Tags

Saya berpikir menulis tentang kuli bangunan setelah melihat bagaimana pekerja bangunan (atau kuli bangunan bahasa populernya walau agak terkesan kasar tentu) bekerja di kawasan Kampus Saya di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. kuli bangunan terkenal sebagai pekerja kasar dan selalu digolongkan dalam kelas bawah. hal ini mengacu pada tingkat pendidikan Mereka yang notabene rendah, lalu dengan pendapatan atau gaji yang minim serta kesejahteraan nyaris nol (sebab setahu Saya memang seringnya perusahaan pelaksana proyek kebanyakan kurang memperhatikan kesejahteraan para pekerja bangunan yang bernaung dibawah kantor Mereka.) mari Kita sebut Pekerja bangunan ini tergolong dalam kaum Proletarian. istilah yang muncul pada masa kejayaan peradaban Romawi kuno dimana dibuatlah kelas-kelas dalam strata masyarakat yang tujuannya adalah sangat jelas sekali: menciptakan jurang pemisah. ada para borjuis yang hidup bergelimang harta sebagai kelas tertinggi. sementara Proletar adalah kelas terendahnya. mengacu pada istilah itu dapat Kita simpulkan pekerja bangunan jelas sekali tergolong dalam kelas Proletarian, sebab Mereka (selalu) berada di kelas terendah dalam struktur proyek. Mari Kita buat kalkulasi kasar sesuai observasi kasar pula yang Saya pernah lakukan dengan terjun sendiri ke bisnis proyek bangunan ini. ibaratkan ada pembangunan sebuah rumah bertingkat dengan tender seharga 200 Juta rupiah. sang pemborong harus membelanjakan uang itu untuk membeli berbagai bahan bangunan seperti semen, pasir, batu bata dan lain-lain, juga untuk membayar para pekerja. nah setelah dihabiskan untuk kedua hal tadi maka sisa dari uang itulah yang akan jadi laba bersih sang pemborong. lantas dengan mental kapitalisnya sang pemborong melakukan berbagai cara untuk mengeruk laba sebanyak mungkin dengan cara merubah spesifikasi bahan bangunan, misalnya dalam spesifikasi tender awal kaytu yang digunakan adalah Kayu Kamper maka untuk mengurangi biaya produksi pemborong menggantinya dengan kayu Borneo. tebal plesteran tembok dikurangi, jumlah takaran campuran semen dan pasir juga diatur se irit mungkin. dan untuk menambah keuntungan maka biaya pembayaran para pekerja bangunan harus ditekan sekecil mungkin, hal itu bisa dilakukan dengan membayar murah para pekerja tersebut. 35 ribu untuk kenek, 45 ribu untuk tukang. atau bisa dengan mempercepat waktu pekerjaan karena dengan semakin cepat selesai maka biaya pembayaran para pekerja bisa ditekan, lalu diperaslah tenaga para pekerja ini dengan jam kerja masuk jam 7 pagi dan berakhir pada jam 5 sore. kalau perlu dilemburkan sampai malam namun dengan uang tak seberapa. dengan demikian dalam jangka waktu 2 bulan saja sebuah rumah itu bisa terselesaikan dengan rapi walau sebenarnya kurang kokoh karena tak sesuai spesifikasi bahan yang dibutuhkan, para pekerja nya hampir mati kelelahan sementara pemborongnya? jangan tanya, dengan sistem penyunatan bahan bangunan serta jatah gaji para pekerja seperti itu Sang pemborong benar-benar untung besar. dalam jangka waktu dua bulan ini dari tender sebesar 200 Juta rupiah Dia bisa mendapat untuing paling tidak 60-80 juta rupiah. sementara untuk pekerjanya setelah dipotong makan dalam 2 bulan mentok-mentok nya paling cuma bisa mengumpulkan Uang 600-800 ribu rupiah. jurang yang sangat luas kan?

 

 

 

pembicaraan tentang proletar memang terus hangat sepanjang sejarah Manusia. Adam Smith bapak ekonomi paling tersohor pun sudah menjelaskan tentang adanya “Si Miskin” atau ‘Kelas Pekerja” yang akan banyak muncul di perekonomian dunia modern. lalu Karl Marx sendiri menerangkan adanya konsep “Sang Kapitalis” dan “Sang Pekerja.” pekerja bangunan sebagai proletar memang seolah tak punya daya merubah nasib mereka menjadi lebih baik, Mereka hanya mampu jadi bulan-bulanan pemborongnya yang berusaha emengeruk keuntungan sebesar-besarnya. pada Akhirnya Pekerja proletar ini hanya mampu menghibur diri Mereka dengan cara melakukan rekreasi dangkal setiap akhir peekan yang sayangnya hal tersebut justru menghabiskan uang mereka secara tak berguna. sebagai contoh tiap Sabtu gajian, begitu Mereka menerima uang maka uang tersebut akan menghilang dengan cepat secepat Mereka menerimanya. hal itu dengan alasan sebagai hiburan setelah seminggu bekerja keras, uang Mereka dipakai membeli hal-hal dangkal dan tak ada faedahnya. ketika akhir pekan berakhir maka berakhir pula uang Mereka yang artinya mereka tak punya apa-apa lagi dan harus bekerja seminggu kedepan untuk mendapat uang kembali (dan mungkin harus dihabiskan untuk foya-foya lagi minggu depan). dengan demikian tentu saja Mereka terjebak dalam lingkaran setan yang tak ada habisnya layaknya Sisifus yang dihukum dewa Yunani untuk mendorong batu besar keatas gunung hanya untuk melihat batu besar itu menggelinding kebawah lagi dan Sisifus harus mendorongnya keatas lagi. di negeri Ini banyak Sisifus malang ini, banyak yang masih muda dan tak bersekolah. para borjuis dalam strata proyek ini tak peduli pekerja kelas bawahnya mati atau terkebiri. kesejahteraan tak berarti, walau sesungguhnya tentu Mereka butuh pekerja ini untuk mengerjakan tender yang mereka terima. bunuh tapi butuh.

 

 

bagaimana dengan Kita? masih memandang pekerja bangunan sebelah mata hanya karena penampilan mereka terkesan kasar dan tak terurus? jangan sampai berpikiran dangkal seperti itu. karena tanpa pahlawan Proletar ini tak ada yang membangun negeri ini. ya, beberapa memang salah jalan dengan bertindak kasar karena didikan pekerjaan kasar ini rupanya mempengaruhi attitude Mereka, tapi ada juga para pekerja Bangunan ini yang berhati lebih mulia dari para koruptor berdasi di meja legislatif itu. jadi bila melihat ada sebuah bangunan besar bagus disekitar Anda, jangan berterima kasih pada Pemborongnya. karena Dia sedang bergelimang harta seteelah memecut punggung para kuli bangunan. tapi berterima kasih lah pada para pekerja bangunan, akrena Mereka sudah memeras keringat sampai penghabisan demi bertahan hidup dan agar bangunan yang dikerjakannya lekas selesai.

 

 

SELESAI

 

 

( catatan setelah pulang kuliah menatap para kuli bekerja di gedung baru yang dibangun di kampus, dengan muka tanpa ekspresi dan hitam terbakar matahari. seolah menanggung beban sebesar dunia, apa yang dipikirkannya mungkin adalah “akan jadi apa Aku (dan keluargaku nanti) dimasa depan?” sebuah memoar juga demi mengingat Saya pernah lebih dari 2 tahun juga menjadi kuli bangunan di Jakarta. sekarang memutuskan jadi Mahasiswa untuk meningkatkan taraf hidup. walau kenyataannya Saya tersadarkan bahwa jadi Mahasiswa disini dididik dalam lingkungan kuli juga dan dicetak hanya untuk jadi kuli di masa depan. tapi dengan format lebih rapi dan dengan embel-embel “Mahasiswa” tentunya. )

 

 

 

ARIS SETYAWAN

 

Yogyakarta, 02 Desember 2010

 

 

( Created and sent from my Campus Library’s Computer. for more word and shit log on to http://www.arisgrungies.multiply.com/ )

Advertisements