Pada satu hari Saya dan teman berkelakar dan berusaha sok tahu menjadi motivator yang lebih keren dari Om Mario bros, eh Teguh. Kami membuat kata-kata motivasi Kami sendiri yang kiranya bisa dijadikan patokan dan petuah hidup yang bijak, walau semua tentu sok tahu karena rupanya Kami agak krisis identitas menganggap diri motivator handal, sesungguhnya Kami ini hanya segerombolan mahasiswa yang sedang jenuh terus menetap di Sewonland. Ok langsung saja, jika Seta membuat sebuah motivasi bernama “Life is Choice” yang diyakininya karena hidup memang adalah pilihan, tergantung Kita mau memilih jadi apa dan bagaimana. Lalu Edwin membuat kata bijak “Love is Blind” sebab desainer grafis itu percaya cinta memang buta dan kadang mematikan logika. Lantas Ending sang pria rambut panjang percaya sebuah motivasi “Do What You Want To Do” dalam hidupnya, jadi lakukan apa saja dalam hidup yang membuatmu nyaman. Sementara Danang yang baru saja patah hati bertahan dengan motivasi diri “Love is blank” sebab cinta sudah membuat pemikirannya kosong sementara waktu.

 

Lalu apa kata motivasi yang Saya pilih? Tak lain adalah “The Power of Enggak Apa-Apa.” Loh memang motivasi macam apa itu? Memang tak akan sehebat motivasi buatan Mario Teguh atau Tung Desem Waringin, tak pula mampu menyaingi Law of Attraction nya Rhonda Byrne. Sudah Saya bilang diatas bahwa ini memang kata-kata motivasi serampangan yang dibuat orang sok tahu semacam Saya dan teman Saya ini, tapi sebenarnya The Power of Enggak Apa-Apa ini Saya adopsi dari bahasa jawa Nrimo yang kurang lebih berarti menerima. Maksudnya adalah hidup Kita ini harus jadi manusia yang menerima apa yang diberikan Tuhan kepada Kita. Nrimo disini bukan berarti menyerah dan bernyanyi “Ya Sudahlah” nya Bondan Prakoso saban hari, karena lagu itu terkesan eskapis dan tidak maju. Bayangkan, “ketika mimpimu yang begitu indah, tak pernah terwujud, ya sudahlah.” Bukankah sangat eskapis kalau hanya menyerah ketika mimpi tak terwujud, akan lebih baik kalau jangan menyerah. Jadi Nrimo adalah pandangan hidup dimana Kita menerima apa yang sudah menjadi rejeki Kita, namun tak menutup kemungkinan terus berusaha agar mendapat sesuatu yang lebih dalam hidup ini. Pelajaran Nrimo Saya dapat dari kehidupan para petani di desa, dimana hidup sederhana adalah kenyamanan yang Mereka nikmati, hidup bagi Mereka bukan tentang kompleksnya peta kekuasaan atau ricuhnya demo menentang aksi World Trade Organization menguasai perekonomian dunia, sikap Nrimo para petani adalah selama padi yang ditanam tumbuh dan mampu panen pada saatnya, selama dapur masih bisa diisi kayu bakar untuk memasak. Maka terimalah anugerah itu dengan lapang dada, dan mari berusaha mendapat yang lebih baik dengan terus berusaha setiap waktu, bukan dengan cara menyerah karena mimpi tak terwujud. Mungkin konsep ini terdengar klise, tapi dengan pola pikir nrimo tadi para petani itu toh hidup nyaman-nyaman saja, walau sedang dalam tekanan. Seperti yang dijelaskan Pramoedya Ananta Toer dalam roman mahakaryanya Anak Semua Bangsa bahwa para kaum tani masa kolonial dulu hidup dalam ketertekanan karena hidup Mereka harus jadi bulan-bulanan kolonialisme kompeni dan feodalisme penguasa lokal. Namun dengan konsep nrimo tadi toh Mereka hidup dengan baik saja dan merasa harus menikmati anugerah hidup ini. Beberapa waktu lalu saat kasus bank Century sedang hangat-hangat tai kebo, Saya ngobrol dengan seorang ibu berusia 50 tahun di desa Saya. Dan apa opini Beliau tentang kasus Century adalah “wis piye wae perkoro bank iku Le sing penting Aku manut piye wae putusane Pak SBY.” (udah deh mau bagaimana juga perkara bank itu nak, yang penting Aku menurut bagaimana enaknya saja keputusan pak SBY) ibu ini tak mau berpikir bagaimana bank sekarat itu bisa dapat bail-out dari pemerintah dengan alasan dampak sistemik, bagi Beliau menerima apapun keputusan SBY yang dianggap pemimpin adalah yang terbaik. Lalu, wahai Pak SBY, tahukah kalau keputusan anda dinanti banyak orang, termasuk Ibu tua di desa Saya ini.

 

yang benar-benar menginspirasi Saya lagi tentang kata bijak The Power of Enggak Apa-Apa adalah seorang pedagang bakso keliling yang Saya jumpai di depan museum batik Yogyakarta. Setelah makan bakso nya Saya bertanya “bapak sudah lama jualan keliling?” dijawabnya “ah belum lama kok mas.” Saya balik Tanya lagi “sudah berapa tahun Pak?” lalu dijawabnya “baru 20 tahun.” Wah 20 tahun dibilang belum lama, jadi selama 20 tahun ini Bapak berjualan bakso keliling Jogja, dengan sebuah konsep Nrimo yang dipertahankannya terus sepanjang hayat. Dan walhasil dengan jualan bakso ini Bapak bilang kebutuhan keluarganya tercukupi, bahkan anak perempuannya sampai bisa kuliah di perguruan tinggi swasta di Jogja. Sejak saat itu Saya mulai berpikir tentang The Power of Enggak Apa-Apa. Hidup akan lebih bahagia selama Kita menerima apapun yang diberikan pada Kita, entah saat senang maupun sedih. Life is Choice memang bagus, namun beberapa orang kurang beruntung tak mampu memilih dalam hidup Mereka, maka Mereka akan mengimplementasikan The power of enggak apa-apa dalam hidupnya yang tidak bisa memilih itu. Coba deh terapkan The power of enggak apa-apa alias Nrimo alias Menerima alias ikhlas dalam hidup Kita, maka detil-detil kecil yang biasanya selalu Kita keluhkan dalam hidup akan terabaikan dengan tanpa disengaja sebab Kita ikhlas menerima semuanya. Lalu setelah ikhlas bisa Kita lakukan, mulailah bergerak mencari yang lebih baik dalam hidup, sebab bila Kita hanya diam dan tak berusaha maka The power of enggak apa-apa ini akan berakhir jadi kata eskapis dan menyerah bernama “Ya Sudahlah” sementara Kita tak mau kan menyerah?

 

Boleh dianggap serius boleh tidak, tapi the power of enggak apa-apa adalah buah pemikiran Kami ini yang sedang belajar berfilosofi dan menjadi teoritisi. Jadi kalaupun tulisan ini dianggap tak penting dan kurang berbobot, maka Saya terima saja dengan kata “enggak apa-apa” lalu Saya akan belajar lebih lagi agar tulisan lainnya bisa lebih berbobot lagi. Selamat merubah hidup penuh keluhan kekurangan, dan sambutlah kekuatan The power of enggak apa-apa dalam hidup agar ikhlas jadi yang pertama di hidup Anda.

 

 

 

SELESAI

 

(hhhhmmmm, Edwin, Seta, Danang, Ending. Selamat menjadi motivator sok tahu. Hahaha)

 

 

ARIS SETYAWAN

Karanganyar, 29 Desember 2010

 

 

( created and sent from my friend’s computer. For more word and shit log on to http://www.arisgrungies.multiply.com/ )

Advertisements