dia penduduk negeri bohong yang kuliah di Kampus bohong kan? Nadya berpikir pasti kawan-kawan yang mendengar ceritanya tadi, juga Mereka yang membaca cerita ini berkata “jadi Kami disuruh menyimak cerita sepanjang ini hanya untuk mengetahui di akhirnya bahwa semua cerita ini hanya bohong?” dengan santainya Nadya menjawab “karena Kita terbiasa hidup dalam kebohongan di negeri bohong Kita ini, jadi Kita diam saja melihat kebohongan disekitar, dan heboh sendiri serta marah-marah justru ketika mendengar cerita tentang kejujuran. Seperti Kalian yang tidak percaya dan protes saat Kuceritakan sebuah negeri yang jujur dan makmur berjulukan Endonesa, dan malah terdiam biasa saat tahu dibelakang cerita bahwa rupanya semua bohong saja. Karena Kita adalah penduduk negeri bohong, yang bermimpi dapat berlibur ke negeri jujur.”

 

SELESAI

 

ARIS SETYAWAN

Karanganyar, 3 Juli 2011

 

(created and sent from my uncle’s computer. For more word and shit log on to http://www.arissetyawanrock.wordpress.com )

Advertisements