Tags

, , , , , , , ,

“…We finally found a way, to consume boredom everyday…

…We found expression for our hate, Without any kind of consequence
Who needs patience anymore, When all our pleasure’s virtual…”

(Manic Street Preachers – A Billion Balconies Facing The Sun)

“You don’t get to 500 million friends without making a few enemies.”

(The Social Network)

Beberapa hari yang lalu (akhirnya) Saya menonton film The Social Network. Film dengan sinematografi keren dimana angle-angle kamera dan gambarnya memanjakan mata. Scoring dan musik latarnya juga memukau karena diramu oleh dedengkot band industrial Nine Inch Nails sang pangeran musik suram Michael Trent Reznor. Tapi yang terpenting adalah cerita yang dibangun dalam film ini memang menarik karena menceritakan terbentuknya sebuah situs jejaring pertemanan terpopuler dekade ini yakni Facebook. Di film ini Kita disuguhi kisah tentang perjalanan Mark Zuckerberg pendiri Facebook dalam mengembangkan situs itu mulai dari sebuah situs kecil iseng hingga menjadi sebuah situs yang paling banyak dikunjungi dan paling menguntungkan dengan kekayaan Zuckerberg pada tahun 2010 mencapai angka USD 6,8 miliar. Jadi hasil perjuangan pria muda amerika itu akhirnya melahirkan situs pertemanan yang paling banyak Kita kunjungi dalam hidup Kita dewasa ini, entah kalangan menengah keatas maupun menengah kebawah, update status Facebook dan saling komentar adalah sebuah keniscayaan. Wajib selayaknya ibadah 5 waktu. Ada beberapa yang memanfaatkan situs ini untuk mencari dan berbagi info, ada yang mencari pacar, ada yang Cuma sekedar ikut-ikutan teman, bahkan ada yang mencari perawan. Intinya Facebook era sekarang ini adalah hal yang penting dan masuk golongan primer dalam hidup, ini dari mata Kaum menengah ke atas dan menengah ke bawah. Yang kemudian perlu dan menarik untuk diketahui adalah: bagaimanakah Facebook di mata Kaum yang benar-benar berada dibawah?

Perkenalkan Abraham Maslow. Bapak Psikologi Humanistik asal Amerika yang terkenal dengan konsep “Hirarki Kebutuhan Manusia.” Jadi dalam hirarki berupa pyramid berisi tingkatan kebutuhan manusia tersebut Maslow menjelaskan 5 kebutuhan dasar manusia yang semuanya berkesinambungan dari pyramid paling bawah menuju puncak teratas. 5 kebutuhan dasar itu adalah sebagai berikut:

1. Kebutuhan fisiologis: makan, minum, tidur, seks, buang hajat. Pada dasarnya kebutuhan untuk bertahan hidup.
2. Kebutuhan keamanan: rasa aman dalam lingkungannya baik dari kejahatan maupun bahaya.
3. Kebutuhan kasih Sayang: cinta dari keluarga atau orang dekat.
4. Kebutuhan percaya diri: keinginan untuk diakui yang paling hebat.
5. Kebutuhan aktualisasi diri: keinginan melakukan apapun yang diinginkan.

Jadi dalam hirarki ini pada kebutuhan paling mendasar harus terpenuhi dahulu baru bisa memenuhi tingkatan diatasnya. Maka pada kaum menengah keatas dan menengah ke bawah. Mereka sudah berhasil memenuhi beberapa tingkatan dalam kebutuhan manusia itu. Bahkan mungkin bagi beberapa pihak yang beruntung dapat memenuhi puncak tertinggi kebutuhan akan aktualisasi diri dengan cara melakukan apapun yang Mereka inginkan dalam hidup. Salah satunya mungkin dengan berusaha menunjukkan eksistensi diri. Dan Facebook adalah salah satu prasarana penunjang yang cukup representatif untuk menunjukkan eksistensi diri tersebut. Karena itu Facebook begitu laris di seluruh penjuru dunia. Karena rupanya banyak manusia yang sudah terpenuhi berbagai kebutuhan mendasar dalam hidupnya dan merasa perlu memenuhi aktualisasi diri, jadilah Facebook tempat yang cukup menyenangkan untuk tujuan itu. Lalu bagaimana dengan kaum bawah? Mengacu pada hirarki Maslow diatas dimana kebutuhan dasar harus terpenuhi dulu baru bisa mencoba memenuhi tingkatan atasnya, maka kebanyakan kaum bawah ini rupanya masih berkutat di usaha memenuhi kebutuhan dasar fisiologis seperti untuk mencari makan dan minum. Mungkin tingkat tertinggi yang bisa didapat hanya pada tingkat ketiga dimana Mereka tetap bisa memenuhi kasih saying dari keluarga atau saudara. Jadi ketika kebutuhan dasar saja masih dikejar untuk dipenuhi, manalah sempat kaum bawah berpikir mengaktualisasikan diri (lewat Facebook salah satunya) bagi kaum bawah ini Facebook adalah mimpi nyata. Nyata sebab situs ini ada, mimpi sebab Mereka sukar mengaksesnya dalam kehidupan. Kaum bawah tak sempat ikut menikmati konsep Global Village yang dijelaskan Marshall McLuhan sebagai sebuah desa global dimana informasi di ujung dunia sana bisa cepat dinikmati didunia sini (lewat Facebook salah satunya). Baiklah, mungkin kaum bawah punya cara tersendiri untuk berusaha memenuhi aktualisasi diri ini. Namun mengenai Facebook tadi, bila kalangan menengah ke atas bisa menikmati kebutuhan aktualisasi diri dengan benar-benar mengakses Facebook tadi. Mengapresiasikan diri dan kebosanan tanpa adanya konsekuensi yang harus ditanggung, Maka beberapa kaum bawah yang Saya tahu malah melompati hirarki yang lebih mendasar agar dapat ikut merasakan aktualisasi diri ala Facebook tadi. Ada Saya ketahui beberapa pekerja bangunan yang jarang makan untuk bisa beli hp dan menyimpan foto cewek-cewek imut berpose senyum 3 jari dan mengaguminya sampai bosan. Yang Saya indikasikan foto itu didapat dari counter hp tempat Mereka beli hp tersebut dan para pemilik counter memperolehnya dari Facebook. Jadi berbanggalah cewek-cewek cantik yang suka mengaktualisasikan diri di Facebook sebab foto manis Kalian sedang dipelototi pekerja bangunan yang gaji perharinya dibawah rata-rata.

Lalu apa yang bisa dipelajari dari sini? Kehidupan ini bukan hanya tentang kenyamanan diri sendiri, sebab segala kebutuhan Kita mulai dari yang primer sampai sekunder bisa jadi telah tercapai. Tapi rupanya masih banyak yang diluar sana belum dapat menikmatinya. Untuk manusia yang telah mampu memenuhi kebutuhan dasar dan beberapa tingkat diatasnya hingga puncak tertinggi aktualisasi diri. Gunakan aktualisasi diri (dalam hal ini Facebook) untuk suatu yang berguna, bukan hiburan dangkal dan eskapis bertendensi konsumsi belaka. Alangkah malang nasib kaum bawah yang terus berkutat di kebutuhan dasar bertahan hidup, dan terus mengamini kata-kata dari filsuf Schopenhauer yang berbunyi “kehendak adalah hakikat manusia. Kehendak tentu saja adalah kehendak untuk hidup.” Kehendak Mereka masih untuk hidup, belum megaktualisasi diri. Sebab bagi beberapa kaum bawah yang nekad aktualisasi diri (di Facebook) ketika kebutuhan dasar belum terpenuhi (demi gengsi dan konsumsi), maka status facebook manusia nekad itu akan berbunyi: “aduh, banyak hutang nih, mana belum bayar sekolah anak, gaji enggak naik, gimana ya untuk beli beras?” hal yang mana dalam status itu dibawahnya patut dikomentari “kalau bisa update status Facebook yang primer, masak beli beras yang kebutuhan pokok saja tidak bisa?” dan akhirnya kaum bawah manusia nekad ini akan membalas komentar dibawahnya “ya gimana ya, Saya ingin berkelas seperti kalangan atas. Makanya Saya harus punya facebook biar bisa ikut gaya masa kini.” Jawaban yang eskapis, ketika sebuah media yang fungsinya harusnya menjadi ajang penyebaran informasi malah menjadi gaya hidup bertendensi konsumerisme, serta komoditas budaya. yang jadi korban adalah manusia-manusia didunia yang bercengkerama dalam genggamannya. Baik kalangan menengah keatas-kebawah, atau kaum bawah. Dalam cara yang berbeda sesuai kemampuan tentu.

SELESAI

ARIS SETYAWAN

Yogyakarta, 25 Februari 2011

(created and sent from my friend’s notebook. For more word and shit log on to http://www.arisgrungies.multiply.com )

Advertisements