Tags

, , , , , , , , , ,

Suatu ketika setelah menempuh perjalanan luar biasa jauh dalam pengembaraan panjang mencari jati diri, seorang perempuan bernama Tari tiba di sebuah Negeri yang bernama Negeri Anjing. Tari tentu terheran-heran mengetahui nama negeri itu yang berkonotasi pada hal buruk. Sebab bukankah anjing selalu dikonotasikan buruk? Walau sama-sama makhluk Tuhan. Tidak percaya? Tiap ada orang marah-marah Mereka lebih suka mengumpat dengan menyebut nama Anjing ketimbang sapi atau kuda. Anjing dijadikan kambing hitam walau Dia bukan kambing. Dan sama-sama makhluk Tuhan. Semula Tari menduga mungkin seluruh penduduk negeri ini dikutuk menjadi anjing karena telah melakukan dosa besar. Namun ternyata dugaannya salah karena begitu memasuki pusat kotanya Tari melihat kerumunan manusia, jadi penduduk Negeri ini bukan Anjing.

 

 

Beberapa lama berselang setelah Tari jalan mengelilingi Kota dan makan siang di sebuah kedai sederhana pinggir jalan Dia memutuskan meninggalkan negeri anjing ini karena Dia tak juga menemukan jawaban kenapa negeri ini bernama negeri Anjing. Tiap orang yang ditanyanya dikota itu hanya menjawab “kalau mau tahu kenapa Negeri ini bernama negeri anjing, tunggulah sampai turun hujan.” ah jawaban yang klise menurutnya. Untuk tahu arti sebuah nama kenapa harus menunggu hujan turun? Tari tak sabar menunggu, Dia memutuskan meninggalkan negeri bernama aneh ini untuk pergi ke destinasi puncak perjalanannya: jati diri. Walau tak tahu dimana jati diri itu akan ditemukan. Saat Tari melangkahkan Kaki, tiba-tiba siang hari yang terik itu meredup. Cahaya matahari tertutup awan gelap. Cumullus Nimbus menjadi tirai raksasa bagi langit, si awan gelap penanda akan datangnya hujan. Semua orang disekitarnya berlari mencari tempat berteduh, namun Tari memutuskan berdiam diri, Dia ingin mencari ada apa di dalam hujan ini. Tiba-tiba tang

annya ditarik seorang lelaki yang setengah memaksa mengajaknya berteduh. “Kita harus berlindung saat hujan tiba. Berbahaya.” kata lelaki itu. Hal yang membuat Tari merasa aneh tentu karena menurutnya hujan hanya menurunkan air dan itu tak terlalu berbahaya bagi Kita. Namun sesuatu yang ajaib terjadi, Tari melihat dari tempat berteduhnya bahwa yang jatuh dari langit bukanlah tetes kecil air, namun sesuatu yg besar-besar. Setelah ada yang terjatuh kebumi Tari tersentak mengetahui yang jatuh itu adalah seekor Anjing. Ini adalah hujan Anjing, itulah kenapa negeri ini diberi nama hujan anjing. Karena tiap yang turun kala hujan bukan air yg cair, melainkan anjing yg padat. Karena itu berbahaya bila tak berlindung. Tari tercengang demi menatap absurdnya hujan ini yang menjatuhkan ribuan, bahkan jutaan anjing dari langit. Anjing yang jatuh berasal dari ras yang berbeda, ada yang Retriever, husky, chihuahua, bulldog, doberman. Dan semuanya tentu meregang nyawa karena jatuh dari langit dan menghantam bumi, Dalam sekejap pemandangan dihadapan Tari jadi mengerikan karena banyaknya anjing yg jatuh dalam hujan ini menghasilkan tumpukan anjing-anjing yang telah sampai dibumi. Dan tumpukannya kian tinggi. Kesemuanya mengelepar berdarah-darah. Tari kaget sebab ada seekor Anjing terpelanting dekat kakinya, badannya remuk. Tumpukan anjing kian tinggi sementara hujan tak mau berhenti. Tari lantas bertanya pada lelaki yang menariknya tadi “bagaimana mungkin bisa ada hujan anjing seperti ini?” lalu berceritalah lelaki itu:

 

 

“Dulu hujan air masih membasahi negeri ini, namun entah kenapa suatu waktu yang lalu keanehan ini bermula. Kami mulai mendapat hujan anjing ini. Yang membuat negeri ini berantakan karena tiap sehabis hujan menyisakan tumpukan mayat anjing yang bila dibiarkan akan membusuk dan menyebabkan penyakit mematikan. Lalu pemerintah negeri sampai harus membentuk badan khusus dalam kabinet negeri anjing bersatu yang bernama kementerian urusan anjing. Tugas pokoknya adalah melakukan investigasi kenapa bisa turun hujan anjing di negeri ini, lalu direkrutlah ilmuwan terhebat dari berbagai penjuru negeri untuk menyelidiki bagaimana fenomena ini bisa terjadi. Dan hasilnya nihil, mereka tak menemukan apapun. Anjing seolah muncul secara tiba-tiba dari balik awan tanpa bisa dijelaskan secara hipotesa. Lalu tugas lain departemen urusan anjing adalah membersihkan tumpukan mayat anjing yang selalu meninggi pasca hujan. Semula pemerintah bingung akan dibuang kemana mayat anjing berjumlah jutaan itu, namun akhirnya departemen urusan anjing bekerja sama dengan perusahaan pemasok listrik menemukan cara jitu yakni dengan membakar tumpukan mayat itu untuk menghasilkan energi yang dapat memutar turbin dan jadilah negeri ini punya Pembangkit Listrik Tenaga Anjing (PLTA) pertama di dunia. Lambat laun Kami penduduk negeri jadi terbiasa dengan hujan anjing. Dan dari yang tadinya kami anggap bencana kini jadi anugerah. Walau Kami juga tanpa henti bertanya kenapa Tuhan memberi kami hujan anjing. Mungkin ini teguran agar Kami berhenti mengumpat dengan menyebut nama anjing, asu, dog, atau apalah karena itu dianggap diskriminasi. Atau ini cara Tuhan membuat satire agar Kami sadar bahwa hidup Kami tidak memanusiakan manusia, tapi meng-anjingkan manusia. Karena negeri ini bertingkah laksana anjing dimana pemimpinnya mencuri daging terbaik dari kulkas devisa negara, penegak hukumnya suka menjilat agar dapat jatah daging juga demi anak istri. Sementara penduduk sipilnya saling terkam dan cakar demi memperebutkan tulang dan remah sisa. Bahkan dalam hal bercinta penduduk negeri ini gemar mengumbar birahi. Melakukan penetrasi atau orgy walau diberbagai lokasi. Entah dirumah, sekolah, kamar kost atau penginapan. Bahkan diterminal dengan tanpa canggung. Bukankah anjing bisa kawin dimana saja tanpa malu? Loh, tapi penduduk negeri ini manusia ya? Atau bukan? Mungkinkah ini ejekan Tuhan pada Kita manusia? Entah, Penduduk negeri ini masih bertanya.”

 

 

tak beberapa lama kemudian hujan reda, Tari menahan muntah karena isi perutnya memaksa keluar. Itu karena Dia melihat disekelilingnya bertebaran mayat anjing bertumpuk tinggi dengan darah mengalir kesana kemari. Tari begidik ngeri membayangkan “kenapa ada fenomena semacam ini, dan bagaimana mungkin penduduk negeri ini bisa tahan tiap datang hujan.” tetapi dengan pertimbangan cerita lelaki tadi, Tari menyimpulkan: ah tentu saja tiap penduduk negeri ini tahan, karena bukankah Mereka sudah terbiasa hidup layaknya anjing dalam keseharian. Jadi mungkin tak ada rasa bersalah dan tak peduli bila Tuhan menurunkan hujan anjing sebagai sindiran, sebab ternyata seluruh penduduk negeri ini sudah hidup dengan melupakan rasa kemanusiaan dan lebih memilih rasa ke-anjingan sebagai pedoman hidup Mereka. Tari walau dengan sejuta Tanya memilih tak mau peduli dan pergi dari negeri anjing ini, pergi meneruskan perjalanannya mencari jati diri.

 

SELESAI.

( bukan bermaksud mendiskriminasikan Anjing, cerita ini hanya fiksi semata. Tidak ada seekor anjing pun terluka selama penulisan cerpen ini. Hanya ajakan berpikir: Kita ini manusia atau anjing? Karena seringnya Kita lebih bersifat anjing daripada manusia.)

 

 

ARIS SETYAWAN

Yogyakarta, 24 November 2010

 

( created and sent from my N-Gage old phone. For more word and shit log on to http://www.arisgrungies.multiply.com/ )

Advertisements