Apa yang membuat tanggal 20 mei terasa istimewa bagi bangsa Indonesia? Tak lain adalah karena tiap setahun sekali Kita mengalami momen serebral dalam rangka hari kebangkitan nasional pada tanggal tersebut. Hari yang didaulat sebagai peringatan kebangkitan nasional negara Indonesia. Walau pada kenyataannya kebangkitan nasional tersebut agaknya hanya sebatas wacana yang secara formal terus kita rayakan setahun sekali tanpa mewujud menjadi kebangkitan bangsa yang nyata, terbukti dengan masih terpuruknya negeri dalam berbagai aspek yang akhirnya membuat rakyatnya hidup tidak nyaman dan serba kekurangan dalam keterpurukan tersebut. Pada dasarnya yang dimaksud kebangkitan nasional adalah hari dimana Negara bangkit darfi keterpurukan, sebelumnya Bangsa Indonesia mengalami kebangkitan nasional dalam rangka bangkit dari ketertindasan dan keterpurukan akibat penjajahan. Kebangkitan nasional ini dipicu oleh para elite politik, misalnya Kongres Pemuda pada 1928 yang ingin menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia juga digerakkan elite politik yang sangat mencintai negerinya. Demikian pula, Kebangkitan Nasional yang diteriakkan dr Wahidin Sudirohusodo dkk pada 20 Mei 1908 digerakkan elite politik. Mereka sangat tulus dan jujur untuk mempersatukan suku-suku bangsa yang senasib-sepenanggungan untuk membentuk sebuah nation baru. (Radar Jogja, 3 Januari 2011) hasil dari kebangkitan nasional itu sudah dapat Kita nikmati kini yaitu dengan merdekanya Indonesia. Namun agaknya cita-cita awal kebangkitan nasional ini melenceng kini dan Indonesia kembali terpuruk, bukan oleh penjajahan bangsa lain, melainkan oleh berbagai problema politik, hukum atau ekonomi yang melingkupinya. Mengharapkan elite politik merancang dan meneriakkan kebangkitan nasional sepertinya sudah tak dapat diharapkan sebab para elite politik dewasa ini justru sedang sibuk dalam pertarungan politik dan kepentingan masing-masing. Maka harus ada cara lain menggugah kesadaran seluruh warga Indonesia agar berusaha menggerakkan kembali kebangkitan nasional tersebut, dan agaknya musik adalah salah satu media yang tepat.

 

Musik Dan Efek Masifnya.

 

Sepertinya tak dapat dipungkiri lagi bahwa musik adalah salah satu cabang seni yang cukup penting dalam kebudayaan sebuah bangsa. Sebab rasanya dapat disimpulkan bahwa semua orang suka musik, dan sering dengarkan musik sebagai hiburan. Musik dapat menjadi terapi penyembuh sebagaimana dijelaskan Don Campbell dalam bukunya Efek Mozart. Dan musik juga memiliki 10 fungsi dasar seperti yang dijelaskan Alan P. Merriam yang diantaranya adalah sebagai hiburan, representasi simbol, dan media komunikasi. Jadi musik dapat menjadi sebuah media komunikasi yang tepat dan efektif sebab para pendengar musik sedang meresapi pesan yang disampaikan tersebut sekaligus merasa terhibur menikmati alunan nada. Dengan efek masif yang dimilikinya akan sangat efektif bila pesan ajakan kebangkitan nasional disampaikan melalui media musik, dengan lirik yang penuh semangat mengajak para pendengarnya bangkit dari keterpurukan. Sayangnya belakangan ini jumlah musik yang diciptakan dan ditulis dengan pesan ajakan kebangkitan nasional ini sangat minim dan kurang secara kuantitas.

 

Minimnya Musik Yang Membangkitkan Nasional.

 

            Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa musik populer yang lebih digemari masyarakat Indonesia belakangan ini adalah musik pop dengan lirik cinta dan hal-hal yang dekat dengan afeksi. Karenanya industri musik lebih melirik musisi-musisi yang membawakan lagu bertema cinta tersebut lantas mengorbitkannya. Hingga akhirnya masyarakat Kita dibombardir lagu-lagu bertema seragam yang berlirik percintaan. Sangat jarang lagu-lagu bersemangat nasionalisme diorbitkan industri musik. Jika mengacu pada pendapat Merriam diatas bahwa musik adalah media komunikasi yang tepat. Maka efek masifnya adalah masyarakat Kita yang setiap hari disuguhi pesan percintaan yang banal lewat lirik lagu cinta populer akhirnya mengamini pesan tersebut dan poros hidupnya akhirnya adalah tentang bagaimana menikmati percintaan. Bayangkan sebaliknya, andai lagu tersebut bertema kebangkitan nasional? Masyarakat secara luas akan bersemangat bangkit dari keterpurukan ketimbang berkutat dalam perkara cinta dan afeksi setiap hari. Kombinasi dari elite politik yang enggan menggagas kebangkitan nasional, serta minimnya musik penggugah rasa kebangkitan nasional ini membuat masyarakat yang rindu semangat kebangkitan nasional yang sebenarnya mencari cara lain misalnya dengan sepakbola. Dimana teriakan nasionalisme dan kebangkitan nasional membahana seketika dalam rangka membela tim nasional Indonesia yang tengah berlaga di kancah asia.

 

Dapat disimpulkan sesungguhnya masyarakat bosan dan lelah dengan carut marut serta terpuruknya bangsa ini, rakyat juga sudah bosan dengan formalitas selebrasi hari kebangkitan nasional yang dirayakan tiap setahun sekali namun akhirnya memang hanya sebatas retorika yang tak mampu memperbaiki kehidupan Mereka jadi lebih baik. Daripada masyarakat yang lelah ini hanya dibiarkan menghibur diri dengan kesemuan musik-musik berlirik cinta, bukankah lebih baik rakyat digugah semangatnya untuk bangkit, belajar, serta bekerja keras melalui musik yang membangkitkan nasional? Agar tanggal 20 mei 2012 nanti Indonesia benar-benar rayakan kebangkitan nasional yang sesungguhnya, bukan sekedar repetisi tahunan berupa wacana tanpa perbaikan kondisi nyata. Para musisi Indonesia agaknya harus mengubah pola pikir lagu populer yang laku adalah musik pop berlirik cinta, maka Mereka juga harus membuat musik yang sama. Buat musik berlirik penggugah semangat nasionalisme dan kebangkitan nasional seperti “lekas, bangun dari tidur berkepanjangan menyatakan mimpimu cuci muka biar terlihat segar merapikan wajahmu masih ada cara menjadi besar.”[1]agar masyarakat yang mendengar musik itu tergugah kesadarannya untuk bangkit dan berusaha membuat Indonesia jadi lebih baik.

 

*Penulis adalah mahasiswa semester 2 Jurusan Etnomusikologi Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.

 

 

[1] Efek Rumah Kaca – Menjadi Indonesia

Advertisements