Tags

, , , , , , , ,

Suatu hari Kamu berkata padaku “ceritakan Aku tentang Bunga” maka Aku bercerita dengan segala keterbatasan pengetahuanku. Jadi inilah jawabku: bagaimana jika Kamu saja yang jadi Bunga itu? Karena Kamu cocok diperumpamakan sebagai Bunga. Sebab Bunga menarik banyak mahkluk mendekat padanya, kumbang, lebah, dan lainnya untuk menghisap sarinya. Sementara manusia terpikat keindahan Bunga dan ikut mendekat untuk mengagumi. Begitupun Kamu menarik semesta mendekat mengagumimu, luar maupun dalam. Ibaratkan luarnya adalah kelopak bunga warna-warni nan hampir mejikuhibiniu itu adalah penampilan luarmu yang anggun, sedangkan sari madumu yang dimaksud adalah pemikiranmu, paradigma mu dalam memandang dunia yang berbeda dari orang kebanyakan. Maka ijinkan Aku lebih mengagumi sari madu pemikiranmu itu ketimbang hanya kelopak luarmu, karena caramu mempertanyakan dunia lebih menarik bagiku melebihi ketertarikan mata pada kelopak berwarna.

 

 

Kamu tersenyum saat mendengar jawabanku itu dan memperumpamakan Kamu sebagai Bunga. Lalu kamu bertanya “seandainya Aku adalah Bunga, lalu Bunga jenis apakah Aku ini?” adalah sebuah pertanyaan yang sulit untukku menjawab jadi seperti apakah Kamu bila menjadi bunga. Karena jenis Bunga ini sangat banyak bila Kita klasifikasikan dari kerajaan, ordo, fillum atau genus nya. Aku harus mempelajari biologi dulu untuk itu, sementara Aku tak punya waktu. Ah lagi-lagi kujawab saja dengan asumsi pribadi. Sebab Aku kebingungan, apa iya Kamu kuandaikan sebagai Bunga Raflesia Arnoldi? Yang menebar bau busuk namun bau busuknya tersebut justru menarik perhatian banyak orang untuk mendekat melihatnya. Atau Kamu serupa Bunga Nepenthes yang menjadi karnivora dan bertahan hidup dengan membuat jebakan, perangkap maut yang menarik serangga masuk dalam kantongnya lalu membunuh perlahan dengan cara menghisap sari tubuh. Ah tak layak Kamu kuibaratkan dua Bunga tersebut, karena Kamu indah ada baiknya kuibaratkan teratai, atau krisan, atau yang lebih langka? Edelwis yang hanya tumbuh dipuncak tertinggi gunung-gunung bumi. Atau anggrek yang jadi kegemaran banyak orang sebab langka dan indah pula, atau Anthurium yang sempat jadi idola hingga harganya ratusan juta walau ternyata sekarang tak terdengar gaungnya lagi karena rupanya Anthurium hanya jadi komoditas perputaran uang bagi para pebisnis culas. Aku tak mampu mendeskripsikan secara spesifik bunga jenis apa Kamu itu. Karena Kamu memang paradoks, susah di klasifikasikan. Kamu mendistraksiku terus bertanya, berfilosofi. Kamu bahkan membuat Aku meragukan Tuhan, entah. Bukan ragu mungkin, hanya bertanya maksudku. Karena Tuhan tentu saja sebuah Dzat yang selalu patut dipertanyakan, karena Tuhan amat Transenden. Dan dengan hakikat Kita manusia yang selalu tak mau terima dan terus bertanya serta berfilosofi, Aku bertanya: bila memang Tuhan selalu menciptakan segalanya sempurna, serta simetris tanpa ada kesalahan apapun dalam seluruh maha karya ciptaan NYA. Lalu mengapa Dia salah menempatkan salah satu bidadarinya yang harusnya berada di surga justru berada di bumi. Itu adalah Kamu. Jadi Aku bertanya, kenapa Kamu bisa salah Tuhan? Atau Dia memang sengaja menempatkan Kamu di bumi agar keseluruhan makhluknya tahu inilah yang akan kalian temui disurga NYA nanti. Keindahan. Maka berbuat baiklah kalian semua wahai makhluk ciptaan Tuhan agar Kalian semua nanti masuk surga dan bertemu makhluk indah seperti Kamu. Kamu adalah barang display yang dipajang didepan toko agar pengunjung tahu didalamnya ada lebih banyak keindahan serupa itu.

 

 

Kamu tersenyum lagi mendengar jawabanku itu. Hanya tersenyum, ah Aku tak bisa menjelaskan Bunga semacam apa Kamu ini. Tapi mari Kita permudah saja dengan berkata Kamu adalah “Bunga Filosofi” sementara Aku adalah “tanda Tanya” kamu adalah pertanyaan yang minta dijawab, sementara Aku adalah penanya yang membutuhkan jawaban. Kamu adalah teka teki, dan Aku orang yang berusaha memecahkan teka-teki kerumitan dirimu. Kamu adalah samudera terdalam, sedang Aku penyelam yang berusaha mendatangi dasar terdalam samudera itu. Kamu adalah Bunga yang tadinya mengajak berfilosofi namun meninggalkanku dengan sejuta pertanyaan tak terjawab hingga kini. Pertanyaan itu adalah: kemana Kamu menghilang Bunga Filosofi? Kapan Kita memulai sesi Tanya jawab Kita akan segala sesuatu yang orang lain belum tentu mau membicarakan hal tersebut?”

 

 

SELESAI

( tak perlu dianggap terlalu serius kawan. Nikmati saja kegalauan pemikiran Saya ini tanpa perlu bertanya “ini sebenarnya tentang apa sih?” karena bertanya memang sudah menjadi sifat Kita manusia, namun baiknya ada beberapa yang tak perlu dipertanyakan dan nikmati saja hal itu sebagai misteri. Seperti tulisan ini Kita nikmati saja tanpa bertanya apa atau siapa)

 

 

 

ARIS SETYAWAN

Yogyakarta, 21 November 2010

 

( created and sent from my friend’s notebook. For more words and shit log on to http://www.arisgrungies.multiply.com/ )

Advertisements