hidup manusia selalu penuh dinamika. tak akan pernah stagnan dan diam dalam satu keadaan. karena hidup Kita dinamis, jika Kita ibaratkan hidup Kita adalah sebuah mobil maka Kita ini adalah Sopirnya, kemana Kita akan membawa mobil itu ya tergantung Kita sebagai sopirnya. ibaratkan mobil hidup itu hendak menuju sebuah daerah pegunungan. dengan banyak lika-liku, kadang ada jalan menanjak dan kadang menurun tajam. seperti itulah hidup Kita yang dinamis, ada masa dimana Kita naik, dan ada masa Kita turun. bahkan bukan tak mungkin juga Kita terpuruk, itu adalah saat Dimana mesin mobil Kita tiba-tiba mengalami kerusakan hingga mogok. saat itulah Kita butuh montir untuk memperbaiki mesin Kita tersebut. dan lagi-lagi jika Kita ibaratkan mesin yang rusak tadi adalah penganalogian dari hidup Kita yang terpuruk. maka Kita butuh Sang Maha Montir yang benar-benar tahu seluk beluk mesin hidup Kita: Tuhan.

 

Kita memang selalu Gumanti dalam hidup ini. saat senang Kita Gumanti, saat sedih pun Kita Gumanti. terlebih ketika hidup Kita terpuruk maka Gumanti akan sangat berarti bagi Kita. Gumanti adalah singkatan dari bahasa jawa Gumantung Dumatheng Gusti yang bila diterjemahkan secara harfiah dalam bahasa Indonesia kurang lebih berarti “Bergantung Kepada Tuhan.” entah Tuhan apa yang Kita percaya. karena sepanjang peradaban besar manusia Tuhan memang sudah menjadi begitu banyak nama dan masing-masing manusia mengagungkan Tuhannya masing-masing. namun  sebanyak apapun nama Tuhan tersebut, keseluruhan penganut agama pasti Gumanti, bergantung pada Tuhannya dalam segala aspek, baik yang primer maupun sekunder. krusial maupun kolateral. karena Tuhan adalah pengisi celah kosong. Tuhan adalah sesuatu yang Maha Transenden dan terus Kita kejar eksistensinya. oh bagi mreka yang Atheis sekalipun Ketika Mereka ditanya “apa Kamu percaya Tuhan?” lalu Dia menjawab “tidak.” maka sebenarnya dengan menjawab tidak tersebut Dia sedang mengakui keberadaan Tuhan, itu jika mengacu pada teori “Realitas” yang dijelaskan dosen filsafat Saya.  lain pula kaum Agnostik yang dengan sombong tak mau menganut satu agama pun namun Mereka mengakui keberadaan Tuhan. intinya adalah, secongak apapun Kita. sebodoh apapun, atau secerdas apapun Kita. maka dalam lubuk hati Kita yang paling dalam Kita memang selalu merindukan Tuhan, entah Tuhan macam apa yang Kita percaya itu. layaknya seorang ahli fisika sombong yang dengan kecerdasan pemikirannya berusaha menghitung mundur untuk mengetahui asal mula penciptaan semesta. namun Ketika semakin mendekati titik nol penciptaan tiba-tiba semua perhitungannya jadi berantakan dan Dia tak mampu menemukan titik nol semesta. maka dengan terpaksa sang ilmuwan menjadi fatalis dan menegaskan “saat itulah kuasa Tuhan mengambil alih. atau Ketika Albert Einstein berkata “Tuhan tak bermain dadu dengan alam semesta.” sesuatu yang patut Kita percaya juga karena menurut teori dentuman besar semesta ini diciptakan pasca terjadinya sebuah ledakan besar dan bila saja dalam penyebaran segala konstelasi planet dan isi jagad raya ada yang melenceng sedikit saja maka akan terjadi kehancuran. saat itulah Tuhan berperan mengatur segala kesimetrisan dan ketepatan letak isi semesta ini.

 

Manusia butuh cara merepresentasikan wujud kerinduannya pada Sang Pencipta. maka terjadilah agama. mereka butuh media untuk menyampaikan maksud dan keinginan maka hadirlah Doa. dan manusia berusaha menggambarkan keagungan Tuhannya agar orang lain bisa mengerti Tuhan yang mereka percaya. maka Manusia mulai menggambar Tuhan nya. Karen Armstrong seorang akademisi Teologi asal Oxford University dalam bukunya “Sejarah Tuhan” mengatakan bahwa “manusia sejak awal mula peradaban yang mengenal dewa-dewa berjumlah banyak, hingga di masa kini ketika Agama menjadi Monoteis dan hanya ada Satu Tunggal Yang Esa. pada dasarnya semua sering melakukan kegiatan yang sama, yakni berusaha menggambarkan Tuhan mereka. dalam karya seni misalnya. mereka sedang berusaha memahami sebuah realitas yang terlalu rumit untuk dipahami oleh nalar Manusia.” karena itulah Kita memuji Tuhan dalam berbagai karya. dalam segala kemampuan Kita, dimanapun, kapanpun, dalam kondisi apapun.

 

 

moral ceritanya adalah, apapun Tuhan yang Kamu percaya. seringlah berucap Gumanti pada NYA. walaupun mobil hidupmu sedang sehat dan mampu menjelajah segala medan, bukankah dengan sering berkonsultasi dengan Montir Tuhan tersebut maka Kau sebagai sopir akan lega dan tak cemas karena tahu mesin mobil hidupmu baik-baik saja karena ditangani oleh ahlinya. terlebih ketika ternyata mesin mobil hidupmu tersebut mogok dan Kau sebagai sopir jadi terpuruk, maka saat itu pasti Kau betul-betul butuh Montir Tuhan tersebut untuk memperbaiki kerusakannya jadi hidupmu segera bisa bangkit dari keterpurukan dan melaju kencang lagi. maka ucapkan Gumanti, Gumantung Dumatheng Gusti. Bergantung kepada Tuhan. saat mesin mobilmu mogok, Kau sebagai sopir segeralah menghubungi montir, agar mesinmu segera diperbaiki. saat hidupmu sedang terpuruk, segeralah hubungi Tuhan. agar hidupmu segera diperbaiki pula.

 

 

SELESAI

 

( catatan pengingat bahwa dalam lubuk hati Kita yang paling dalam Kita memang selalu bergantung pada Tuhan. apapun Tuhan yang Kita percaya tersebut. )

 

 

ARIS SETYAWAN

 

Yogyakarta, 30 September 2010

 

 

( Created and sent from my friend’s Computer. for more word and shit please visithttp://www.arisgrungies.multiply.com/ )

 

Advertisements