Tags

, , , , ,

Beberapa anak muda negeri rupanya salah mengaplikasikan Facebook. Beberapa waktu ini mungkin Kita mulai jengah mendengar berita beberapa anak gadis dilarikan lelaki yg baru dikenalnya lewat Facebook lalu lelaki itu menggagahinya dan memperawaninya (walau kebanyakan selalu beralasan berhubungan intim atas dasar suka sama suka, namun menurut Saya biasanya pihak perempuan yg selalu jd korban iming-iming rayu pria.), atau seorang murid yg dikeluarkan dari sekolah karena memaki Gurunya lewat Status Facebook, dan yg plg terkenal dulu: Ivan Brimob yg jd bulan-bulanan Facebookers karena Statusnya provokatif. lantas apa yg salah disini? Facebook atau media-media lainkah yg harus disalahkan karena memprovokasi anak-anak muda labil itu untuk saling berinteraksi lalu berakhir di Ranjang? Atau salah anak-anak mudanya yg kurang berpikir rasional dlm mengambil keputusan? Atau mungkin salah orang tua yg kurang pengawasan pada anaknya? Jangan-jangan semua salah?

Facebook hanyalah sebuah media. Sebuah jaringan pertemanan hasil tuntutan jaman yg mengharuskan para pelaku peradaban masa kini selalu cepat dlm berinteraksi. Jd sebagai media Facebook dipakai untuk berhubungan dengan orang lain dgn cepat dan efektif. Apa lantas Facebook haram karena adanya kasus-kasus asusila disebabkan olehnya? Tidak. Facebook dan media teknologi lain memang selalu jadi pedang bermata Dua. Ada baik dan buruknya, tergantung kita sebagai pengguna hendak menggunakan seperti apa. Kalau kita menyalahkan Facebook sama saja kita menuntut penghentian produksi Pisau dapur yg sesungguhnya amat berguna untuk berbagai keperluan, hanya karena beberapa orang menggunakannya untuk menggorok leher.

Anak-anak muda Indonesia sering menggunakan Facebook sebagai ajang representasi diri. Mereka menganggap Facebook sebagai wadah kebebasan mengekspresikan diri mereka agar lepas dari Orang Tua atau lingkungan yg mereka anggap konservatif. Celakanya anak-anak muda ini sering berpikir tanpa rasional hingga yg tadinya mereka anggap pemberontakan atas norma-norma konservatif kebablasan. Mereka menerapkan gaya hidup yg sebenarnya tak cocok dgn jati diri ketimuran Mereka namun dipaksakan karena dalih pemberontakan norma tadi. Dinegara asalnya mungkin berkenalan lewat Facebook lalu karena saling cocok maka diteruskan kehubungan badan itu dianggap biasa. Karena memang Amerika menerapkan demokrasi liberal yg membebaskan warganya dlm segala aspek baik pikiran atau tindakan. Dan anak-anak muda Indonesia agaknya coba ikut-ikutan seperti itu sebagai simbol anti kemapanan para orang tuanya yg dianggap kolot. Walau gaya hidup itu sesungguhnya memang belum tepat diterapkan di Indonesia yg tdk liberal, anak-anak mudanya tetap melakukannya. Mengingkari jati diri orang timur mereka, menggerusnya dengan perilaku barat.

Para orang tuanya sendiri tetap kukuh dgn kekolotan dan sikap konservatif mereka seolah tidak mau mengerti bahwa anak-anak mereka sudah lebih pintar dan butuh mengekspresikan diri. Masyarakat yg konservatif memang menolak ‘kebebasan berekspresi.’ Mereka takut hal itu akan merusak tatanan dan peraturan yg sudah mereka jaga begitu lama, walau sebenarnya beberapa peraturan itu sudah tidak relevan untuk diterapkan dimasa kini. Jadi pantaslah kalau anak-anaknya lalu mencari jalan sendiri untuk berekspresi dan memberontak norma. Beberapa peraturan kolot konservatif itu antara lain larangan berpacaran dgn alasan takut macam-macam. Anak yg dilarang lantas memberontak dengan cara mencari lawan jenis via Facebook, sesuatu yg Mereka tahu orang tua mereka tidak memahaminya dan tak akan bisa melarangnya. Ketika bertemu pasangan anak-anak ini merasa menang mampu memberontak kungkungan orang tuanya. Hingga akhirnya mereka yg masih labil dan belum memiliki kesiapan berpikir rasional ala orang dewasa kebablasan melakukan sebuah tindakan total liberal, sebebas-bebasnya sampai berakhir diranjang.

Facebook hanya Media, diciptakan untuk membantu membuat hidup umat manusia lebih baik. Jadi wahai anak-anak muda labil, pergunakan Facebook untuk berekspresi, berkawan positif, bukan berkawin negatif. Tidak perlu mengumbar birahi, agar Facebook Kalian tak jadi minus esensi. Sementara bagi orang tua yg masih bertahan dengan kekolotannya, Buka pikiran. Anak-anak Kalian lebih pintar kini. Mereka butuh cara pengajaran dan pengawasan baru yg tidak mengekang. Daripada melarang Mereka pacaran yg malah membuat anak-anak mencari jalan pemberontakan lain yg destruktif. Bukankah lebih baik membolehkan pacaran atau mengekspresikan diri namun dengan pengawasan dan bimbingan orang tua yg notabene lbh berpengalaman. Jika orang tua masih bertahan dengan kekolotannya, maka jangan salahkan bila kemudian anak-anaknya melakukan pemberontakan dan mengumbar birahi tanpa esensi di sebuah situs jejaring pertemanan sosial buatan Mark Zuckerberg yg bernama Facebook.

ARIS SETYAWAN

Karanganyar, 14 Februari 2010

( For more shit and words please visit http://www.arisgrungies.multiply.com )

Advertisements