anak sekecil itu berkelahi dengan waktu

demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu

anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu

dipaksa pecahkan karang, lemas jarimu terkepal.

(Iwan Fals – Sore, Tugu Pancoran)

 

 

Kisah yang hendak Saya sampaikan tentu tidak terjadi di Pancoran, Saya tidak sedang berada disana melainkan berada di Kota Gudeg Yogyakarta. Namun agaknya lagu legendaris Bang Iwan tersebut cukup mewakili realita bahwa masih begitu banyak anak jalanan yang terlantar di negeri ini. Dimanapun, bukan hanya di Pancoran saja. Ceritanya begini. Siang hari ketika panas menyengat dan debu-debu serta Abu vulkanik kiriman merapi mengebul. Saya yang merasa lapar lantas makan disebuah warung makan Padang. Setelah mengambil nasi Saya memilih duduk di meja terdekat, dan mulai makanlah Saya. Dengan kuah yang banyak dan sambal Ijo nya (loh ini mau nulis Antropologi dan kritik sosial atau Kuliner? Penulis ga peka nih jiwa sosialnya. Punya hati ga sih? Lagi nulis kondisi sosial kok malah nulis makanan.)

 

 

 

Oke maaf, Nurani Saya protes barusan, jadi tak perlu bahas makannya ya. Intinya adalah diwarung itu Saya melihat 3 orang anak seumuran 8-10 tahun. Yang satu perempuan, yang 2 laki-laki. Wajah mereka kusam dengan baju kotor melekat di badan, sandal jepit beda warna, yang laki-laki satunya ada bekas luka di pipi. Sementara yang satu lagi sibuk mempermainkan Gitar kecilnya. Yang perempuan sibuk makan. Semua input data yang Saya kumpulkan dari hasil Scanning singkat lewat pandangan tadi menghasilkan sebuah output data yang signifikan: logika bahwa Mereka adalah anak jalanan. Saya tertarik demi mendengar obrolan Mereka, yang perempuan agak lebih tua dan sedang menyuapkan sendok demi sendok nasi berkuah kuning dengan lauk ayam itu ke mulutnya. Sementara Dua laki-lakinya sibuk memelototi mulut sang perempuan yang sedang makan. Lalu tertawalah sang anak Perempuan (Jangan sebut Saja Bunga karena nanti dikira korban pemerkosaan) sambil berkata “Kamu pengen makan? Makanya beli! Enggak punya uang? Makanya Curi. Kalau ditangkap Polisi? Makanya lari. Kalau kepepet enggak bisa sembunyi? Nyemplung ke Kali. Enggak bisa berenang? Ya makanya mati,” dan tertawalah keempatnya. Si anak perempuan tertawa karena hanya Dia yang punya cukup uang untuk makan nasi padang siang ini. Sementara Dua anak laki-laki mentertawakan nasib Mereka yang tak bisa ikut makan. Yang keempat adalah Saya yang tertawa getir mentertawakan negeri ini yang tak mampu mengurus anak-anak nya. Hingga Mereka para generasi penerus bangsa ini sudah harus belajar bagaimana caranya menjadi manusia yang Nrimo dalam kerasnya hidup. Mereka anak sekecil itu harus berkelahi dengan waktu, cari uang, kalau tak dapat curi. Kalau ditangkap lari, saat terpepet tak mampu sembunyi nyebur ke kali. Tak bisa berenang, mati. Sebuah pedoman hidup yang mencengangkan bukan untuk anak sekecil itu?

 

 

 

Agaknya pemerintahan negeri ini menderita Amnesia Akut yang sulit disembuhkan. Atau eksklusif nya terlalu sibuk Tebar pesona, sementara Legislatif nya sibuk studi banding hingga Mereka lupa bahwa Negara punya kewajiban mengurus anak jalanan dan terlantar. Dalam pasal 34 UUD 1945 secara jelas ditegaskan bahwa anak telantar dipelihara oleh negara. Artinya, pemerintah mempunyai tanggung jawab terhadap pemeliharaan dan pembinaan anak-anak telantar, termasuk anak jalanan. Undang-Undang No 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (HAM) dan Keputusan Presiden RI No 36 tahun 1990 tentang pengesahan Convention of the Rights of Child (Konvensi tentang Hak-hak Anak berisi 31 hak anak) juga menegaskan bahwa anak-anak mempunyai hak-hak yang kurang lebih sama dengan hak-hak asasi manusia pada umumnya. Dengan demikian, mereka berhak hidup layak dan manusiawi. Namun kenyataannya hidup anak-anak jalanan ini jauh dari layak dan jumlahnya terus meningkat tiap tahun. Anak-anak ini tak sempat lagi berpikir mau beli Sneaker model terbaru, atau update status di Netbook Cina di Coffeeshop sembari menyesap Capucinno Iced. Mimpi Mereka tak terlalu tinggi kecuali mampu cari uang dengan ngamen atau mengemis dan berharap tak ditangkap penegak hukum. Dan berharap semoga tak mati karena nyebur ke kali. Adakah eksekutif yang tengah tebar pesona itu mau sejenak melihat anak-anak negaranya itu? Atau para legislatif yang sibuk studi banding (kala Merapi memuntahkan awan panas) masih bisa menilik barang sejenak fenomena sosial yang tengah terjadi ini? Adakah Kita ini masih mau menoleh barang sejenak dan berpikir bahwa ketimpangan sosial masih terjadi?

 

 

 

Seperti judul yang Saya berikan bila ada Anak jalanan, berarti ada Ibu yang melahirkan. Dan Modernisasi adalah Ibu tersebut. Kemiskinan yang dihasilkan oleh ketimpangan modernisasi. Teori-teori pembangunan dan modernisme berbicara tentang bagaimana kebangkitan sebuah negara atau bangsa dalam membangun masyarakatnya dengan titik tolak pada percepatan pertumbuhan dan pemerataan dengan bidang ekonomi sebagai dasar dari semua struktur pembangunan dalam bidang lain, seperti politik, sosial, budaya, dan pertahanan keamanan. Namun pada kenyataannya teori tersebut tak mampu diimplementasikan di Negara Kita ini. Daulat pemerataan tak mampu terlaksana dan hanya dinikmati segelintir pihak. Sementara yang tergusur buldoser modernisasi itu justru lebih banyak. Anak jalanan salah satu nya, kemiskinan yang dihasilkan modernisasi melahirkan Mereka dalam jumlah banyak karena sang Ibu serakah bernama Modernisasi tersebut tak mengenal kontrasepsi dan mungkin lupa meminum Microgynon nya tiap malam. Karena sang Ibu modernisasi itu lupa memakai kontrasepsi dan terus melakukan hubungan persenggamaan dengan Sistem Kapitalisme maka Voila, hamil lah Dia sebagai simbol kantong-kantong kemiskinan yang tersebar merata di seluruh penjuru Negara. Ketika tiba saatnya, lahirlah anak-anak terlantar yang saking banyaknya harus tidur dijalanan tersebut. Lantas jika mengacu pada teori “korelasi Ilmu” yang dijelaskan Dosen Saya yang mengatakan bahwa tiap ilmu berkorelasi, ada hukum sebab akibat. Dan tiap masalah didunia ini berkorelasi maka bedahlah masalah beserta keterkaitannya dengan masalah lain. Maka mari Kita korelasikan dan rupanya nasib anak-anak jalanan ini yang disebabkan modernisasi rupanya adalah produk yang dihasilkan oleh sistem kapitalisme yang dengan dahsyatnya dan bangga menyebut diri Mereka “Globalisasi.” Secara Struktural dapat Kita telaah sebagai berikut. Salah satu teoritis struktur adalah Talcott Parsons. Parsons berpendapat bahwa komponen struktural sistem sosial status-peran. Status merupakan hal yang merujuk pada posisi struktural sebuah sistem sosial, sementara peran adalah hal yang dilakukan dalam suatu posisi. Menurutnya, pelaku peran akan secara otomatis melakukan peranya dalam sistem sosial.

Dari pendapat Parsons dapat kita analogikan negara-negara di dunia sebagai suatu sistem sosial. Dalam hal ini terdapat pembagian status yaitu negara maju dan negara berkembang. Negara berkembang memiliki peran yakni menyediakan hasil pertanian bagi kepentingan industri negara maju. Peran tersebut dapat berjalan apabila mendapat bantuan finansial dari negara maju, sehingga negara berkembang semakin bergantung terhadap negara maju. Sementara itu, negara maju yang mendapat pasokan hasil pertanian justru menjual kembali dengan harga tinggi kepada negara berkembang setelah hasil pertanian tersebut diolah. Peran negara berkembang tersebut membuat angka konsumsi dari negara berkembang semakin tinggi sementara angka pemasukan dari negara berkembang lebih rendah. Kondisi ini membuat negara berkembang semakin terbelakang dalam hal perekonomian sehingga mereka meminjam uang dari negara maju untuk menyeimbangkan neraca anggaran mereka.

Dalam teori ini, yang ditekankan adalah terdapat kewajiban negara berkembang untuk membayar hutang sehingga membuat struktur tersebut sulit untuk diubah. Maka Negara Kita (yang dari dulu terus terkembang dan tak jua maju) yang secara struktural bergantung pada barat sang penguasa globalisasi ini jatuh dalam lingkaran setan kemerosotan. Dan menghasilkan ketimpangan sosial pula dengan lahirnya kemiskinan akbiat ketidakmerataan ekonomi. Sementara para anak jalanannya sibuk berpikir bagaimana survive. Anak rumahan nya   (ini lawan dari anak jalanan. Karena Anak rumahan tinggal dirumah bersama orang tuanya)  yang notabene memiliki akses lebih dalam banyak hal sibuk mematut diri agar jadi barat. Anak rumahan sibuk untuk mengadaptasi nilai-nilai “gaya hidup” Barat sebagai identitas modernnya. Secara kasat mata dapat dikatakan telah terjadi proses homogenisasi budaya dunia. (fastfood) dengan hanya mencontoh (akulturasi) atau melakukan “cultural borrowing” (westernisasi) dan dalam hal ini Antonio Gramsci menyimpulkan bahwa budaya Barat sangat dominan terhadap budaya di negara-negara berkembang, sehingga negara berkembang terpaksa mengadopsi budaya Barat. Inilah bedanya, walau sama-sama anak yang dilahirkan Ibu modernisasi., maka bedanya adalah Anak jalanan adalah anak cacatnya. Sementara anak rumahan anak sehatnya.

 

 

Lalu apa yang harus diperbuat? Pemerintah harus segera bangun dari tidur berkepanjangan. Bangun kembali metode terbaik agar mampu menerapkan cita-cita luhur undang-undang untuk memelihara anak jalanan. Jangan hanya sibuk membuat retorika yang orientasi utamanya demi kepentingan pribadi dan kroni. Dan juga wahai para anak rumahan yang sedang sibuk menjadi barat. Ingat, dan jangan lupakan bahwa diluar sana ada saudara Kalian yang sama-sama dilahirkan dari Ibu modernisasi. Mereka bernama anak jalanan. Yang berlari tanpa henti demi hidup dan sesuap nasi (walau nasi yang dimakan anak jalanan yang Saya lihat itu sepiring ding bukan sesuap.) Mereka ini anak jalanan hanya mampu mengamen di lampu merah ketika Sang Eksekutif berada dalam RI 1 sembari dikawal kawanan voorijder nya yang garang. Mereka anak Jalanan yang dilahirkan Ibu Modernisasi.

 

 

SELESAI

 

 

( Catatan ketika Melihat 3 anak jalanan makan dalam warung Padang di dekat kampus UGM)

 

 

 

ARIS SETYAWAN

Yogyakarta, 01 November 2010

 

( Created and sent from my friend’s Notebook. For more word and shit log on tohttp://www.arisgrungies.multiply.com/ )

 

Advertisements