Saya bingung apa tulisan ini layak disebut sebuah tesis, analisis, telaah, atau esai antropologi. Karena tentu saja Saya yg bukan Antropolog tidak berkompeten dalam bidang itu. Lagipula sumber tulisan ini bukan berdasarkan penelitian menyeluruh atau berdasarkan penyebaran angket pada responden dan hanya bersifat parsial saja berdasarkan analisa singkat penulis dengan mengamati secara langsung Pekerja Kelas Bawah. Jadi tulisan ini tidak mewakili realita yg terjadi secara keseluruhan pada pekerja kelas bawah. Maka kurang pantas jika disebut tesis atau diskursus karena metode penelitiannya tidak bisa dipertanggungjawabkan secara akademis dan ilmiah. Jadi mari Kita sebut saja tulisan ini ‘Kisah,’ karena Saya bermaksud mengkisahkan beberapa perilaku pekerja kelas bawah yg (menurut Saya) menarik untuk diketahui. Lalu siapa saja yg patut dimasukkan kategori pekerja kelas bawah ini? Agak kurang etis jika spesifik menyebut profesi. Jadi Kita permudah saja dgn menyebut pekerja kelas bawah bagi para pekerja yang memiliki ciri pekerjaan kasar, bergaji kecil, jam kerja panjang, tingkat stres tinggi, minim libur, serta kurangnya tingkat kesejahteraan.

Beberapa kalangan Pekerja kelas bawah setelah aktivitas pekerjaan mereka dgn jam kerja yg panjang, melelahkan dan kadang membuat frustasi tentu saja kemudian membutuhkan hiburan. Dan dari yg Saya amati sebagian besar Mereka ini cenderung memilih jenis hiburan yg bersifat vulgar (baca:seks) dan seks yg dimaksud tentu dlm konteks nonprokreasi/seks demi kesenangan, bukan seks prokreasi/seks untuk tujuan reproduksi. Perilaku mencari hiburan berbau sexism ini dilampiaskan dalam berbagai hal tergantung niatan masing-masing personal. Ada yg hanya ringan saja sekedar menonton film porno beramai-ramai bersama rekan kerja. Hingga yg berat seperti bersama rombongan menuju kawasan lokalisasi lokal dan melampiaskannya pada pekerja seks Komersial. Malah beberapa yg mungkin lebih berani akan lebih memilih hubungan seks dengan pasangannya (Cenderung mengarah ke Promiskuitas/seks bebas karena kebanyakan pasangan itu belum dinikahi dan masih pacaran)

kenapa kebanyakan pekerja kelas bawah memilih seks sebagai hiburan? Karena seks adalah keniscayaan. sebuah kebutuhan dasar manusia yg sudah ada secara alamiah semenjak zaman primordial, yang seperti halnya makan dan buang hajat bisa Kita lakukan begitu saja tanpa dipelajari. Dalam hal ini Bapak Psikologi Sigmund Freud dalam Karyanya ‘Teori Seks’ mengatakan bahwa seks sudah bisa Kita lakukan dengan sendirinya bahkan semenjak Kita masih bayi. Dikatakan bahwa bayi pun sudah mengalami ketertarikan akan seksualitas dan menikmatinya. Seperti ketika buang hajat sang bayi akan merasakan nikmatnya ketika terjadi gesekan akibat keluarnya tinja di saluran anal. Atau ketika menyusu pada ibunya bayi juga menikmati prosesi menyedot Asi pada payudara ibunya. Semakin dewasa perilaku seksual itu akan mencari pengalaman lain yg lebih hebat dgn sendirinya. Perilaku seperti yg dijelaskan Freud itulah yg banyak dilakukan Kaum Pekerja Kelas Bawah. Setelah pekerjaan yg melelahkan dan menguras tenaga (dan mental) Maka Mereka cenderung memilih hiburan yang mudah, tidak perlu dipelajari (karena seks sudah Kita kenal semenjak bayi dan secara alamiah bisa Kita lakukan) dan tidak perlu mikir. Mereka beranggapan pekerjaan sudah begitu berat dan pikiran juga lelah memikirkan banyak persoalan hidup, jadi untuk apa lagi diperberat dengan hiburan yang berat-berat (dalam hal ini menonton siaran berita televisi, membaca, atau apapun yg tujuannya belajar) inilah ironi dalam dunia mereka. Jenis hiburan yg mereka pilih yg ‘ogah mikir’ itu seperti menegaskan juga fatalitasnya cita-cita Mereka. Bagi Mereka hidup keseharian adalah berkutat di stagnasi bekerja diperah seperti sapi, bisa makan, lalu menghibur diri dengan tindakan vulgaris dan tingkah laku konsumtif (konsumsi adalah obat manjur untuk jiwa yang lelah, maka lelah Mereka akan terobati dengan membeli apapun yg sebenarnya tersier dan tidak mereka butuhkan) bagi Mereka inilah hidup yg pasrah harus Mereka jalani. Bagi Mereka hidup adalah tentang bertahan, bukan belajar. Selama masih bisa bertahan kenapa harus susah-susah belajar?

Lalu solusi apa yang tepat untuk Mereka? Pasti itu pertanyaan yang akan ditujukan pada Saya. Tidak ada solusi dari Saya, karena seperti biasa Saya hanyalah penganalisa dan pemberita, bukan pemberi solusi. Disini Saya hanya berusaha mengkisahkan bahwa diluar sana, diluar dunia nyaman yang Kalian jalani wahai para kaum kelas atas. Ada sebuah dunia pekerja kelas bawah dimana para makhluk didalamnya sebenarnya kelelahan bertahan hidup, namun terlalu enggan belajar untuk maju dan memperbaiki taraf hidup karena terbiasa terbuai hal-hal dangkal yang membuat malas belajar seperti perilaku vulgaris dan Konsumtif. Jadi janganlah merasa jadi makhluk paling malang sedunia hanya Karena Blackberry Kalian sedang ada gangguan, karena sesungguhnya dikalangan bawah masih ada berjuta manusia malang yang benar-benar malang.

ARIS SETYAWAN

Yogyakarta, 27 April 2010.

( sent from my old N-gage. for more shits and word please visit http://www.arisgrungies.multiply.com )

Advertisements