Jika Konsumerisme adalah sebuah Agama baru, maka Beli adalah keimanannya dengan titel wajib dilakukan atau berdosa. Maka produksi adalah kemurtadan dan harus ditinggalkan. Prosesi ibadahnya 5 Waktu wajib mengupdate status jejaring sosial, uang sedekahnya diperuntukkan membeli merk-merk ternama yg dipajang di kuil etalase pusat perbelanjaan. Blackberry adalah kitab suci agama ini yg dipegang tiap hari 24 jam sehari 7 hari seminggu agar tak tersesat ke jalan yang Salah. Kitab BB diperuntukkan berbagi wahyu yang berbunyi “beli, beli, beli….Konsumsi, konsumsi, konsumsi” kepada seluruh umat Agama ini. Jika Tuhan Agama lama bersifat Transenden dan hubungan dgn Makhluknya selalu partikular bumi dan langit, maka Tuhan Agama Konsumsi ternyata Berpijak di Bumi dan bernama ‘Pemodal Besar.’ bila Tuhan Agama lama mempunyai 99 Nama Agung maka Tuhan konsumsi malah memiliki 2.348 Nama panggilan Agung dan diantaranya adalah ‘Yang Maha Kapitalis’ ‘Yang Maha Cerdik’ serta ‘Yang Maha Kuasa’ karena memang kekuasaannya tak terhingga bahkan mampu membungkam diam aparatur negara hingga tak mampu melindungi rakyatnya.

Para Nabi Agama Konsumsi tak lagi harus ber-imej seorang yg tipikal Alim bijaksana, berjubah putih dan berjenggot. Malah ternyata para Nabi yg bertugas menyebarkan wahyu beli ini bukan lagi manusia, melainkan bentuk bukan manusia bernama Nabi iklan. Nabi ini tak lagi berkutat di tempat ibadah karena prinsipnya adalah “jika terus berdiam di tempat ibadah, bagaimana mungkin wahyu bisa disebarkan kemana-mana?” maka dgn prinsip itu nabi iklan berdiaspora kemana-mana, bergerak tanpa henti menyebarkan wahyu beli. Mereka berada dimana-mana didunia nyata atau maya, di televisi, radio, reklame, internet, mobil, wc umum, tempat ibadah agama lain, buku pelajaran anak SD, villa mewah, angkot, jalan raya, gunung, lautan, selokan, bahkan wahyu beli itu bisa ditempelkan pada tanktop para selebritis wanita kenamaan yang berbadan sintal dan bersepatu stiletto.

Karena begitu intens dan efektifnya para Nabi iklan menyebarkan wahyu beli, implikasinya adalah penganut agama konsumsi ini makin meningkat. Eskalasinya begitu meningkat cepat dan diduga dari 6 miliar lebih penduduk dunia sebagian besarnya sudah menganut iman beli, sementara sebagian kecilnya yg tidak tergoda memeluk agama baru ini rupanya adalah para penganut agama hemat yang setia dgn keimanan mereka.

Tidak seperti Agama lain, Agama konsumsi amat fleksibel dalam melegitimasi keabsahan ibadah para penganutnya. Selama Mereka setia dan tidak musyrik dari Tuhan Pemodal besar, mengikuti petunjuk nabi iklan, dan mengimani beli. Maka dapat dipastikan Surga bagi Mereka. Karena Surga yang dimaksud tidak perlu direka-reka lagi apakah benar bersungai madu dan bertabur bidadari seksi. Surga yang dijanjikan Agama konsumsi pada hambanya sudah ada di dunia ini dengan kepastian isinya membuat para penganut setuju dan melupakan surga duga-duga agama lama. Untuk apa menduga apa disurga ada sungai madu jika di surga anugerah agama konsumsi sudah disediakan madu itu yg bahkan lebih nikmat dari madu karena berlabel vodka, dom perignon, whisky atau tequila, yang disajikan dgn cawan rupawan hingga terkesan lebih elegan ketimbang secawan anggur pada jamuan terakhir yang digambarkan pada The Last Supper nya Leonardo Da Vinci. Lalu untuk apa berharap surga semoga benar bertabur bidadari jika disurga anugerah agama konsumsi ini sudah bertabur bidadari-bidadari berkaki jenjang ber rok mini dan tanktop mungil yang menawarkan aroma liberasi tubuh hingga bebas dieksplorasi sampai celah-celah tersembunyi. Maka para penganut agama konsumsi akan tetap setia pada agama ini karena surga sudah diberikan sekarang didunia dan tak perlu menunggu pasca terjadinya kiamat besar ketika semesta dimusnahkan dan melenyap.

Sudahkah Anda menganut agama baru ini? Mengimani beli serta mengenyahkan kosakata produksi dari hidup? Mengakui atau tidak, mau tak mau rupanya Kita sudah terperdaya kelihaian nabi iklan, hingga tanpa sadar kita sudah ikut mengimani beli. Orientasi hidup Kita untuk mengkonsumsi walau beberapa yang kita konsumri bukan kebutuhan urgensi, tanpa tahu bahwa dibutuhkan sebuah penyeimbang bernama produksi. Selamat menerima agama konsumsi, sebuah agama dimana beli adalah keharusan walau sebenarnya belum dibutuhkan.

ARIS SETYAWAN

Yogyakarta 28 April 2010.

( created and sent from my old N-Gage. For more shits and word please visit http://www.arisgrungies.multiply.com )

Advertisements