Disebuah kompleks pekuburan yang sepi dengan 2 ekor gagak hitam bertengger di pohon kamboja menjulang tinggi di pojok makam. Mecari sebuah pasti memburu hantu mu, ada kala Aku merasa begitu sepi dan nestapa tanpa hadirnya Kamu yang menyiramkan air penyegar bagi tubuhku yang dahaga akan cinta. Maka kala rindu sudah sedemikian rupa sampai ubun-ubun beberapa orang akan melakukan hal gila diluar nalar, abnormal dan menyebalkan hanya untuk mengecap sisa-sisa rindu yang sempat dirasa beberapa lama itu. Sedemikian akut pula rinduku sampai Aku suka bermain di kuburan gelap ini Cuma untuk mengejar hantumu, karena agaknya tak mungkin mengejar jenazahmu yang dikubur di makam ini sebab kucari di 4 penjuru arah angin dan tetap tak ada nama Nadya tertulis di batu nisannya, hal yang membuatku begidik ngeri seraya gembira setengah mati demi menyadari: ternyata Kamu belum mati, atau hidup kembali?

 

 

Yang tergila sudah lewat beberapa minggu yang lalu, kalau diingat kembali Aku malu pada hidup dan kerumunan orang yang tertawa karena Aku terus bertanya pada Mereka “dimana Nadya?” dan Mereka tertawa, Aku dituduh Schizophrenia dan berkhayal sejuta hampa serta autis sebab terus menanyakan sebuah nama yang diragukan eksistensinya oleh umat manusia. Aku membayangkan andai Nadya mati lantas Aku terus mencintainya, 2 hari berselang pasca mayatnya dikubur Aku ambil sekop pamanku yang biasa dipakai mengeruk kotoran sapi di kandangnya, kupakai menggali makam Nadya lagi, lantas kutemu tubuhmu berantakan dan membusuk separuh, dengan seringai mengerikan gigimu yang timbul sebab bibir sedikit hilang dimakan bakteri tanah, kain kafan kulepas dan rupa bugil bulatmu makin nampak, menyeramkan bagi beberapa orang, Aku tidak. Cuma tersenyum melihati mayatmu yang sudah 2 hari dikerubungi cacing dalam kubur dan kini kugali. Hah, apa Aku akan mengidap necromancia kini setelah dituduh Schizophrenia? Oh mungkin hanya egois dan arogan saja dikarenakan Aku tak rela tubuhmu dijamah malaikat kubur yang sedang melakukan interograsi padamu maka kugali kuburmu.

 

Tapi rupanya itu hanya imajinasi gilaku dalam memburu hantumu, yang membuatku sadar Kamu memang tidak mati adalah: hidupmu saja diragukan eksistensinya apalagi matimu? Bagaimana mungkin seseorang bisa dikatakan mati bila hidup saja belum pernah? Lalu bagaimana mungkin ada tubuhmu dikubur dalam tanah bila tubuhmu saja belum pernah berpijak diatas tanah semasa hidup? Sebenarnya apa sih yang menyebabkan Kamu jadi paradoks dan kontradiksi seperti ini? Toh hidup atau mati yang penting bagi manusia itu adalah bukan diperdebatkannya sebuah eksistensi, tapi lebih ke intensitas dan kredibilitas. Kita manusia akan dikenang sepanjang peradaban selama ada sesuatu yang patut dikenang, pilihannya hanya dua oleh kebaikan atau keburukan. Kamu boleh mati atau hidup terserah opini orang yang pasti kepastian dalam otak kecil atau besar dan sebentuk nurani dalam diri menjelaskan secara gamblang Kamu hidup dan tak boleh mati lagi. Karena Kamu adalah konsep parsimoni, cara ku menyederhanakan teori kompleksitas semesta, Kamu adalah afeksi dan tidak diragukan lagi menjadi candu bagi Aku yang sepi. Sebab Kamu membenci kontrasepsi untuk dipakai (kontrasepsi hanya untuk yang suka bercinta tapi takut menghasilkan keturunan katamu. Maka Kamu juga masih enggan memakainya, kenapa memakai? Bercinta saja tidak kan) Kamu paksa aku makan asam garam hidup yang harus dicari selama 23 tahun pasca Aku menerobos keluar dari perut Ibuku. Selamat bangkit kembali dalam hidup Nadya, resureksi mu ke dunia memang tak akan menjadi berita terbesar abad ini, tak akan menyaingi berita Gayus Tambunan yang keren berdasi sambil tersenyum seakan berarti “Aku kaya, kalian miskin, pelindungku kaya, negara miskin” atau melebihi popularitas berita bapak presiden yang tiap 1 x 24 rotasi bumi pasti ada beritanya di TV. Namun perlu diberitakan pada dunia dan akhirat kiranya: Nadya terlahir kembali, selamat datang di dunia Nadya.

 

 

SELESAI

(Jika Alina terus hidup dalam alam pemikiran Seno Gumira Ajidarma, bila Gwen terus digambar Andre Tanama. Lalu kenapa Nadya tak boleh terus hidup dalam sisi kreatifku yang fana? Selamat lahir kembali perempuan pintarku)

 

 

ARIS SETYAWAN

 

Yogyakarta, 18 Desember 2010

 

 

( Created and Sent from my Friend’s Computer. For more word and shit log on to http:/www.arisgrungies.multiply.com )

 

Advertisements