Tags

, , ,

Dibawa bsk jm 15.00

1. Beng2 2 setengah bungkus.
2. Biskuat 2 stgh bgks.
3. Aqua botol 1.. 1 stgh liter.
4. Permen 1 bji bbs.
5. Camilan kesukaanmu msg2.
6. Roti 1 bbs.
7. Menu buka puasa plh sndri.
8. Rkok 5 btg beda merk.
9. Ceceh 4950
10. Kopi hangat 1.

Nb : pake bju item.

1. Lalat sepasang jntn betina.
2. Kdok wrna merah 1.
3. Minyak kyu pth cap baigon.

Sms dari teman seangkatan memberitahukan tentang apa Saja yg harus dibawa untuk ospek besok. Harus dicari sampai dapat kalau tak mau kena hukum senior. Ospek, atau apapun istilahnya ditempat Kalian adalah bagaikan sebuah vonis mati yg tak bisa ditolak lagi bahkan para dosen dan rektor pun selaku presiden tak mampu memberi Grasi atau remisi untuk menganulir vonis mati para Algojo/senior tersebut. Dalam hal membohongi khalayak luas, Ospek sama lihainya dengan globalisasi yg dalihnya untuk kesejahteraan semua namun kenyataannya hanya menghasilkan kesengsaraan. Karena ospek yg didaulat menjadi ajang pengenalan lingkungan belajar kampus bagi mahasiswa baru ternyata malah jadi kegiatan eksekusi perploncoan dari senior kepada yunior. Bukankah sudah jadi rahasia umum jika dalam ospek diseluruh negeri terjadi banyak tindak kekerasan yg bahkan menyebabkan kematian. Hal yang mana membuat Kita patut mempertanyakan apakah ada korelasinya antara tindakan kekerasan dan kecerdasan pemikiran atau intelektualitas? Saya belum menemu literatur yg menjelaskan keduanya ada keterkaitan, kalau ada yg ketemu kasih tahu Saya. Karena seyogyanya kuliah adalah tentang urusan mempertajam pola pikir dan pemikiran agar menjadi calon intelektual yg mengurai sebuah permasalahan secara ilmiah dan tidak serampangan, bukan tentang kaderisasi militerisme ala tipikal ospek Indonesia. Jadi Kita perlu menggugat metode ospek di perguruan tinggi Indonesia.

Johann Galtung, seorang Kriminolog Asal Norwegia menjelaskan sebuah teori yg bernama “Kekerasan Struktural.” Kekerasan yang bukan hanya berasal dari niatan personal satu pihak, tapi dilakukan karena telah terbentuk sejak lama dalam satu struktur sosial tertentu. Jadi kekerasan dalam ospek dilakukan oleh para senior karena tindak kekerasan itu sudah ada dan mendarah daging dilingkungan itu, maka Para senior menjustifikasi kelakuan Mereka dengan dalih “sebuah tradisi yg sudah mengakar disini.” dan padahal kalau Kita runut kebelakang, ospek itu warisan Soeharto. Presiden 30 tahun lebih itu amat getol mempraktekkan kekerasan dalam pemerintahannya mulai dari tindakan TNI sebagai pasukan penjaganya , Petrus (penembak misterius), penculikan para aktivis. Dll. Bagaimana mungkin mahasiswa yg mengaku sebagai seorang “freedom fighter,” yg membenci Soeharto yg Mereka anggap “totalitarian” dan militer, namun kenyataannya mengimplementasikan perilaku militer dalam ospek. Bukankah ini namanya “Maling teriak Maling?”

lebih jauh lagi tentang ospek yg sudah menjadi tradisi adalah juga mengatas namakan “Vendetta” alias balas dendam. Para senior menghajar yunior habis-habisan sebagai balas dendam karena dulu Mereka juga dihajar kakak angkatannya. Dengan kata lain Sebuah pendidikan dini teruntuk Mahasiswa baru yg berbunyi “balas dendam tak harus dilakukan pada pihak yg sudah menganiayamu. Kalau Kamu tak mampu membalas pada pihak penganiaya, Kamu boleh melampiaskannya pada pihak lain yg lebih lemah. maka Kalian dibolehkan menghajar para yunior kelak sebagai balas dendam atas tindakan Kami pada Kalian, hukum seberatnya atas kesalahan yg tidak jelas apa.” Padahal menurut Thorndike seorang ahli Psikologi pembelajaran mengatakan bahwa “hukuman tidaklah efektif untuk meniadakan perilaku tertentu.” Begitu pula hukuman pada ospek tidak akan efektif merubah perilaku mahasiswa. Namun sudah terlanjur dilakukan hingga sekarang praktek feodal layaknya raja-raja masa lampau dimana yg berkuasa boleh menghukum yg lemah. Dan para senior adalah raja tersebut yg dengan mental feodalnya gemar menghukum yunior sebagai rakyat jelata.

Bagaimana kalau ternyata untuk memperbaiki kondisi negeri yg carut marut ini cukup dengan cara mudah: meluruskan lagi makna dan metode Ospek yg sudah melenceng dari konsepsi awal. Loh kok bisa? Bisa saja, karena sejatinya lingkungan kampus akan mencetak calon intelektual yg kedepannya harus menjadi tulang punggung bangsa. Kalau para kaum inteleknya saja suka kekerasan, jangan heran jika kekerasan juga meluas dimasyarakat yg kebanyakan belum se-intelek para mahasiswa itu. Semua tergantung pada pihak kampus selaku pemilik institusi bernaung, dan mahasiswanya sebagai eksekutor. Mau tidak mereformasi ospek dan menghilangkan kaderisasi militer didalamnya, dan mengharamkan kekerasan untuk merubah nasib bangsa jadi lebih baik? Atau Kita semua tetap saja jadi manusia dungu yg mempertahankan budaya barbar dalam lingkungan intelektual. Kalau pilihannya yg kedua, maka Kalian harus main ke Bekasi Timur. Dulu disebuah tembok ruko Saya melihat coretan tulisan phylox yg entah siapa pembuatnya. Yg berbunyi:

“Mahasiswa, Dimana Maha-mu?”

Sifat maha intelek Mahasiswa dipertanyakan dalam coretan dinding itu.

SELESAI

(Sebuah catatan setelah Saya memutuskan tak mau ambil pusing memikirkan bagaimana cara melengkapi daftar tugas yg dismskan teman Saya itu)

ARIS SETYAWAN

Yogyakarta, 01 September 2010.

( Created and sent from my old N-gage phone. For More words and shits please log on to http://www.arisgrungies.multiply.com )

Advertisements