Depresi.  frustasi. alienasi.  aku gila.

 

 

dengan segala kegilaan diatas Aku butuh solusi, bukan cuma argumentasi basi yang tak mampu memecahkan permasalahan. juga enggan eskapis dengan bernyanyi “Ya Sudahlah.” satu hari Nadya mati. semangatku yang tadinya membuncah tiba-tiba padam. bagaimana ini? hari-hari sebelumnya Aku punya Dia yang membakar bara semangat kala Aku lelah, juga menampar muka ku kala aku nampak seperti hendak merubah prinsipku. hari ini Dia hilang, mati. tidak hidup. dan itu secara tiba-tiba tanpa terduga. beriring sumpah serapah hati saat Nadya bertabur kamboja di tanah merah. sementara semangatku padam meninggalkan jelaga hitam. mampus, mampus. Freud tak mampu gambarkan gejala degradasi mentalku. cuma Nadya yg bisa, sementara Dia mati tertabrak lokomotif imajinasi. oh Nadya ku yang malang, Kamu cuma gadis manis yang tak pernah macam-macam serta selalu berusaha tersenyum pada Dunia yang kadang dengan kejam berusaha memperkosa eksistensimu. kenapa Kamu harus pergi secepat itu? Kamu masih belum terlalu lama menginjak dunia, diafragma mu pun baru 20 tahun merasakan oksigen bumi, bahkan labiamu belum sempat terjamah Phallus sampai ada semen masuk ke uterus untuk membentuk fetus. Aku belum sempat menghalalkan percintaan Kita. aku belum sempat mencicipimu secara intercourse. namun Tuhan Yang Maha Segala menjemputmu, Dia mengutus Israil yang mengendap lewat langit-langit kamarmu lalu mencabut nyawa lewat ubun-ubunmu. dan terpisahlah jiwamu dari ragamu Nadya. meninggalkan sebentuk raga tak berarti, karena memang tak ada gunanya kan tubuh tanpa nyawa? sebentar paling akan membusuk dan dirayapi belatung lalu berbau anyir dan dikerubungi lalat serta mikroorganisme lain. lantas para tetangga akan mengerumuni jenazahmu dan wartawan kriminal pemburu berita mengambil foto jenazahmu untuk dipajang di halaman depan koran merah dengan judul “SEORANG GADIS PERAWAN, MATI TIBA-TIBA TANPA ALASAN JELAS. DIDUGA KARENA MALAIKAT MAUT NAKSIR PADANYA HINGGA MENCABUT NYAWANYA.”

 

Kamu mati Sayang, Aku menangisi jenazahmu dengan pilu dan luka membarah di dada. Nadya, jawab tanyaku .apa Aku harus liberal saja biar total menghamburkan pemikiranku? apa baiknya Aku melepas sumpahku padamu untuk “membebaskan pemikiranku namun menjaga tubuh agar jangan sampai liberal?” apa gunanya menjaga sumpah itu kalau Kamu sang penjaga sumpah sudah tak ada di dunia. siapa yang membunuh Nadya? jenazahnya juga hilang entah kemana. burung nazar, atau gagak, atau setan pencabut nyawa yg berani menggerayangi tubuh putihnya, rambut sebahunya, juga perasaannya yg lemah. Aku harus Vendetta. membalas dendam tapi kepada siapa ya? wong pelakunya siapa juga belum ada buktinya. oh, Nad, kamu tahu aku terbiasa menenangkan pikirku secara alami. kini rasanya aku butuh bantuan stimulan. psikotropika atau alkohol. boleh tidak? loh, ada belati dikamar menggodaku berkata “pakai aku menggorok lehermu.” bagaimana ini? apa aku pakai saja agar sukma bisa menyusulmu kesana. tapi Aku takut mati, masih punya keinginan menghidupi hidup ini. Tabur bunga 7 rupa, sembari baca mantra penyelamat “matilah bosan, hidupnya tak berguna.”

 

 

sebulan sudah pasca kematianmu, ziarah di pemakaman Nadya. aku bawa bunga krisan, serta buku teka teki kegemarannya. sambil bertanya. nyamankah bawah tanah sana? apa disana ada perpustakaan yang bisa Kamu kunjungi untuk meminjam beberapa karya Stephenie Meyer. ataukah disana juga ada pedagang Siomay? Aku cemas Kamu kelaparan disana lalu mengidap Anorexia hingga tubuhmu yang sudah berpostur kecil makin kerempeng dan tidak menarik lagi. loh, awalnya Kamu memang berbadan kecil toh. namun Aku suka kok, Aku tak peduli tubuhmu tak seksi atau Kamu tak bertanktop dan bercelana mini hotpants. karena Kamu bukan tipikal perempuan postmodernitas yang terseret mode dan politik pencitraan. lalu bagaimana kabarmu dibawah sana?

 

Nadya sayang, keterbelakangan mentalku terdiagnosa karena kebosanan akut akan stagnasi kondisi. sebuah kemapanan dan keadaan yang sama memang dituduh sebagai penyebab kebosanan. dan kebosanan konon memaksa kita membunuh nyawa. karena itu jangan pernah bosan, karena itu memicu datangnya mati lebih cepat. esensi berkarat, semangat hidup melenyap. aku sekarat. laknat. apa karena aku menyetubuhi etnomusikologi, lantas Nadya mengira Aku selingkuh lalu Dia bunuh diri? motif kematianmu belum terdeteksi hingga Aku hanya mampu berasumsi. bukankah dulu Kamu setuju ketika Aku berkata “Sayang, Aku harus berpoligami. selain menikahimu Aku harus menikahi sebuah disiplin ilmu baru bernama Etnomusikologi.” dan Kamu berkata boleh, karenanya Aku kamu ku madu. Aku beristri Kamu dan juga Etnomusikologi. tapi kenapa sekarang Kamu seolah menuduhku selingkuh, lalu sakit hati, lalu memutus urat nadi, mati. Aku menangis, dalam remuk redam perasaanku, juga air mata yang terus menetes di konjugtiva. di ceruk terdalam keterpurukanku Aku berteriak: “Selamat Tinggal Nadya, matilah Kamu bersama apa yang Kamu percaya. terkubur beberapa meter dibawah tanah hingga jenazahmu dikerubungi cacing. matilah Kamu dan hiduplah Aku. selamat jalan pencinta lumba-lumba.”

 

 

SELESAI

 

 

( Sumpah serapah ketika Nadya Mati )

 

 

ARIS SETYAWAN

 

Yogyakarta, 02 Oktober 2010

 

 

( created and sent from my friend’s Computer. For more word and shit log on tohttp://www.arisgrungies.multiply.com/ )

 

Advertisements