TUGAS FILSAFAT 1 YANG HARUS DIKUMPULKAN SELASA DEPAN, DARIPADA HANYA JADI SYARAT DAPAT NILAI, DIUPLOAD SAJA. MONGGO DIBACA. cek dulu video John Cage “4:33” di Youtube: http://www.youtube.com/watch?v=hUJagb7hL0E

 

 

Pada Tahun 1952 seorang komponis musik klasik bernama John Cage membuat sebuah proyek yang fenomenal sekaligus kontroversial. Sebuah proyek yang membuatnya dicap agak ngawur oleh beberapa pihak yang tidak paham benar maksud konsep yang diusungnya tersebut. Terutama pengecapan janggal ini tentu muncul dari Mereka para kaum pecinta musik konservatif yang menilai bagus tidaknya musik hanya berdasarkan apakah nada yang dibawakan harmoni atau false. Proyek janggal Cage yang dimaksud adalah tentang sebuah upaya pembuktian dan kritisisme akan adanya konsep dikotomi Bunyi dan Sunyi. Jadi menurut sang komposer ini dikotomi bunyi dan sunyi itu tidak tepat, dan menurut Saya masuk logika juga. Dimana dikotomi antara siang-malam dapat dibenarkan sebab memang ada siang dan ada malam. Lantas dikotomi manis-pahit juga boleh mendapat pembenaran sebab kedua rasa itu memang ada dan berlawanan. Bila mau ditambah lagi perihal dikotomi ini tentu sangat panjang, intinya adalah John Cage (dan agaknya Saya juga mengamini pemikiran Cage ini) menolak bila lantas ada dikotomi Bunyi-Sunyi, karena konsep itu tidak tepat. Sebab bila ditelaah secara mendalam rupanya Sunyi itu tidak ada. Total Silence atau kesunyian total itu tidak pernah ada di dunia ini karena rupanya sekecil apapun dan sehalus apapun, suara selalu ada. Entah Kita tengah berada diruangan gelap seorang diri dan berusaha sembunyi dari suara yang diresonansikan dunia luar. Toh masih ada suara desah nafas Kita sendiri, jantung Kita berdetak mengeluarkan suara. Jadi bila kesunyian itu tidak pernah ada, lalu apa sebenarnya ’Sunyi” itu? Dan kenapa sampai kata ”sunyi” itu eksis? Dapatlah disimpulkan bahwa ”kesunyian ”sebenarnya hanya produk pemikiran yang sedang berusaha mengalihkan perhatian? Suara sebenarnya tetap ada disana, namun pemikiran menciptakan kata ”Sunyi” sebagai pembeda dan pengalih perhatian agar tercipta dikotomi Bunyi-Sunyi?

 

 

Dengan gagasan awal mendekonstruksi konsep bunyi-sunyi inilah John Cage membuat sebuah proyek pembuktian. Dengan cara menghadirkan pertunjukkan orkestra diam pada ratusan audiens yang menghadiri penampilannya. Lahirlah sebuah komposisi bertitel ”4:33” yang termashyur. Sumber gagasan Cage dalam membuat 4’33” sebenarnya berasal dari rekannya Robert Rauschenberg yang membuat pameran serangkaian lukisan yang sekilas nampak kosong, hanya kanvas putih belaka. Namun lukisan-lukisan Rauschenberg tersebut tidaklah kosong, hanya saja ia mencat kanvas dengan cat putih. Ia sedang berbicara tentang persepsi kekosongan yang sebenarnya pula tak pernah ada. Kosong, sunyi, tak bersuara, titik nol, netral, tak berpihak, semuanya hanya persepsi. “Jika ada seseorang yang memposisikan dirinya dalam sebuah kekosongan dan kenetralan, itu hanya persepsi mental-nya yang berusaha menempatkan diri di luar titik-titik biner yang ia persepsikan pula ada.”[1] kejanggalan penampilan diam orkestra Cage tersebut (seperti Saya lampirkan dalam video yang di burning di CD Lampiran Tugas) terasa sepanjang 9 menit 23 detik durasi dimana seluruh pemain instrumen dalam orkestra itu hanya diam tanpa memainkan alat musiknya. Bahkan Cage selaku dirigen juga terdiam dan membisu.

 

 

Lalu apa yang menarik dari orkestra diam tersebut? Apa itu lantas pantas disebut musik? Sebuah musik etnis terlebih? Yang menarik tentu konsep yang ditawarkan Cage untuk memahami dikotomi Bunyi-Sunyi tadi. Cage berusaha membuktikan bahwa meski seluruh pemain musiknya terdiam, meski dirinya tak memainkan alat musik. Masih ada suara-suara terdengar disepanjang waktu penampilannya tersebut. Suara hela nafas, suara penonton yang terbatuk, suara penonton yang menahan tawa. Suara detak jantung masing-masing personal yang hadir di pertunjukkan tersebut. Inilah yang coba dikatakan Cage dan menurut Saya menarik, meski mendapat berbagai cercaan dan dianggap ngawur, Cage tetap bertahan sebagai Avant-Gardis dengan konsep orkestra diamnya ini. Cage mementahkan konsep musik konservatif dan berujar inilah postmodernisme, inilah konsep Saya. Dan apakah ini musik? Tergantung kepada siapa Anda bertanya, sebab definisi musik akan berbeda tergantung konteks. Bila yang Anda gunakan memaknai konteks harus ber doremifasolasido tentu tak bisa menyebut konsep diam Cage sebuah musik. Bila yang Anda maksud musik harus mempunyai unsur pendukung seperti harmoni, dinamika, ritmis, dll tentu tak bisa pula tasbihkan pertunjukkan Cage sebagai musik. Lalu bagaimana cara agar konsep orkestra diam demi membedah dikotomi Bunyi-Sunyi Cage ini dianggap sebagai musik? Mungkin bisa, dari segi estetika barangkali dapat menolong hingga konsep ini dapat dikatakan musik dan seni. Karena estetika akan berbeda pula tiap personal, maka bolehlah Cage bertahan dengan ngotot bilang ”Orkestra diam Saya adalah musik.”

 

 

Karena tugas mata kuliah filsafat ini berbunyi jelas ”Anda harus membedah sebuah musik etnis yang menurut Anda menarik.” tentu perlu dijelaskan pula dalam paper ini apa orkestra yang diusung John Cage termasuk musik etnis atau bukan? Hal yang mengingatkan Saya pada perkataan teman-teman pengusung musik etnis yang dengan Jumawa berujar ”Kalian ini memainkan musik rock atau pop, Mbok kayak Kami ini memainkan musik etnis.” hanya karena lawan bicaranya memainkan musik rock dan dirinya memainkan musik Jawa atau Sunda yang katanya etnis. Hal yang menurut Saya kurang tepat bila etnis lantas mengacu pada musik-musik yang rasa dan kesan etnis serta tribalnya amat terasa, sementara musik rock atau pop yang dibesarkan oleh metode mainstream dan komersialisasi komodifikasi industri tak pantas dicap etnis. Musik Jawa atau Sunda memang etnis karena Mereka tumbuh berkembang di dua etnis tersebut, demikian pula musik Rock atau Pop juga musik etnis karena Mereka berkembang dan tumbuh di di etnis tertentu yang melahirkannya. Barat misalnya. Jadi jika kemudian dalam rangka paper ini muncul pertanyaan ”Saudara disuruh mengulas musik etnis tapi mengapa malah membahas orkestra John Cage.?” maka akan Saya jawab ”karena musik yang John Cage Bawakan ini juga musik etnis, musik yang berkembang di etnis dimana musik ini dilahirkan: Eropa. Musik Etnis Eropa.” etnomusikologi lebih luas dari sekedar Indonesia, jadi tidak Salah jika bahasan musiknya meluas keseluruh dunia. Eropa juga.

 

Kesimpulannya adalah orkestra diam ala John Cage ini bagaimanapun membuat Saya tertarik dan sedikit lebih banyak memahami konsep dikotomi bunyi-sunyi yang tidak matching dan tidak pas. Mungkin Kita harus memikirkan kata lain sebagai kata ganti ”Sunyi” karena rupanya ”Sunyi” sebenarnya tak pernah ada. Atau Kita memilih diam dan bertahan saja berpura-pura ”Sunyi” itu ada padahal Kita dengar suara aliran darah Kita sendiri? Atau untuk merasakannya Kita harus berada dalam kondisi netral total tanpa ada kondisi lagi: Mati?

 

 

[1] http://www.jakartabeat.net/musik/kanal-musik/testimoni/288-ucok-qhomicideq-tentang-godspeed-you-silence-emperor.html

 

 

 

ARIS SETYAWAN

Yogyakarta, 3 Mei 2011

 

( Created and sent from my library’s Computer. for more word and shit log on to http://www.kompasiana.com/arissetyawan )

Advertisements