belum tahu apa itu hedonisme? berkenalanlah dengannya terlebih dahulu, namun disarankan cukup kenal saja dan kalau bisa jangan sampai berteman akrab dengannya. hedonisme berasal dari Kata dalam bahasa Yunani “Hedone” yang artinya adalah “kesenangan” atau “kenikmatan.” Maka hedonisme adalah pandangan hidup dimana bersenang-senang adalah hal utama. Kalian sudah berkawan akrab dengan hedonisme? atau belum tahu indikasinya apa Saya sudah berkawan dengannya. maka telaah lah gaya hidup Kita agar mengetahui seberapa dekat perkawanan Kita dengan hedonisme. bila Kita berfoya-foya beli segala tanpa ada guna hanya demi gengsi belaka, bila Kita lebih memikir bentuk tubuh mungil ketimbang kecerdasan pola pikir, ketika Kita lebih suka memaksa birahi menyenangkan tubuh ini ketimbang membahagiakan jiwa dan nurani. maka selamat, Kita sudah berkawan akrab dengan Hedonisme.

 

 

tidakkah Kita tahu bahwasannya Kita hanyalah korban. sesungguhnya hedonisme adalah anak emas dari sistem kapitalisme dimana salah satu tujuan utama para kapitalis ya mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. maka para kapitalis harus membuat Kita sebagai konsumen menjadi hedonis, karena dengan Kita menjadi hedonis maka Kita tak akan pernah berpikir dua kali untuk membeli produk yang Mereka hasilkan. tak perduli berguna atau tidak, inti dari hedonisme adalah beli dan beli sesuatu yang belum tentu ada faedahnya. hanya demi prestise misalnya atau demi memuaskan nafsu berbelanja. para kapitalis paham betul sifat hedonisme, lalu Kita yang sudah hedonis dimanjakan oleh mereka. dibuatlah segala pembenaran bahwa apa yang Kita lakukan sebagai hedonis adalah demi kebaikan hidup Kita, padahal semuanya ya demi satu tujuan utama: agar produk Mereka para kapitalis laku keras dibeli Kita para hedonis. mengacu pada teori “Sign” alias “Pencitraan” yang dijelaskan Bapak Postmodernisme Jean Baudrillard dalam bukunya “Masyarakat Konsumsi.” Maka Sign alias pencitraan adalah senjata pilihan kapitalis dalam mencuci otak Kita. dengan dalil “pencitraan lebih penting daripada kegunaan.” para kapitalis terus membuat propaganda agar paradigma Kita percaya kalau pencitraan lebih penting ketimbang kegunaan. dikaitkan dengan gaya hidup terkini hedonisme, kombinasi tepat cuci otak dan hedonisme itu menghasilkan Kita, manusia robot yang mudah diperintah untuk membeli segala sesuatu hanya berdasarkan pencitraan/gengsi dan bukan berdasarkan nilai manfaat. Kita minum alkohol, Kita membeli minuman keras dalam jumlah yang banyak. namun apa esensi Kita membeli dan mengkonsumsi minuman keras tersebut? andai Kita tinggal di Rusia maka kegunaan utamanya adalah menghangatkan badan sebab disana udara dingin dan bersalju, namun di Indonesia yang tropis apa tepat alasan menghangatkan tubuh jadi pembenaran? bukan bermaksud melarang minum minuman keras karena itu hak setiap individu akan apa yang Mereka konsumsi. cuma sekedar pengingat bahwa ayo Kita tahu alasan kenapa Kita melakukan sesuatu. produsen minuman keras mengiklankan pesan janji surga bagi siapa yang mengkonsumsi produk Mereka. belilah surga ini, lantas Kita percaya dan membelinya. dengan uang yang tak sedikit tentu karena industri minuman keras adalah industri besar dengan omset milyaran dollar per tahun. lalu bisakah Kita berpikir bahwa kala Kita terbang melayang dalam nuansa alkoholik yang kadang menghilangkan akal sehat, uang Kita yang begitu banyak mengalir ke kantong-kantong para pemegang saham perusahaan minuman keras dalam pembagian Dividen tahunan mereka. istilah gampangnya adalah “Kita mabuk, mereka kaya.”

 

 

kenikmatan seksualitas, topik menarik yang perlu Kita bahas juga sebab Dia adalah salah satu bentuk hedonisme yang cukup jadi perhatian utama juga untuk dieksploitasi Kapitalis. ya, seksualitas dan tubuh adalah hal wajar. normal sebab Kita semua memilikinya. namun semuanya menjadi hedonis kala merawat tubuh adalah tujuan utama hidup. apa yang dijelaskan Michel Foucault didalam bukunya “The History Of Sexuality” tentang bagaimana tubuh harus dibebaskan agar bisa dieksploitasi. lagi-lagi para kapitalis membuat propaganda yang bunyinya adalah “tubuh Kita harus dibuat bahagia, harus dirawat agar menarik.” ada korelasinya juga sistem mengutamakan tubuh ini dengan politik pencitraan yang sudah Kita bahas diatas tadi. karena tujuan utama merawat tubuh adalah agar Kita bisa membuat pencitraan diri sebagai yang terindah. lagi-lagi kapitalis tahu perihal itu lebih baik dari Kita. maka dicucilah otak Kita agar percaya merawat tubuh lebih penting daripada ketenangan jiwa. lalu mulailah Kita beli segala yang bisa merawat tubuh. produk kecantikan, minyak wangi, baju dan tas juga sepatu mode kelas dunia. dan lain sebagainya demi pemuasan nafsu hedonistik dalam merawat tubuh agar timbul pencitraan indah tentang diri Kita.

 

 

lalu apa moral cerita yang mampu Kita pelajari disini? bahwa mari membeli dan melakukan sesuatu berdasarkan nilai guna, bukan nilai tanda. pelajari dulu apa kegunaan dari kegiatan yang Kita lakukan agar Kita tak jadi hantu penasaran yang cuma melakukan segalanya karena faktor ikut-ikutan, gengsi dan hal dangkal lainnya. karena dengan belajar merunut makna Kita tak akan jadi korban keganasan sistem kapitalis yang melakukan segala demi keuntungan pribadi termasuk dengan mencuci otak Kita agar jadi hedonis. bersenang-senang itu perlu agar hidup tidak sakit, tapi bila kesenangan itu berlebihan bukankah lama-kelamaan tubuh Kita juga akan sakit? ibarat makan itu perlu agar perut Kita kenyang, tapi bukankah bila makan Kita berlebihan maka perut Kita bisa meledak. namun bila Kita masih saja ngotot menjadi hedonis, hanya supaya terlihat manis dengan politik pencitraan yang diembannya. maka selamat saudara, karena Kita telah menjadi robot yang membantu membeli dagangan kapitalis agar laris manis, hingga pnudi uang mereka makin tebal. dan jatuh miskinlah Kita berkalang janji buta hedonisme, sementara para kapitalis kaya raya bergelimang harta tak peduli Kita yang sudah jatuh tertimpa tangga.

 

 

SELESAI

 

 

( baca juga “Agama Konsumsi”di http://www.facebook.com/note.php?note_id=402382735784 )

 

 

(  To Whom it may concern, belajarlah dewasa. uang yang Kita pakai berhedonisme ria belum tentu mampu Kita cari sendiri. masih minta orang tua. jadi relakah Kita bila uang yang didapat dari hasil orang tua memeras keringat Kita pakai berhedonisme ria lalu uang itu mengalir pada manusia serakah yang akhirnya semakin kaya? itulah kenapa Saya sebut Kita makin miskin, Mereka makin kaya. karena uang Kita sedikit demi sedikit mengalir memperkaya Mereka, para kapitalis. )

 

 

 

ARIS SETYAWAN

 

Yogyakarta, 5 Oktober 2010

 

 

( Created and sent from my friend’s Computer. for more word and shit log on tohttp://www.arisgrungies.multiply.com/ )

 

Advertisements