Tags

, , , , , ,

Matinya Kritisisme Mahasiswa

 

 

Apa yang menjadi perbedaan mendasar mahasiswa dengan ‘enggak mahasiswa” alias siswa biasa(SD, SMP, SMA)? Kalau menurut beberapa orang adalah mahasiswa bisa sekolah tanpa baju seragam dan bebas mengenakan apapun sedangkan 3 tingkat sekolah sebelumnya wajib mengenakan baju seragam. Fiuh, begitu sajakah perbedaannya? Hanya dari tataran kemasan, jadi dapatkah disimpulkan isi dan pola pikir mahasiswa tak ada bedanya dengan anak SD, SMP, atau SMA dan Cuma berbeda kemasan? Padahal bila didefinisikan secara lebih benar dan secara (pura-pura) semiotik atau berdasarkan ilmu tentang tanda. Bukankah sudah jelas dari kata ‘Maha’ saja membedakan mahasiswa ini dari segala aspek dibanding siswa biasa. Maha dalam pemikiran, maha dalam perbuatan. Tapi bagi si mahasiswa ini kenikmatan SMA masih terbayang hingga terus dipertahankan sampai di bangku kuliah, maka engganlah Dia belajar mengasah pola pikir kritis dan terus menerus berkutat dalam pola pikir SMA nya yang terbiasa pasif, dibimbing, dan suka main. Inilah sumber keresahan yang memunculkan pertanyaan: Mahasiswa, Dimana Mahamu?

 

 

Lunturnya Kritisisme Mahasiswa

Sejatinya bangku kuliah di universitas akan membekali para mahasiswa dengan bekal dan persiapan ilmu yang akan mengasah pola pikir Mereka menjadi kritis dan cerdas. Mencetak manusia-manusia maha yang tak mau diam saja ketika melihat sebuah ketidakberesan sistem dan mempertanyakan kebenaran. Baik dalam segala aspek, ekonomi, sosial, politik, budaya, apapun. Mahasiswa bertanggung jawab pula sebagai calon intelektual dan calon cendekiawan dalam mengawasi sistem pemerintahan. Sekedar pengingat adanya So Hok Gie sebagai ikon mahasiswa dapat dijadikan panutan dimana status mahasiswanya dimanfaatkan benar-benar untuk menghembuskan angin perubahan, melontarkan mosi tidak percaya pada sistem yang dianggap rusak. Lantas idealisme Gie memaksanya mati ketimbang terdiam dalam hidup keterasingan. Demi melihat kondisi mahasiswa kini, mungkin Gie tengah menangis dalam kuburnya saat tahu generasi penerusnya kehilangan kritisisme nya. Mahasiswa kini ibarat sebuah mesin, mahasiswa jaman sekarang adalah mesin intelektual yang dicetak perguruan tinggi untuk diluluskan kemudian melemparkannya ketengah masyarakat untuk membombardir masyarakat luas dengan berbagai retorika, wacana, yang kesemuanya menggunakan bahasa mesin intelektual tadi. Akibatnya masyarakat awam tak paham penjelasan bahasa mesin intelektual tadi dan hanya bisa diam. Sementara para mahasiswa mesin yang bekerja menerangkan ilmu namun dengan bahasa mesin intelektual tadi tetap digaji, perguruan tinggi tempatnya bernaung dulu mendapat prestise tertinggi sebagai kampus pencetak orang pintar. Dan pak Warno penduduk desa petani hanya terbengong-bengong kala puluhan mahasiswa KKN dari jurusan fisioterapi sebuah perguruan tinggi swasta Surakarta menerangkan faedah fisioterapi namun dengan bahasa renyah implementasi, paradigma, trauma, ambigu, sambil bertanya-tanya kira-kira apa artinya.

Dan macam mesin yang juga digunakan dalam industri, pabrik-pabrik, atau dalam mobil. Kesemuanya adalah sama saja: tanpa hasrat. Hanya berjalan berdasarkan mekanisme pasti tanpa adanya intuisi berdiri sendiri. Analogi mesin ini untuk menunjukkan mahasiswa kini memang layaknya mesin yang diatur berbagai mekanisme dalam hidupnya. Mulai dari mekanisme pendidikan kampus yang parsial dan tidak memberikan esensi ilmu secara benar, mekanisme patriarki dan hirarki dari orang tua yang memaksa anaknya kuliah di jurusan tertentu sesuai keinginan orang tua demi kebanggaan semu saat bilang pada rekannya “anakku kuliah di Universitas unggulan loh.” Hingga mekanisme pasar (baca: kapitalisme) yang menjadikan mahasiswa terjebak dalam labirin konsumerisme hingga tak mampu keluar. Dengan berbagai mekanisme pengaturan hidup seperti itu sangat sulit kiranya bagi mahasiswa masa kini untuk mengembalikan sisi kritis mereka. Mahasiswa kini memiliki pola pikir impotensi dan ejakulasi dini yang sukar disembuhkan secara menyeluruh, justru mahasiswa era modern tengah sibuk menghayati perannya sebagai penikmat janji modernisasi. Meminjam istilah Rene Descartes “Aku berpikir maka Aku ada.” Yang dibuat satire “Aku berbelanja, maka Aku ada.” Dan mahasiswa kini mengiyakan yang kedua, mahasiswa digiring dalam gemerlapnya konsumerisme oleh mekanisme pasar.

 

 

Mahasiswa, Target Pasar Signifikan

Ada gula ada semut, ada komunitas mahasiswa ada penjual. Karena para penjual tahu mahasiswa masa kini suka belanja jadi para penjual mendekat ke komunitas mahasiswa agar dapat menjual sebanyak mungkin. Sebuah data rilisan hasil survei Bank Indonesia dan UPN Yogyakarta pada tahun 2008 cukup mengejutkan. Diasumsikan bahwa potensi pengeluaran mahasiswa Yogyakarta dalam satu bulan mendekati RP. 383,5 Milyar rupiah. Dan yang lebih mengejutkan diketahui porsi pembelanjaan uang tersebut lebih banyak dihabiskan untuk sektor hiburan dan makan-minum, bukan untuk pembelian buku pelajaran atau keperluan kuliah. Mahasiswa yang sudah luntur pola pikir kritisnya ini makin nestapa dibombardir janji manis konsumerisme. Mahasiswa adalah agen pemasaran terhebat. Sebab ketika satu mahasiswa mengkonsumsi produk tertentu, mahasiswa lainnya akan mengikuti atas nama trend dan gengsi. Mahasiswa adalah target pasar paling signifikan dan menjanjikan. Jadi jangan heran bila disekeliling perguruan tinggi lebih menjamur sektor komersial seperti toko belanja, rumah makan, atau mal ketimbang toko buku. Apabila yang menguasai sektor komersial seputar komunitas mahasiswa ini para pengusaha dan pedagang kecil mungkin tidak jadi masalah, karena mikro ekonomi berarti kehidupan rakyat kecil. Namun perkaranya adalah penguasa sektor komersial, para lintah yang menghisap darah mahasiswa ini adalah usaha-usaha besar, franchise yang dikuasai pemodal kuat yang entah Dia berada dimana. Tentu semua laba kawasan komersial ini terpusat hanya pada pemodal itu. Sementara beberapa warga lokal sekitar komunitas mahasiswa yang bermodal kecil berusaha mengais remah laba dengan berjualan seadanya. Dengan mendorong gerobak misalnya. Itupun kalau tidak terbentur kebijakan universitas yang melarang pedagang kaki lima berkeliaran dilingkungan kampus yang katanya “takut mengganggu proses belajar.” Jadi, mahasiswa sedang sibuk menikmati hari dalam gelimang konsumerisme. Mana sempat belajar kritis kala mahasiswa sedang bersenang di kedai kopi sambil update status galau melalui akses Wi-Fi gratis. Manalah mahasiswa peduli akan tanggung jawabnya sebagai calon cendekiawan ketika Dia sibuk makan di lesehan dan main futsal. Apakah Kita masih bisa berharap mahasiswa memperoleh lagi kekritisannya ditengah euforia massa konsumerisme ini?

 

 

 

Keberanian Mendekonstruksi Tradisi

Apa yang dibutuhkan untuk mengurai benang kusut permasalahan mahasiswa yang mati insting kritisnya ini? Saatnya mengevaluasi diri lantas mendekonstruksi pola pikir. Tolak mekanisme-mekanisme yang memproduksi mahasiswa mesin. Biasakan berpikir kritis, jangan mau diam bila melihat sebuah ketidakberesan. Yang paling utama. Segera rubah pola pikir “Aku berbelanja maka Aku ada.” Sebab budaya mengkonsumsi membuat malas dan enggan belajar serta berusaha. Lagipula jika mahasiswanya yang calon intelek dan cendekiawan saja suka mengkonsumsi lalu bagimana masyarakat awamnya? Akan lebih mengkonsumsi. Butuh keberanian besar memang untuk merombak sistem tradisi dan mekanisme yang membatasi potensi kritisisme mahasiswa ini. Tapi masih mungkin dilakukan selama ada keinginan. Agar mahasiswa kembali ke jalurnya yang benar sebagai calon intelektual dan cendekiawan. Bukan sebagai target pasar signifikan dan mesin intelektual rusak. Bila mahasiswa masih belum mau mendekonstruksi pola pikir dewasa ini, maka patutlah Kita lontarkan pertanyaan besar pada kalangan mahasiswa ini: Mahasiswa, dimana mahamu? []

 

 

 

 

ARIS SETYAWAN

 

Yogyakarta, 26 Februari 2011

 

( created and sent from my friend’s computer. For more word and shit log on to http://www.arisgrungies.multiply.com)

Advertisements